IMG-LOGO
Nasional

Asia Pasifik Perlu Kurangi Islamophobia, Antisemitisme, dan Antiimigran

Ahad 17 Maret 2019 4:32 WIB
Bagikan:
Asia Pasifik Perlu Kurangi Islamophobia, Antisemitisme, dan Antiimigran
Jakarta, NU Online 
Cofounder Wahid Foundation Yenny Zannuba Wahid mengatakan semua pihak perlu mendorong negara-negara, khususnya di Asia Pasifik, untuk bersama-sama mengurangi islamophobia, antisemitisme, dan antiimigran.  

“Harus dialog-dialog kebudayaan, mengurangi diskriminasi dan intoleransi, serta mendorong perlindungan dan kesejahteraan khususnya kepada kelompok minoritas,” katanya Jumat (15/03) saat menanggapi serangan penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru pada siangnya.

Ia juga meminta pemerintah Indonesia untuk segera melakukan langkah-langkah antisipasi agar serangan ini tidak berdampak pada meningkatnya kebencian tak berdasar pada warga asing kulit putih atau non-Muslim di Indonesia.

Lebih lanjut ia mengatakan, Wahid Foundation ikut berduka cita sedalam-dalamnya bagi setiap korban dan keluarga mereka, termasuk korban dari warga negara Indonesia (WNI). 

“Kami terus mendoakan agar mereka dapat melalui peristiwa tragis ini dengan tabah,” ujar putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini. 

Ia juga mendukung langkah-langkah perwakilan pemerintah Indonesia di Selandia Baru untuk memastikan para WNI yang menjadi korban mendapat bantuan yang diperlukan.

“Mengutuk keras aksi penembakan brutal tersebut dan mendukung upaya Pemerintah Selandia Baru menangkap, membawa ke pengadilan, dan mengungkap motif berikut jaringan para pelaku penembakan tersebut,” katanya. (Red: Abdullah Alawi)

Bagikan:
Ahad 17 Maret 2019 23:30 WIB
Apel Kebangsaan, Sejumlah Tokoh Ajak Masyarakat Jaga Keutuhan NKRI
Apel Kebangsaan, Sejumlah Tokoh Ajak Masyarakat Jaga Keutuhan NKRI
Sejumlah tokoh hadiri apel kebangsaan di Semarang
Semarang, NU Online
Sejumlah tokoh nasional tampil memberikan orasi kebangsaan dalam acara Apel Kebangsaan ‘Kita Merah Putih’ yang digelar di Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang, Jawa Tengah, Ahad (17/3).

Selain orasi, acara juga dilengkapi dengan doa dan shalawat bersama dan dimeriahkan berbagai hiburan dengan menampilkan sejumlah band dan artis papan atas. Puluhan ribu masyarakat dari seluruh Jateng dan sekitarnya berdatangan memadati lokasi itu. Mereka sambil berdiri dan duduk lesehan dengan khidmat mengikuti kegiatan yang bertujuan untuk mempersatukan bangsa itu.

Sejumlah tokoh nasional yang hadir memberikan orasinya di antaranya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, KH Maimun Zubair, Habib Luthfi bin Yahya, Gus Muwafiq, KH Munif Zuhri, H Mahfud MD, KH Ahmad Daroji, Uskup Rubiatmoko (Keuskupan Agung Semarang), Pendeta Eka Laksa (PGI), Nyoman Suraharta (PHDI), Go Boen Tjien (Matakin) dan Pujianto (Walubi).

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Mahfud MD dalam orasinya mengatakan kegiatan Apel Kebangsaan ini sangat bagus. Menurutnya, bagaimanapun dan apapun caranya, semua harus dilakukan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Pemilu sekalipun, itu koridornya jangan merusak ikatan bangsa. Boleh berbeda pilihan baik partai dan siapapun, tapi satu hal, jangan rusak ikatan kebangsaan. Rugi semua nanti,” ujarnya.

Menurutnya, upaya menjaga keutuhan NKRI sangat penting. Bahkan semua langkah dan upaya bisa dilakukan seperti yang dilakukan para pejuang terdahulu yang memerdekakan negeri ini dari para penjajah.

Habib Luthfi bin Yahya dalam orasinya menyerukan bangsa Indonesia harus bangga memiliki Merah Putih. Karena di dalamnya, memiliki tiga hal, yakni sebagai kehormatan bangsa, harga diri bangsa, dan jatidiri bangsa. “Dari dulu, merah putih tidak akan berubah meski dilekang oleh zaman. Kalau sudah kumpul seperti ini dan berkomitmen untuk menjaga NKRI, menjaga Pancasila, menjaga Merah Putih, maka Indonesia akan tetap jaya,” tuturnya.

Selain Mahfud MD dan Habib Luthfi, sejumlah tokoh nasional lain juga ikut tampil menyampaikan orasi kebangsaan di antaranya KH Maimoen Zubair, Gus Muwafiq, dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Dalam orasinya, Ganjar mengatakan jika Apel Kebangsaan ini diikuti oleh seluruh elemen masyarakat. Tidak memandang suku, agama, ras bahkan pilihan politik, semua berbaur jadi satu untuk Merah Putih.

“Hari ini komplit, ini ada TNI, Polri, Kajati, Ketua DPRD, Wagub dan juga tokoh nasional serta para ulama. Saya minta segenap rakyat Indonesia, segala golongan, semua harus bersatu padu bulat, berdiri di belakang pemimpin. Janganlah menjadi kacau, bekerja tak tentu arah, hanya tuduh menuduh dan menyalahkan orang lain,” ujarnya.

Apa yang disampaikan Ganjar tersebut adalah pidato pertama Bung Karno saat dilantik menjadi Presiden. Dalam pidato pertama itu, Soekarno sudah mengingatkan bahwa yang menjadi ancaman bagi Indonesia adalah dari bangsa Indonesia sendiri.

“Lihatlah bangsa kita saat ini, fitnah merajalela, hoaks, maki-memaki, saling menyerang bertengkar antar kawan bahkan saudara sedarah. Apakah fitnah dan hoaks yang mengoyak ini akan kita biarkan,? apakah sikap intoleran akan kita biarkan? apakah rasa permusuhan yang merusak sendi berbangsa akan dibiarkan? Pasti semua berkata tidak. Mari kita berdiri untuk menjaga NKRI,” tutur Ganjar.

Selain shalawatan, orasi kebangsaan, dan doa bersama, Apel Kebangsaan juga diisi dengan ikrar bersama menjaga NKRI. Acara ditutup dengan penyerahan secara simbolis Bendera Merah Putih oleh para tokoh nasional kepada generasi penerus yang diwakili oleh Ketua Pimpinan Wilayah IPPNU Jawa Tengah serta makan bersama brokohan nasi Kebuli. (Muiz)
Ahad 17 Maret 2019 22:30 WIB
Gus Nadir: NU Harus Melawan Provokator Umat
Gus Nadir: NU Harus Melawan Provokator Umat
Bedah buku di PCNU Jepara, Jateng
Jepara, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Cabang Internasional Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia H Nadirsyah Hosen menjelaskan berbagai fenomena mutakhir yang membuat kondisi Indonesia cukup memprihatinkan terutama dalam hal keberagamaan. Menurutnya ada provokator-provokator yang sengaja membuat kedamaian Indonesia terguncang melalui media sosial.

Hal itu disampaikan Nadirsyah Hosen atau yang akrab disapa Gus Nadir saat mengisi Seminar dan Bedah Buku terbarunya yang berjudul "Saring Sebelum Sharing" di Gedung NU Jepara, Jl Pemuda No 51. 

Bedah buku yang diselenggarakan Lakpesdam NU Jepara ini merupakan rangkaian tournya di berbagai kota se-Indonesia.  

Gus Nadir juga menyebutkan, beragam modus yang dipakai para provokator tersebut. Yang paling sering yaitu mereka pura-pura bertanya dengan menyertakan sebuah berita. Namun pertanyaan itu dilontarkan untuk memancing perdebatan yang berujung konflik.

"Misalnya, ada yang melempar pertanyaan tentang kesalahan salah satu pasangan calon presiden. Namun pertanyaan itu dilemparkan kepada kita-kita yang sama sekali tidak memiliki hubungan politik apapun kepada keduanya. Tentu ini tujuannya untuk memancing emosi," katanya.

Selain itu, lanjut Gus Nadir umat Islam juga diprovokasi dengan membenturkan pernyataan antar ulama atau tokoh agama. Dikatakan, hal ini sering menimpa para kiai-kiai NU. "Sebab, banyak pihak yang tidak suka dengan paradigma NU yang lebih mengutamakan persatuan seluruh umat beragama di Indonesia dibandingkan lebih menonjolkan diri sebagai umat yang mendominasi negara," paparnya.

Modus yang ketiga, sambung Gus Nadir, umat Islam Indonesia diprovokasi dengan dalil-dalil yang tidak relevan dengan konteks kekinian. Dalil-dalil itu dipaksakan untuk merespon fenomena yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dalil yang disertakan. 

Ia mencontohkan, mendekati pemilu kali ini, banyak yang mengutip dalil atau hadits tentang perang sebagai upaya untuk menggiring opini publik supaya 'memerangi' lawan politiknya.

"Yang lebih ekstrem, ada pihak yang menyerukan untuk kembali ke Qur'an dan Hadits. Lha memangnya kita (NU) pernah meninggalkan Qur'an dan Hadits? Ada-ada saja mereka itu. Selain itu, mereka juga sering mengkafir-kafirkan yang tak sama dengan mereka. Ini jelas salah besar dan NU harus menjadi garda terdepan untuk meluruskan mereka," tambahnya.

Melalui buku tersebut, Gus Nadir berharap upayanya menghadirkan pesan Islam yang benar-benar rahmatan lil alamin. Ia juga mendorong  Nahdliyyin untuk aktif berdakwah melalui media sosial, agar masyarakat yang awam agama bisa tersentuh oleh dakwah ala NU.

Dalam seminar itu hadir juga Gus Nasrullah Afandi, doktor maqosidus syariah alumnus Universitas Maroko sekaligus Wakil Katib PWNU Jawa Tengah sebagai pembanding sangat mendukung dengan karya-karya Gus Nadir yang mencerahkan dan menyejukkan kekacauan masyarakat saat ini. 

Dia juga sepakat untuk mendorong seluruh warga NU agar bersama-sama melawan provokator-provokator yang mengatasnamakan agama sebagai dalih untuk memecah belah.

"Paham-paham radikalisme dan ekstremisme telah nyata-nyata menggerogoti kesatuan bangsa kita. Oleh sebab itu, saya serukan kepada warga NU untuk melawan mereka. NU harus menjadi pihak pertama yang menyelamatkan bangsa," tegasnya. (Faqih/Muiz)
Ahad 17 Maret 2019 20:30 WIB
Apel Kebangsaan, IPPNU Jawa Tengah Terima Simbol Kebangsaan
Apel Kebangsaan, IPPNU Jawa Tengah Terima Simbol Kebangsaan
Ketua PW IPPNU Jateng terima bendera di apel kebangsaan
Semarang, NU Online
Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Provinsi Jawa Tengah menerima Simbol Kebangsaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Simbol berupa bendera merah putih dan lambang Garuda Pancasila itu diterima oleh ketua PW IPPNU Jawa Tengah Sri Nur Ainingsih pada Apel Kebangsaan "Kita Merah Putih" di lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Ahad (17/3).

Menurut Ain, sapaan akrabnya, sebagai salah satu OKP yang dipilih menerima simbol tersebut, IPPNU merasa bersyukur dan terhormat. Meski begitu, ia berharap simbol ini tidak berhenti sebagai proses seremonial, tapi benar-benar bisa dimaknai bahwa generasi muda NU mempunyai tugas mulia dan penting sebagai garda terdepan yang ikut serta dalam merawat keberagaman.

"Kita selalu menghimbau kepada seluruh kader NU untuk mengingat dan menjalankan dawuh kiai bahwa hubul wathan minnal iman. Dan sebagai bentuk cinta kita adalah ikut serta menjaga, merawat dan berkomitmen memajukan NKRI agar menjadi bangsa yang besar," ungkap Ain kepada NU Online. 

Diakuinya, bahwa selama ini IPPNU senantiasa menebarkan dan menanamkan nilai-nilai keberagaman dalam keberagamaan dan berkebangsaan di setiap forum di semua jenjang pendidikan kader. "Untuk itu, Pelajar NU siap berkontribusi menyosialisasikan nilai-nilai kebangsaan di tingkatan pelajar bersama-sama dengan pemerintah," tutur mahasiswi S-2 asal Blora ini.

Selain dihadiri oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Tengah, tokoh lintas agama, Apel Kebangsan ini juga dihadiri oleh para ulama NU dan tokoh nasional. Di antaranya adalah KH Maimoen Zubair, Habib Luthfi bin Yahya, Gus Muwafiq, dan Mahfud MD. Selain itu, grup musik papan atas dan musisi tanah air juga turut menyemarakkan acara yang dihadiri ribuan peserta ini. (Ahmad Naufa/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG