::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Dusun Belajar di Pesantren Belasan Tahun

Senin, 11 Maret 2019 16:15 Nasional

Bagikan

Kiai Dusun Belajar di Pesantren Belasan Tahun
Shalawat Nariyah dan Maulid Al-Barjanzi di Banjar, Jawa Barat Ahad (10/3) malam.
Banjar, NU Online
Rais Syuriyah PCNU Banjar, Jawa Barat, KH Mu'in Abdurrohim mengatakan umat Islam harus menghargai kiai-kiai dusun. Menurutnya walaupun tinggal di dusun, kiai-kiai tersebut memiliki keilmuan yang jelas.

Menjadi seorang pendakwah publik yang acap berbicara soal agama memerlukan ilmu yang mumpuni sehingga apa yang disampaikan sesuai dengan Al-Qur'an dan hadits.

Menurut Kiai Mu'in Abdurrohim untuk mendapatkan ilmu yang mumpuni dalam bidang agama, banyak kiai dan ulama NU yang mengikuti pendidikan di pesantren tidak kurang dari 15 tahun.

"Biar faham (ilmu agama Islam) maka harus selesaikan ngajinya, nyantri jangan kurang dari 15 tahun. Jika belum nyantri 15 tahun jangan berbicara masalah agama nanti pletat-pletot (terbata-bata)," ujarnya saat mengisi tausiyah di acara rutinan Shalawat Nariyah dan Maulid Al-Barjanzi di Masjid Al-Edros, Ahad (10/3) malam.

Kiai Mu'in juga mengatakan prihatin karena ada orang yang dikenal publik sebagai ustadz, namun dalam penyampaian ceramah seperti seenaknya sehingga bukannya mencerahkan umat namun malah menyesatkan.

"Lain sekarang, Indonesia saking keder (kaget) ada medsos banyak orang cari duit dengan menjual agama, sehingga orang yang dulunya artis pakai udeng-udeng (imamah) jadi ustadz. Nah, ini menjadi masalah sehingga banyak yang menyesatkan," katanya.

Kiai Mu'in Abdurrohim meminta umat Islam agar lebih mengikuti kiai-kiai dusun. "Ikutilah kiai-kiai yang ada di dusun yang sudah jelas, yang suka shalawatan, hadrahan, tahlilan, ziarah, tujuh harian, dan yasinan sehinga selamat dunia akhirat," pungkasnya. (Agus Ahmad Fauzi/Kendi Setiawan)