::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Shalat Bisa Batal jika Bacaan Takbir Terlalu Panjang, Apa Batasannya?

Selasa, 26 Februari 2019 17:30 Shalat

Bagikan

Shalat Bisa Batal jika Bacaan Takbir Terlalu Panjang, Apa Batasannya?
Ilustrasi (wikipedia)
Takbir pada shalat secara umum terbagi menjadi dua. Pertama, takbiratul ihram. Yakni takbir yang dilaksanakan di awal shalat. Takbir ini tergolong rukun, sehingga wajib untuk dilaksanakan. Kedua, takbir intiqal. Yakni takbir yang dilaksanakan pada setiap perpindahan rukun dalam shalat, kecuali pada saat perpindahan dari ruku’ menuju i’tidal, maka khusus perpindahan dalam  rukun tersebut bukan melafalkan takbir tetapi melafalkan “Sami’allâhu liman hamidahu rabbanâ wa lakal hamd”. Takbir intiqal merupakan bagian dari sunnah hai’at, sehingga hukum melaksanakannya hanya sunnah dan jika tidak dilaksanakan maka tidak perlu diganti dengan sujud sahwi.

Berbagai macam praktik takbir dalam shalat  yang telah dijelaskan  di atas berdasarkan salah satu hadits af’al (perbuatan) Rasulullah ﷺ:

كان رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إذا قام الى الصلاةِ ، يُكبِّرُ حين يقومُ ، ثم يُكبِّرُ حين يركعُ ، ثم يقولُ: سَمِعَ اللهُ لمن حمدَه. حين يرفعُ صُلبَه من الركعةِ ، ثم يقولُ وهو قائمٌ: ربنا لك الحمدُ . قال عبدُ اللهِ: ولك الحمدُ. ثم يُكبِّرُ حين يَهْوي، ثم يُكبِّرُ حين يرفعُ رأسَه ، ثم يُكبِّرُ حين يسجدُ ، ثم يُكبِّرُ حين يرفعُ رأسَه ، ثم يفعلُ ذلك في الصلاةِ كلِّها حتى يَقضيها

“Rasulullah ﷺ ketika shalat, beliau bertakbir saat berdiri, kemudian bertakbir ketika akan rukuk lalu mengucapkan: sami’allahu liman hamidah, yaitu ketika ia mengangkat punggungnya dari ruku. Dan ketika sudah berdiri beliau mengucapkan rabbanaa lakal hamd. Menurut riwayat Abdullah “Rabbana wa lakal hamd”- Kemudian beliau bertakbir ketika akan bersujud. Kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya (bangun dari sujud). Kemudian beliau bertakbir lagi ketika akan bersujud. Kemudian bertakbir lagi ketika mengangkat kepalanya (bangun dari sujud). Kemudian beliau melakukan hal itu dalam semua rakaat hingga selesai shalat” (HR. Bukhari)

Dalam melafalkan takbir dianjurkan agar melafalkan dengan bacaan mad (bacaan panjang) yang proposional. Dalam arti tidak membaca terlalu pendek, sampai bacaan takbir kurang dipahami oleh pendengar dan tidak membaca terlalu panjang. Hal demikian seperti yang ditegaskan oleh al-Bajuri yang dikutip dalam kitab Kasyifah as-Saja:

ـ [فرع] قال الباجوري: ويسن أن لا يقصر التكبير بحيث لا يفهم ولا يمططه بأن يبالغ في مده بل يتوسط. وقال الشبراملسي: ويستحب أن يمد التكبير 

“Cabang permasalahan. Disunnahkan untuk tidak membaca pendek bacaan takbir sekiranya bacaan takbir tidak dipaham dan juga disunahkan untuk tidak terlalu memanjangkan takbir, hal yang baik adalah memanjangkan takbir secara proposional” (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Kasyifah as-Saja fi Syarh Safinah an-Naja, hal. 71)

Sedangkan batas maksimal bacaan mad pada takbir adalah tidak sampai melebihi tujuh alif. Setiap alif setara dengan membaca dua harakat. Penghitungan panjang mad dapat dilakukan dengan cara menggerakkan jari-jari secara beriringan dan berkesinambungan.  Jika bacaan takbir melebihi dari tujuh alif, maka bacaan takbir tersebut dapat membatalkan shalat, baik itu takbiratul ihram ataupun takbir intiqal. Hal demikian seperti yang dijelaskan dalam lanjutan referensi di atas:

ويشترط أن لا يمد فوق سبع ألفات وإلا بطلت إن علم وتعمد وتقدر كل ألف بحركتين وهو على التقريب، ويعتبر ذلك بتحريك الأصابع متوالية مقارنة للنطق بالمد

“Dalam takbir disyaratkan agar tidak terlalu memanjangkan bacaan mad di atas tujuh alif. Jika tidak, maka shalatnya menjadi batal ketika ia mengetahui ketentuan hukum ini dan sengaja melakukannya. Setiap satu alif dikira-kirakan dengan bacaan dua harakat. Pengira-ngiraan hitungan tersebut secara taqrib (kadar hitungan yang mendekati benar) dan cara penghitungannya dengan mengerakkan jari-jari secara berkesinambungan pada saat mengucapkan bacaan mad.” (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Kasyifah as-Saja fi Syarh Safinah an-Naja, Hal. 71). Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin, Penulis adalah Dewan Perumus LBM Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri