IMG-LOGO
Daerah

Asesor BAN PT Visitasi ke STISS Grobogan

Senin 4 Maret 2019 11:0 WIB
Bagikan:
Asesor BAN PT Visitasi ke STISS Grobogan
Ketua Yayasan Assunniyyah (bediri 3 dari kiri)
Grobogan, NU Online
Asesor Badan Akreditasi Nasional (BAN PT) melakukan visitasi ke Sekolah Tinggi Islam Sunniyyah Selo (STISS) Grobogan, Sabtu (2/3).

Kehadiran Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi H Arja Imroni didampingi petugas dari Diktis Kemenag RI dan Kopertais Wilayah X Jawa Tengah di kampus STISS disambut ribuan siswa Yayasan Sunniyyah Selo dan masyarakat setempat.

Ketua STISS Grobogan Hj Nunung Nuryati mengatakan, saat ini perguruan tinggi STISS telah mengajuan permohonan izin operasional satu jurusan dengan dua program study (prodi) yakni Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

Sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Asesor BAN PT H Arja Imroni menuturkan, potret calon perguruan tinggi yang dituangkan dalam borang terkadang bagaikan tampilan foto yang indah hasil editan, sedangkan kenyataannya tidak sesuai dengan foto yang ditampilkan, sehingga diperlukan visitasi guna mencocokkan borang dengan data yang dimiliki.

“Setelah saya melihat secara langsung, saya menaruh harapan besar kepada STISS kalau nanti sudah mendapatkan izin operasional agar dimenej secara profesional dan pada tahun kedua harus sudah mengajukan permohonan akreditasi. Kalau saya lihat semangatnya yakin STISS mampu melakukan itu,” ujar Arja' Imroni mantan Sekretaris PWNU Jawa Tengah itu.

Pada saat asesor menanyakan kepada yayasan tentang seberapa peluang STISS dalam menerima mahasiswa?. Ketua Yayasan Sunniyyah Selo H Ahmad Niam Syukri mengatakan, dirinya sangat optimis karena modal dasar sudah dimiliki, di mana saat ini siswa MA Sunniyyah Selo berjumlah kurang lebih 1.000 siswa belum lagi ditambah keluaran MA/SMA di sekitar yang jumlahnya cukup besar.

“Begitu juga kalau dilihat dari animo masyarakat yang melihat menjadi guru adalah sesuatu yang menjanjikan. Saat ini di Grobogan kekurangan guru, jumlah kekurangannya besar, belum lagi kalau ditambah jumlah guru yang pensiun pada tahun ini dan tahun depan,” tutur Niam Syukri Masruri mantan Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah ini.

Menurutnya, kalau guru negeri DPK ditarik dari sekolah swasta dan harus mengajar di sekolah negeri, maka peluang sarjana pendidikan untuk berkiprah sebagai guru semakin besar (Red: Muiz)
Bagikan:
Senin 4 Maret 2019 23:55 WIB
Mengenali Watak Orang yang Belajar Agama Lewat Medsos
Mengenali Watak Orang yang Belajar Agama Lewat Medsos
Ilustrasi (Ist.)
Pringsewu, NU Online
Di era digital saat ini, masyarakat diberikan kemudahan dalam mengakses berbagai informasi. Hanya dengan sentuhan jari melalui smartphone, informasi yang dikehendaki dapat diakses dengan cepat. Kondisi ini pun mengakibatkan pergeseran prilaku masyarakat dalam menyikapi informasi.

Banyaknya informasi yang bertebaran di dunia maya terlebih di media sosial mengakibatkan sebagian masyarakat semakin tidak selektif dalam menerima informasi. Tak terkecuali dalam menerima dan memahami informasi terkait permasalahan agama.

"Kalau dulu orang yang berpengetahuan itu orang yang banyak memiliki informasi, saat ini orang yang berpengetahuan itu orang yang selektif dalam memilih informasi," kata ketua Lembaga Bahtsul Masa'il Nahdlatul Ulama (LBMNU) Provinsi Lampung KH Munawir, Senin (4/3) ketika berdiskusi tentang fenomena masyarakat yang belajar agama melalui internet dan media sosial.

Orang yang belajar ilmu agama melalui internet dan media sosial menurutnya memiliki kecenderungan mudah terprovokasi oleh informasi karena sering "kagetan" (terkejut) dan terbawa dengan hal-hal baru.

"Yang ada dan dibangun dalam dirinya adalah rasa suka dan tidak suka. Bukan karena keilmuan. Jadi tidak heran ketika beradu argumen dengan mereka, dalil apapun yang diberikan mereka akan ngeyel (tidak terima). Mereka berprinsip, saya benar, kamu salah," ungkap pria yang juga menjadi Ketua Komisi Fatwa MUI Lampung ini.

Dalam berinteraksi di media sosial, mereka juga acapkali tidak mengedepankan etika dan sopan santun dalam ucapan atau komentar. Ditambah lagi dengan tidak berinteraksi secara langsung, mereka dengan leluasa dan gampangnya membantah dengan kasar kepada para alim, kiai dan orang yang lebih tua dari mereka.

"Dengan memakai jurus copy paste link berita, artikel, video atau gambar yang tidak jelas kesahihannya, mereka membantah, menyalahkan bahkan sampai mengafir-ngafirkan orang tua seolah-olah paham masalah yang dibahas," lanjutnya.

Mereka juga lanjut Kiai Munawir, gampang terpengaruh informasi hanya lewat judul berita atau artikel yang beredar. Sikap kritis dan tabayun hilang karena sentimen kecintaan maupun kebencian terhadap seseorang atau sesuatu yang didiskusikan.

"Lihat saja pernyataan-pernyataan di kolom komentar jika ada informasi hangat di media sosial. Banyak yang belum membaca informasinya secara utuh, namun sudah berkomentar panjang. Bahkan terkadang tidak nyambung sama sekali dengan yang didiskusikan," ungkapnya.

Banyak dari mereka juga, lanjut Kiai Munawir, menafsirkan ayat, dalil, istilah dan berbagai hal yang sedang hangat dibicarakan di media sosial menggunakan penafsiran mereka sendiri. Setelah itu mereka menyalahkan penafsiran yang dibuat oleh mereka sendiri. Mereka tidak menanyakannya kepada orang yang berkompeten.

"Ini kan aneh. Belum tahu substansinya sudah berkomentar dan menyalahkan. Belum paham tapi sudah merasa paling tahu. Kebenaran dari orang yang tidak disenangi selalu disalahkan. Kesalahan orang yang disenangi selalu dibenarkan," tambahnya.

Perilaku belajar agama seperti ini lanjutnya, sangat tidak sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Mengutip pernyataan KH Mustofa Bisri (Gus Mus), ia menegaskan bahwa "Agama itu jalan hidup, bukan gaya hidup".

"Sudah mulai banyak masyarakat yang menjadikan agama sekedar sebagai gaya yang dilihat dari penampilan fisik saja. Banyak yang merasa paling beragama tetapi sesungguhnya tidak mengenal agamanya dengan benar. Menjadikan kegiatan ibadahnya untuk di pertontonkan dan mendapat pujian," katanya.

Kiai Munawir pun mengajak kepada masyarakat khususnya umat Islam untuk berhati-hati dalam bermedia sosial khususnya terkait agama. Apalagi dikaitkan dengan politik. Ia mengajak agar umat Islam belajar agama tidak melalui media sosial namun langsung kepada kiai dan ulama yang jelas silsilah keilmuannya.

"Kalau belajar lewat dunia maya tidak akan ada yang mengingatkan jika kita ada kesalahan. Tapi kalau belajar lewat dunia nyata, kita akan langsung diingatkan oleh guru kita sekaligus mendapatkan yang tidak dimiliki oleh guru virtual yakni keberkahan," pungkasnya. (Muhammad Faizin)
Senin 4 Maret 2019 21:0 WIB
Kuatkan Ke-NU-an untuk Lebih Kuatnya Indonesia
Kuatkan Ke-NU-an untuk Lebih Kuatnya Indonesia
KH Ahmad Iftah Sidik
Bekasi, NU Online
Mustasyar Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Mustikajaya, Bekasi, Jawa Barat KH Ahmad Iftah Sidik mengungkapkan kawasan Timur Tengah mudah dipecah belah dan dihancurkan karena relasi ulama dengan umatnya lebih banyak pada ranah ilmiah dan dakwah saja. Sedangkan di Indonesia, berbeda.

Situasi di Timur Tengah sebenarnya mirip dengan Indonesia. Paham Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), dan paham non-Aswaja juga banyak. Namun di Timur Tengah konflik dan keributan lebih mudah terpicu.

"Di Indonesia upaya memecah belah itu tidak mudah, karena selain ilmiah dan dakwah, ulama juga menjalankan fungsi ri'ayah, kepemimpinan sosial. Hasil pendidikan dari pesantren, ulama ikut merawat kehidupan sosial masyarakat," jelas Kiai Iftah di Pendopo Kecamatan Mustikajaya, Ahad (3/3).

Ia menambahkan, dalam hampir seluruh aspek kehidupan, ulama menjadi rujukan umat. Seperti misalnya ketika sakit, ada yang meninggal, kisruh rumah tangga, bahkan urusan politik jama'ah.

"Relasi itu menciptakan kohesi sosial yang luar biasa kuat. Dan itu pula yang menjadikan Indonesia kuat dan tidak mudah diruntuhkan," katanya.

Menurutnya, saat ini Indonesia sedang diincar oleh banyak pihak lantaran kekayaan dan keindahan alam yang ada.

"Tapi rupanya di Indonesia punya garda penjaga yang bernama NU. Bersatu dengan pemerintah, TNI, dan Polri agar negara tidak goyah," kata Pengasuh Pesantren Fatahillah, Mustikajaya ini.

Maka, lanjutnya, menyerang Indonesia tidak sama dengan menyerang Timur Tengah. Bukan dengan membombardir sebagaimana yang terjadi di sana.

"Cara untuk menghancurkan Indonesia adalah dengan, kiai dan ulama diadu, ulama dengan habaib diadu. Terlebih menjelang Pilpres seperti sekarang. Ini berbahaya, karena akan merenggangkan kohesi sosial kita," kata Kiai Iftah.

Kalau sudah demikian, Bendahara Lakpesdam PBNU ini melanjutkan, masyarakat akhirnya dibuat tidak percaya dengan guru dan kiainya sendiri. Atau yang lebih besar dengan jam'iyyah dan pemerintahnya sendiri.

"Tidak heran jika kemudian ada pengurus atau warga NU yang dibuat benci kepada Kiai Said Aqil Siroj, pimpinan tertingginya. Ada warga negara yang demikian benci dengan kepala negaranya," katanya.

Hal-hal tersebut terus dilakukan supaya kohesi sosial umat dengan ulama menjadi rusak. Kalau tidak segera ditanggulangi, maka hanya tinggal menunggu saja untuk Indonesia menjadi pecah.

"NU sebagai penjaga bangsa ini, maka agar Indonesia tidak pecah mari kita rawat ke-NU-an kita," pungkas Kiai Iftah mewanti-wanti. (Aru Elgete/Muhammad Faizin)
Senin 4 Maret 2019 13:0 WIB
Gandeng LAZISNU, LKNU Batang Luncurkan Kartu Sehat untuk Warga Dhuafa
Gandeng LAZISNU, LKNU Batang Luncurkan Kartu Sehat untuk Warga Dhuafa
Peluncuran JKNU dan Ambulan PCNU Batang, Jateng
Batang, NU Online
Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kesehatan Nahdatul Ulama (LKNU) Kabupaten Batang menciptakan inovasi baru dengan meluncurkan kartu Jaminan Kesehatan NU (JKNU) untuk kaum dhuafa.

Ketua PC LKNU Kabupaten Batang Slamet Solikhin mengatakan, Kartu JKNU itu diberikan kepada warga tidak mampu atau kaum Dhuafa. Pada tahap awal, LKNU akan membagikan sebanyak 1.000 lembar JKNU. “Kartu JKNU berfungsi untuk berobat gratis di Layanan Kesehatan NU (Lakesnu). Semua gratis dari biaya periksa dan obat-obatan,” ujarnya.

Pembagian kartu perdana diberikan bersamaan dengan peluncuran Mobil Ambulan NU Ranting Subah. Selain pengobatan gratis oleh LKNU Cabang Subah bekerja sama dengan LAZISNU. Acara tersebut sekaligus menyongsong Harlah KE-93 NU di Masjid Nuruttaqwa Kawasan Pasar Subah Kecamatan Subah, Ahad (3/3).

Menurutnya, program kesehatan LKNU yang sedang digalakkan dengan setiap Majelis Wakil Cabang (MWC) wajib memiliki  Lakesnu yang didukung oleh dokter, bidan, dan perawat, serta fasilitas kartu JKNU dan Ambulan Gratis dapat membantu kesehatan masyarakat. 

"Lakesnu sementara ini masih terbentuk di MWC Subah, pilot project kita di MWC Subah, ke depan kita koordinasikan dengan setiap MWC, setidaknya tahun ini 14 MWC lainnya harus memiliki Lakesnu agar warga NU yang tidak mampu bisa merasakan manfaat kartu JKNU,” tuturnya.

Slamet menuturkan, LKNU sebagai pelaksana kegiatan kesehatan berkoordinasi dengan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdatul Ulama (LAZISNU) yang menjadi sumber biaya dari program kesehatan ini.

“Seluruh peserta kartu JKNU ditanggung oleh LAZISNU, saya harapkan semua cabang baik LKNU maupun LAZISNU untuk berkoordinasi, agar Lakesnu lekas terbentuk di MWCNU lain sehingga pengabdian NU kepada umat bisa semakin luas,“ ujarnya.

Ketua PC LAZISNU Batang, Muhammad Masykur mengatakan, LAZISNU telah melakukan sinergi dengan semua lembaga di Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU). Salah satunya dengan LKNU Batang yang mendorong terwujudnya masyarakat sehat, khususnya warga NU melalui program kartu JKNU.

“Kita telah siapkan dana untuk program dari LKNU ini yakni kartu JKNU dan pembentukan Lakesnu. Kita terus berupaya melayani masyarakat yang butuh pengobatan gratis, bahkan kita bisa merujuk pasien sampai ke RSUD Semarang,“ paparnya.

Menurut Masykur, prinsip dari LAZISNU adalah ingin menyejahterakan umat, sehingga harus didukung oleh semua MWC dengan membentuk Lakesnu dan mendata warga tidak mampu ke kartu JKNU. “Saya kira setiap MWC menyambutnya dengan positif. Dalam waktu dekat ini, MWC Warungasem dan Wonotunggal segera membentuk Lakesnu dan membagikan kartu JKNU,” ujarnya.

Ketua PCNU Kabupaten Batang, H Achmad Taufiq mengatakan, kegiatan peluncuran Kartu JKNU, Lakesnu dan ambulan gratis merupakan inisiasi pengurus ranting NU Desa Subah yang kemudian didukung penuh MWC Subah.

“Saya menyambut baik kegiatan luar biasa ini. Ide cerdas, karena warga tidak mampu dan belum punya BPJS Kesehatan yang berbayar tersebut. Kartu JKNU ini bisa jadi alternatif,” tutur Taufiq.

Selain itu, lanjutnya, kartu JKNU juga bisa menjadi alternatif Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang telah diterbitkan Pemerintah. Peserta KIS menikmati Fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat pertama yaitu di dokter keluarga dan puskesmas, ini jadi alternatif bagi warga yang daerahnya tidak ada dokter keluarga dan tidak sempat ke Puskemas.

Apalagi, dia menambahkan saat ini pasangan Bupati Wakil Bupati Batang Wihaji-Suyono sedang gencar meningkatkan Indeks Pembagunan Manusia (IPM). Sedangkan tolok ukur IPM ada tiga faktor di antaranya pendapatan perkapita penduduk

“Kegiatan ini bagian dari ikhtiar NU dalam mendukung kinerja pemerintah Kabupaten Batang terutama di bidang kesehatan,“ pungkas Taufiq. (Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG