IMG-LOGO
Nasional

Gus Sholah: Pemerintah Perlu Gandeng Pesantren Atasi Kesehatan

Ahad 10 Maret 2019 19:00 WIB
Gus Sholah: Pemerintah Perlu Gandeng Pesantren Atasi Kesehatan
Seminar nasional kesehatan di Tebuireng, Jombang, Jatim
Jombang, NU Online
KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) menyebutkan pesantren punya potensi besar untuk menjadi mitra pemerintah dalam menangani isu kesehatan. Ia juga menyebutkan peran pesantren sebagai agen penggerak bidang kesehatan bukan hal baru.

Ketika banyak tokoh menolak program Keluarga Berencana (KB) pada pertengahan 1970-an, Rais 'Aam PBNU KH Bisri Syansuri justru berpendapat sebaliknya. Kiai Bisri merujuk pendapat Imam Al-Ghazali dan memperbolehkan KB dengan niat untuk kemaslahatan umat dalam berumah tangga.

"Sikap Kiai Bisri selalu berpegang teguh pada tekstualitas fiqih dan kaidahnya. Tapi masalah KB yang menyangkut hajat orang banyak, Kiai Bisri seolah-olah melompat dari kebiasaan tekstualitasnya. Mengikut pendapat Imam Ghozali. Peran pesantren sangat besar dalam program KB ini," katanya saat sambutan di seminar nasional Peran Pesantren Dalam Pembangunan Kesehatan di Gedung Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (9/3).

Dikatakan, awalnya program KB banyak ditolak ulama sehingga kurang diminati masyarakat Indonesia dan terancam gagal. Barulah setelah Kiai Bisri yang juga Pengasuh Pesantren Mamba'ul Ma'arif dilibatkan program ini mulai menampakkan hasilnya yang luar biasa. Berangkat dari peristiwa ini, Gus Sholah mengatakan, pemerintah layak melibatkan pesantren dalam masalah kesehatan.

"Saat ini pesantren juga bisa dilibatkan dalam isu kesehatan. Pesantren punya potensi jumlah waktu, santri dan ustaz yang banyak. Menteri kesehatan bisa mengelola potensi pesantren. Seperti konten dakwah da'i dari pesantren yang memuat pesan kesehatan. Di Tebuireng ada Kumpulan Da'i Tebuireng (Kuda Ireng)," tambah Cucu Kiai Bisri ini.

Gus Sholah menyebutkan pesantren perlu dilibatkan dalam kampanye kesehatan secara aktif. Ia mengatakan pihaknya sudah menjalankan program promosi kesehatan yang meliputi prolanis, bimbingan Unit Kesehatan Sekolah (UKS), penyuluhan kesehatan, pelatihan santri husada, pembinaan kantin sehat, dan medical check. 

Sejak 2008, Pesantren Tebuireng sudah punya klinik kesehatan. Dan direncanakan pada tahun 2019 berdiri Rumah Sakit Hasyim Asy'ari bekerjasama dengan dompet duafa. Hal lain yang dilakukan Tebuireng yaitu penyuluhan kesehatan meliputi pembinaan kader juru basmi jentik, penyakit TBC, penyakit menular, penyuluhan demam berdarah, dan kesehatan remaja. 

"Rumah Sakit Hasyim Asy'ari terdiri dari 100 kamar dan terletak di depan parkir makam Gus Dur. Bagi pasien tidak mampu nanti biayanya dibantu dompet duafa," ungkap Gus Sholah.

Sementara ini, sejak 2013 Pesantren Tebuireng bekerja sama dengan Persatuan Dokter Gizi dalam peningkatan dan pemantauan status gizi santri, santri baru diukur tinggi badan dan ditimbang berat badan.

Untuk mengawas perkembangan tinggi dan berat badan yang di atas dan di bawah standar dipantau setiap bulan oleh tim khusus. "Kami melakukan perbaikan menu gizi sesuai arahan dokter gizi. Kami memberikan pil anemia kepada santri yang membutuhkan," beber Gus Sholah.

Pesantren Tebuireng juga bekerja sama dalam Pelatihan Gizi (ToT) untuk meningkatkan peran Pesantren Tebuireng sebagai Pusat Program Percepatan Perbaikan Gizi bagi pesantren-pesantren lain di Jawa Timur. Pelatihan itu dilakukan di kabupaten Jombang, Nganjuk, Bojonegoro, Ponorogo, dan kota Surabaya.

"Kami juga melakukan penyuluhan gizi di beberapa sekolah Islam di Jombang. ToT ini bermanfaat karena banyak pesantren yang pengetahuan dan kesadarannya masih kurang tentang kesehatan khususnya masalah gizi," tandas adik kandung Gus Dur ini. (Syarif Abdurrahman/Muiz
Bagikan:
IMG
IMG