IMG-LOGO
Nasional

Santri Zainul Hasan 1 Genggong Juara Olimpiade Nahwu Shorof Nasional

Ahad 10 Maret 2019 0:15 WIB
Bagikan:
Santri Zainul Hasan 1 Genggong Juara Olimpiade Nahwu Shorof Nasional
Probolinggo, NU Online
Santri MA Zainul Hasan 1 Genggong, Probolinggo, Jawa Timur atas nama Himayatul Husna berhasil meraih juara 1 dalam Olimpiade Nahwu Shorof pada Festival Turats Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasantri (BEMS) Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Kegiatan yang bertemakan Meneguhkan Karakter Keilmuan Santri ini berlangsung pada Kamis (7/3), diikuti oleh berbagai instansi, juga pesantren se-Indonesia.

Ustadz Deo A Pramadhan selaku pembina lomba di MA Zainul Hasan 1 Genggong menyatakan dalam festival turats yang bertujuan untuk mempererat silaturahim antarsantri, masyayikh, dan pesantren ini terdapat tiga cabang lomba yaitu Olimpiade Nahwu Shorof (ONS), Musabaqoh Qiraatul Kutub (MQK) Kitab Fathul Mu’in dan Kitab Fathul Qarib.

Selain itu pada Jumat (8/3) juga dilangsungkan bedah kitab Ad-Darur Sunniyah karangan KH Romzi Al Amiri Mannan, selaku Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid.

"Dari kegiatan ini juga kita bisa melestarikan budaya pesantren, yaitu bahtsul masail," imbuh Deo.

Ustadz Zarkasyi selaku guru tahqiqu qiraatul kutub MA Zainul Hasan 1 Genggong mengatakan meski awalnya agak minder, tapi anak didik mereka mampu mengatasi olimpiade nahwu shorof dengan baik,

Persaingan yang ketat berlangsugn selama perlombaan disebabkan karena even tingkat nasional dan diikuti oleh pesantren-pesantren yang ada di Tanah Air seperti Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Pondok Pesantren Bata-bata Madura, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyyah Sukorejo Situbondo, juga berbagai pondok pesantren lainnya dari Sumatra dan Sulawesi. (Red: Kendi Setiawan)
Tags:
Bagikan:
Ahad 10 Maret 2019 23:30 WIB
Ketum Pagar Nusa: Ilmu Silat Bukan untuk Gaya-gayaan
Ketum Pagar Nusa: Ilmu Silat Bukan untuk Gaya-gayaan
M Nabil Haroen (kanan) bersama pendekar Pagar Nusa Kertosono, Sukoharjo
Sukoharjo, NU Online
Ketua Umum Pagar Nusa, M Nabil Haroen mengatakan ilmu persilatan tidak untuk gaya-gayaan dan gegeran, tetapi untuk untuk memberikan kepekaan mencintai sesama manusia.

Pernyataan tersebut disampaikan Gus Nabil, sapaa akrabnya mengapresiasi aksi penggalangan dana yang dilakukan para pendekar anggota Pagar Nusa Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah untuk membantu warga terdampak bencana banjir di Madiun, Ponorogo, Pacitan, Ngawi.

"Seharusnya memang begini (membantu sesama manusia). Ilmu persilatan itu tidak untuk gaya-gayaan dan gegeran, tetapi untuk memberikan kepekaan mencintai sedulur-sedulur sebangsa setanah air, tanpa membeda-bedakan agama, ras, suku atau perguruan mana pun," kata GN.

Dalam aksi penggalangan dana tersebut, sekitar 20 pendekar disebar di berbagai titik penggalangan dana yaitu di perempatan lampu merah Kartasura, PKU Muhammadiyah, dan Ngadirejo. Kegiatan yang berlangsung Sabtu (9/3) dari pukul 14.00 WIB hingga 16.30 WIB ini mampu mengumpulkan dana sebesar Rp4.110.500.

GN juga menegaskan bahwa penggalangan dana merupakan bentuk pengamalan nilai humanisme para pendekar Pagar Nusa. (Arindya/Kendi Setiawan)

Ahad 10 Maret 2019 19:0 WIB
Gus Sholah: Pemerintah Perlu Gandeng Pesantren Atasi Kesehatan
Gus Sholah: Pemerintah Perlu Gandeng Pesantren Atasi Kesehatan
Seminar nasional kesehatan di Tebuireng, Jombang, Jatim
Jombang, NU Online
KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) menyebutkan pesantren punya potensi besar untuk menjadi mitra pemerintah dalam menangani isu kesehatan. Ia juga menyebutkan peran pesantren sebagai agen penggerak bidang kesehatan bukan hal baru.

Ketika banyak tokoh menolak program Keluarga Berencana (KB) pada pertengahan 1970-an, Rais 'Aam PBNU KH Bisri Syansuri justru berpendapat sebaliknya. Kiai Bisri merujuk pendapat Imam Al-Ghazali dan memperbolehkan KB dengan niat untuk kemaslahatan umat dalam berumah tangga.

"Sikap Kiai Bisri selalu berpegang teguh pada tekstualitas fiqih dan kaidahnya. Tapi masalah KB yang menyangkut hajat orang banyak, Kiai Bisri seolah-olah melompat dari kebiasaan tekstualitasnya. Mengikut pendapat Imam Ghozali. Peran pesantren sangat besar dalam program KB ini," katanya saat sambutan di seminar nasional Peran Pesantren Dalam Pembangunan Kesehatan di Gedung Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (9/3).

Dikatakan, awalnya program KB banyak ditolak ulama sehingga kurang diminati masyarakat Indonesia dan terancam gagal. Barulah setelah Kiai Bisri yang juga Pengasuh Pesantren Mamba'ul Ma'arif dilibatkan program ini mulai menampakkan hasilnya yang luar biasa. Berangkat dari peristiwa ini, Gus Sholah mengatakan, pemerintah layak melibatkan pesantren dalam masalah kesehatan.

"Saat ini pesantren juga bisa dilibatkan dalam isu kesehatan. Pesantren punya potensi jumlah waktu, santri dan ustaz yang banyak. Menteri kesehatan bisa mengelola potensi pesantren. Seperti konten dakwah da'i dari pesantren yang memuat pesan kesehatan. Di Tebuireng ada Kumpulan Da'i Tebuireng (Kuda Ireng)," tambah Cucu Kiai Bisri ini.

Gus Sholah menyebutkan pesantren perlu dilibatkan dalam kampanye kesehatan secara aktif. Ia mengatakan pihaknya sudah menjalankan program promosi kesehatan yang meliputi prolanis, bimbingan Unit Kesehatan Sekolah (UKS), penyuluhan kesehatan, pelatihan santri husada, pembinaan kantin sehat, dan medical check. 

Sejak 2008, Pesantren Tebuireng sudah punya klinik kesehatan. Dan direncanakan pada tahun 2019 berdiri Rumah Sakit Hasyim Asy'ari bekerjasama dengan dompet duafa. Hal lain yang dilakukan Tebuireng yaitu penyuluhan kesehatan meliputi pembinaan kader juru basmi jentik, penyakit TBC, penyakit menular, penyuluhan demam berdarah, dan kesehatan remaja. 

"Rumah Sakit Hasyim Asy'ari terdiri dari 100 kamar dan terletak di depan parkir makam Gus Dur. Bagi pasien tidak mampu nanti biayanya dibantu dompet duafa," ungkap Gus Sholah.

Sementara ini, sejak 2013 Pesantren Tebuireng bekerja sama dengan Persatuan Dokter Gizi dalam peningkatan dan pemantauan status gizi santri, santri baru diukur tinggi badan dan ditimbang berat badan.

Untuk mengawas perkembangan tinggi dan berat badan yang di atas dan di bawah standar dipantau setiap bulan oleh tim khusus. "Kami melakukan perbaikan menu gizi sesuai arahan dokter gizi. Kami memberikan pil anemia kepada santri yang membutuhkan," beber Gus Sholah.

Pesantren Tebuireng juga bekerja sama dalam Pelatihan Gizi (ToT) untuk meningkatkan peran Pesantren Tebuireng sebagai Pusat Program Percepatan Perbaikan Gizi bagi pesantren-pesantren lain di Jawa Timur. Pelatihan itu dilakukan di kabupaten Jombang, Nganjuk, Bojonegoro, Ponorogo, dan kota Surabaya.

"Kami juga melakukan penyuluhan gizi di beberapa sekolah Islam di Jombang. ToT ini bermanfaat karena banyak pesantren yang pengetahuan dan kesadarannya masih kurang tentang kesehatan khususnya masalah gizi," tandas adik kandung Gus Dur ini. (Syarif Abdurrahman/Muiz
Ahad 10 Maret 2019 11:45 WIB
Kiai Said Ungkap Manfaat di Balik Budaya Makan Barengnya Santri
Kiai Said Ungkap Manfaat di Balik Budaya Makan Barengnya Santri
Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj di Jombang, Jatim
Jombang, NU Online
Tidur bareng di satu kamar pondok sudah bukan hal yang asing bagi santri. Bahkan bisa dibilang sudah menjadi budaya santri. Sesama santri juga saling menerima, begitu juga dengan budaya makan mereka.

Budaya ini menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj memiliki manfaat tersendiri, yakni akan menimbulkan kecerdasan secara emosional.

"Para santri biasa makan bareng, tidur bareng, nanti akan melahirkan kecerdasan emosional," katanya saat menyampaikan ceramah agama di peringatan puncak Haul Mbah Bisri Syansuri, Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis  (7/3) malam.

Dengan budaya tersebut, para santri bisa saling memahami karakter antar sesama santri yang tentu sudah berbeda, namun hidup dengan rukun tanpa perselisihan. Mereka berinteraksi setiap harinya dengan tetap riang gembira. "Santri tahu caranya bergaul, tahu caranya berteman," ujar kiai yang kerap disapa Kang Said ini.

Begitu juga saat harus bersaing dalam keadaan atau momentum tertentu. Para santri yang sudah memiliki kecerdasan emosional akan lebih menggunakan cara-cara yang baik. "Santri juga tahu caranya bersaing yang jentel," tuturnya.

Kecerdasan emosional itu juga menurutnya penting sebagai bekal ketika berkecimpung di tengah masyarakat kelak. Mereka akan niscaya paham bagaimana cara berinteraksi yang baik dengan masyarakat. 

Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Akhyar yang juga hadir di acara Haul Mbah Bisri mengajak kepada keturunan (dzurriyah) almaghfurlah KH Bisri Syansuri untuk turut menciptakan situasi dan kondisi yang tenteram dan menyejukkan di tengah kondisi yang dinilai kerap kali terjadi saling menyulut kebencian, tebar fitnah di antara manusia.

Kiai Miftah meyakini, dzurriyah Mbah Bisri Syansuri bisa menciptakan situasi yang ia harapkan, lantaran sudah memiliki bekal keilmuan yang mapan juga ada garis keturunan yang jelas. Ini menurutnya tentu lebih tahu bagaimana sosok komplit yang dimiliki Mbah Bisri, termasuk bagaimana situasi-situasi yang diciptakan saat tokoh NU itu masih hidup.

"Kepada para dzurriyahnya, karena sudah punya bekal, punya datuk yang shaleh untuk bisa memberikan suasana yang sejuk, ya yang mirip-mirip seperti zaman dulu saat beliau masih hidup," ucapnya.

Ia menilai, saat ini sudah terjadi zaman yang salah kaprah, orang yang shaleh seringkali dituduh tidak benar dan orang yang bisa dipercaya dianggap pengkhianat. Sementara sebagian dari manusia ikut mengkampanyekan situasi ini kepada publik luas. (Syamsul Arifin/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG