IMG-LOGO
Jelang Muktamar Ke-34 NU
MUNAS-KONBES NU 2019

Menunggu Jokowi, Emak-emak Pilih Foto di Galeri Lukisan


Rabu 27 Februari 2019 13:30 WIB
Bagikan:
Menunggu Jokowi, Emak-emak Pilih Foto di Galeri Lukisan
Berpose di pameran kaligrafi dan lukisan.
Kota Banjar, NU Online
Tidak semata mengikuti rangkaian sidang dan permusyawarahan selama Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2019 digelar. Para peserta dan hadirin juga memanfaatkan waktu dengan berkeliling di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, tempat berlangsungnya kegiatan.

Dan sembari menunggu acara dibuka secara resmi oleh Presiden RI, Joko Widodo, sejumlah pengunjung memanfaatkannya dengan berpose di Pameran Lukisan Seniman Kaligrafi Nusantara. Pameran yang berlokasi di halaman SMP Al-Azhar itu, menampilkan 80 karya dari 20 seniman lukis dan kaligrafi Indonesia.

“Seluruh karya di sini bagus dan menarik,” kata Fulaicha, Rabu (27/2). 

Perempuan yang juga aktivis di Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat Nahdlatul Ulama Bantarsari, Cilacap, Jawa Tengah ini rela menempuh perjalanan selama dua jam untuk turut memeriahkan Munas dan Konbes. 

Alumnus Pesantren Ploso, Kediri, Jawa Timur ini datang bersama sejumlah pengurus. “Ada empat mobil yang membawa rombongan kami,” katanya.

Dengan memperhatikan satu demi satu karya kaligrafi dan lukisan di area pameran, dirinya mengajak pengurus Muslimat NU yang lain untuk foto bersama. Dan kali ini pilihannya adalah lukisan KH M Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, dan KH Abdurrahman Wahid yang berada di pojok utara.  

Pantauan NU Online di lokasi, memang banyak yang memanfaatkan waktu senggang dengan mengabadikan diri di depan kaligrafi dan lukisan. Mereka berswafoto dan secara bergerombol dengan mengajak sejumlah kawan. 

Di kesempatan berbeda, ketua panitia lukisan dan kaligrafi, Abdul Gani, mengemukakan bahwa hampir semua pelukis yang terlibat dalam pameran itu adalah nama tenar di bidangnya. Misalnya Nasirun, Robert Nasrullah, dan bahkan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus. Kedua nama yang disebut pertama itu, karyanya cukup berkelas, bahkan banyak dikoleksi pecinta seni mancanegara.

“Jadi karya-karya yang kita tampilkan adalah berbau NU dan sosial,” jelasnya.

Harga lukisan dan kaligrafi itu juga bervariasi mulai dari Rp. 15 juta hingga ratusan juta rupiah. Kaligrafi yang paling mahal adalah karya Nasirun. Lukisan berjudul Ibu: Malaikat Tak Bersayap itu dibandrol dengan harga yang cukup fantastis, Rp. 700 juta.

Rencananya, pameran dibuka Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj hari ini. Setelah pembukan, dilanjutkan demo lukis dengan melibatkan beberapa pelukis yang karyanya dipamerkan. (Ibnu Nawawi)


Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG