::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MUNAS KONBES NU 2019

Menggagas Langkah Strategis Nahdlatul Ulama Jelang Satu Abad (1)

Jumat, 01 Maret 2019 13:00 Munas-Konbes NU 2019

Bagikan

Menggagas Langkah Strategis Nahdlatul Ulama Jelang Satu Abad (1)

Jakarta, NU Online

Sejumlah program strategis Nahdlatul Ulama seperti pendidikan, kesehatan, kaderisasi, hingga metode dakwah di era digital dirumuskan dengan seksama pada Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019. Salah satu forum yang menarik adalah paparan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh yang merupakan salah satu pejabat PBNU saat menggagas langkah strategis Nahdlatul Ulama jelang 2026 lengkap dengan langkah konkrit yang perlu ditempuh.

Dalam paparannya M Nuh mengawali dengan variable penting perubahan yang harus dimiliki oleh sebuah organisasi di era yang serba cepat seperti saat ini. Organisasi yang akan terus bertahan adalah yang siap merespons perubahan. “Siapa yang beradaptasi dengan perubahan dia akan bertahan,” kata M Nuh Kamis, (28/2).

Ia menunjukkan beberapa perusahaan raksasa yang dulu pernah berjaya seperti Kodak dan Nokia. Dalam analisanya, kedua organisasi raksasa tersebut gagal menyambut perubahan yang terjadi di dunia. Dari situ M Nuh menyebut bahwa strategi bertahan dalam perubahan sendiri mengalami pergeseran. “Saat ini tidak cukup menjadi organisasi yang besar, tapi juga perlu kecepatan. Sebab jika tidak, organisasi besar bisa didahului oleh (organisasi) yang kecil-kecil,” jelasnya.

Bagi M Nuh penting sekali bagi NU untuk menentukan ‘apa’ yang hendak dilakukan pada ulang tahun ke-100 yang hanya berjarak tujuh tahun lagi. “Kalau orang punya cita-cita, Allah lebih mudah mengabulkannya. Oh Si Fulan ini maunya ini,” katanya memberi perumpamaan. Maka M Nuh menekankan warga NU perlu ‘memasang’ target pada ulang tahun abad kedua mendatang.

Belajar dari sejarah

Nahdlatul Ulama merupakan organisasi yang terbiasa men-set cita-cita yang panjang. M Nuh membuktikan ucapannya dengan membuka dokumen lama berupa sebuah klipingan koran bernama ‘Koran Berita Nahdlatouel Oelama’ edisi tahun 1937. Di dalamnya, saat jauh sebelum kemerdekaan kala itu, sudah tertulis bahwa NU melihat perlunya membangun rumah sakit dan mendirikan badan usaha yang inklusif dan boleh dikerjakan dengan kelompok lain di luar NU. “Dulu para pendiri NU sudah berpikir jangka panjang. Artinya jika diukur dengan standar ber-NU yang demikian tinggi, cara ber-NU saya masih rendah sekali,” kata M Nuh.


Gagasan strategis NU tak lepas dati tiga komponen penting yang terekam dalam sejarah perjalanan NU sendiri; yakni pilar ekonomi, pilar pendidikan dan pilar kenegaraan. Kelahiran NU di tahun 1926 diawali oleh kelahiran Nahdlatut Tujjar sebagai pondasi ekonomi dan Taswirul Afkar sebagai pondasi pendidikan sebelumnya. “Sebelum NU lahir, sudah ada persiapan matang melalui Nahdlatut Tujjar dan Taswirul Afkar,” katanya.

Lalu, sejak kelahirnya hingga saat ini, NU merangkak berkembang. Dalam perjalanannya sejarah perkembangan NU tampak membentuk huruf kurva ‘S’. Artinya jika dibandingkan sejak lahirnya hingga saat ini telah banyak kemajuan yang dirasakan atau diraih oleh NU.

Baca: Langkah Persiapan Satu Abad Nahdlatul Ulama (2)

Namun kemanjuan itu dalam beberapa tahun terakhir disebutnya tak lagi mengalami perkembangan yang signifikan bahkan mengalami stagnasi. Refleksi yang dilakukan M Nuh melahirkan kesimpulan bahwa ‘untuk mencapai kemajuan di kemudian hari diperlukan investasi saat ini’. Menurutnya kemajuan yang dialami NU sejak kelahirannya sehingga berhasil membentuk kurva S adalah buah dari investasi yang ditanam para ulama pada era sebelumnya.

Berkaca dari itu, untuk membuat kemajuan atau mengukir kurva ‘S’ di masa depan, harus dilakukan investasi saat ini. Jika tidak, maka NU akan mengalami stagnasi dan besar kemungkinan terjebak pada penurunan. “Masa investasi NU ada di tahun 1926, lalu ‘naik’ dan sekarang stagnan atau berada di masa kritis. Barang siapa yang merasa di puncak, maka dia nanti akan turun. Sebuah organisasi tidak boleh merasa di puncak, sebab kalau sudah di puncak, ia akan turun. Maka kita harus investasi saat ini,” kata dia. (Ahmad Rozali)

Bersambung...