IMG-LOGO
Tokoh

Jimly, Seniman Kaligrafi Internasional dari Jember

Selasa 5 Maret 2019 13:2 WIB
Bagikan:
Jimly, Seniman Kaligrafi  Internasional dari Jember

Jember, NU Online
Ahmad  Jimly Ashari, namanya. Masih muda, usianya baru  25 tahun. Namun lajang asal Ambulu, Jember, Jawa Timur ini  mempunyai  prestasi yang luar bisa di dunia seni kaligrafi. Sederet  piala berjejer rapi di rak pondoknya. Prestasinya menjamah level nasional bahkan internasional. Di antaranya adalah juara nasional  kaligrafi khot naskhi  di Jombang (2015). Karena prestasinya yang menumpuk,  pada tahun 2013, Jimly dipercaya mewakili Indonesia untuk ikut pameran kaligrafi di Aljazair. Tidak cukup sampai di situ, dalam lomba internasional  di Turki (2018), karyanya terpilih masuk 5 besar.

“Alhamdulillah, berkat usaha dan doa kita semua,” ucapnya kepada NU Online di kompleks  Pondok Pesantren Darus Sholah, Jalan Moh Yamin  Nomor 25, Kelurahan Tegalgesar, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (4/3).

Ustadz Jimly, sapaan akrabnya,  mengaku tertarik dengan seni kaligrafi sejak kecil. Lingkungan pesantren (Darus Sholah), tempatnya menuntut ilmu dirasa cukup mendukung bakat seni kaligrafinya. Ketika kelas SMP Darus Sholah, Jimly mengaku termotivasi oleh gurunya, Ustadz Fuad Harun.

“Beliau yang memotivasi saya pertama kali,” kenangnya.

Sejak saat itu, pemuda kelahiran Jember 6 Juni 1993 dari pasangan Suprapto dan Susilatin ini, tancap gas, menekuni seni kaligrafi. Dalam proses belajar, Ustadz Jimly tidak mencukupkan diri di lingkungan pesantren, tapi juga mencari guru kaligrafi di Malang dan Jombang untuk meningkatkan keterampilannya. Bahkan juga berguru  secara online kepada  ahli kaligrafi  di Maroko (Syeikh Bilaid Hamidi) dan Palestina (Ehad Ibrahim Tsabit). Keduanya adalah sosok yang cukup terkenal sebagai master kaligrafi dunia.

“Sejak tahun 2013 hingga sekarang saya berguru kepada kedua beliau. Belajarnya  lewat email,” urainya.

Bagi Ustadz Jimly, kaligrafi bukan sekedar tulisan arab yang dipoles, tapi juga seni yang mengandung pesan teramat jelas. Sebab, yang ditulis adalah firman  Allah. Sehingga kaligrafi juga menjadi media dakwah. Kalau soal keindahan, kaligrafi tidak hanya diakui oeh warga Muslim, tapi non Muslimpun tak sedikit yang mencintai kaligrafi.

“Ada juga non Muslim yang senang kaligrafi, tapi mereka cuma cinta keindahannya, bukan cinta dan atau ingin memahami isinya,” jelas Ustadz Jimly.

Saat ini selain menjadi guru kaligrafi di Darus Sholah, Ustadz Jimly juga ngopeni santri yang berbakat kaligrafi. Di luar itu, ia juga membuka kelas online. Muridnya dari Surabya, Malang, dan Bali.

“Kemaren ada yang dari Malaysia juga mau ikut belajar online, tapi saya belum memberi jawaban,” ucapnya.

Benar, kaligrafi bukan sekedar menulis kalimat Arab yang indah, tapi juga banyak pesan yang muncul dari kalimat yang ditulis. Anak-anak dan pelajar  memang perlu terus didorong untuk mencintai kaligrafi di tengah pusaran globalisasi budaya yang semakin masif agar kaligrafi tak mati suri.

Dan untuk itu, Jember telah memulai di bawah bimbingan Ustadz Jimly, sang seniman kaligrafi  Internasional (Aryudi AR).


Bagikan:
Selasa 26 Februari 2019 18:0 WIB
Manaqib Habib Utsman Al-Aydrus, Tokoh NU Jawa Barat
Manaqib Habib Utsman Al-Aydrus, Tokoh NU Jawa Barat
Beberapa hari lalu ada acara periingatan Haul Habib Utsman Al-Aydrus di Pondok Pesantren Assalam, Sasak Gantung, Kota Bandung. Habib Utsman merupakan pendiri pesantren tersebut. Di dalam peringatan tersebut, salah seorang putranya, KH Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus menceritakan riwayat singkat ayahandanya sebagai berikuit:

Habib Utsman merupakan murid Mama Ajengan KH Syatibi Gentur, Cianjur. Meskipun dia seorang habib, ia sangat tawadhu kepada gurunya tersebut. Saat menjadi santrinya, sebelum subuh, Habib Utsman, selalu mengisi air bak untuk wudhu dan mandi gurunya itu.

Habib Utsman lahir tahun 1910 dan wafat 1985. Semasa hidupnya, berdasarkan catatan pribadinya, ia telah mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari 6.000 kali. Menurut putranya, yakni KH Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus, sang ayah setiap hari khatam Al-Qur’an minimal satu kali dan khusus di bulan puasa Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali. Artinya, sehari khatam 2 kali.

Habib Utsman sangat menyayangi anak-anak yatim piatu dan dhuafa. Kepada anak yatim piatu rasa sayang itu terpancar dari perhatian khusus yang diberikan. Tercatat ada 13 hal perhatian Habib Utsman kepada mereka, di antaranya: santunan yatim piatu di 10 Muharam, menyekolahkan dan juga membiayai anak-anak yatim piatu untuk belajar di sekolah dan pondok-pondok pesantren, setiap hari mengusap dan mencium kepala anak-anak yatim piatu di seputar Assalaam. 

Selanjutnya, melaksanakan khitanan massal khususnya untuk anak yatim piatu serta masyarakat luas sejak tahun 1952 dan berlanjut hingga hari ini, selalu mengajak anak-anak yatim untuk menemui para ulama dan memohon doa dari para ulama sholeh untuk anak-anak yatim piatu karena banyak ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Ghazali dan lain-lain, ternyata yatim saat kecil. 

Habib Utsman juga menulis buku yang hasil penjualannya khusus diperuntukkan bagi anak-anak yatim piatu, serta setiap sebulan sekali di Assalaam diadakan acara makan bersama para yatim piatu dan dhuafa. Selain itu, ia juga mendorong berdirinya Rumah Tahfidz khususnya untuk yatim piatu (banyak ulama dan hafidz yang telah dihasilkan), dan lain-lain.

Saat ini Assalaam Bandung telah berkembang demikian pesat dengan berbagai aktivitasnya dari unit kelompok bermain, PAUD, TK, SD, SMP, MTs, SMA, SMK, pesantren, majelis taklim, biro haji dan umrah, panti yatim, jamaah perempuan WPWA, dan lain lain.

Habib Utsman Al-Aydarus adalah seorang ulama multitalenta. Ia menguasai beberapa bahasa asing secara otodidak. Ia juga salah satu tokoh di belakang berdirinya Universitas Nahdlotul Ulama di Bandung yang sekarang menjadi Uninus. Ia pun termasuk tokoh NU di Jawa Barat dan pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah selama dua periode yaitu tahun 1960 sampai dengan 1970.

Habib Utsman dan murid-muridnya juga membina pengajian ibu-ibu di hampir 200an masjid di seputar Bandung di masa hidupnya. Serta menulis banyak buku-buku tentang ibadah yang berbahasa Sunda di antaranya Rarakatan Shalat dan lain-lain.

Allah SWT banyak mengabulkan doa Habib Utsman Al-Aydarus. Pernah terdapat seorang anak umur 8 tahun yang terkena kanker otak dan divonis dokter dari Rumah Sakit Singapura dan Jerman bahwa anak tersebut tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari 2 bulan setelah diagnosa.

Orang tua anak tersebut disarankan oleh dr. Misbah (salah seorang dokter kepresidenan) untuk meminta saran para ulama di Jakarta. Orang tua itu mendatangi KH Syafi’i Hadzami, tokoh NU Jakarta. Orang tua disarankan menemui Habib Utsman Al-Aydarus di Bandung.

Orang tua itu pun membawanya ke Bandung. Habib Utsman membacakan Shalawat Nariyah sebanyak 4444 kali di sebuah ruangan khusus dan memberikan air yang telah dibacakan shalawat Nariyyah tersebut untuk diminumkan dan dipercikkan pada kepala anak yang terkena kanker otak itu.

Sungguh ajaib, seminggu kemudian anak tersebut pulih dan sembuh kembali. Kanker otaknya hilang begitu saja atas izin Allah SWT.

Orang tua anak tersebut karena penasaran memeriksakan keadaan anaknya ke Rumah sakit di Singapura dan Jerman, maka terkejutlah para dokter-dokter yang sebelumnya mendiagnosa anak tersebut hingga berkali-kali mereka membandingkan foto rontgen antara sebelum anak tersebut dibacakan Shalawat Nariyah oleh Habib Utsman dan sesudahnya.

Diceritakan setelah sembuh anak tersebut tumbuh dewasa dan menjadi salah satu dosen di Universitas Indonesia serta meninggal dunia dalam usia 52 tahun.

Makam Habib Utsman Al-Aydarus terletak di daerah Taman Pemakaman Assalam di dekat Pasar Induk Caringin Bandung. Di kompleks pemakaman tersebut tersebut banyak dimakamkan mulai para habaib serta ulama dan murid-murid Habib Ustman, di antaranya juga terdapat pusara tokoh nasional H. Mahbub Djunaidi (tokoh NU, Ketua Umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.)

Demikianlah sekelumit kisah Habib Ustman Al-Aydarus yang dapat kami sarikan dari ceramah Putra beliau Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus pada Acara Haul ke 32 Habib Utsman Al Aydarus (29 Maret 2016, di Masjid Assalaam, Sasak Gantung Kota Bandung). (Wahyul Afif Al-Ghafiqi)

Senin 4 Februari 2019 20:0 WIB
Gus Dur, Kiai Ali Manshur, dan Shalawat Badar
Gus Dur, Kiai Ali Manshur, dan Shalawat Badar
KH Ali Manshur (Foto: Ist.)
Hampir semua warga NU dan masyarakat Indonesia mengenal Shalawat Badar . Syair ini diawali dengan kata Shalatullah salamullah alaa thaha rasulillah. Shalatullah salamullah alaa yasin habibillah. Shalawat ini terdiri dari 24 bait dengan dua baris di setiap baitnya.

Namun siapa sebenarnya pengarang Shalawat Badar yang saat ini sudah menjadi Mars NU?

Shalawat Badar dikarang oleh KH M Ali Manshur sekitar tahun 1960-an. Kiai Ali Manshur memiliki garis keturunan berdarah ulama besar. Dari ayah, tersambung hingga Kiai Shiddiq Jember sedangkan dari jalur ibu, tersambung dengan Kiai Basyar, seorang ulama di Tuban.

"Abah dilahirkan di Jember pada 23 Maret 1921. Nasabnya masih menyambung ke Kiai Shidiq Jember. Kalau dari jalur ibu asli orang Tuban," kata putra kedua Kiai Ali yang bernama Kiai Syakir Ali, Senin (4/2).

Shalawat Badar dewasa ini sudah menjadi syair wajib bagi nahdliyin. Hampir setiap kegiatan NU, shalawat ini dilantunkan. Bahkan sudah merambah ke genre musik pop yang dipopulerkan oleh beberapa grup band dan penyanyi religi. Tak hanya di Indonesia, Shalawat Badar juga dikenal di berbagai belahan negara Islam di dunia.

Kiai Ali terkenal haus ilmu. Ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lain. Mulai dari Pesantren Termas Pacitan, Pesantren Lasem, Pesantren Lirboyo Kediri hingga Pesantren Tebuireng Jombang.

Kiai Syakir mengisahkan, waktu kecil Kiai Ali belajar di Tuban. Setelah itu Kiai Ali ingin belajar ke Termas namun ia hanya punya modal sepeda onthel dan nasi jagung. Akhirnya dari Tuban ke Tremas, ia naik onthel dan bekal nasi jagung. Selama di pesantren Kiai Ali menerima jasa ojek ke pasar dan hasilnya untuk membeli kitab.

"Kiai Ali suka ilmu Arrudh (Ilmu Sya'ir), dan belajar ilmu ini di Lirboyo. Ia sering diajak diskusi pengasuh masalah Arrudh. Menurut Gus Dur, Kiai Ali juga pernah belajar di Tebuireng," ujarnya.

Seusai nyantri, Kiai Ali kembali ke Tuban dan aktif berorganisasi di Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Ia juga aktif sebagai seorang pegawai di bawah Kementerian Agama. Tepatnya, menjadi Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di kecamatan hingga promosi menjadi Kepala Kementerian Agama (Kemenag) di tingkat kabupaten.

Pada tahun 1955, Kiai Ali terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Partai NU Cabang Bali. Pada 1962, ia memutuskan pindah ke Banyuwangi dan dipercaya menjadi Ketua Cabang NU Banyuwangi.Selama di Banyuwangi inilah, Kiai Ali melahirkan karya fenomenal Shalawat Badar .

Ada kisah yang sangat menyita perhatian sesaat sebelum Kiai Ali menulis Shalawat Badar. Kiai Ali bermimpi didatangi orang berjubah putih yang diduga para ahli perang badar.

Dalam keputusan Muktamar ke-28 NU di Krapyak, Yogyakarta, Shalawat Badar  dikukuhkan menjadi Mars Nahdlatul Ulama (NU). Keputusan ini ditegaskan kembali oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat menjabat ketua PBNU pada Muktamar ke-30 di Lirboyo Kediri. Pada Harlah ke-91 NU, Kiai Ali juga dianugerahi tanda jasa Bintang Kebudayaan atas karyanya ini.

"Awalnya banyak yang tidak tahu siapa penulis Shalawat Badar  sebelum Gus Dur menyebutkan Kiai Ali sebagai pengarangnya. Saat itu Gus Dur takut Shalawat Badar  diakui orang luar. Gus Dur minta saya bawakan data penguat bila Kiai Ali memang penulis Shalawat Badar  ke Jakarta," papar Kiai Syakir.

Pasca dibahas oleh Gus Dur, nama Kiai Ali terus jadi bahan pembicaraan di kalangan para ahli sejarah dan budayawan, terutama dari kalangan Nahdliyin. Sehingga akhirnya banyak para peziarah dari berbagai daerah datang ke Desa Maibit untuk ziarah dan membuktikan kebenaran ucapan Gus Dur.

Saat ini di makam Kiai Ali tertulis prasasti Shalawat Badar  yang terletak dibagian barat makam. Setiap hari selalu ada yang berziarah ke makam, terutama para santri yang belajar di pesantren milik putra-putrinya di sekitar pesantren.

"Saya hanya menjelaskan sesuai yang dituliskan Abah saja. Saya fotokopikan catatan abah dan tak kasih kepada yang minta," ungkap Kiai Syakir.

Sosok Kiai Ali Manshur memang unik, makamnya berada di Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Dulu tak banyak yang tahu kalau Kiai Ali di makamkan di Desa Maibit. Bahkan beberapa warga desa setempat tak mengenal sepak terjang Kiai Ali. Makam Kiai Ali baru beberapa tahun terakhir direnovasi dan sering dikunjungi khalayak ramai.

Menurut Kiai Syakir, hal ini bukan disengaja melainkan memang tak banyak orang mencari tahu. Baru lah setelah Gus Dur bicara tentang Shalawat Badar  banyak orang yang mencari dan menelisik sejarah Kiai Ali. Ia bersyukur Kiai Ali suka menulis dan punya catatan pribadi setiap melakukan sesuatu. Sehingga tak bingung menjelaskan kepada penanya.

"Abah itu punya buku harian dan suka menulis kegiatannya di buku harian, kertas kosong dan pinggir kitab. Sampai sekarang saya masih punya catatan pribadi Kiai Ali dalam tulisan Pegon dan Latin," akunya

Diantara catatan dalam tulisan pegon yang ditemukan seperti: Naliko kulo gawe lagune Shalawat Badar, yoiku sak ba'dane teko songko Makkah al-Mukarramah, kang tak anyari waktu lailatul qiro'ah kelawan ngundang almarhum Haji Ahmad Qusyairi sak muride. Yoiku ono malem jum'at tahun 1960, tonggoku podo ngimpi weruh ono bongso sayyid utowo habib podho melebu ono omahku. Wa karimati, Khotimah, ugo ngimpi ketho' kanjeng Nabi Muhammad iku rangkul-rangkulan karo al-faqir. Kiro-kiro dino jum'at ba'da shubuh, tonggo-tonggo podho ndodok lawang pawon, podho takon: 'Wonten tamu sinten mawon kolo ndalu?'. Lajeng kulo tanglet Habib Hadi al-Haddar, dan dijawab: 'Haa ulaai arwaahu ahlil badri rodhi-yalloohu 'anhum'. Alhamdulillahi Robbil 'aalamiin".

"
Shalawat Badar  meledak dan dipopulerkan ke berbagai wilayah untuk menandingi lagu hymne PKI 'Genjer-genjer'. Bila melihat isi shalawatnya maka tak bisa lepas dari kondisi zaman saat itu. Banyak rakyat yang susah mencari makan karena perang sesama anak bangsa," bebernya.

Selain itu, sebelum wafat, Kiai Ali juga mengarang sebuah kitab akhlak dan mengumpulkan syair-syair indah. Jariyah lain yang ditinggalkan Kiai Ali yaitu madrasah di samping rumahnya. Hingga kini, madrasah tersebut sudah berkembang hingga tingkat aliyah.

"Membangun madrasah ini juga unik, saat itu Kiai Ali minta pemborong menyelesaikan bangunan madrasah dengan bayaran Rp. 50 ribu," tambah Kiai Syakir

Ciri khas Kiai Ali menurut penuturan Kiai Syakir yaitu tegas, semangat mencari ilmu dan mengabdi pada NU. Kiai Ali sering menolak bantuan dari pemerintah dan bahkan gajinya jarang diambil. Salah satu ketegasan Kiai Ali yaitu setiap hari Jumat pukul 10.00 WIB, kantor tempat bekerjanya harus ditutup dan siap-siap ke masjid.

"Abah ini punya kemampuan komunikasi yang bagus. Sehingga saat jadi wakil NU ia disukai dari pihak pro dan kontra. Hidupnya sederhana dan tidak banyak gaya. Hidup di rumah sederhana bekas temannya pun mau. Itu lah Abah," tandas Kiai Syakir. (Syarif Abdurrahman)
Sabtu 26 Januari 2019 18:10 WIB
Teladan Mbah Dullah Salam: Dari Hubbul Ilmi hingga Keistiqamahan
Teladan Mbah Dullah Salam: Dari Hubbul Ilmi hingga Keistiqamahan
KH Abdullah Zain Salam (santrimabny.blogspot.com)
KH Abdullah Zain Salam dikenal memiliki teladan-teladan yang mulia, mulai dari kecintaan mendalam pada ilmu pengetahuan, memiliki kebiasaan mengembara demi mencari ilmu pengetahuan, dan keteladanan lain. 

Jamal Makmur Asmani penulis buku “Keteladanan KH Abdullah Zain Salam”membebeberkan keteladanan tersebut di hadapan 250 peserta bedah buku di Masjid Al-Waq, kompleks Pesantren Yanbuul Quran Boarding School 1 Pati, Jumat (25/1) siang kemarin.

Menurut Jamal Makmur Asmani, KH Abdullah Zain Salam meskipun sudah wafat namun teladan-teladannya masih patut ditiru para santri dan anak muda zaman sekarang.

Adapun teladan-teladan yang ia maksud, pertama, mencintai ilmu pegetahuan atau hubbul ilmi. “Mbah Kiai Abdullah Zein Salam adalah sosok kiai yang sangat mencintai ilmu. Terbukti, beliau mondok dan menimba ilmu dari satu kiai ke kiai lain, dari satu pesantren ke pesantren lain. Beliau adalah pribadi yang mencintai ilmu sepanjang hayat. Sudah menjadi kiai pun, Mbah Dullah masih tetap mengaji, antara lain, berguru kepada Mbah Abdul Hamid Pasuruan dan Mbah Kiai Arwani Amin, besannya sendiri,” jelasnya

Kedua, lanjut akademisi Institut Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) Pati itu Mbah Dullah yang lahir di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Hubbu Rihlatit Taallum.

“Beliau sosok kiai yang gemar melakukan rihlah atau perjalanan ilmu. Oleh karena dorongan cintanya akan ilmu, beliau sering mondok dan berkunjung kepada para ahli ilmu. Di antara guru-guru beliau adalah Hadhratusysyekh KH Hasyim Asy'ari Jombang, KH Sa'id Sampang Madura, KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Muhammad Arwani Amin Kudus,” lanjut Jamal.

Ketiga urai peraih gelar Doktor UIN Walisongo Semarang itu Mbah Dullah termasuk hubbur riyadlah. Mbah Dullah urainya adalah kiai yang suka riyadlah atau tirakat. Saking sukanya dengan tirakat hatinya sama sekali tidak terikat dengan dunia.

“Tirakat santri, menurut Mbah Dullah, adalah mengaji, mengaji, dan mengaji. Jika ada santri melakukan puasa sunnah, sampai mengalahkan ngajinya, maka Mbah Dullah Salam tidak menyukai hal ini, sebab perkara sunnah (puasa sunnah) tidak boleh mengalahkan perkara wajib (mengaji/thalabul 'ilmi),” kata penulis buku ini.

Keteladanan berikutnya sebut penulis produktif itu Hubbul Jihad. “Mbah Dullah Salam adalah kiai yang gemar berjihad. Jihad di sini, bukan dimaknai sebagai jihad berlaga di medan perang. Melainkan, jihad diartikan sebagai berjuang dengan sekuat tenaga, untuk mengajarkan, menyebarkan dan mengembangkan agama Islam, melalui jalan pendidikan Al-Qur’an, ilmu-ilmu agama dan tarekat. Selain mengajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama Islam, Mbah Dullah juga menjadi Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah.”

Menurut penulis buku Keteladanan KH Abdullah Zain Salam; Kiat Sukses Membangun Pendidikan Keluarga itu Mbah Dullah yang masih punya hubungan kerabat dengan Mbah Mutammakin juga termasuk hubbul ukhuwwah.

Beliau sangat suka silaturrahim. Kegemaran beliau untuk melakukan silaturrahim itu menunjukkan beliau adalah kiai yang cinta kepada persaudaraan. Menurut Kiai Zaki, Mbah Dullah sangat gemar meminta doa kepada para ulama untuk anak-anaknya. Beliau juga suka meminta doa anak-anak kecil, yang menurut beliau belum memiliki dosa, sehingga doa akan mudah dikabulkan.

Teladan keenam Hubbul Jamaah. “Beliau kiai yang Istiqamah dalam shalat berjamaah. Bahkan dalam keadaan sakit pun, dengan tertatih-tatih, Mbah Dullah Salam selalu hadir dalam shalat berjamaah lima waktu di mushahla pesantren beliau,” puji dia.

Kepada santi dan asatid Yanbuul Quran 1 Pati, Jamal Makmur membeberkan bahwa Mbah Dullah  adalah sosok yang sangan konsisten atau hubbul istiqamah. “Mbah Kiai Abdullah Salam adalah sosok kiai yang sangat disiplin soal waktu. Dalam hal apa pun, baik ibadah, zikir, mengajar dan hal-hal lain, Mbah Dullah selalu disiplin dan tepat waktu. Hal ini menunjukkan bahwa Mbah Dullah merupakan pribadi yang hubbul Istiqamah, cinta kepada Istiqamah. Selain cinta Istiqamah, beliau juga gemar mentarget dan memanage seluruh waktunya, supaya produktif dan bermanfaat bagi orang lain,” tegasnya.

Adapun keteladanan terakhir, ke depalan, hubbus sadaqah. “Mbah Dullah Salam adalah Kiai yang sangat gemar bersedekah. Jika ada orang yang suka pada barang-barang yang beliau miliki, maka seketika beliau akan memberikan, seperti sebuah angin yang mudah berembus ke sana ke mari meniupkan kesejukan. Beliau selalu mengajarkan, jika kita ingin anak-anak kita menjadi orang, gemarlah bersedekah dan niatkanlah untuk anak-anak kita,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim)
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG