::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MUNAS-KONBES NU 2019

Rais Aam PBNU: Cintailah Saudaramu walau Tidak Seagama

Jumat, 01 Maret 2019 13:35 Munas-Konbes NU 2019

Bagikan

Rais Aam PBNU: Cintailah Saudaramu walau Tidak Seagama
Banjar, NU Online
Di tengah maraknya sentimen identitas agama di Indonesia, Rais ‘Am PBNU KH Miftakhul Ahyar mengingatkan bahwa Islam dengan ukhuwahnya memiliki kewajiban persaudaraan yang harus dilaksanakan.

Pertama, wajibatu muslimin li ikhwanihimul muslimin, dalam bidang ukhuwah islamiyah. Tanda-tanda ukhuwah orang mukmin pada masa awal-awal Islam adalah mereka selalu mendahulukan kepentingan saudaranya lain, walau pun mereka juga sangat membutuhkan.

Kedua, wajibatu muslimin lidz dzimmiyin, kewajiban muslim kepada nonmuslim. Kiai Miftah mengisahkan bahwa pada saat Rasulullah meninggal dunia sebagian sahabat mencari baju perang Rasul. Setelah dicari-cari di berbagai tempat, ada kabar ternyata baju tersebut sedang digadaikan oleh Rasulullah kepada orang Yahudi. Akhirnya Sahabat Ali yang menebusnya.

“Maknanya apa, mengapa Rasulullah sampai menggadaikan baju tersebut?” tutur Kiai Miftah pada acara penutupan Munas dan Konbes NU 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Jum’at (1/3) siang. 

Ternyata, lanjut Kiai Miftah, itu adalah pelajaran dari Rasulullah sebagai sebuah amanah bagi umatnya, yakni cintailah saudaramu walau tidak seagama.

Makna Rasulullah menitipkan dan menggadaikan bajunya kepada orang Yahudi adalah bukan karena kebutuhan, tapi disana ada hak-hak di mana umat Islam wajib menjaganya, hak sebagai tetangga, hak sebagai anak bangsa, hak sebagai keluarga besar negara. 

Oleh karena itu, Rais ‘Am PBNU itu menilai orang nonmuslim di Indonesia kebanyakan berstatus mu’ahad (perjanjian), ada kesepakatan, ada perjuangan bersama memerdekaan bangsa ini. Mereka juga punya hak dicintai dan dimuliakan.

Dengan tema besar yang diusung oleh PBNU,ia berharap Munas dan Konbes NU betul-betul menjadi langkah dan lompatan besar bagi Nahdlatul Ulama.

“Semoga apa yang diputuskan bermanfaat, nahdliyin, umat, dan semua saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air,” kata Kiai Miftah. 

Dalam kesempatan itu hadir juga Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla yang menutup secara resmi Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul 2019 di hadapan ratusan peserta dan ratusan masyarakat yang hadir pada siang itu. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)