IMG-LOGO
Daerah

Pendidik Hendaknya Adaptasi dengan Perkembangan Teknologi

Ahad 10 Maret 2019 10:0 WIB
Bagikan:
Pendidik Hendaknya Adaptasi dengan Perkembangan Teknologi
Pemberian cinderamata usai seminar di STAI Al-Barokah, Cikembar, Sukabumi, Jabar.
Sukabumi, NU Online
Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan,dan komputasi kognitif. Perkembangan teknologi informasi digitalisasi tentu berdampak pada lembaga pendidikan.

Menyikapi hal tersebut, Sekolah Tinggi Ilmu Agama (STAI) Al-Barokah bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat  menyelenggarkan seminar pendidikan dengan mengambil tema Tantangan Lembaga Pendidikan dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0. Kegiatan dipusatkan  di aula Gedung STAI Al Barokah Kecamatan Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (9/3).

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Jawa Barat, Deden Saeful Hidayat menyampaikan untuk menyiapkan lembaga ideal pada perkembangan dunia digital, para pendidik merupakan salah satu faktor yang penting. “Mereka harus disiapkan menghadapi revolusi industri 4.0 dengan memiliki jiwa kreativitas, inovatif serta memahami teknologi,” katanya.

Dalam pandangannya, pendidik di era ini harus memiliki jiwa kreatif, inovasi, memahami IT dan jaringan. “Sehingga dapat mempersiapkan generasi yang kompetitif sesuai dengan perkembangan yang ada," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Program Studi atau Kaprodi Pendidikan Agama Islam, Abdussani Ramdhani menyatakan bahwa pada era revolusi industri 4.0 tenaga manusia digantikan mesin dan energi listrik dan motor penggerak, 

"Teknologi infomasi dan otomatisasi dan kemudian memasuki era berkembangnya internet of/for things, kehadirannya begitu cepat,” ungkapnya. Sehingga tenaga pendidik harus melakukan perubahan baik mind set, metode,  maupun pendekatan pada proses pembelajaran, lanjutnya.

Menurutnya, melalui kesadaran itu akan terlahir anak didik yang tidak hanya cerdas spiritual dan berkarakter. “Namun kompetibel dan kompetitif sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan," tuturnya di hadapan peserta seminar. 

Turut hadir pada kesempatan tersebut, Ketua STAI Al Barokah Hendarsita Amartiwi, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Jawa Barat, Deden Saeful Hidayat dan Ketua Bidang Diklat Pergunu Jawa Barat, Marwan Setiawan. (Dwi Anggraeni/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Ahad 10 Maret 2019 23:0 WIB
LPBI NU Kebumen Pimpin Aksi Bersih Sampah di Perhelatan Manaqib Kubro
LPBI NU Kebumen Pimpin Aksi Bersih Sampah di Perhelatan Manaqib Kubro
Kebumen, NU Online
Pasukan semut yang dikoordinasi langsung oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kebumen melakukan aksi bersih-bersih sampah pada perhelatan Manaqib Kubro Jaringan Kiai dan Santri Nasional (JKSN) di Stadion Candradimuka, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (9/3).

Ketua LPBINU Kebumen, Mukhsinun mengatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk dari gotong royong kepedulian terhadap lingkungan, membersihkan sampah pada prinsipnya adalah kegiatan baik, bentuk aplikasi dari menjaga kebersihan sebagian dari iman.

“Sesuai intruksi dari LPBINU Pusat, aksi semacam ini memang positif dan diharapkan agar terus berkelanjutan agar bisa memunculkan kesadaran kepada masyarakat terhadap pentingnya membuang sampah pada tempatnya, dan mengurangi penggunaan sampah plastik,” katanya.

Mukhsinun mengatakan bahwa LPBINU Kebumen akan terus mengkampanyekan gerakan 2019 bebas sampah, mengingat rekomendasi hasil Munas & Konbes NU 2019 yang membahas bahaya sampah plastik hingga hukum membuang sampah sembarangan dan merekomendasikan kepada pemerintah bahwa haram hukumnya membuang sampah sembarangan.

“Seperti yang saya sampaikan tadi bahwa menjaga kebersihan sebagian dari iman maka itu membuang sampah sembarang menunjukkan kualitas iman yang lemah, nah mari kita jaga bersama kebersihan lingkungan dimulai dari diri kita sendiri untuk tidak membuang sampah sembarangan, serta mengurangi penggunaan sampah plastik,” Pungkasnya

Dalam Manaqib Kubro tersebut tampak hadir Rois Syuriyah PCNU Kebumen yang juga pengasuh pesantren tertua di Indonesia Al-Kahfi Somalangu, KH Afifudin Chanif Alhasani dan Wakil Syuriah PWNU Jawa Tengah yang juga pengasuh pesantren An-Nawawi, Berjan, KH Chalwani Nawawi, dan diikuti oleh seluruh jaringan Nahdliyin se-Kebumen. (Red: Kendi Setiawan)


Ahad 10 Maret 2019 22:0 WIB
Fatayat NU Siap Jadi Pelopor Tertib Lalu Lintas
Fatayat NU Siap Jadi Pelopor Tertib Lalu Lintas
Fatayat NU di Mapolres Pekalongan Kota
Pekalongan, NU Online
Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat Nahdlatul Ulama Jawa Tengah merasa prihatin atas berbagai peristiwa kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Bahkan dari kecelakaan yang terjadi tidak jarang berujung pada kematian.

Untuk itu, pihaknya merasa perlu untuk menggelar sosialisasi tertib lalu lintas di jalan raya di lingkungan Fatayat NU dan berkomitmen tertib di jalan dengan menggandeng Kepolisian Resor (Polres) se Jawa Tengah untuk menjelaskan tentang UU Lalu Lintas dan berbagai aturan di jalan raya.

Di Kota Pekalongan, PC Fatayat NU bekerjasama dengan Polres Pekalongan Kota menggelar sosialisasi yang berlangsung di Aula Mapolres diikuti oleh puluhan peserta dari jajaran Pengurus Fatayat NU dari Cabang hingga Ranting se Kota Pekalongan pada Sabtu (9/3).

Dari pihak Polres yang diwakili Ipda Budi Winarso menjelaskan, awal dari kecelakaan karena ada pelanggaran. Entah karena lampu motor tidak menyala, tidak pakai helm standar, tidak membawa atau tidak punya STNK dan SIM. "Saya mengajak kepada anggota Fatayat NU untuk ikut mensosialisasikan betapa pentingnya kelengkapan berkendara seperti pakai helm, bawa SIM dan STNK," ujarnya.

Dikatakan, jika terjadi pelanggaran, hal yang dilakukan adalah teguran lisan atau teguran tertulis, jika terjadi pelanggaran, maka pemberian bukti pelanggaran (tilang) itu cara terakhir. "Tilang adalah cara terakhir untuk mengingatkan pengendara karena melakukan kesalahan di jalan raya," tandas Budi Winarso.

Berdasarkan catatan Polres Pekalongan Kota, data kecelakaan lalu lintas di wilayah hukum Polres Pekalongan Kota pada tahun 2018 meningkat cukup drastis jika dibandingkan tahun 2017. Selama 2017, angka lakalantas sebanyak 60 kejadian, sedangkan selama tahun 2018 mencapai 91 kejadian. Lakalantas yang terjadi sebagian besar melibatkan pengendara sepeda motor.  

Ketua PC Fatayat NU Kota Pekalongan Faizah mengatakan, program sosialisasi tertib lalu lintas merupakan program Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Jawa Tengah kerja sama dengan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah.

"Ini program dari wilayah yang berlangsung di cabang-cabang Fatayat NU se Jawa Tengah dan Kota Pekalongan menindaklanjuti dengan Polres Pekalongan Kota.

Kepada NU Online, Ahad (10/2) Faizah menjelaskan, kerja sama dengan Polres ini untuk pertama kalinya. Pihaknya berharap dengan kegiatan sosialisasi tetib lalu lintas, anggota Fatayat NU Kota Pekalongan bisa menjadi contoh dan pelopor berkendara di jalan raya.

"Fatayat akan menindaklanjuti kerja sama dengan Polres meliputi safety riding dan pembuatan SIM masal," pungkasnya. (Muiz)
Ahad 10 Maret 2019 21:0 WIB
Orang Hebat Bukan Menjadi Apa tapi Menjadikan Siapa
Orang Hebat Bukan Menjadi Apa tapi Menjadikan Siapa

Jember, NU Online
Orang yang hebat bukan yang berhasil menjadi apa tapi yang sukses menjadikan siapa. Demikian diungkapkan Wakil Sekretaris PCNU Jember , Moch Eksan saat menjadi nara sumber dalam Seminar HIMPAUDI di Balai Desa Sumberjambe, Kecamatan Sumberjmabe, Jawa Timur, Ahad (10/3).

Menurutnya, seseorang yang meraih sukses menjadi 'orang' pasti tak lepas peran orang lain di belakangnya. Orang lain tersebut tentu harus berjuang dengan ilmu dan tenaganya untuk mengorbitkan orang itu hingga merengkuh kesuksesan. Meski perannya tidak kelihatan, tapi sebenarnya dialah orang yang hebat.

"Maka berbahagialah wahai para guru, sebab merekalah yang melahirkan orang-orang sukses" lanjutnya.

Eksan menambahkan, peran guru TK dan  PAUD (Pendidikan  Anak Usia Dini) tak bisa dipandang sebelah mata. Justru merekalah yang telah memulai menanamkan pengetahuan bagi anak-anak.  Ia mengibaratkan sebuah gedung pencakar langit. Kokoh tidaknya gedung tersebut tergantung pada konstruksi bangunannya, terutama fondasinya. Sehingga bagaimanapun kuatnya urat-urat yang digunakan untuk melapisi pilar betonnya tapi jika fondasinya tidak kuat, maka dipastikan mudah runtuh.

"Jadi ibu-ibu ini telah menanamkan fondasi bagi anak-anak kita semua, sehingga kelak mereka menjadi manusia yang kokoh dan berkualitas," urainya di hadapan para guru TK dan PAUD itu.

Dikatakannya, menjadi guru adalah pekerjaan  mulia. Betapa tidak, gurulah yang bertugas mendidik dan membina akhlaq  generasi muda. Meskipun bukan satu-satunya tapi jelas peran guru tidak bisa disepelekan.

“Adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru jika anak didiknya sukses. Bukan hanya itu, ilmu yang diberikan uru merupakan amal jariyah  juga,” pungkasnya. (Aryudi AR)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG