IMG-LOGO
Esai

NU Peduli di Daerah Terdampak Bencana (2) Ke Mana Bantuan Anda Mengalir?

Rabu 27 Februari 2019 21:0 WIB
Bagikan:
NU Peduli di Daerah Terdampak Bencana (2) Ke Mana Bantuan Anda Mengalir?
Pembangunan hunian dan masjid sementara di Sulawesi Tengah
Oleh Dwi Winarno

Sengaja saya mau ikut serta dalam sarasehan bencana yang digelar NU Peduli awal bulan ini di Lampung. Apa pasal? Mendengar dan menuliskan.

Satu kali saya terkejut mendengar kiprah NU Peduli melalui pak Syahrizal Syarif, Ketua PBNU, dalam obrolan ringan di sela-sela rapat Komisi Program dan Rekomendasi untuk Munas dan Konbes Banjar 2019. Banyak sekali aktivitas sosial yang diceritakan. Bagi saya, penganut sinisme tak beraturan, mengapa yang diceritakan itu hanya diketahui segelintir orang. Padahal, kita saat ini berada di era late modernity, di mana informasi mestinya mengalir deras.

Dalam sarasehan, masalah publikasi ini sedikit disinggung. Ternyata yang membuat “malas” melakukan publikasi berlebihan adalah kuatir jika publikasi tersebut menjadi “riya”. Inilah problem mendasarnya. Lalu saya bergumam, “Dasar NU!” Padahal aktivitas sosialnya luar biasa. Berlangsung hingga berbulan-bulan setelah terjadinya bencana.

Agar yang kuatir soal publikasi ini tidak menjadi riya, maka saya mengorbankan diri untuk menuliskannya. Saya tidak terlibat dan menjadikan sesuatu yang dikerjakan orang lain agar saya mendapat pujian. Cukup sampai di situ. Saya berharap apa yang saya tulis mampu menggugah kesadaran kolektif jama’ah NU untuk mau terus berkontribusi. Kesadaran yang mampu menggerakkan. Kalau tidak, yah mudah-mudahan tidak ada kata “tidak”.

Bencana besar di NTB dan Sulawesi Tengah setidaknya telah membangkitkan semangat filantropi di kalangan NU. Sekurang-kurangnya sekitar 18 milyar berhasil dikumpulkan dan disalurkan. Adapun untuk Lampung dan Banten sekitar 10 milyar. Lalu saya membayangkan, bagaimana jika semangat filantropi ini terus berlangsung, misalnya untuk membangun rumah sakit, klinik, madrasah di daerah perbatasan atau tertinggal, masjid, pesantren, universitas kelas dunia, beasiswa, dan bantuan finansial untuk pengusaha mikro. Betapa dahsyatnya NU! Singkirkan pendapat orang lain, “bahwa NU itu identik dengan kemiskinan dan biarkan terus miskin.” Kelas menengah di NU kini jumlahnya sudah cukup melimpah.

Guna membangun kesadaran, tulisan di bawah ini sengaja saya susun berdasar data yang saya dapat. Anda yang telah menyumbang atau terlibat penggalangan dana bisa mengetahui untuk apa sesuatu yang Anda sumbangkan.

Di fase tanggap darurat gempa Lombok, NU Peduli telah mendistribusikan makanan siap saji dan mendirikan dapur umum yang menyasar 37.000 jiwa. Distribusi sembako, nutrisi khusus anak, terpal, tenda, family kit, hygiene kit untuk 52.390 jiwa. Distribusi kebutuhan khusus anak dan perempuan untuk 33.762 jiwa. Pelayanan kesehatan dan distribusi obat dan pelayanan kesehatan untuk 4.525 jiwa. Kemudian layanan psikososial bagi 8.000 orang dewasa dan 2.032 anak-anak.

Kemudian di fase transisi, hinggal Februari 2019, NU Peduli kembali melakukan berbagai aktivitas sosial. Melakukan distribusi sembako, nutrisi khusus anak, terpal dan tenda bagi 41.092 jiwa. Mendirikan masjid/musholla darurat sebanyak 28 unit dan masjid semi permanen 1 unit. Mendirikan madrasah darurat sebanyak 41 unit. Mendirikan hunian sementara sebanyak 603 unit. Mendirikan fasilitas air bersih dan MCK di 18 titik. Distribusi family kit bagi 5.810 keluarga. Distribusi hygiene kit bagi 541 keluarga. Distribusi school kit bagi 1093 anak. Distribusi kebutuhan khusus anak dan perempuan 587 jiwa. Pelayanan kesehatan bagi 7.234 jiwa. Pelayanan psikososial bagi 7.234 orang dewasa dan 3.582 anak-anak.

Sementara ketika terjadi gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi di Sulteng, NU Peduli kembali berkiprah. Pada fase tanggap darurat, NU Peduli telah mendistribusikan makanan siap saji dan mendirikan dapur umum yang mencakup 37.000 jiwa. Mendistribusikan sembako, nutrisi khusus anak, terpal, tenda, family kit dan hygiene kit bagi 52.390 jiwa. Distribusi kebutuhan perempuan dan anak bagi 33.762 jiwa. Pelayanan kesehatan dan distribusi obat bagi 4.525 jiwa. Pelayanan psiko sosial bagi 8.000 orang dewasa dan 3.032 anak-anak

Adapun pada fase transisi, distribusi sembako, nutrisi khusus anak, terpal, dan tenda untuk 41.092 jiwa. Memperbaiki 7 unit masjid/musholla darurat, mendirikan 4 unit masjid semi permanen, dan membangun 1 masjid permanen. Memperbaiki 15 unit madrasah. Membangun fasilitas MCK dan fasilitas air bersih di 12 titik. Membangun 139 unit hunian sementara. Mendistribusikan family kit dan hygiene kit bagi 4.000 keluarga. School kit bagi 2.000 anak. Pelayanan kesehatan dan distribusi obat untuk 3.113 jiwa. Kemudian layanan psikososial bagi 6.315 orang dewasa dan 3.550 anak-anak.

Selain dua bencana besar di atas, NU Peduli juga terlibat dalam penanganan korban bencana tsunami Lampung dan Banten yang terjadi akhir tahun lalu.

Masih di tahun yang sama, terlibat dalam berbagai penanganan bencana banjir ataupun longsor di Ponorogo, Pacitan, Brebes, Jakarta, Banjarnegara, Cirebon, dan Banyuwangi. Lalu gizi buruk di Papua. Juga berpartisipasi aktif mengirimkan bantuan dan tim medis ke Myanmar dan Bangladesh bagi pengungsi Rohingya.

Baca bagian sebelumnya: NU Peduli di Daerah Terdampak Bencana (1)


Penulis adalah dosen Pengampu Sosiologi Bencana, Unusia, Jakarta

Bagikan:
Rabu 27 Februari 2019 17:25 WIB
MUNAS KONBES NU 2019
Para Pendekar di Balik Menu Masakan Munas NU
Para Pendekar di Balik Menu Masakan Munas NU

Oleh Ahmad Rozali

Dini hari jam 03.00 WIB, kawasan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo Kujangsari, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat yang ditempati Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 telah sepi.

Sejumlah kawasan utama Munas yang tadinya ramai mulai ditinggalkan pengunjung yang kembali ke kamar masing-masing. Di kamar-kamar yang disediakan, para peserta dan penggembira yang tidak bisa dibedakan telah terlelap mengistirahatkan badan untuk menyambut hari esok.

Saat itu, saat semua orang telah terlelap, dapur umum justru baru saja memulai hari barunya. Tampak ratusan personel TNI tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing. Sebagian dari mereka ada yang menyiapkan bumbu, ada yang menyiapkan beras, masak lauk atau mengangkat barang yang sudah masak dan hendak dimasak.

Ratusan personel itu bekerja di bawah komando Mayor Deni, kepala relawan Dapur Umum Munas dan Konbes. Mayor Deni mengatakan, dalam sehari ia memasak tiga kali untuk rata-rata dua ribu orang. “Kita masak nasi tiga kali sehari. Setiap kali masak, sekitar 3 kwintal beras,” kata Mayor Deni pada NU Online, Selasa (26/2). Untuk memasak sebegitu banyak ia dibantu 100 personil yang telah didatangkan baik dari Bandung atau dari Tasikmalaya.

Ia menceritakan, jadwal memasak sendiri dibagi menjadi tiga, yakni: menu untuk sarapan dimasak mulai jam 21.00 WIB. Menu makan siang, mulai dimasak sejak jam 05.00 pagi. Sementara untuk makan malam dimasak sejak siang hari. “Jam 3 sore sudah selesai semua, kita sudah istirahat. Paling nanti kita kumpul malam untuk evaluasi. Dini hari nanti kita mulai lagi,” kata Mayor Deni menjelaskan penjadwalan memasak.

Untuk mengukur efektivitas dan menyatukan keinginan dengan panitia lain, setiap malam dilangsungkan evaluasi konsumsi antara panitia dan tim relawan TNI. Selain bertujuan untuk mengevaluasi kinerja penyediaan konsumsi dalam sehari, evaluasi juga dilangsungkan untuk menentukan menu dan jumlah masakan yang perlu disiapkan esok hari.

“Untuk jumlah masakan yang perlu disiapkan, kami menunggu informasi dari panitia. Biasanya disampaikan dalam rapat evaluasi. Mereka bilang besok pagi segini, siang segini dan malam segini. Kami tinggal masak sesuai jumlah itu,” terangnya.

“Menu masakan pun ditentukan pada malam itu juga dalam rapat oleh panitia. Mereka akan ngasih bahan masakan untuk besok. Ini telornya, ini ayamnya, ini bahannya gitu tolong dimasakkan,” katanya.


Ia melanjutkan, setelah proses memasak rampung, makanan akan diambil dan didistribusikan oleh panitia. Ada beberapa lokasi tempat pendistribusian antara lain dapur umum untuk semua peserta dan pengunjung Munas dan Konbes.

Tenyata TNI pandai masak

Saya jadi penasaran apakah para peserta menyadari bahwa orang yang berada di balik makanannya. Secara acak saya menanyakan pada sejumlah teman di lokasi Munas tentang pendapatnya mengenai masakan dan saya minta menebak siapa yang memasak.

Ternyata tak banyak yang sadar bahwa orang yang memasakkan nasi dan lauk untuknya adalah sekelompok pria perkasa yang memiliki keterampilan memasak yang sama baiknya dengan kemampuan menggunakan senjata dalam pertempuran. Sebagian mereka justru menebak bahwa yang memasak adalah sekelompok ibu-ibu.

“Oiya? Saya tidak menduga kalau itu masakan laki-laki,” kata Nanik saat kusampaikan informasi perihal tersebut. “Oh makanya potongan lauk ayamnya, besar-besar. Kalau ibu-ibu biasanya kan kecil-kecil, berhemat,” katanya sambil tertawa.

Faktanya, TNI yang membantu menangani masalah konsumsi sudah mahir dalam urusan tersebut. Mayor Deni sendiri yang bertugas sebagai koki kepala mengaku telah bekerja untuk sektor penyediaan makanan sejak dua tahun terakhir. Sepanjang itu, ia menjadi spesialis dapur umum saat diterjunkan ke berbagai medan termasuk saat bencana.

Ia mengaku telah terbiasa menghitung dan memperkirakan berapa banyak bahan, sayur, lauk dan beras yang dibutuhkan untuk disajikan pada orang dalam jumlah tertentu. Sejak berada di pos itu, ia lebih banyak bekerja sebelum orang lain beraktivitas. Sehingga saat orang lain baru mulai tertidur ia telah bangun untuk menyiapkan segala makanan bagi semua orang untuk disantap saat pagi datang. (Ahmad Rozali)

Selasa 26 Februari 2019 1:30 WIB
MUNAS KONBES NU 2019
Relawan-relawan Pahlawan Kesuksesan Munas
Relawan-relawan Pahlawan Kesuksesan Munas

Ahmad Rozali

Malam telah datang membawa gelap ke atas atap Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo Kujangsari, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat. Namun puluhan relawan baik dari Banser, para santri maupun relawan lain yang tak menunjukkan identitasnya tampak masih sibuk dengan persiapan-persiapan teknis seperti menyediakan kursi, mengangkat barang-barang dan yang lain.

Mereka adalah para nahdliyin yang sedang bekerja sukarela untuk menyukseskan acara Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2019. Sebagian mereka ada yang menyiapkan panggung, ada pula yang memasang baliho, menyiapkan kursi, mem-print berkas dan melakukan pekerjaan lain sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Selang beberapa lama, mereka yang tadinya bekerja di lokasi utama kegiatan ini berangsur menghilang menuju kamar masing-masing untuk menunaikan Shalat Maghrib. Beberapa waktu lepas Shalat Maghrib, ratusan panitia tadi berhamburan menuju kawasan dapur umum untuk makan malam bersama, persis seperti semut yang mengerumuni gula.

Di dapur umum yang terletak di seberang bagian belakang kawasan utama tempat para relawan bekerja tadi, tampak puluhan anggota Banser mengantri dalam barisan memanjang. Di meja prasmanan yang menyediakan nasi, aneka lauk dan sayuran, satu persatu mereka mengambil sendiri nasi dan lauk yang diinginkan lalu menuju deretan meja makan.


Di belakang meja prasmanan terdapat sejumlah santriwati relawan seksi konsumsi yang siap sedia membantu para Banser dan relawan lain. Sesekali mereka membuatkan minuman hangat berupa kopi dan teh. Sebagian mereka juga menuangkan kembali nasi atau lauk yang mulai menipis.

Kami, relawan media yang terdiri dari rombongan NU Online, 164 Channel, Majalah Risalah yang datang lebih dahulu segera bersiap meninggalkan lokasi agar tempat makan yang terbatas bisa dipakai secara bergantian.

Namun saat hendak beranjak ke luar lokasi dapur umum, mata saya justru terpikat pada sebuah gubuk yang mengebulkan asap putih ke udara. Dari kejauhan dapat saya lihat seorang pria dewasa dan wanita tua yang tengah sibuk dengan tiga buah dandang berukuran besar.

Pria yang usianya kutaksir sekitar 45 tahun ini adalah relawan yang membantu Hj Fatonah (65) yang bertugas di dapur. Hj Fatonah-lah yang mengemban tugas ‘mulia’ untuk memastikan bahwa semua peserta baik relawan dan panitia makan dengan cukup, sementara pria tadi adalah relawan yang membantunya. Sesekali Hj Fatonah yang lebih dikenal dengan ‘Mbok Dalem’ ini memberi arahan pada pria yang didepannya mengenai tungku-tungku di atas bara api yang masih memerah itu.

Kata dia, sejak pagi ia telah menanak sekitar dua kwintal nasi untuk ratusan relawan dan panitia yang kelaparan. “Masak nasi 10 sak. Satu sak (isinya) 25 kg. Ya 2,5 kwintal kira-kira,” katanya.

Sejak persiapan beberapa waktu lalu, ia mengaku menunaikan tugasnya di dapur atas bantuan beberapa orang relawan yang bergantian sejak pagi hingga malam hari. Para relawan ini membantu pekerjaannya mulai mengatur letak beras, mengambil kayu bakar, memasak air panas, menanak nasi, dan seterusnya. Para relawan yang membantunya terdiri dari warga lokal dan santri pondok. “Dari kemarin masak untuk panitia dan santri yang ‘roan-roan’ (kerja bakti),” kata dia.


Terkadang dia dan para relawan bekerja hingga larut untuk memastikan ketersediaan nasi di pagi hari. “Kerjanya siang sampai malam. Kalau malam sudah ada nasi untuk pagi hari baru kami bisa istirahat. Kadang-kadang jam 2 pagi ada orang minta nasi karena habis masang tenda, masang bendera atau masang apa,” katanya.

Ia mengaku juga mendapat bantuan dari aparat TNI setempat untuk menjaga ketersediaan nasi sepanjang hari. “Dibantu TNI. Kalau disini aja kami keteteran,” kata dia. Selain menyiapkan nasi, panitia juga telah menyiapkan snack dan kotak nasi sebanyak 1500 untuk hari pembukaan.

Spot selfie ‘tulisan NU’

Sesungguhnya, para rewalan Munas dan Konbes yang bekerja di di dalam pesantren hanyalah sebagian saja. Sebagian lainnya juga bekerja di luar kawasan tersebut, terutama di spot strategis misalnya di jalan raya sekitar 300 meter sebelah kanan dari pintu masuk pesantren.

Di sana tampak dua orang terlihat tengah sibuk mengecat tulisan huruf N dan U yang masing berukuran besar sekitar dua meter persegi. Irham Fanani (38) sang arsitek mengaku telah mengerjakan itu sejak beberapa hari lalu. Sambil mengusapkan kuas di tangannya ia mengatakan bahwa nantinya spot ini akan digunakan sebagai media untuk berswafoto peserta dan pengunjung Munas. Tujuannya agar semakin banyak orang yang berfoto dan mengunggah fotonya di sosial media sehingga kegiatan ini menjadi makin ramai diperbincangkan.


Budi mengaku mengerjakan tulisan NU ini bersama tiga orang temannya. Ia menjelaskan bahwa untuk membuatnya ia membutuhkan puluhan batang bambu baik yang berukuran kecil maupun yang besar. Bambu-bambu itu kemudian dibuat dengan sedemikian rupa hingga membentuk huruf NU. “Membuatnya mudah sebenarnya. Hanya saja bagian tersusahnya adalah mengikat bambu-bambu jadi tulisan,” kata dia.

Selain Irfan dan  Hj Fatonah, terdapat puluhan hingga ratusan relawan lain yang tengah sibuk menyiapkan pekerjaannya demi kesuksesan Munas NU ini. Maka tak berlebihan jika kesuksesan acara ini selain bergantung pada PBNU dan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar juga tergantung pada kerja bersama dari berbagai kelompok masyarakat baik yang datang dari lokal Kota Banjar maupun yang datang dari tempat lain.

 

Penulis adalah Redaktur NU Online

 

Senin 25 Februari 2019 23:40 WIB
Andai Neno Warisman Baca ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela’-nya Gus Dur
Andai Neno Warisman Baca ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela’-nya Gus Dur
Ilustrasi Neno Warisma (Mojok.co)

Ahmad Rozali

Setiap kali ada orang yang menakut-nakuti orang lain, atau memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu yang cenderung bertentangan dengan norma agama dengan dalil agama, saya selalu teringat dengan sosok KH Abdurrahman Wahid atau umum dipanggil Gus Dur, lebih spesifiknya teringat pada salah satu artikelnya 'Tuhan Tidak Perlu Dibela'.

Seperti kali ini, saat Neno Warisman menyeret-nyeret nama Tuhan dengan nada ancaman “Jika kami dibiarkan kalah, kami khawatir tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu”, saya tergoda untuk kembali membuka artikel yang diterbitkan Tempo tahun 1982 yang lalu kemudian dibukukan oleh LKiS itu.

Inti tulisan Gus Dur dalam ‘Tuhan yang tak perlu dibela’ dituangkan secara singkat beberapa paragraf terakhirnya yang digambarkan dalam tulisan sebagai perkataan seorang guru tarekat. “Allah itu maha besar. Ia tidak memerlukan Pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apa pun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-NYa”.

“Al-Hujwiri mengatakan: Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ‘Ia menyulitkan’ kita. Juga tak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya”

Banyak yang berpendapat tulisan-tulisan Gus Dur masih sangat relevan hingga saat ini. Buktinya, 40 tahun setelah Gus Dur menulis itu, Grand Syekh Al-Azhar, Mesir, Ahmad Muhammad Ahmad Al-Thayyeb dan Paus Fransiskus berjumpa untuk menandatangani sebuah dokumen bersejarah, yaitu 'Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama'. Dokumen itu dideklarasikan dalam sebuah Pertemuan Persaudaraan Manusia Manusia di Uni Emirat Arab (UEA) beberapa waktu lalu.

Dalam dokumen itu ditulis: “Semua pihak agar menahan diri menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan, terorisme dan penindasan. Kami meminta ini berdasarkan kepercayaan kami bersama pada Tuhan, yang tidak menciptakan manusia untuk dibunuh atau berperang satu sama lain, tidak untuk disiksa atau dihina dalam kehidupan dan keadaan mereka. Tuhan, Yang Maha Besar, tidak perlu dibela oleh siapa pun dan tidak ingin Nama-Nya digunakan untuk meneror orang.”

Menurut pendapat singkat saya, ada dua hal yang menjadi penyebab mengapa relevansi tulisan Gus Dur begitu tinggi: Pertama, Gus Dur adalah sosok yang futuristik dan visioner. Artinya, saat menulis, Gus Dur mampu memprediksi masalah-maslah yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ini menggembirakan, karena kita bisa memiliki orang yang begitu cerdas di masa lalu yang bisa kita contoh.

Penyebab kedua tidak semenyenangkan yang pertama; yakni memang masalah sosial kita tak beranjak dari dulu hingga saat ini. Artinya masalah yang ada sejak jaman Gus Dur masih ada hingga sembilan tahun pasca wafatnya, kita masih berputar dalam lingkaran yang sama. Kita belum beranjak dari perdebatan ganjil mengenai sisi tidak produktif dalam masalah agama. Kita masih saja suka menjadikan agama sebagai tameng dari kepentingan kita. Kita masih berputar di situ-situ saja selama puluhan tahun ini.

Namun begitu saya yakin bahwa sebagian besar dari kita ingin perdebatan itu selesai dan mulai beranjak lebih banyak membicarakan kemajuan zaman, penelitian termutakhir, dan sibuk berlomba dalam kebaikan. Sayangnya, segelintir orang seperti Neno Warisman orang masih ‘doyan’ menarik-narik kita ke masalah-masalah masa lalu yang tak menguntungkan sama sekali. Saya jadi berangan-anak, andai saja Neno membaca dan mengilhami tulisan ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela'-nya Gus Dur, mungkin tak begini jadinya. Wallahu A’lam

Penulis adalah redaktur NU Online

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG