IMG-LOGO
Nasional

Rais Syuriyah NU Banjar: Penyebaran Hoaks adalah Perilaku Iblis

Senin 11 Maret 2019 11:45 WIB
Bagikan:
Rais Syuriyah NU Banjar: Penyebaran Hoaks adalah Perilaku Iblis
Rais Syuriyah PCNU Banjar, KH Mu'in Abdurrohim (kiri)

Banjar, NU Online

Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banjar, Jawa Barat KH Mu'in Abdurrohim mengatakan orang yang mengabarkan berita bohong adalah teman iblis, karena pelaku penyebar hoaks pertama kali adalah iblis. 

"Penyebar kabar bohong atau hoaks yang pertama adalah iblis, berarti jika ada orang yang menyebarkan kabar bohong adalah temannya iblis," kata Kiai Mu'in saat menyampaikan tausiyah di acara rutinan Shalawat Nariyah dan Maulid Al-Barjanzi di Masjid Al-Edros Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, (10/3) malam.

Termasuk berita bohong atau hoaks yang beredar di media sosial mengakibatkan keresahan bagi masyarakat di Indonesia. Kabar hoaks yang disebarluaskan di medsos akan menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat, sehingga ketika ada pihak yang menyebarkan berita hoaks akan berdosa.

"Sekarang kondisi dunia sedang demikian, maka kita jangan coba-coba menjadi temannya iblis, na'udzubillahimin dzalik. Tapi kita menjadi temannya Gusti Allah Swt, cinta kepada Rosulullah Saw dengan membaca shalawat dan memperbanyak membaca Laillaha illallah," tegasnya.

Maraknya penyebaran hoaks, kata Kiai Mu'in bisa jadi karena banyaknya pihak yang tidak menyadari bahaya menyebarkan berita yang belum jelas kepastiannya, tanpa didasari tabayun atau klarifikasi terlebih dahulu. Oleh karena itu, Kiai Mu'in meminta agar siapa pun yang menerima sebuah kabar yang belum jelas kebenarannya, agar tidak buru-buru menyebarkan kepada orang lain.

"Kalau ada kabar yang belum jelas jangan disebar. Lebih baik dihapus, sebab sekali kita menyebarkan kabar yang belum jelas, tidur kita akan mendapatkan dosa," ujarnya.

Selain itu, Kiai Mu'in juga mengingatkan bahwa negara memiliki aturan terkait IT. Penyebar kabar hoaks bisa terancam Pasal 28 ayat 1 dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dengan ancaman pidana maksimal enam tahun penjara dan denda maksimal satu miliar rupiah. (Agus Ahmad Fauzi/Kendi Setiawan)

Bagikan:
Senin 11 Maret 2019 22:15 WIB
Menjaga Lisan, Menyelamatkan Diri
Menjaga Lisan, Menyelamatkan Diri
ilustrasi (republika)
Jombang, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat, Sidoarjo, Jawa Timur, KH Ali Masyhuri bercerita terkait bagaimana seseorang bisa selamat di dunia. Ia mengutip sejarah kala Sahabat Utbah bin Amir bertanya tentang keselamatan hidup pada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. 

"Maka Rasulullah SAW bersabda, Amsik alaika lisaanaka, walyasak baituka, wabki ‘ala khotiiatika, yang artinya jagalah lisanmu, luaskanlah rumahmu dan tangisilah perbuatan salahmu," ucapnya saat didapuk sebagai penceramah di Haul Mbah Bisri Syansuri, Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (7/3) lalu.

Dapat diuraikan, kata dia, bahwa kalau mau selamat dunia dan akhirat, jangan bicara kecuali benar dan  manfaat, karena setiap kata yang diucapkan pasti didengar oleh Allah dan pasti dimintai pertanggungjawaban. Berpikir sebelum bicara adalah keniscayaan karena kalau sudah keluar tidak bisa ditarik lagi.

"Banyak orang yang berpangkat jenderal tapi ngomongnya kayak kopral. Banyak juga yang mengaku kiai atau ustadz tapi ngejak gelut orang. Kiai kok ngejak gelut," tuturnya.

Kiai yang kerap disapa Gus Ali ini menambahkan, banyak juga orang yang rezekinya sempit karena bicaranya tidak bisa dipercaya. Jika ingin mendapatkan keberkahan pada umur dan keturunan, seseorang jangan bicara kecuali hal-hal yang benar dan bermanfaat.

Ia mengimbau agar manusia harus terus belajar mendengarkan secara empatik. Karena Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut. Itu menurutnya adalah isyarat kalau manusia disuruh lebih banyak mendengar dari pada berbicara. 

"Karena itulah Kiai Bisri Syansuri termasuk kiai yang sangat saya kagumi. Beliau alim, zahid, wirai. Saking wira’i-nya sampai-sampai ndak mau makan di warung," jelasnya.

Maka sangat bijak, tambahnya, pepatah mengatakan, dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu. Tapi dalamnya hati dapat dilihat dari lisannya. Jika ada orang yang bicaranya ngawur, maka hatinya ngawur, karena lisan adalah cerminan hati. Jika orang berhati bersih, yang diucapkan pastilah kebaikan, tolong-menolong, persatuan, dan sebagainya.

"Nek wong atine kotor (jika orang hatinya kotor), maka lisannya juga kotor. Bisanya hanya mencaci, memaki dan menghina," ucapnya.

Syaikh Jalaludin Rumi mengatakan, kata Gus Ali, bila fisik sakit pergilah ke dokter, bila hati sakit pergilah kepada kekasih-kekasih Allah. (Syamsul Arifin/Kendi Setiawan)
Senin 11 Maret 2019 21:45 WIB
Alasan Pentingnya Istiqamah dalam Kebenaran
Alasan Pentingnya Istiqamah dalam Kebenaran
KH Ali Masyhuri
Jombang, NU Online
Sikap istiqamah dalam berjuang menyibukkan diri dengan kebaikan dan kebenaran sangat penting dimiliki seorang Muslim. Pasalnya kehidupan di dunia ini menjadi pergulatan antara kebenaran dan kebatilan.

Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat, Sidoarjo, Jawa Timur, KH Ali Masyhuri mengungkapkan jika bukan sikap istiqamah dalam kebaikan dan kebenaran, kebatilanlah yang akan menyibukkan seseorang.

Menyampaikan ceramah agama di peringatan Haul Mbah Bisri Syansuri, Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (7/3), Kiai Ali Masyhuri juga menegaskan bahwa umur manusia sudah ditentukan Allah Swt. Berapa pun umur atau usia itu, itulah yang terbaik untuk manusia. Dengan demikian menurutnya, menyibukkan diri dengan kebenaran adalah hal yang niscaya.

"Umur manusia bukan miliknya. Umur yang digunakan hidup bersama Allah itulah umur manusia yang sebenarnya. Banyak yang berumur panjang namun manfaatnya kurang banyak. Sebaliknya banyak yang berumur singkat namum padat manfaatnya," jelas kiai yang kerap disapa Gus Ali ini.

Ia kemudian mengutip hadits Nabi Muhammad Saw. "Khoirun nas man toola umruhu wa hasuna 'amaluhu', artinya 'Manusia terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya'. Semoga yang hadir di sini saya doakan panjang umur dan manfaat umurnya. Aamiin," ujarnya.

Ia menambakan, hadist di atas tidak cukup hanya dibaca dan dicerna, melainkan harus diperjuangkan dan ditirakati. "Barangsiapa yang menjadi orang besar harus berpikir dan berjuang besar. Makna umur bukan ditentukan seberapa lama kita hidup tapi seberapa banyak orang yang menerima manfaatnya," ulasnya.

Selain itu, lanjut Gus Ali, pepatah bijak juga mengatakan gajah mati meninggalkan gading. "Masa kita mati cuma meninggalkan janda dan duda? Semoga kita semua saat mati nanti mampu meninghalkan nama baik, prestasi dan prasasti," tutupnya. (Syamsul Arifin/Kendi Setiawan)
Senin 11 Maret 2019 21:0 WIB
Habib Luthfi: Tanda Cinta Bangsa, Tidak Cepat Terima Hoaks!
Habib Luthfi: Tanda Cinta Bangsa, Tidak Cepat  Terima Hoaks!
Habib Luthfi di Karanganyar, Jateng
Karanganyar, NU Online
Banyak negara yang dulu dikenal sebagai negara besar, namun kini keadaannya porak poranda karena perpecahan dan perang yang melanda. Sebut saja Irak, Syiria, Libya, dan lain sebagainya. Motif yang melatarbelakangi, selain karena persoalan ekonomi dan politik dengan negara lain, juga didukung dengan adanya perpecahan dari dalam negeri.

Hal tersebut diungkapkan Rais 'Aam Idarah Aliyah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Ali Yahya pada pengajian Maulid Akbar di Pesantren Plesungan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Ahad (10/3).

"Awalnya terjadi penggembosan serta ketidakpercayaan kepada para ulama, kemudian pemerintah, dan lain sebagainya. Setelah itu negara tersebut dipecah belah, dan tinggal dibagi-bagi," katanya.

Maka salah satu upaya, yang paling minim bisa dilakukan untuk mencegah hal tersebut terjadi, yakni kita sebagai warga negara yang tidak mudah dihasut dengan kabar bohong, yang dapat memicu perpecahan bangsa. "Tanda kita cinta Indonesia, tidak cepat terima hoaks. Tidak mudah terpengaruh (hasutan) yang bisa pecah belah bangsa," terang ulama asal Pekalongan itu.

Hal lain yang bisa merajut rasa persatuan bangsa, yakni dengan selalu mengingat rasa persaudaraan. "Ingat! Kita punya dua saudara, yang pertama saudara seagama. Kedua saudara sebangsa dan se tanah air," tegas Habib Luthfi.

Dalam acara yang dirangkai dengan haul para masyayikh serta peluncuran perdana buku "Nalar Inshofi" karya pengasuh Pesantren Al Inshof KH Abdullah Saad tersebut, turut hadir Bupati Karanganyar Juliyatmono beserta jajaran Muspida, serta para tokoh alim ulama, dan Pengurus NU di wilayah Soloraya. (Ajie Najmuddin/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG