::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Islam Nusantara Tidak Menyentuh Aspek Akidah dan Ibadah Mahdhah

Sabtu, 02 Maret 2019 07:00 Munas-Konbes NU 2019

Bagikan

Islam Nusantara Tidak Menyentuh Aspek Akidah dan Ibadah Mahdhah
Banjar, NU Online
Islam Nusantara menjadi salah satu pembahasan pada Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah, Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2019. Istilah yang mulai mengemuka sejak dijadikan tema pada Muktamar ke-33 di Jombang, Jawa Timur ini dibahas secara lebih komprehensif.

KH Abdul Moqsith Ghazali, juru bicara komisi tersebut, dalam laporannya menyampaikan bahwa Islam Nusantara tidak menyentuh aspek aqidah dan ibadah mahdlah, ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah.

"Quran yang dibaca sama, Nabi yang diikuti sama," katanya pada sidang pleno Munas dan Konbes NU 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2) malam.

Perbedaan yang terjadi terdapat pada penerapan pengamalan syariatnya (tathbiq amal li asyyariah). Hal itu sebagaimana disampaikan oleh KH Afifuddin Muhajir pada saat musyawarah berlangsung. Pengajar di Mahad Aly Salafiyah Syafiiyah itu mencontohkan walimah nikah yang sudah disyariatkan. Adapun bentuk walimahnya yang berbeda.

"Dalilnya sudah jelas, tetapi penerapannya beda-beda," kata Kiai Afif.

Di samping itu, penulis kitab Fathu al-Mujib al-Qarib itu juga mencontohkan takziyah yang terbatas tiga hari dalam kitab-kitab klasik. Setelahnya justru makruh karena khawatir akan membuat sedih kembali. Akan tetapi, hal itu tidak terjadi di Jawa Madura.

Karenanya, Islam Nusantara, menurutnya, bisa juga diterapkan di belahan bumi lainnya dengan wujud yang berbeda pula.

"Islam Nusantara bisa di-tatbiq-kan (diterapkan) di negara lainnya dalam wujud yang berbeda," pungkasnya. (Syakir NF/Fathoni)