IMG-LOGO
Nasional

Memahami Al-Qur'an dan Hadits Harus Pakai Ilmu

Kamis 14 Maret 2019 12:30 WIB
Bagikan:
Memahami Al-Qur'an dan Hadits Harus Pakai Ilmu
Diskusi Publik Maulana

Jakarta, NU Online
Akademisi Unusia Jakarta Zastrouw Al-Ngatawi mengemukakan pentingnya ilmu sebagai alat untuk mengerti tentang sesuatu hal, seperti untuk bisa memahami maksud ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits maka dibutuhkan seperangkat ilmu seperti Ulumul Qur'an, Ulumul Hadits, Balaghah, dan Ushul Fiqih.

"Kalau mau balik ke Qur'an-hadits harus ada ilmunya," kata Zastrouw saat menjadi pembicara pada Diskusi Publik di Rumah Pergerakan Gus Dur di Kalibata Timur Jakarta, Rabu (13/3).

Oleh karena itu, menurutnya, jika ada pihak-pihak yang mengajak dalam beragama dengan langsung mengutip Al-Qur'an dan hadits itu merupakan sebuah kekeliruan. Penguasaan terhadap ilmu-ilmu pendukung merupakan suatu keharusan.

"Kalian ngajak balik ke Qur'an dan hadits tanpa ilmu, pasti sesat," jelasnya.

Lebih lanjut Zastrouw mencontohkan dalam dunia kedokteran. Menurutnya, seseorang dapat membuka praktik kedokteran apabila telah menjalani pendidikan terkait dalam waktu yang lama. Sebab jika hanya bermodalkan membaca buku kedokteran (otodidak) lalu membuka praktik, maka membuat penyakit si pasien bertambah bahaya.

"Lah wong baca buku kedokteran saja harus sekolah dokter lima tahun, padahal buatan manusia, apalagi (memahami) Qur'an-hadits yang bikinan Tuhan," ucapnya.

Begitu juga dalam dunia sastra. Ia menyatakan bahwa seseorang boleh menafsirkan puisi-puisi karya WS Rendra dengan sekolah sastra terlebih dahulu sekitar lima tahun.

"Padahal itu puisi yo bikinan manusia, apalagi Qur'an-hadits yang bahasa Arab, sastranya tinggi," ucapnya. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)

Bagikan:
Kamis 14 Maret 2019 23:45 WIB
Era Industri 4.0, Investor Amerika Tak Perlu Khawatir Investasi di Indonesia
Era Industri 4.0, Investor Amerika Tak Perlu Khawatir Investasi di Indonesia
Jakarta, NU Online
Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menerima delegasi The American Chamber of Commerce in Indonesia (Amcham Indonesia) yang dipimpin oleh John Goyer, Executive Director, Southeast Asia US Chamber of Commerce di kantor Kemnaker, Jakarta, Rabu (13/3).

Dalam pertemuan hampir 60 menit tersebut, Hanif Dhakiri meyakinkan delegasi Amcham Indonesia bahwa menghadapi tantangan ekonomi di era disrupsi industri 4.0 semakin besar, tidak perlu mengkhawatirkan untuk berinventasi di negara Indonesia.

"Investasi di Indonesia akan tetap menguntungkan bagi semua pihak di masa mendatang," kata Hanif Dhakiri.

Optimisme Hanif Dhakiri tersebut karena pemerintah akan terus memberikan perhatian secara serius terhadap iklim investasi yang kondusif, termasuk menjaga iklim ketenagakerjaan yang stabil dan semakin kondusif bagi investor.

Selain itu kata Hanif Dhakiri, pemerintah melalui Kemnaker juga sedang dan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pelatihan vokasi melalui strategi triple skilling, yakni skilling, upskilling dan reskilling. 

Bagi tenaga kerja yang belum punya keterampilan dapat mengikuti program skilling agar punya keahlian di bidang tertentu. Bagi tenaga kerja yang telah memiliki skill dan membutuhkan peningkatan akan masuk program upskilling. Sedangkan yang ingin beralih skill dapat masuk ke program reskilling.

"Adanya kepastian pengupahan, jaminan sosial, hubungan industrial yang baik serta perubahan paradigma Mayday yang makin kondusif akan mampu menarik investasi masuk ke Indonesia," kata Hanif yang hadir didampingi Dirjen Binalattas Bambang Satrio Lelono, Dirjen Binapenta dan PKK Maruli A Hasoloan dan Direktur Pengembangan Pasar Kerja Kemenaker Roostiawati.

Di bidang penempatan kerja, Hanif Dhakiri menambahkan pemerintah juga optimistis bisa memenuhi pencanangan target sepuluh juta lapangan kerja pada tahun 2019. Hal itu bisa terlihat sejak tahun 2015 hingga Agustus 2018, pemerintah telah berhasil menempatkan 9.483.672 orang. 

"Saya optimis target 10 juta lapangan kerja pada tahun 2019 dapat tercapai," katanya. 

Hanif mengungkapkan capaian strategis lainnya, yakni bidang hubungan industrial. Meningkatnya kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja. Hingga Agustus 2018, peserta jaminan sosial tenaga kerja mencapai 28.127.702 orang. 

"Angka perselisihan industrial menurun dari 2.683 kasus pada tahun 2014, menjadi 1.316 kasus sepanjang Januari-Agustus 2018," ujarnya. (Red: Kendi Setiawan)


Kamis 14 Maret 2019 22:0 WIB
Gus Nadir: Perlu Ada Ilmu Musthalah Medsos
Gus Nadir: Perlu Ada Ilmu Musthalah Medsos
Acara bedah buku 'saring sebelum sharing' di Solo
Solo, NU Online
Buku berjudul 'Saring Sebelum Sharing' karya Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia, KH Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) dibedah di Pesantren Az-Zayadiy Laweyan Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (14/3).

Acara yang dimoderatori oleh pengasuh Pesantren Al Muayyad Windan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Gus Nadir sendiri dan pegiat komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Solo, Niken Satyawati.

Dalam pemaparannya, Gus Nadir menjelaskan keberadaan media sosial (medsos) di era saat ini begitu memberikan pengaruh yang besar kepada masyarakat. Dengan demikian, lanjut Gus Nadir, bahkan perlu dibuat jenis ilmu baru untuk memahami medsos. "Mungkin perlu ada ilmu musthalah medsos," kata Gus Nadir, disambut tawa para peserta bedah buku.

 Ia juga berpesan agar masyarakat, khususnya kaum santri bisa menggunakan medsos dengan bijak.

Sementara itu, tuan rumah penyelenggara kegiatan bedah buku yang juga pengasuh pondok setempat, KH Abdul Karim (Gus Karim) mengungkapkan pentingnya diadakan acara ini.

 "Dengan bedah buku ini, kita semakin hati-hati dalam menerima serta memberikan informasi. Saat ini, informasi begitu liar, terkadang juga menyesatkan umat," terang Gus Karim, saat ditemui NU Online di sela acara bedah buku.

Ditambahkan Gus Karim, pemilihan pesantren sebagai lokasi bedah buku ini, yakni pesantren sebagai simbol pendidikan akhlak.  Acara yang berlangsung sekitar tiga jam ini, diakhiri dengan sesi dialog dan tanya jawab. 

Buku Saring Sebelum Sharing, karya Gus Nadir mengajak pembaca untuk memahami teks melalui konteks, meninggalkan kebiasaan belajar secara instan, dan tidak mudah menghakimi yang lain hanya dari sepenggal ayat maupun hadits. (Ajie Najmuddin/Muiz)

Kamis 14 Maret 2019 20:0 WIB
Kunjungi Pesantren di Sumbar, Ini Kesan dan Pesan Panglima TNI
Kunjungi Pesantren di Sumbar, Ini Kesan dan Pesan Panglima TNI
Kunjungan Panglima TNI ke Pesantren di Sumatera Barat
Padang Pariaman, NU Online
Pondok pesantren memiliki peran penting mempersiapkan umat dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Pondok pesantren dengan santri dan ulamanya menjadi pencerah dalam kehidupan umat beragama.

Penegasan ini diungkapkan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kamis (14/3), pada Silaturrahmi Kebangsaan dan Tabligh Akbar di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Kecamatan VI Lingkungan, Padang Pariaman, Sumatera Barat. 

Menurut Hadi Tjahjanto, tanpa kehadiran ulama dan santri yang dididik di pondok pesantren, umat bisa kehilangan arah dalam kehidupannya.

Oleh karena itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pesantren diminta untuk terus memperkuat nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa. Santri terus menjunjung tinggi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Bayangkan tanpa pesantren, tidak ada manusia berpengetahuan yang unggul, cerdas, berkualitas dan memiliki pemahaman keagamaan dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saya bersama Kapolri Tito Karnavian berkeliling Indonesia untuk memastikan keamanan NKRI. Foto-foto Panglima TNI dan Kapolri bergandengan dipajang di mana-mana. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih aman,” kata Hadi Tjahjanto.

Dikatakan, betapa luasnya NKRI ini. Dua pertiga wilayahnya merupakan laut. Memiliki banyak bahasa, suku, pulau, agama yang berbeda. Ada Sunda, Jawa, Bugis, Padang (Minang), Papua dan seterusnya.  Berbeda-beda itulah Indonesia. Pesantren berperan penting menjaga NKRI agar tetap utuh.

Panglima juga mengungkapkan, Indonesia memiliki orang-orang hebat. Ada anak bangsa Indonesia yang meraih juara olimpiade matematika tingkat dunia. Indonesia juga mampu meraih juara olimpiade bidang fisika, kimia di dunia. Mereka berhasil karena mampu mendisiplinkan dirinya. Kunci sukses tersebut adalah disiplin diri.

“Di pondok pesantren santri sudah diajar dan dilatih disiplin. Sama seperti di TNI dan Polri. TNI dan Polri disiplin kapan harus tidur dengan bunyi terompet, bangun sebelum subuh dibunyikan terompet," katanya.

Hal yang sama juga dialami santri di pesantren. Tidur diatur, bangun pun diatur. Semua disiplin. Pola pendidikan di pedantren sama persis dengan TNI dan Polri.

"Itulah keberhasilan pondok pesantren membina santrinya menjadi pemimpin  masa depan. Sekarang sistem pendidikan pesantren mulai dicontoh dengan pola boarding school,” kata Hadi.

Pada kesempatan tersebut Panglima juga meminta para santri agar mampu menyaring informasi melalui media sosial yang sengaja ditujukan untuk memecah belah bangsa Indonesia. Untuk itu, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia harus terus dijaga serta diperkuat.

Silaturrahmi dihadiri  Kapolri Jenderal Polisi H. Muhammad Tito Karnavian, Ketua Umum Majelis Dzikir Hubbul Wathan KH Musthafa Aqil Siroj, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni, Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Syekh Muhammad Rais Tuanku, Ketua Yayasan Nurul Yaqin Idarusalam Tuanku Sutan, santri dan majelis guru pesantren Nurul Yaqin dan cabang Nurul Yaqin.
(Armaidi Tanjung/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG