IMG-LOGO
Nasional
MUNAS KONBES NU 2019

Menggagas Langkah Strategis Nahdlatul Ulama Jelang Satu Abad (1)

Jumat 1 Maret 2019 13:0 WIB
Bagikan:
Menggagas Langkah Strategis Nahdlatul Ulama Jelang Satu Abad (1)

Jakarta, NU Online

Sejumlah program strategis Nahdlatul Ulama seperti pendidikan, kesehatan, kaderisasi, hingga metode dakwah di era digital dirumuskan dengan seksama pada Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019. Salah satu forum yang menarik adalah paparan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh yang merupakan salah satu pejabat PBNU saat menggagas langkah strategis Nahdlatul Ulama jelang 2026 lengkap dengan langkah konkrit yang perlu ditempuh.

Dalam paparannya M Nuh mengawali dengan variable penting perubahan yang harus dimiliki oleh sebuah organisasi di era yang serba cepat seperti saat ini. Organisasi yang akan terus bertahan adalah yang siap merespons perubahan. “Siapa yang beradaptasi dengan perubahan dia akan bertahan,” kata M Nuh Kamis, (28/2).

Ia menunjukkan beberapa perusahaan raksasa yang dulu pernah berjaya seperti Kodak dan Nokia. Dalam analisanya, kedua organisasi raksasa tersebut gagal menyambut perubahan yang terjadi di dunia. Dari situ M Nuh menyebut bahwa strategi bertahan dalam perubahan sendiri mengalami pergeseran. “Saat ini tidak cukup menjadi organisasi yang besar, tapi juga perlu kecepatan. Sebab jika tidak, organisasi besar bisa didahului oleh (organisasi) yang kecil-kecil,” jelasnya.

Bagi M Nuh penting sekali bagi NU untuk menentukan ‘apa’ yang hendak dilakukan pada ulang tahun ke-100 yang hanya berjarak tujuh tahun lagi. “Kalau orang punya cita-cita, Allah lebih mudah mengabulkannya. Oh Si Fulan ini maunya ini,” katanya memberi perumpamaan. Maka M Nuh menekankan warga NU perlu ‘memasang’ target pada ulang tahun abad kedua mendatang.

Belajar dari sejarah

Nahdlatul Ulama merupakan organisasi yang terbiasa men-set cita-cita yang panjang. M Nuh membuktikan ucapannya dengan membuka dokumen lama berupa sebuah klipingan koran bernama ‘Koran Berita Nahdlatouel Oelama’ edisi tahun 1937. Di dalamnya, saat jauh sebelum kemerdekaan kala itu, sudah tertulis bahwa NU melihat perlunya membangun rumah sakit dan mendirikan badan usaha yang inklusif dan boleh dikerjakan dengan kelompok lain di luar NU. “Dulu para pendiri NU sudah berpikir jangka panjang. Artinya jika diukur dengan standar ber-NU yang demikian tinggi, cara ber-NU saya masih rendah sekali,” kata M Nuh.


Gagasan strategis NU tak lepas dati tiga komponen penting yang terekam dalam sejarah perjalanan NU sendiri; yakni pilar ekonomi, pilar pendidikan dan pilar kenegaraan. Kelahiran NU di tahun 1926 diawali oleh kelahiran Nahdlatut Tujjar sebagai pondasi ekonomi dan Taswirul Afkar sebagai pondasi pendidikan sebelumnya. “Sebelum NU lahir, sudah ada persiapan matang melalui Nahdlatut Tujjar dan Taswirul Afkar,” katanya.

Lalu, sejak kelahirnya hingga saat ini, NU merangkak berkembang. Dalam perjalanannya sejarah perkembangan NU tampak membentuk huruf kurva ‘S’. Artinya jika dibandingkan sejak lahirnya hingga saat ini telah banyak kemajuan yang dirasakan atau diraih oleh NU.

Baca: Langkah Persiapan Satu Abad Nahdlatul Ulama (2)

Namun kemanjuan itu dalam beberapa tahun terakhir disebutnya tak lagi mengalami perkembangan yang signifikan bahkan mengalami stagnasi. Refleksi yang dilakukan M Nuh melahirkan kesimpulan bahwa ‘untuk mencapai kemajuan di kemudian hari diperlukan investasi saat ini’. Menurutnya kemajuan yang dialami NU sejak kelahirannya sehingga berhasil membentuk kurva S adalah buah dari investasi yang ditanam para ulama pada era sebelumnya.

Berkaca dari itu, untuk membuat kemajuan atau mengukir kurva ‘S’ di masa depan, harus dilakukan investasi saat ini. Jika tidak, maka NU akan mengalami stagnasi dan besar kemungkinan terjebak pada penurunan. “Masa investasi NU ada di tahun 1926, lalu ‘naik’ dan sekarang stagnan atau berada di masa kritis. Barang siapa yang merasa di puncak, maka dia nanti akan turun. Sebuah organisasi tidak boleh merasa di puncak, sebab kalau sudah di puncak, ia akan turun. Maka kita harus investasi saat ini,” kata dia. (Ahmad Rozali)

Bersambung...

Bagikan:
Jumat 1 Maret 2019 22:40 WIB
Melalui BPLM, Kemendes PDTT Akan Tingkatkan Mutu dan Kapasitas Masyarakat Desa
Melalui BPLM, Kemendes PDTT Akan Tingkatkan Mutu dan Kapasitas Masyarakat Desa
Sekjen Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi Anwar Sanusi

Bogor, NU Online

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) akan lebih meningkatkan mutu dan kapasitas dalam pelatihan kepada masyarakat desa melalui Balai-balai Pengembangan Latihan Masyarakat (BPLM) Kemendes PDTT yang tersebar di sejumlah provinsi.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kemendes PDTT Anwar Sanusi dalam arahannya kepada peserta rapat kerja teknis Balai Besar Pengembangan Latihan Masyarakat (BBPLM) di Hotel Sahira Bogor pada Jumat (1/3/2019).

Menurutnya, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu unsur utama yang menentukan bagi keberhasilan dan juga keberlanjutan organisasi termasuk masyarakatnya.

"Tentunya kami ingin, apa yang kita lakukan itu adalah betul-betul sebuah pelatihan yang dibutuhkan masyarakat dan bisa menyediakan sebuah pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa," katanya.

Anwar memberikan contoh, misalnya pelatihan tentang bagaimana mengelola sampah. Karena sampah telah menjadi persoalan serius. Kalau sampah ini dikelola dengan baik ternyata bisa menghasilkan keuntungan yang luar biasa.

Selain itu, juga bisa diberikan pelatihan yang memang bisa menggali keunggulan yang ada di masyarakat desa itu sendiri.

Salah satunya kopi. Untuk kopi ini, Kemendes PDTT telah kerjasama dengan starbuck untuk daerah-daerah pengelolaan kopi.

"Jadi, pelatihan yang kita berikan itu betul-betul efektif, utamanya sebuah pelatihan yang menjadi bagian penting untuk mencerdaskan masyarakat melalui peningkatan keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan dalam rangka mengembangkan usaha ekonomi ditingkat masyarakat desa," tutupnya.

Jumat 1 Maret 2019 17:15 WIB
MUNAS-KONBES NU 2019
NU Ikut Wujudkan Perdamaian Dunia dengan Islam Nusantara
NU Ikut Wujudkan Perdamaian Dunia dengan Islam Nusantara
Ketum PBNU, KH Said Aqil Siroj
Kota Banjar, NU Online
NU semakin dibutuhkan kiprahnya di dunia internsional, khususnya untuk memulihkan pertikaian dan membangun perdamaian. Peran itu timbul dan terus membesar karena NU  mengampanyekan Islam Nusantara. Dengan ciri khas yang penuh rahmah, NU dipercaya mampu membawa Islam sebagai solusi masalah negara dan solusi perdamian dunia.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj melaporkan keberhasilan NU tersebut dalam Penutupan Munas dan Konbes NU 2019 di Psantren Miftahul Huda Al_azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Jumat (1/3).  

Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum dan sejumlah pejabat pemerintah hadir dalam acara tersebut.

"NU diminta mendamaikan golongan Sunni dan Syiah di Iraq yang terus bertikai. NU sudah beberapa kali mempertemukan antar faksi dalam Islam itu dan pelan namun pasti menuju  hasil perdamaian," papar Kiai Said.

Kemudian dia menceritakan kiprah NU yang telah mendamaikan dua kelompok yang telah 40 tahun berperang di Arghanistan. NU sebagai penengah telah empat kali mpertemukan mereka, di Jakarta, di Kabul, dan dua kali di Istanbul Turki.

"Hasilnya, ulama afghanistan sepakat mendirikan organisasi yang persis namanya dengan kita, yaitu Nahdlatul Ulama. Cuma beda lambangnya, NU kita ada gambar bintang sembilan, sedangkan NU Afghanistan ada gambar bintang lima," tutur dia.

Lebih lanjut  dia beberkan, ulama Malaysia yang sudah resah atas gerakan wahabi yang telah merusak persaudaraan muslim di negeri jiran itu, sepakat mendirikan organisasi bernama Pertumbuhan Nahdlatul Ulama. "Malaysia mengagumi model Islam Nusantara yang kita gaungkan. Ulama Malaysia mendirikan Pertumbuhan Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Dia terangkan pula, NU melanjutkan langkah pemerintah Indonesia, khususnya Wapres Jusuf Kalla, membangun perdamian di China, Filipina, Thailand selatan, dan di Myanmar.   

"Alhamdulillah NU telah membantu membangun perdamaian di Uighur China. Dubes China sudah bertamu ke PBNU dan kami sudah datang ke China untuk membantu mewujudkan perdamaian di sana," lanjut Kiai Said.

Dia teruskan, peran di Asia yang dimainkan NU adalah membantu memulihkan perdamaian di Filipina yang pernah diserang teroris ISIS beberapa waktu lalu. Pemerintah, kata dia,  mendukung tindakan NU. Yakni Presiden Jokowi telah mengirim bantuan untuk pembangunan kembali Masjid Raya di Marawi yang rusak akibat perang ISIS dengan tentara Filipina.

"Alhamdulillah Filipina sudah berangsur pulih dari peristiwa serangan teroris lalu. Sudah damai. Bapak Presiden Jokowi sudah mengirim bantuan pembangunan kembali masjid yang rusak akibat perang tersebut," tuturnya.

Dia teruskan, NU juga telah menjadi pendamai di Thailand Selatan yang punya masalah gerakan separatis dari warga muslimnya. Lalu di Myanmar, dalam kasus Rohingnya, NU  menerima amanah membantu perdamaian di kawasan tersebut, sehingga menjadi keputusan resmi organisasi.

"Peran NU semakin banyak, kita terus diminta menjadi penengah di negara-negara yang sedang konflik, yang melibatkan kaum muslimnya. Inilah hasil dari Islam Nusantara kita," tandasnya.

Dijelaskan Kiai Said, Munas dan Konbes NU 2019 dalam sidang komisi Bahsul Masail Maudhuiyah berhasil merumuskan pengertian Islam Nusantara, dan pada sidang pleno, seluruh musyawirin menyepakati, sehingga telah resmi menjadi keputusan organisasi.

"Dengan demikian seluruh pengurus NU dari pusat sampai ranting harus memahami pengertian Islam Nusantara. Bahwa  Islam Nusantara bukanlah paham aliran, sekte, atau mazhab baru yang dikembangkan di Indonesia," tandasnya.

Islam Nusantara dalam pengertian substansial adalah Islam ahlussunnah waljamaah yang diamalkan, didakwahkan, dan dikembangkan sesuai karakteristik masyarakat dan budaya di Nusantara oleh para pendakwahnya.

Di hulu, Islam Nusantara adalah Islam yang menghormati budaya yang ada selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Di hilir, yaitu puncaknya, Islam Nusantara adalah hubbul wathon minal iman, yaitu cinta tanah air adalah bagian dari iman.

"Islam harus menyatu dengan nasionalisme, nasionalisme harus diberi spirit dengan Islam. Itulah yang diajarkan oleh pendiri NU, hadloruts syaikh KH Hasyim Asy'ari,"  pungkas Kiai Said. (M Ichwan/Muiz)
Jumat 1 Maret 2019 16:30 WIB
MUNAS-KONBES NU 2019
Pengalaman Peserta Munas-Konbes Shalat Jumat bersama Wapres JK
Pengalaman Peserta Munas-Konbes Shalat Jumat bersama Wapres JK
Wapres RI Jusuf Kalla pada penutupan Munas-Konbes NU 2019.
Kota Banjar, NU Online
Penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Kenferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama berlangsung hari ini, Jumat (1/3). Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) berkenan hadir dan melanjutkan dengan shalat Jumat di masjid Pondok Pesantren Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, lokasi Munas-Konbes.

Sebagai orang penting di negeri ini setelah Presiden RI, maka pengamanan selama memasuki area penutupan demikian ketat. Sama ketika pembukaan yang menghadikan Joko Widodo, maka lokasi sekitar acara harus steril. Demikian pula saat undamngan memasuki lokasi, harus dengan membawa identitas dari panitia. Tanpa itu, dijamin tidak bisa masuk lokasi.

Kondisi serupa juga terjadi kala melakukan shalat Jumat. Para jamaah diharuskan melewati alat deteksi (metal detector) demi memastikan tidak membawa barang yang membahayakan. Alat tersebut dipasang di sebelah timur masjid, dan wajib dilewati jamaah yang akan ikut shalat Jumat.

“Korek api saya diamankan petugas,” kata Ahmad Muwafiq. Peserta yang memang ahli hisap dalam artian perokok berat tersebut tidak menyadari kalau korek api yang dibawanya akan bermasalah.

Peserta dari Jawa Timur ini awalnya tidak menyadari kalau barang bawaan jamaah akan diperiksa seketat itu. “Namanya juga mau Jumatan, masak mikir yang macam-macam,” ungkapnya. 

Pengalaman serupa juga dialami oleh Muhammad Misbah. “Alat cukur kumis dan jenggot saya juga ditahan,” kata peserta dari Jawa Barat tersebut. 

Dirinya yang sebenarnya hanya sebagai penggembira pada Munas dan Konbes NU 2019 tersebut sebelum berangkat shalat Jumat membeli alat cukur di pintu masuk pesantren. “Saat di toilet nanti sekalian mau membersihkan kumis dan jenggot yang mulai memanjang,” ungkapnya. Dirinya juga mengejar kesunnahan memotong sejumlah bulu pada hariu Jumat.

“Tahu gitu saya wudlu di luar masjid,” sesalnya. 

Shalat Jumat berlangsung khidmat dengan uraian seputar bahaya hoaks oleh khatib. (Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG