IMG-LOGO
Wawancara

Santri Kreatif, Meracik Limbah Cangkang Telor dan Merang Jadi Kaligrafi

Kamis 28 Februari 2019 21:30 WIB
Bagikan:
Santri Kreatif, Meracik Limbah Cangkang Telor dan Merang Jadi Kaligrafi
Luqmanul Hakim
Berbagai macam karya kaligrafi biasanya berupa lukisan. Namun, yang dilakukan santri asal Pangandartan, Jawa Barat, Luqmanul Hakim (28) berbeda. Santri yang sejak kecil menggeluti seni kaligrafi ini meracik limbah berupa cangkang telor dan merang (padi kosong, gabuk) menjadi karya seni kaligrafi yang menawan.

Ia mengaku bahwa karya seni yang disebutnya bernama kolase tersebut banyak dikembangkan di sejumlah daerah dengan berbagai macam bahan seperti serbuk kayu, pecahan kaca, dan cangkang telor.

Namun, untuk karya kolase berbahan padi gabuk ia memastikan baru pertama kali dikembangkan di Pangandaran yang dilakukannya sendiri. Inovasi tersebut ia dapatkan ketika limbah padi gabuk dalam jumlah melimpah tidak dimanfaatkan.

Lalu, dengan terobosannya itu, ia malah mampu menjadikan padi kosong mejadi ‘berisi’. Bahkan bisa menarik pendapatan lebih dari padi berisi itu sendiri.

Ia berbagai pengalaman menariknya dengan NU Online, Kamis (28/2) di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat di sela-sela ia menunggu stannya. Berikut wawancara Jurnalis NU Online Fathoni Ahmad dengan santri kreatif Luqmanul Hakim:

Karya kaligrafi kreasi Anda dinamakan jenis kaligrafi apa?

Yang jelas ini bukan lukisan, tetapi kolase. Karena terbuat dari bahan-bahan dengan teknik ditempel. Namun, kualitasnya tidak kalah dengan teknik lukis.

Bagaimana inspirasi awal Anda untuk mengembangkan karya kaligrafi ini?

Teknik kolase banyak dikembangkan dari berbagai macam jenis bahan. Cangkang telor sudah ada yang mengembangkan, namun untuk bahan padi kosong, merang atau gabuk belum ada yang mengembangkan sehingga menarik saya untuk mengkreasinya.

Sejak kecil memang saya senang menulis Arab. Sehingga familiar dengan karya kaligrafi. Ide awal muncul pada tahun 2010. Tetapi baru bisa saya kembangkan pada tahun 2015 lalu hingga sekarang.

Mengapa memadukan cangkang telor dan padi gabuk?

Ini memang karya mix, campuran. Saya berusaha mengintegrasikan atau menyatukan dua bahan agar tercipta karya seni yang menarik.

Kami juga memandang bahwa pemanfaatan limbah berupa cangkang telor dan padi gabuk perlu dilakukan agar mengurangi polusi lingkungan. Lingkungan tetap bersih, kita juga bisa meraup berkah dengan kreasi kita.

Kami banyak mendapatkan bahan-bahan tersebut dari pedagang martabak telor. untuk padi kosong, kami memperolehnya dari petani di sawah dan sisa jemuran padi. Kulit padi yang sudah pecah tidak bisa digunakan. Sebab itu tempat penggilingan padi bukan tujukan kami untuk mencari bahan.

Bisa diceritakan teknik membuat karya kaligrafi berbentuk kolase ini?

Cukup mudah, kita mengumpulkan bahan cangkang telor dan padi gabuk kemudian siapkan bahan-bahan seperti kayu untuk frame, cat pernis atau plitur, dan lem.

Lalu merangkai mereka sesuai rancangan kaligrafi yang hendak kita bikin. Yang paling penting dalam membuat karya ini ialah kesabaran dan keuletan. Tentu saja harus memahami ilmu khot atau ilmu tulis-menulis kaligrafi.

Satu frame kaligrafi bisa menghabiskan berapa lama untuk menyelesaikan?

Untuk ukuran kecil cukup hanya sekitar lima hari. Sedangkan kaligrafi ukuran besar bisa mencapai 10 hingga 15 hari.

Kalau sedang banyak pesanan, saya sering mengajak santri dan pemuda lokal untuk bergiat membantu sambil belajar membuat karya kaligrafi.

Untuk harga paling murah berapa, paling mahal berapa?

Sesuai ukuran, kalau yang ukuran kecil hanya Rp 300.000, sedangkan yang ukuran besar bisa mencapai Rp 5.000.000.

Untuk promosi produk seperti apa?

Selain pelanggan memesan langsung, kami berusaha membuka stan dari kegiatan ke kegiatan, dari pameran ke pameran.

Pernah juga mencoba promosi lewat online, tetapi sebagian besar ingin datang langsung dan melihat. (*)
Bagikan:
Selasa 12 Februari 2019 19:0 WIB
Khofifah: Memimpin Muslimat Harus Rajin Turun dan Bersapa
Khofifah: Memimpin Muslimat Harus Rajin Turun dan Bersapa
Hj Khofifah Indar Parawansa merupakan nama yang sampai ke desa-desa, akrab dengan ibu-ibu pengajian atau disebut muslimatan. Dengan menyebut kegiatan pengajian Muslimat sebagai muslimatan adalah keberhasilan banom NU satu ini berubah dari kata benda menjadi kata kerja. Muslimat adalah pengajian dan pengajian adalah Muslimat.

Di waktu yang sama, seragam Muslimat juga menjadi kian massal dan digunakan dalam berbagai kesempatan ibu-ibu di desa. Bagi yang tidak mengenalnya, seragam itu seperti seragam ibu-ibu pengajian saja. Bukan seragam organisasi. 

Bagaimana resep dan cerita-cerita Khofifah memimpin Muslimat NU? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarainya di Gelora Bug Karno (GBK), Jakarta, 26 Januari lalu. Berikut petikannya  


Apa resep Anda memimpin Muslimat NU? 

Mesti rajin turun. Rajin turun. Rajin bersapa. Tidak berbatas. Wajahku kebetulan wajah ndeso, itu menguntungkan.

Bagaimana perlakuan sambutan anggota Muslimat pada sebuah acara?

Saya ini kalau acara gede, ini (Khofifah menunjukkan pergelangan tangan kanannya) tercoret-tercoret itu sudah pasti. Kalau ini ada coretan ini, adalah sisa 30 Desember. Ini agak dalam. 

Tercoret bagaimana? 

Lho kan mereka pakai cincin. Salaman, salaman, kan ditarik-tarik begitu. Udah pasti kegores. Jadi, memang mereka butuh disapa. Asal kita bersapa; bajuku tidak pernah bermacam-macam, bukan tidak bisa beli gelang, tapi aku sengaja tidak menggunakan supaya tidak berbatas dengan mereka. Kalau aku kelihatan bergelang, mereka tak berani bersalaman. Cincin aku jarang.

Yang sering paling disampaikan kepada anggota Muslimat apa?

Hampir selalu, hampir selalu saya gini, (Khofifah membaca surat Az-Zumar 73)


وسيق الذين اتقوا ربهم إلى الجنة زمرا حتى إذا جاؤوها وفتحت أبوابها وقال لهم خزنتها سلام عليكم طبتم فادخلوها خالدين

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya".

Lha ini ibu-ibu ini masuk rombongan siapa? Shalat sering telat, tidak khusuk, ibu-bu ikut rombongan siapa? Di Muslimat ikut rombongan Hadratussyekh. Hadratussyekh KH HAsyim Asy’ari bilang, siapa yang mengurusi NU, akan saya aku menjadi santriku. Ingat lagi, siapa pendiri Muslimat NU? KH Wahab Hasbullah. Mau sama Kiai Wahab? Mau sama Hadratussyekh? Berjuang di Muslimat, Qur’an itu; orang-orang yang bertakwa akan masuk surga Allah secara berombongan. Ikut rombongan siapa? Enggak di Muslimat, ya enggak diakulah oleh pendiri NU. Kalau mereka sudah bersama-sama masuk di depan pintu surga, malaikat membukakan pintu, mereka akan tinggal di dalamnya selama-lamanya, sering itu saya sampaikan, bermuslimat untuk apa? Semua obsesinya kan surga. Ikut siapa coba. Ikut siapa coba masuk surganya Allah? Al-Qur’an bilang, berombongan, ikut rombongan siapa? 

Membangun citra Muslimat NU sampai populer ke desa-desa, terutama melalui seragamnya, itu bagaimana ceritanya? 

Oh seragam. Itu dulu ceritanya kita berharap itu akan menjadi akan menjadi sesuatu yang borderless, tidak jadi pembatas. Jangan yang kaya pakai baju apa. Yang tidak punya pakai baju apa. Jadi itu kemudian kan sama, begitu. Kemudian ya biasalah, setelah kita bikin, pasar ada yang melakukan penetrasi, wis pokoke aku tambah seneng; orang-orang Kalimantan biasanya beli seragam di Tanah Abang; beli seragam NU, bukan Muslimat NU, udah tahu mereka, murah, dan itu hampir di setiap kota bisa. Aku ke Lubuk Linggau kira-kira lima tahun lalu, ada toko yang jualan seragam Muslimat NU. Banyak orang yang memproduksi, makin mudah orang mendapatkan, tetapi warnanya rada blontang-blontang. Kalau ada warna ungunya kuat begitu, iki produksi Pekalongan, saya tahu. Kalau kuningnya agak banyak, ini produksi Semarang, sedikiti kemudian variatif, tapi yo mirip-mirip. 

Itu yang mendesain siapa, dan sejak kapan? 

Saya dari tahun 2003 kali. Sejak saya ketua umum, tapi itu mandat, mandat kongres supaya kita punya seragam. Setelah itu kita ngomong-ngomong…

Sejak zaman Bu Aisyah Hamid? 

Saya pelanjutnya, jadi zaman saya, dan itu mandat kongres. Oh, kongres memandatkan kita supaya kita punya seragam, akhirnya kita bikinlah. 

Yang mendesain pertama kali itu siapa?

Danar Hadi, itu desainnya Danar Hadi. Tapi sama pasar, ungunya dominan, kuningnya dominan, ya sudah, tapi ya makin banyak, makin murah, begitu. Ada sekarang itu yang produksi Malang itu bahannya itu, panas Bu, ini panas, Bu. Bikinlah dari yang enggak panas. Begitulah mereka. Tapi jangan jauh dari yang standar ini ya, saya bilang.

Kalau di daerah-daerah, ramai, bagaimana gerakan Muslimat di kota-kota besar? 

Surabaya itu guede lho. 

Jakarta, bagaimana? 

Jakarta, betul, jadi, ke pengajian itu tiap Sabtu pertama di Masjid Sunda Kelapa, itu banyak juga, seragaman, itu hampir seratus persen seragam. Narasumbernya sama, Pak Nasarudin Umar. Tiap bulan. Dan pengajiannya tasawuf, uapik, apik, apik. 

Berapa orang biasanya yang hadir? 

Ya, 4000 adalah. Ya opo sampeyan? Cuma Muslimat itu dimana-mana undercover, jadi ora terpublish dengan baik. Rata-rata begitu. 

Bagaimana di luar Jawa, Medan misalnya? 

Medan gede. 

Gede juga ya di Medan? 

Sampeyan iki opo yo, aku harus bilang bagaimana. 

Bagaimana Lampung? 

Apa lagi itu Lampung. Lampung ini kan Jawa Utara. Sampeyan bisa ngitung enggak orang Darmasraya pakai bus (ke Harlah ke-73 Muslimat di GBK akhir bulan Januari lalu). Apa yang menggerakkan mereka pakai bus?  

Apa itu? 

Lha iya, artinya kan ini orang Sumatera Barat, Solok, aku mau bilang bahwa suasana itu juga tumbuh, begitu. Mungkin tidak semasif di Jawa. Karena Solok itu mesti lewat Darmasraya. 

Luar negeri bagaimana? 

Hong Kong sudah datang. Dua orang. Saudi sudah sampai. Saya belum tahu berapa. Kemudian Taiwan, Malaysia, London, Korea belum punya. 

Bagaimana perbandingan perkembangan Muslimat Jawa dan luar Jawa? 

Kalau untuk lomba-lomba jangan bilang seimbang itu dalam artian kuantitatif lho ya. Kalau kuantitatif, jumlah penduduk saja 65 persen Jawa. Udah pasti Muslimat juga banyak di Jawa. Tapi kalau secara kualitatif, misalnya pengurus Muslimat di Sulsel, hampir 70 persen doktor, beberapa di antaranya guru besar, maka dalam beberapa lomba, kepada Pak Wapres saya sampaikan, dalam beberapa lomba dalam TK, PAUD, itu pemenangnya rata-rata dari luar Jawa. Pernah dari Padang Panjang Sumatera Barat itu pemenang PAUD, Gorontalo pemenang untuk TK. Banyak sekali pemenang-pemenang lomba itu dari luar Jawa. Itu artinya mereka mungkin jumlahnya tidak sebanyak yang di Jawa, tapi inovasinya kan macam-macam, varian-varian yang dilombakan, mereka bisa dapat juara satu tuh, RA, satu RA di Bali itu dapat tiga penghargaan, ada guru, inovasi, kualitas, ini yang aku cerita di tingkat Muslimat. Muslimat kan pendidikannya PAUD, TK, RA. 

Terkait hoaks, Muslimat mendeklarikan Laskar Antihoaks bagaimana menurut Anda saat ini? 

Aku udah jadi korban, kemarin pas pilgub. 

Bagaimana mengatasinya? 

Begini, suatu saat ada blog; anakku lagi kuliah di luar negeri, blog itu seolah-olah testimono dari seorang perempuan yang menjadi istri kedua bapaknya, bapaknya udah meninggal lagi, sedih enggak. Setelah itu, anak saya semua sangat hati-hati menyampaikan sesuatu kepada ibunya. Semua alhamdulillah. Dia kalau ada sesuatu sampai suasana saya enak, baru dia sampaikan. Lha ini kalau blog di luar negeri kayak apa coba. “Ibu, ibu lagi apa?” Kenapa sih ini anak ini? “Ibu sudah lihat ini?” Saya lihat. Anakku, tenang. Tidak akan terjadi semua ini. Saya bilang begitu. Anakku tahu; saya kan kalau panggil anakku, anakku, hari ini ibumu sedang kompetisi, jadi, anakku harus sabar dan tidak akan pernah terjadi seperti ini. Sudah, anakku tenang. ”Enggak kan, Bu?” Baru kemudian, tenang, cair. Ini (blog) adalah seolah-olah testimoni dari seorang perempuan dari istri lain, dari almarhum suami saya. Gini, Nak, ibu akan jawab, siapa yang betul beristri oleh bapakmu, seluruh harta yang kita punya, ambil! Enak kan. Sudah. “Oh gitu 
ya, Bu.” Ingat, Nak, meskipun agama Islam memperbolehkan, tapi kan saya harus memastikan karena ini akan menjadi kegelisahan anak saya. Banyak hoaks kayak gitu. Banyak, bagaimana saat pilgub. Banyak yang harus saya jawab. Biasa itu. Yang sangat prinsipil harus dijawab;

Apakah setelah hoaks itu diklarifikasi kemudian hilang? 

Alhamdulillah saya relatif cukup dipercaya. Jadi kalau misalnya orang dapat berita apa, kemudian saya sudah jawab, sudah kok, “kata bu Khofifah begini,” gitu. Soal kepercayaan itu menjadi penting. Sekali jawab orang percaya, oh iya atau tidak. 

Berarti integritas sangat penting?

Menurut saya iya. Tapi harus dijawab, jangan biarkan itu meluas seolah-olah yang salah manjadi sebuah kebenaran, begitu. Emang harus dijawab. Tapi kalau cuma apa-apa, ya cuma ngabisin energi, tapi yang prinsipil harus dijawab. 

Wah, kalau aku pilgub saja, begitu, artinya resonansinya sak-Jawa Timur, tapi kalau hoaks ini resonansinya sudah nasional kebayang enggak, akan terjadi distrust, itu dari sana, sana, kebayang enggak. Aku yang paling khawatir adalah, apa yang kemudian dilakukan itu ternyata berpengaruh kepada disintegrasi nasional, aku tidak ingin itu, tapi koyoke makin tajam, makin tajam, makin meluas, begitu lho. Itu makanya saya pikir, saya usahakan bu nyai-bu nyai di Muslimat, yang setiap saat ketemu dengan jamaah di majelis ta’lim ini memang harus punya satu ikatan bersama untuk bergerak bahwa selain materi-materi pengajian yang mereka ajarkan ada tambahan yaitu hindari su’udhan, itu bahasa yang sangat umum. Setelah itu hindari prasangka buruk. Hindari fitnah. Hindari ujaran kebencian. Hindari hoaks.

Kondisi internal di Muslimat saat ini kalau beda pilihan politik, bagaimana? 

Kita itu sudah bersepakat dari awal, wal, wal, masuk pintu Muslimat, kita hanya akan ngomong Muslimat, keluar pintu Muslimat, silakan mau ngobrolin apa, sing iki PKB, iki PPP, GOlkar, PAN juga ada, sudah, tidak ada pembicaraan partai di kantor Muslimat. 

Dan itu ditaati bersama? 

Insyaallah ditaati 

Rabu 6 Februari 2019 20:30 WIB
Imlek di Mata Banser Keturunan Tionghoa
Imlek di Mata Banser Keturunan Tionghoa
Arnold Ong, Banser Banyumas Keturunan Tionghoa
Selasa, 5 Februari 2019 kemarin, etnis Tionghoa di berbagai belahan dunia ramai-ramai memperingati Tahun Baru Imlek. Begitu juga etnis Tionghoa di Indonesia. mereka merayakan peringatan Tahun Baru Imlek dengan penuh suka cita dengan berbagai acara yang meriah. 

Namun, di setiap jelang peringatan Hari Raya Imlek berlangsung, tak jarang muncul polemik di tengah-tengah masyarakat terkait dengan hukum mengucapan Selamat Hari Raya Imlek bagi umat muslim yang menurut sebagian orang bisa mengancam akidah.  

Mengenai hal itu, Rabu (6/2) siang Kontributor NU Online Kifayatul Ahyar berhasil mewawancarai salah satu anggota Banser Banyumas berdarah Tionghoa yang juga seorang mualaf bernama Arnold Ong. Berikut hasil wawancara tersebut.

Terkait dengan polemik ucapan Selamat Imlek, bagaimana pendapat anda sebagai seorang keturunan Tionghoa? 

Saya justru khawatir, karena masih banyak orang yang salah kaprah memahami perayaan Imlek.

Khawatir, salah kaprah, maksudnya? 

Perlu diketahui bersama bahwa sebetulnya perayaan Imlek ini tidak terkait secara langsung dengan suatu agama tertentu, akan tetapi merupakan adat istiadat atau budaya dari etnis Tionghoa di seluruh dunia dalam merayakan Tahun Baru penanggalan Tiongkok. 

Berarti bukan sebuah ritual agama?

Jadi begini, layaknya sebagaimana kita memandang budaya dalam Islam, khususnya di kalangan NU. Hal yang perlu dilakukan menurut saya adalah menghargai adat dan budaya yang ada. Namun kita tetap harus cermat dalam memilah mana yang perlu kita jalankan atau tidak.

Apakah sekarang anda masih ikut merayakan Imlek? 

Keluarga saya walaupun keturunan Tionghoa memang sudah sejak saya kecil mengalami asimilasi budaya sehingga tidak terlalu kental menjalankan budaya-budaya Tionghoa seperti Imlek ini. Tapi saya tetap terima angpaow. Walau generasi di atas saya, saat saya kecil masih terbilang cukup kental menjalankan tradisi, tapi itu terputus di generasi orang tua saya.

Menurut anda, apa nilai positif dari perayaan Imlek? 

Salah satu tradisi dalam merayakan Imlek yang sangat positif adalah silaturahmi. Layaknya yang biasa umat Islam jalankan di saat Hari Raya Lebaran. Dalam perayaan Imlek kami akan berkumpul mengunjungi sanak saudara yang lebih dituakan, mengadakan jamuan makan dan sebagainya.

Ini penting untuk tetap dilakukan karena walaupun seandainya ada perbedaan agama kita harus tetap menjalin ikatan persaudaraan dengan segenap keluarga besar.

Sekarang anda seorang mualaf, bagaimana memang perayaan Imlek ini? 

Sederhana saja. Bagi saya perayaan Imlek adalah perayaan tahun baru untuk berkumpul dengan keluarga, sebagai ajang silaturahmi dengan keluarga seperti layaknya saat Idul Fitri.

Jika menurut anda begitu, kenapa ada orang yang merasa resah dengan perayaan Imlek? 

Kalo ada yang masih mendebatkan soal Imlek? Sini saya kasih angpaow he..he..he.
Ahad 3 Februari 2019 18:0 WIB
NU Sekarang Bisa Berperan Lebih Banyak
NU Sekarang Bisa Berperan Lebih Banyak
Prof Muhammad Machasin
Nahdlatul Ulama telah genap berusia 93 tahun. Tujuh tahun lagi, organisasi yang didirikan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari ini bakal berusia satu abad. Era Reformasi yang sudah berlangsung 20 tahun membuat demokrasi Indonesia terus berkembang. Lebih terbukanya akses dan kebebasan bersuara di tengah publik memberikan peluang dan tantangan tersendiri bagi NU. Terlebih dengan adanya media sosial, orang-orang semakin lebih mudah menyuarakan pelbagai hal.

Tahun 2019 yang menjadi perhelatan akbar politik Indonesia dengan adanya Pemilu juga memberi warna lain. Orang-orang dengan berbagai latar belakang organisasi dan ideologi berebut untuk dapat mengambil peran di tengah bangsa yang multiragam ini. Tak terkecuali Nahdliyin.

Kontributor NU Online Syakir NF berhasil menemui Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Muhammad Machasin saat Konsolidasi Organisasi Jelang Satu Abad NU yang digelar di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, pada Kamis (31/1).

Bagaimana Prof Machasin melihat NU saat ini?

NU karena jumlah anggotanya yang banyak dalam sistem demokrasi ini menjadi seksi untuk dimanfaatkan suaranya. Tetapi, NU juga tidak mudah ditarik-tarik. Dibandingkan zaman Orde Lama dan Orde Baru, NU jauh lebih berperan sekarang. Dulu berperan, tetapi karena suasana sosial, politik, dan budayanya membuat NU belum bisa berperan besar. Tetapi beberapa tokoh NU berperan besar, ada Kiai Wahab, Kiai Saifuddin Zuhri dan lain-lain.

Kenapa sekarang bisa berperan lebih besar?

Sekarang NU sudah banyak orang yang terpelajar. Mereka mempunyai skill menangani hal-hal di luar agama. Maka sekarang, NU lebih berpotensi untuk bisa berbuat lebih besar untuk kepentingan bangsa.

Memang masih terserak-serak. Kadang-kadang terdengar pikiran yang berbeda, omongan yang miring, ya itu dinamika saja karena NU kan lebih banyak orang yang amal ibadahnya mirip-mirip. Kalau kita lihat orang-orangnya, kita bisa lebih memberikan harapan.

Lalu apa tantangan NU saat ini?

Tantangan yang pokok menurut saya adalah pembinaan ke dalam. Ke luar, orang akan mencari. Tapi ke dalam, apa yang membuat kita ini NU. Ini sebetulnya yang perlu ditanya. Sebagian orang mungkin sudah tahu seperti memperkuat wasathiyah dan sebagainya. Tapi sebenarnya lebih dari itu. Di dalam NU, ada yang melihat ke-NU-annya itu dari ibadah, seperti qunut, tarawih 20 rakaat. Saya kira itu sudah tidak cukup lagi untuk mengatakan siapa orang NU.

Mestinya bagaimana, Prof?

Mungkin perlu dirumuskan dengan baik. NU dalam beragama itu cukup lentur. Tidak mudah mengatakan bid'ah, haram, bisa toleran terhadap orang yang berbeda, percaya pada proses, tidak mengatakan ini salah dan seterusnya. Walaupun ada orang NU yang tipenya berbeda, mengatakan ini salah dan sebagainya. Tapi umumnya orang NU itu adalah moderat di dalam beragama. Ini yang perlu dirumuskan lebih baik karena moderasi itu berkembang, tergantung suasananya. Di tempat yang banyak sekali beribadah, mungkin moderasinya berubah. Mungkin di tempat lain yang pilihannya pada pluralistik mungkin berbeda lagi.

Apa harapan Prof terhadap NU ke depan?

Sulit rasanya mengatakan harapan karena saya juga terlibat di dalamnya. Tapi ya seharusnya NU bisa berperan lebih banyak. Bagaimana NU bisa memegang kembali peran penyampai Islam kepada masyarakat banyak. Jangan sampai NU terlalu pinggir. Kita harus berebut ke tengah dan menyampaikan pesan ke-NU-an.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG