::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Indonesia Belum Selesai Mengatasi Terorisme

Sabtu, 16 Maret 2019 19:00 Nasional

Bagikan

Indonesia Belum Selesai Mengatasi Terorisme
Jakarta, NU Online
Beberapa hari lalu, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror berhasil menangkap Husein alias Abu Hamzah dan dua kawannya. Sementara istri Husein meledakkan diri bersama anaknya yang masih berusia dua tahun.

“Ini menunjukkan kita masih belum selesai mengatasi kekerasan, ancaman terorisme,” kata M Imdadun Rahmat, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Jalan Taman Amir Hamzah No. 5, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (15/3).

Imdad menilai kelompok yang baru tertangkap itu sangat radikal. Mereka, katanya, tergolong pada salafi takfiri. Mereka mulanya berasal dari jaringan Al-Qaida, tetapi menyempal dan membentuk jaringan baru di bawah ISIS.

“Prioritas utamanya musuh dekat (pemerintah). Meskipun dalam praktiknya, musuh jauh dan dekat disikat bersama-sama. Misalnya kasus di Surabaya, selain mereka menyerang polisi, juga mereka menyerang gereja,” kata Imdad.

Ia juga mengungkapkan bahwa kasus terorisme di Sibolga keburu tercium oleh kepolisian. “Korbannya masih dirinya sendiri meskipun properti tetangga hancur,” katanya.

Melihat fakta tersebut, Imdad menilai bahwa Indonesia masih punya PR banyak dalam hal terorisme ini. Oleh karena itu, ia mengajak untuk bersama-sama melawan tindakan dan pandangan yang mendukung kekerasan dan terorisme.

“Kita sebagai bangsa masih harus bekerja keras untuk bersama-sama melawan kekerasan sebagai tindakan penembakan, pengeboman, dan sebagainya, maupun sikap dan pandangan yang menghalalkan, mendukung, mensuport kekerasan,” tegasnya.

Apalagi menjadikan kekerasan dan teror itu sebagai bagian dari ajaran agama. “Itu dua-duanya harus dilawan secara bersama-sama oleh bangsa kita,” pungkas Direktur SAS Institute itu. (Syakir NF/Abdullah Alawi)