IMG-LOGO
Tokoh

Sanad Keilmuan KH Ma’ruf Amin: Dari Banten Sampai Makkah

Jumat 15 Maret 2019 11:0 WIB
Sanad Keilmuan KH Ma’ruf Amin: Dari Banten Sampai Makkah
KH Ma'ruf Amin (Ist.)

Sosok KH Ma’ruf Amin sudah dikenal masyarakat luas sebagai ulama yang ahli di bidang dakwah dan ilmu fiqih. Tentu saja di balik itu, ia memperoleh ilmu tidak dari guru dan tempat sembarangan.

Bahkan, ia dijuluki sebagai “Santri Kelana” yang selama mudanya gemar belajar dari satu tempat ke tempat yang lain.

Sanad keilmuan Kiai Ma’ruf bersambung dengan jalur para ulama Nusantara yang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Pertama-tama, Kiai Ma’ruf belajar kepada ayahnya, Kiai Muhammad Amin, yang terkenal sebagai ahli fiqih.

Kiai Amin belajar di Makkah selama 15 tahun, antara lain mengambil sanad keilmuan dari Sayyid Alawi Al-Maliki di Makkah. Kiai Amin menjadi guru banyak kiai di seputar Banten, mengajarkan kitab Al-Mahalli, Tuhfah, Al-Muhadz-dzab, dan lain-lain.

Lalu Kiai Ma’ruf belajar kepada kakeknya dari Ibu, Kiai Muhammad Ramli, yang mengambil sanad keilmuannya di Makkah, antara lain, dari Syekh Mahfuzh At-Tarmasi, ulama asal Tremas Pacitan yang menjadi guru para ulama NU. Kiai Ramli memberinya ijazah doa-doa yang diamalkan Kiai Ma’ruf sampai sekarang.

Lalu ia belajar sebentar di Perguruan Islam Citangkil, Cilegon, sebelum melanjutkan penjelajahan ilmunya ke Tebuireng, Jombang. Sepulang dari Tebuireng, Kiai Ma’ruf yang masih haus ilmu, belajar secara tabarrukan di tiga pesantren, yaitu di Caringin (Labuan Pandeglang), Petir (Serang), dan Pelamunan (Serang).

Setelah bermukim di Jakarta, ia melanjutkan pencarian ilmunya kepada Kiai Ahmad Mi’an dan Kiai Usman Perak di Masjid Al-Fudlola, sebuah masjid yang bersejarah di Tanjung Priok. Ia juga mengambil sanad keilmuan dari Habib Ali bin Husein Al-Attas yang dikenal sebagai Habib Ali Bungur.

Dengan kajian berbagai kitab yang komprehensif itu, Kiai Ma’ruf memiliki bekal yang matang dalam mengembangkan dirinya sebagai ulama. Perkembangan keilmuannya bahkan diakui oleh ayahnya sendiri.

“Kalau ada ajaran bahwa seorang ayah boleh sungkem pada anaknya, maka saya akan menjadi orang pertama yang akan sungkem pada Ma’ruf,” ujar Kiai Amin. (M. Zidni Nafi’)

Diolah dari buku Iip Yahya: KH Ma’ruf Amin, Santri Kelana Ulama Paripurna, 2019.

Tags:
Senin 11 Maret 2019 15:45 WIB
Mengenal KH Abdul Majid Tamim, Murid Hadratussyekh yang Produktif Menulis
Mengenal KH Abdul Majid Tamim, Murid Hadratussyekh yang Produktif Menulis
KH Abdul Majid Tamim (Istimewa)

Di antara orang yang memiliki jasa besar dalam penyebaran agama Islam ke Madura adalah RKH Abdul Majid bin Tamim, salah seorang murid Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. Jasanya yang cukup besar dikarenakan kemampuannya menerjemahkan sejumlah kitab Islam, dari berbagai ilmu pengetahuan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Madura.

Sederet nama kitab yang diterjemahkan antara lain Safinah An-Najah, Sullam Taufiq, Muqaddimah Hadlramiyah, Nadham Al-Maqshud bahkan juga kitab Tafsir Jalalain. Selain menerjemahkan, beliau juga mengarang Kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah dan kitab “At-Tashrif”. Kebanyakan karya Kiai Majid baik yang dikarangnya sendiri ataupun terjemahannya diterbitkan di Maktabah Salim Nabhan Surabaya. Saya merasa beruntung karena mendapatkan beberapa karya beliau langsung dari penerbit tersebut.

Nama Kiai Majid juga tertulis dalam penelitian Martin Van Bruinnessen yang berjudul: “Kitab Kuning: Books In Arabic Script Used In Pesantren Milieu”. Peneliti berkebangsaan Belanda ini menyebut Kiai Majid Tamim sebagai salah satu tokoh yang berjasa dan banyak berbuat dalam rangka penerjemahan kitab-kitab salaf ke dalam bahasa Madura.

Profil singkat

Kiai Abdul Majid sendiri lahir di Madura pada 1922 dan wafat pada tahun 2004. Semasa muda beliau belajar di pondok Pesantren Tebuireng Jombang, tepatnya pada pertengahan tahun 1930-an sampai awal tahun 1940-an beliau mengaji langsung kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. 

Setelah lulus, beliau tinggal di Jember, tepatnya di Kompleks Masjid Raudlatul Mukhlisin Kelurahan Condro Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember Jawa Timur. Semasa hidupnya Kiai Majid tidak hanya aktif menerjemahkan dan menulis kitab kuning, namun seperti kiai pada umumnya, KH Majid mengisi ceramah dan pengajian-pengajian dalam majelis-majelis ta’lim yang diselenggarakan oleh masyarakat sekitarnya baik di Jember maupun di Madura.

Pandangan tentang emansipasi perempuan

Di antara kitab yang menarik untuk dibahas saat ini adalah kitab Tafsri Al-Mar’ah Al-Shalihah, mengingat relevansinya terhadap kondisi saat ini. Kita ini sendiri merupakan jawaban Kiai Abdul Majid terkait westernisasi tentang emansipasi wanita kala itu. Kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah ini merupakan kitab tafsir yang ditulis Kiai Abdul Majid dalam Bahasa Madura.

Sebagaimana juga diungkapkan oleh Ahmad Qusyairi dalam penelitiannya yang berjudul: Kritik Sosial dalam Tafsir Al-Qur’an (Studi terhadap Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah Karya Majid Tamim). Dikatakan bahwa tafsir ini ditulis dalam lingkup sosial budaya madura dan merupakan kritik terhadap westernisasi barat.

Dari hasil penelitian Ahmad Qusyairi dapat kita ambil kesimpulan mengenai KH Abdul Majid Tamim Pamekasan adalah sosok ulama konservatif yang sangat selektif terhadap budaya yang datang dari luar. Dalam kesimpulan penelitian Ahmad Qusyairi disimpulkan bahwa: (1) Kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah yang ditulis KH Abdul Majid Tamim adalah bertujuan untuk merespon isu-isu sosial utamanya masalah westernisasi dan gender; (2) Metode tafsir yang digunakan Abdul Majid Tamim merupakan tafsir tematik bil ra’yi dengan corak sosial budaya; dan (3) Kriteria perempuan dalam pandangan Abdul Majid Tamim dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: (a) Wanita dengan kepribadian yang kuat; (b) Wanita patuh kepada suami; (c) Wanita pandai dan cerdas dalam diskursus kesetaraan gender; dan (d) Wanita yang menjaga kesuciannya.

Menghindari keramaian

Menurut penuturan keluarganya, KH Abdul Majid merupakan ulama yang berusaha untuk menyembunyikan dirinya dari kemasyhuran. Ia sering datang ke kediamannya di Pamekasan sebelah utara Masjid Agung Jami’ Kota Pamkesan tepat di sebelahnya. Ia selalu datang secara tiba-tiba dan sembunyi-sembunyi dan langsung menemui keponakannya R. Abdullah untuk suatu keperluan. Setelah itu sesegera mungkin (paling lambat keesokan harinya) kembali ke Jember dengan sembunyi-sembunyi pula.

Penulis sendiri merasa bertemu muka dengannya hanya sekali dalam hidupnya. Namun penulis telah banyak mengoleksi kitab-kitab karya dan terjemahannya. Salah satunya adalah kitab ‘At-Tashrif” yang ditulisnya dalam bidang morfologi bahasa Arab. Kitab ini penulis dapatkan dari peneribit dan toko kitab Salim Nabhan Surabaya, salah satu penerbit tertua di Indonesia.

Dari penuturan pimpinan penerbit itu yakni Adnan Nabhan, dapat saya simpulkan bahwa sosok Kiai Majid sangat dekat dengan keluarga Nabhan. Memang semasa hidupnya KH Majid sering mengisi pengajian-pengajian yang dihadiri dan diselenggarakan orang keturunan arab dan para habib, utamanya di Pamekasan.

Kiranya dari kisah singkat KH Abdul Majid Tamim ini dapat ditarik dua pelajaran yaitu: (1) Menguatkan kredibilitas KH Hasyim Asy’ari dan Pesantren Tebuireng sebagai Maha Guru Ulama dan Pesantren pencetak ulama di Nusantara; (2) Bahwa seorang Ulama/Kiai meskipun tinggal di pedesaan dan tertutup oleh liputan media serta tampak kolot, tetap mampu menjawab tantangan zaman. (Ahmad Nur Kholis)

Selasa 5 Maret 2019 13:2 WIB
Jimly, Seniman Kaligrafi Internasional dari Jember
Jimly, Seniman Kaligrafi  Internasional dari Jember

Jember, NU Online
Ahmad  Jimly Ashari, namanya. Masih muda, usianya baru  25 tahun. Namun lajang asal Ambulu, Jember, Jawa Timur ini  mempunyai  prestasi yang luar bisa di dunia seni kaligrafi. Sederet  piala berjejer rapi di rak pondoknya. Prestasinya menjamah level nasional bahkan internasional. Di antaranya adalah juara nasional  kaligrafi khot naskhi  di Jombang (2015). Karena prestasinya yang menumpuk,  pada tahun 2013, Jimly dipercaya mewakili Indonesia untuk ikut pameran kaligrafi di Aljazair. Tidak cukup sampai di situ, dalam lomba internasional  di Turki (2018), karyanya terpilih masuk 5 besar.

“Alhamdulillah, berkat usaha dan doa kita semua,” ucapnya kepada NU Online di kompleks  Pondok Pesantren Darus Sholah, Jalan Moh Yamin  Nomor 25, Kelurahan Tegalgesar, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (4/3).

Ustadz Jimly, sapaan akrabnya,  mengaku tertarik dengan seni kaligrafi sejak kecil. Lingkungan pesantren (Darus Sholah), tempatnya menuntut ilmu dirasa cukup mendukung bakat seni kaligrafinya. Ketika kelas SMP Darus Sholah, Jimly mengaku termotivasi oleh gurunya, Ustadz Fuad Harun.

“Beliau yang memotivasi saya pertama kali,” kenangnya.

Sejak saat itu, pemuda kelahiran Jember 6 Juni 1993 dari pasangan Suprapto dan Susilatin ini, tancap gas, menekuni seni kaligrafi. Dalam proses belajar, Ustadz Jimly tidak mencukupkan diri di lingkungan pesantren, tapi juga mencari guru kaligrafi di Malang dan Jombang untuk meningkatkan keterampilannya. Bahkan juga berguru  secara online kepada  ahli kaligrafi  di Maroko (Syeikh Bilaid Hamidi) dan Palestina (Ehad Ibrahim Tsabit). Keduanya adalah sosok yang cukup terkenal sebagai master kaligrafi dunia.

“Sejak tahun 2013 hingga sekarang saya berguru kepada kedua beliau. Belajarnya  lewat email,” urainya.

Bagi Ustadz Jimly, kaligrafi bukan sekedar tulisan arab yang dipoles, tapi juga seni yang mengandung pesan teramat jelas. Sebab, yang ditulis adalah firman  Allah. Sehingga kaligrafi juga menjadi media dakwah. Kalau soal keindahan, kaligrafi tidak hanya diakui oeh warga Muslim, tapi non Muslimpun tak sedikit yang mencintai kaligrafi.

“Ada juga non Muslim yang senang kaligrafi, tapi mereka cuma cinta keindahannya, bukan cinta dan atau ingin memahami isinya,” jelas Ustadz Jimly.

Saat ini selain menjadi guru kaligrafi di Darus Sholah, Ustadz Jimly juga ngopeni santri yang berbakat kaligrafi. Di luar itu, ia juga membuka kelas online. Muridnya dari Surabya, Malang, dan Bali.

“Kemaren ada yang dari Malaysia juga mau ikut belajar online, tapi saya belum memberi jawaban,” ucapnya.

Benar, kaligrafi bukan sekedar menulis kalimat Arab yang indah, tapi juga banyak pesan yang muncul dari kalimat yang ditulis. Anak-anak dan pelajar  memang perlu terus didorong untuk mencintai kaligrafi di tengah pusaran globalisasi budaya yang semakin masif agar kaligrafi tak mati suri.

Dan untuk itu, Jember telah memulai di bawah bimbingan Ustadz Jimly, sang seniman kaligrafi  Internasional (Aryudi AR).


Selasa 26 Februari 2019 18:0 WIB
Manaqib Habib Utsman Al-Aydrus, Tokoh NU Jawa Barat
Manaqib Habib Utsman Al-Aydrus, Tokoh NU Jawa Barat
Beberapa hari lalu ada acara periingatan Haul Habib Utsman Al-Aydrus di Pondok Pesantren Assalam, Sasak Gantung, Kota Bandung. Habib Utsman merupakan pendiri pesantren tersebut. Di dalam peringatan tersebut, salah seorang putranya, KH Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus menceritakan riwayat singkat ayahandanya sebagai berikuit:

Habib Utsman merupakan murid Mama Ajengan KH Syatibi Gentur, Cianjur. Meskipun dia seorang habib, ia sangat tawadhu kepada gurunya tersebut. Saat menjadi santrinya, sebelum subuh, Habib Utsman, selalu mengisi air bak untuk wudhu dan mandi gurunya itu.

Habib Utsman lahir tahun 1910 dan wafat 1985. Semasa hidupnya, berdasarkan catatan pribadinya, ia telah mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari 6.000 kali. Menurut putranya, yakni KH Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus, sang ayah setiap hari khatam Al-Qur’an minimal satu kali dan khusus di bulan puasa Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali. Artinya, sehari khatam 2 kali.

Habib Utsman sangat menyayangi anak-anak yatim piatu dan dhuafa. Kepada anak yatim piatu rasa sayang itu terpancar dari perhatian khusus yang diberikan. Tercatat ada 13 hal perhatian Habib Utsman kepada mereka, di antaranya: santunan yatim piatu di 10 Muharam, menyekolahkan dan juga membiayai anak-anak yatim piatu untuk belajar di sekolah dan pondok-pondok pesantren, setiap hari mengusap dan mencium kepala anak-anak yatim piatu di seputar Assalaam. 

Selanjutnya, melaksanakan khitanan massal khususnya untuk anak yatim piatu serta masyarakat luas sejak tahun 1952 dan berlanjut hingga hari ini, selalu mengajak anak-anak yatim untuk menemui para ulama dan memohon doa dari para ulama sholeh untuk anak-anak yatim piatu karena banyak ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Ghazali dan lain-lain, ternyata yatim saat kecil. 

Habib Utsman juga menulis buku yang hasil penjualannya khusus diperuntukkan bagi anak-anak yatim piatu, serta setiap sebulan sekali di Assalaam diadakan acara makan bersama para yatim piatu dan dhuafa. Selain itu, ia juga mendorong berdirinya Rumah Tahfidz khususnya untuk yatim piatu (banyak ulama dan hafidz yang telah dihasilkan), dan lain-lain.

Saat ini Assalaam Bandung telah berkembang demikian pesat dengan berbagai aktivitasnya dari unit kelompok bermain, PAUD, TK, SD, SMP, MTs, SMA, SMK, pesantren, majelis taklim, biro haji dan umrah, panti yatim, jamaah perempuan WPWA, dan lain lain.

Habib Utsman Al-Aydarus adalah seorang ulama multitalenta. Ia menguasai beberapa bahasa asing secara otodidak. Ia juga salah satu tokoh di belakang berdirinya Universitas Nahdlotul Ulama di Bandung yang sekarang menjadi Uninus. Ia pun termasuk tokoh NU di Jawa Barat dan pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah selama dua periode yaitu tahun 1960 sampai dengan 1970.

Habib Utsman dan murid-muridnya juga membina pengajian ibu-ibu di hampir 200an masjid di seputar Bandung di masa hidupnya. Serta menulis banyak buku-buku tentang ibadah yang berbahasa Sunda di antaranya Rarakatan Shalat dan lain-lain.

Allah SWT banyak mengabulkan doa Habib Utsman Al-Aydarus. Pernah terdapat seorang anak umur 8 tahun yang terkena kanker otak dan divonis dokter dari Rumah Sakit Singapura dan Jerman bahwa anak tersebut tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari 2 bulan setelah diagnosa.

Orang tua anak tersebut disarankan oleh dr. Misbah (salah seorang dokter kepresidenan) untuk meminta saran para ulama di Jakarta. Orang tua itu mendatangi KH Syafi’i Hadzami, tokoh NU Jakarta. Orang tua disarankan menemui Habib Utsman Al-Aydarus di Bandung.

Orang tua itu pun membawanya ke Bandung. Habib Utsman membacakan Shalawat Nariyah sebanyak 4444 kali di sebuah ruangan khusus dan memberikan air yang telah dibacakan shalawat Nariyyah tersebut untuk diminumkan dan dipercikkan pada kepala anak yang terkena kanker otak itu.

Sungguh ajaib, seminggu kemudian anak tersebut pulih dan sembuh kembali. Kanker otaknya hilang begitu saja atas izin Allah SWT.

Orang tua anak tersebut karena penasaran memeriksakan keadaan anaknya ke Rumah sakit di Singapura dan Jerman, maka terkejutlah para dokter-dokter yang sebelumnya mendiagnosa anak tersebut hingga berkali-kali mereka membandingkan foto rontgen antara sebelum anak tersebut dibacakan Shalawat Nariyah oleh Habib Utsman dan sesudahnya.

Diceritakan setelah sembuh anak tersebut tumbuh dewasa dan menjadi salah satu dosen di Universitas Indonesia serta meninggal dunia dalam usia 52 tahun.

Makam Habib Utsman Al-Aydarus terletak di daerah Taman Pemakaman Assalam di dekat Pasar Induk Caringin Bandung. Di kompleks pemakaman tersebut tersebut banyak dimakamkan mulai para habaib serta ulama dan murid-murid Habib Ustman, di antaranya juga terdapat pusara tokoh nasional H. Mahbub Djunaidi (tokoh NU, Ketua Umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.)

Demikianlah sekelumit kisah Habib Ustman Al-Aydarus yang dapat kami sarikan dari ceramah Putra beliau Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus pada Acara Haul ke 32 Habib Utsman Al Aydarus (29 Maret 2016, di Masjid Assalaam, Sasak Gantung Kota Bandung). (Wahyul Afif Al-Ghafiqi)

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG