IMG-LOGO
Daerah

Kisah Jenazah Pengurus NU Setelah Puluhan Tahun Dimakamkan

Selasa 5 Maret 2019 11:30 WIB
Bagikan:
Kisah Jenazah Pengurus NU Setelah Puluhan Tahun Dimakamkan
KH Ubaidillah Shadaqah, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah
Magelang, NU Online
Suatu hari ada permasalahan di sebuah daerah terkait Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang harus dipisahkan antara muslim dan non-muslim. Masyarakat sepakat untuk membuat tembok pemisah antara kedua lokasi tersebut.

Namun pembangunan tembok tersebut harus membongkar salah satu makam warga yang bernama Mujiono. Makam itu sudah ada sejak sepuluh tahun lalu.

Setelah disiapkan segala sesuatunya untuk membongkar makam tersebut, termasuk kain kafan yang nantinya akan digunakan untuk membungkus kembali jenazah, dimulailah penggalian makam tersebut.

Namun ketika digali, jenazah Mujiono masih utuh terbungkus kain kafan dan kainnya pun masih terlihat putih.

"Saya tanya sebenarnya siapa itu Pak Mujiono?," tanya Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shadaqah kepada saudaranya yang tinggal di daerah tersebut.

Ternyata, Pak Mujiono adalah seorang pengurus Ranting daerah tersebut yang posisinya dibagian A'wan (Anggota). Dia sering membantu ketika ada acara NU dengan menyiapkan tenda dan menata kursi.

Kisah kondisi jenazah seorang pengurus Ranting NU di daerah Donorejo, Sragen, Jawa Tengah ini disampaikannya saat memberi sambutan pada Konferensi Cabang NU Kabupaten Magelang di Pesantren Raudlatut Thullab Wonosari, Tempuran, Ahad (3/3).

Sosok Mujiono ini menurut Kiai Ubaidillah bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi segenap pengurus NU untuk berkhidmah di NU dengan niat yang benar. Seorang Pak Mujiono yang semasa hidupnya hanya pengurus A'wan, tidak pernah di panggil "Romo Kiai" apalagi "diciumi tangannya" saja bisa seperti ini.

"Mari tata niat berkhidmat di NU untuk agama Islam," ajaknya pada pada acara yang mengangkat tema Meneguhkan Kemandirian Jama'ah dan Jam'iyyah Menuju Satu Abad NU.

Prestasi dan kenaikan karir di NU menurut Kiai Ubaidillah bukanlah diukur dari kenaikan posisi karir disetiap levelnya. Bukan karir kepengurusan dari tingkat ranting NU naik sampai dengan PBNU.

"Kenaikan karir di jam'iyyah diukur dari bertambahnya waktu bersama jama'ah. Yang tadinya (berkunjung) ke ranting satu jam, sekarang jadi dua jam, tiga jam dan seterusnya," katanya. (Red: Muhammad Faizin)
Bagikan:
Selasa 5 Maret 2019 20:30 WIB
Ma'had Aly Pati Bekali Mahasantri Kemampuan Desain Grafis
Ma'had Aly Pati Bekali Mahasantri Kemampuan Desain Grafis
Peserta pelatihan desain grafis Ma'had Aly Maslakul Huda
Pati, NU Online
Pengembangan keahlian utama di bidang desain grafis di era milenial kian diminati. Selain sebagai passion diri, desainer juga dapat menyalurkan bakat untuk kebutuhan masyarakat di Indonesia.

Merespons hal itu, departemen jurnalistik dan media di bawah naungan Himpunan Ma'had Aly Pesantren Maslakul Huda (Himam), Pati, Jawa Tengah menyelenggarakan pelatihan desain grafis photoshop untuk mahasantri kampus setempat, Senin (4/3). 

Kegiatan yang diikuti puluhan mahasantri tersebut berlangsung di laboratorium komputer perpustakaan Pesantren Maslakul Huda dengan mengundang Hilmi Robiuddin sebagai tutor.

Dari pelatihan ini diharapkan nantinya lahir calon desainer baru yang dapat menuangkan ide cemerlangnya menjadi sebuah karya visual dan dapat dinikmati oleh publik.

"Targetnya adalah para santri dapat menguasai dasar-dasar digital desain dengan baik," ungkap Ilham, selaku panitia.

Para peserta yang juga santri juga diharapkan dapat berdakwah melalui media sosial, khususnya dalam menyampaikan informasi. "Tujuan utama sebagai media penyampai informasi dan publikasi kepada khalayak sebagai sasarannya,” tandas Ilham.

Kegiatan berlangsung selama tiga kali hingga Rabu (6/3) mendatang. (Ibnu Nawawi)

Selasa 5 Maret 2019 19:30 WIB
Teladani Nabi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Teladani Nabi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Pengajian dalam rangka Harlah ke-93 NU di Sekadau, Kalbar.
Sekadau, NU Online
Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)  Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat mengadakan pengajian umum dan wisuda santri. Kegiatan dalam rangka puncak peringatan hari lahir ke-93 Nahdlatul Ulama (NU) yang dilaksanakan di Desa Landau Kodah, Sekadau Hilir, Sekadau.

Pada kesempatan memberikan ceramah, Al Habib Mustofa Sayyidi Baraqbah dari Yogyakarta mengingatkan pentingnya meneladani Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Penting meneladani sifat baginda Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena dengan meneladani kita akan terbimbing kepada jalur yang benar,” katanya di hadapan hadirin, Ahad (3/3).

Dirinya juga mendoakan agar anak yang sudah wisuda terus belajar untuk menjadi anak shaleh dan shalehah. “Berbakti kepada orang tua, agama dan bangsa,” pintanya.

Rais PCNU Sekadau, KH Muhdlar mengemukakan kegiatan dilaksanakan dalam rangka pengajian umum dan wisuda santri TPQ Hidyatussibyan yang berberengan acara puncak peringatan harlah ke 93 NU. 

“Hari ini NU selalu terdepan dalam membina umat, menjaga toleransi beragama dan bermasyarakat,” ungkapnya. 

Menurutnya, hal ini penting untuk meredam gejolak yang akhir-akhir ini timbul oleh situasi politik negara yang semakin hari semakin panas menjelang pemilihan presiden.  “Dan hal tersebut disebabkan isu hoaks dan provokasi,” ujarnya.

Dirinya juga mengapresiasi semua pihak yang telah mensukseskan kegiatan ini.

Kegiatan ini juga dihadiri pengurus PWNU Jawa Tengah, Herman Bakar yang juga merupakan putra asli Sekadau. Dan pada acara tersebut hadir ribuan jamaah dari berbagai desa di antaranya Desa Semabi, Timpuk, Seberang Kapuas dan tuan rumah Desa Landau Kodah. 

Sebelumnya, dalam rangkaian peringatan bulan harlah NU ini, PCNU Sekadau sudah melaksanakan kegiatan lain di antaranya pengajian umum di Nanga Mahap, Engkersik dan Diklatsus Banser protokoler, bagana dan balantas. Ada juga Diklatama CBP KPP oleh PC IPNU dan IPPNU Sekadau di Kecamatan Belitang. (Tambong Sudiyono/Ibnu Nawawi)

Selasa 5 Maret 2019 19:0 WIB
Pelajar NU Harus Mampu Jawab Tantangan Revolusi Industri 4.0
Pelajar NU Harus Mampu Jawab Tantangan Revolusi Industri 4.0
Harlah IPNU-IPPNU oleh PAC Bantargebang, Kota Bekasi
Bekasi, NU Online
Pelajar NU milenial harus mampu menjawab tantangan zaman di era revolusi industri 4.0, dengan semangat inovasi dan kreativitas.Hal itu dikatakan Pembina Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Bantargebang, Wildan Fathurrahman, dalam peringatan Harlah IPNU-IPPNU, di Pesantren Al-Muttaqin, Bantargebang, Kota Bekasi, pada Ahad (3/3) malam.

"Kemajuan teknologi dan informasi ini seolah-olah menjadi berkah, tapi juga sekaligus akan mendatangkan musibah untuk kita," katanya.

Lebih jauh, ia berharap agar kader IPNU dan IPPNU harus cakap dalam menyikapi keadaan zaman, yakni situasi di mana persaingan global kian kentara. "Maka, karakter pelajar NU sebagai generasi penerus bangsa harus dikuatkan," kata Wildan.

Jika hal tersebut tidak dilakukan, lanjutnya, maka keberadaan generasi penerus bangsa akan semakin tergerus. "Derasnya informasi yang terkadang negatif, jika mereka itu tidak dikuatkan karakternya, maka mereka bakal sangat mudah tergerus dan terbawa ke hal-hal yang tidak diinginkan," jelasnya.  

Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat Dwi Mustikawati menginginkan agar pelajar NU di Bantargebang berperan aktif dalam berselancar di media sosial dengan menyebar konten kebaikan.

"Minimal tidak sembarangan menshare berita-berita yang belum jelas kebenarannya. Kalau tidak yakin, cukup sampai di kita saja. Jangan disebar lagi. (Dan) kalau bisa bikin konten yang menarik dan kreatif," katanya.

Menurutnya, strategi bertahan sudah tidak lagi relevan digunakan dalam menghadapi situasi yang kian semrawut ini. Melainkan, harus segera menyusun strategi untuk menyerang. "Artinya kita menyerang dengan kreatif, serangan dalam arti positif. Misalnya dengan menyebar konten yang sejuk, melawan ujaran kebencian dengan berbagai kebaikan yang dituangkan dengan kreatif di medsos," ujar Dwi.

Ketua PAC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Bantargebang, Bekasi, Akbar Abdul Aziz berharap, pelajar NU di daerahnya mampu memberikan energi positif dalam menjalankan aktivitas keseharian. "Terlebih di zaman yang situasinya sedang memanas karena jelang pilpres. Pelajar NU mesti jadi pemadam kebakaran, jangan justru yang menjadikan kobaran api itu semakin besar," kata Akbar kepada NU Online, pada Senin (4/3). (Aru Elgete/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG