IMG-LOGO
Nasional

Islam Nusantara, Islam Santun Dibawa oleh Orang Santun kepada Bangsa Santun

Selasa 5 Maret 2019 12:0 WIB
Bagikan:
Islam Nusantara, Islam Santun Dibawa oleh Orang Santun kepada Bangsa Santun
Jakarta, NU Online
Salah satu persoalan yang dibahas dalam Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2019 di Kota Banjar, Jawa Barat ialah Konsep Islam Nusantara. Konsep tersebut perlu dibahas secara mendalam agar tidak ada kekeliruan dan kesalapahaman bagi masyarakat yang mempunyai tujuan baik untuk memahami Islam Nusantara.

Salah seorang ulama yang menjadi Tim Perumus Bahtsul Masail Maudluiyah Munas NU 2019 KH Afifuddin Muhajir menegaskan bahwa agama Islam itu bersifat santun. Kemudian, Islam yang santun ini didakwahkan di Nusantara oleh orang-orang santun (Wali Songo, red) kepada bangsa yang santun pula, yaitu masyarakat Nusantara sehingga lahir Islam Nusantara.

“Islam yang santun ini dibawa oleh orang-orang santun, sementara sasarannya orang yang santun pula, lahirlah Islam Nusantara,” ujar Kiai Afifuddin Muhajir pada forum Bahtsul Masail yang berlangsung pada Kamis, (28/2) lalu.

Penulis Kitab Fathul Mujibul Qarib ini memaparkan, ada kitab yang namanya I’jazul Qur’an, karangannya orang Timur Tengah. Dalam kitab itu menerangkan, di antara mukjizat Al-Qur’an yang tidak langsung adalah Islamnya orang Indonesia.

“Kenapa dikatakan seperti itu, karena tidak satu tetes pun darah yang mengalir dalam proses mendakwahkan Islam di Nusantara,” jelas Kiai Afif.

Menurutnya, hal ini mirip dengan Islamnya orang Qatar dan Mongol. Di saat sebagian negara berpenduduk mayoritas Islam porak-poranda tiba-tiba cucu mereka masuk Islam berbondong-bondong. Tidak menggunakan senjata tetapi menggunakan tasawuf dari murid-muridnya Syekh Abdul Qadir Jailani. 

Jadi yang pertama terkait dengan washalihud dakwah (sarana dakwah). Menurut Kiai Afif, barangkali model ini diakui oleh dunia. Yang kedua, menyangkut dzanniyatus syariah, tetapi ini tidak banyak terjadi.

“Yang banyak terjadi ialah tathbiqul amali lis syariah. Kadang-kadang aturan hukumnya jelas tetapi yang diterapkan di masyarakat tidak sama,” terang penulis buku Fiqih Tata Negara ini.

Ia menjelaskan, seperti salah satu contohnya ialah walimatul ursy. Perayaan pernikahan ini ialah acara makan dan acara minum yang diadakan seseorang atas dasar kegembiraan. Tetapi tidak cukup seperti itu, ada pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, ada pembacaan tahlil dan seterusnya, itu adalah Islam Nusantara.

“Ada ajaran silaturrahim, ada acara maaf-memaafkan, tetapi di sini (Nusantara) dilakukan dengan cara halal bihalal dengan mengumpulkan banyak orang, itu Islam Nusantara namanya. Ini namanya tathbiq amali lis syariah,” tutur Kiai Afif.

“Dan ini dasarnya jelas, tetapi pengamalannya bisa berbeda-beda di antara satu tempat dengan tempat lainnya,” sambungnya.

Ia memberikan contoh lain ialah takziyah. Di dalam kitab-kitab fiqih takziyah itu tidak lebih dari tiga hari. Setelah tiga hari, kata Kiai Afif, justru makruh hukumnya. Tetapi karena takziyah ini untuk menghilangkan dukanya shahibul mushibah, takziyah yang dilakukan setelah tiga hari dinilai bisa menghilangkan duka itu.

“Di Jawa dan Madura hingga satu bulan. Ini tidak menimbulkan musibah-musibah baru, tetapi justru shahibul mushibah bangga dengan kepedulian masyarakat atas musibah yang dialaminya. Ini kan Islam Nusantara,” tandas Kiai Afifuddin. (Fathoni)
Bagikan:
Selasa 5 Maret 2019 23:25 WIB
KH Luqman Hakim Jelaskan Tafsir Sufi Surat Al-Kafirun
KH Luqman Hakim Jelaskan Tafsir Sufi Surat Al-Kafirun
KH M. Luqman Hakim (istimewa)
Jakarta, NU Online
Direktur Sufi Center KH M. Luqman Hakim menjelaskan tafsir Surat Al-Kafirun dalam perspektif sufi. Hal ini untuk memberikan pemahaman bahwa perilaku kafir juga harus menjadi cerminan diri setiap Muslim, bukan justru untuk menuding orang lain.

Kiai Luqman tidak memungkiri bahwa banyak kata Kafirun, Musyrikun di dalam Al-Qur'an. Tetapi hal itu untuk tataran teologis, bukan pada tataran Kewarganegaraan. Bahkan konsep Tata Negara dalam Al-Qur'an tidak ada.

“Apalagi menyebut Negara Islam. Justru inilah universalitasnya Islam yang memberi ruang peradaban secara kreatif dinamis,” ujar Kiai Luqman dikutip NU Online, Selasa (5/3) lewat twitternya.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kelompok yang masuk kategori kafir dalam tataran teologis, cukup sebut mereka sebagai warga negara non-Muslim. Hal ini menurut Kiai Luqman sama sekali tidak mengubah sebutan kafir di dalam Al-Qur’an menjadi non-Muslim.

“Tidak boleh diganti (sebutan kafir dalam Al-Qur’an),” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat itu.

Karena definisi kafir itu apa? Kalau Allah menyebut, “Katakan, hai orang-orang kafir...” Ayat itu, menurut Kiai Luqman, juga bermakna kekafiran hati manusia yang selama ini menyembah hawa nafsu, dunia, dan makhluk.

Sebab itu, Kiai Luqman mengungkapkan tafsir sufi dari Surat Al-Kafirun untuk menjadi cerminan bagi setiap Muslim, sebagai berikut:

Tafsir Sufi Al-Kafirun 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ

Tafsir: Katakan, wahai orang-orang yang hatinya kufur karena terhijab dari Allah, hingga matahatinya buta, lalu hanya memihak hawa nafsu, setan, dunia, dan segala hal selain Allah.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 2

لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ

Tafsir: Aku tidak menyembahmu, karena yang kamu sembah bukanlah Tuhan. Tetapi ilusi tentang Tuhan, atas nama Tuhan, sehingga jadi berhala-berhala kegelapan. Aku adalah Qalbu yang kemilau Cahaya-Nya, tak mau memihak gairah nafsumu pada kegelapan.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 3

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ

Tafsir: Kamu pun tak akan pernah menuhankan apa yang aku sembah, karena jika dirimu memasuki Cahaya-Nya, akan terbakar dalam siksa hijab di neraka kegelapanmu. Akulah dilimpahi Cahaya hingga bersambung dengan-Nya. Kamu tidak.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 4

وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ

Tafsir: Dan aku tidak menyembah dalam perbudakan nafsumu sebagaimana perbudakanmu. Mustahil aku menyembah pada yang sesungguhnya tidak ada. Ilusimu hijab yang memblokir dirimu, hingga bayangan kau sembah sebagai kenyataan.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 5

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ

Tafsir: Kamu dengan segala dusta kegelapanmu jangan pernah mengklaim telah menyembah apa yang aku sembah. Jangan lihat Cahaya-Ku dengan mata gelap tertutupmu.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 6

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

Tafsir: Bagimu agamamu yang memperbudak dirimu dalam siksa hijab, dengan kesesatan hawa nafsumu. Dan bagiku agamaku dengan limpahan Cahaya Ridho, Fadhal dan Rahmat-Nya, sehingga aku menyembah-Nya, Dari-Nya, Kepada-Nya, Bersama-Nya, Bagi-Nya.

“Tafsir Sufi Al-Kafirun di atas untuk mendidik hawa nafsu kita sendiri. Bukan menuding orang lain. Tengoklah diri kita sendiri isinya hanya full kegelapan (Robbanaa dzolamnaa anfusana). Apa yang kita sombongkan? Banggakan? Andalkan?” tandas Kiai Luqman. (Fathoni)
Selasa 5 Maret 2019 16:0 WIB
TWEET TASAWUF
Caci Maki Bikin Manusia Keluar dari Orbit Kemanusiaannya
Caci Maki Bikin Manusia Keluar dari Orbit Kemanusiaannya
Ilustrasi (NU Online)
Jakarta, NU Online
Nabi Muhammad SAW diutus untuk menebar Rahmat untuk seluruh alam. Akhlak Nabi merupakan teladan utama perjalanan hidup manusia, khususnya umat Islam agar menjadi lebih baik dan tidak keluar dari orbit kemanusiaannya.

Terkait teladan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim menegaskan bahwa manusia telah keluar dari orbit kemanusiaannya jika berpuas diri dengan mencaci dan memaki.

“Manusia yang merasa puas diri dengan mencaci maki, ia telah keluar dari orbit kemanusiaan,” ujar Kiai Luqman dikutip NU Online, Selasa (5/3) lewat twitternya.

Menurut Direktur Sufi Center itu, siapa pun yang tidak menghargai kemanusiaan (dengan segala etika dan harkatnya), maka ia sedang menentang Firman Allah SWT, Walaqod Karramnaa banii Adama (Allah benar-benar memuliakan manusia).

Kiai Luqman menerangkan, hubungan kemanusiaan merupakan bagian fundamental atau mendasar dari nilai-nilai ajaran Islam. Bangunan kemanusiaan tersebut akan hancur jika caci maki hidup.

“Maka hubungan kemanusiaan itu bagian fundamental Islam. Akan hancur jika budaya caci maki hidup. Lebih baik kita caci diri sendiri seperti doa Nabi Adam, Robbana dzolamna anfusana,” tandasnya. (Fathoni)
Selasa 5 Maret 2019 15:10 WIB
Harga Ayam Turun, Tanggung Jawab Sektor Perdagangan
Harga Ayam Turun, Tanggung Jawab Sektor Perdagangan
Jakarta, NU Online
Penurunan harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di beberapa daerah sejak bulan Februari 2019 memancing komentar dari para akademisi. Salah satunya adalah Pengamat Ekonomi jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Defiyan Cori. Ia menilai ada kementerian yang belum menjalankan fungsi dan tugasnya secara maksimal. 

“Undang-undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara sudah jelas mengatur apa saja fungsi dan tugas semua kementerian di negara kita. Kementerian Pertanian, misalnya tugas pokoknya jelas menangani produksi pangan, sedangkan Kementerian Perdagangan mengurus terkait perdagangan dan harga baik di tingkat petani maupun konsumen,” sebut Defiyan saat memberikan keterangan, Selasa (5/3). 

Lebih rinci lagi, Defiyan  membeberkan, pengaturan fungsi dan tugas kementerian diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 45 tahun 2015 tentang Kementerian Pertanian dan Perpres Nomor 48 Tahun 2015 tentang Kementerian Perdagangan. “Tugas dan fungsi masing-masing kementerian tersebut sebenarnya sudah clear dan sudah sinkron,” tandasnya.

Defiyan menyayangkan adanya pihak-pihak yang menuding pemerintah dan menyebutkan penurunan harga disebabkan karena pasokan yang berlebih. Menurutnya, kelebihan produksi daging ayam saat ini harusnya ditanggapi dengan positif.

"Ini kan sebenarnya positif, Pemerintah telah mampu mendukung peningkatan produksi daging ayam di dalam negeri. Daripada produksi kita kurang, nanti jatuh-jatuhnya akan impor lagi,” ujarnya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di Indonesia saat ini sebanyak 268.075 ribu jiwa, konsumsi per kapita 12,13 kg per tahun. Proyeksi produksi daging ayam nasional tahun ini berdasarkan data dari Kementerian Pertanian sebanyak 3.647,81 ribu ton, sedangkan kebutuhan daging ayam nasional tahun ini mencapai 3.251,75 ribu ton, sehingga mengalami surplus sebanyak 396,06 ribu ton.  

Untuk mengatasi kelebihan produksi unggas, Defiyan meminta Kementerian Perdagangan untuk terus membuka peluang ekspor unggas maupun produk-produk turunannnya ke berbagai negara. “Nah ini kan harusnya menjadi tanggung jawab Kementerian Perdagangan untuk terus mendorong ekspor, melalui atase-atase perdagangannya yang ditugaskan di beberapa negara”, ujarnya.

Lebih lanjut Defiyan Cori yang juga dikenal sebagai Ekonom Konstitusi  beranggapan bahwa selama ini Kemendag hanya fokus melakukan pengaturan harga acuan di tingkat konsumen. Sedangkan menurutnya, di saat kondisi harga di tingkat peternak di bawah penetapan harga acuan belum ada kebijakan khusus untuk merespon fenomena tersebut. 

 “Begitu harga di tingkat konsumen naik, pemerintah langsung cepat turun tangan melakukan operasi pasar, atau bahkan jika produksi kurang langung dipenuhi dengan impor. Langkah responsif juga seharusnya diambil ketika harga anjlok di tingkat peternak,” ungkapnya.

Berdasarkan Undang-undang No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan disebutkan pada pasal 26 bahwa Kementerian Perdagangan menetapkan kebijakan harga, pengelolaan stok dan logistik, serta pengelolaan ekspor/impor dalam rangka menjamin stabilisasi harga kebutuhan pokok.

“Inilah yang perlu disinergikan untuk memformulasikan kebijakan yang tepat, manakala harga acuan baik di level petani maupun konsumen dibawah atau di atas harga acuan yang ditetapkan. Tentunya dalam hal ini Kementerian Perdagangan mempunyai peran penting terkait informasi dan stabilisasi harga,” tambah Defiyan.

Lebih lanjut, Defiyan Cori mengatakan bahwa daging ayam berdasarkan Perpres Nomor 71 Tahun 2015 merupakan satu diantara jenis bahan pangan pokok yang perlu dijaga ketersediaan dan stabilisasi harganya.  Menurutnya, sebagian besar penduduk Indonesia saat ini sudah terbiasa mengkonsumsi daging ayam sebagai salah satu sumber protein hewani setiap hari. 

“Sudah semestinya, barang kebutuhan pokok dan barang penting yang telah ditetapkan, termasuk di dalamnya daging ayam menjadi perhatian pemerintah dalam mengatur ketersediaan dan stabilisasi harga,” pungkasnya. (Red: Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG