IMG-LOGO
Opini

Tokoh Islam dan Hiruk Pikuk Pilpres 2019

Ahad 17 Maret 2019 6:0 WIB
Bagikan:
Tokoh Islam dan Hiruk Pikuk Pilpres 2019
Ilustrasi (Ist.)

Oleh Solahudin Wahid

Dalam sejarah bangsa Indonesia, umat Islam dan tokohnya banyak melakukan tindakan yang berhasil menjaga persatuan Indonesia.

Pertama saat para tokoh Islam menyetujui penghapusan tujuh kata Piagam Jakarta (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) ketika diberitahu oleh Bung Hatta bahwa kaum Kristen di Indonesia Timur tidak akan bergabung dengan RI kalau sila pertama Pancasila tidak diubah.

Kedua adalah Resolusi Jihad pada Oktober 1945 yang mampu mendorong pemuda muslim di Jawa Timur untuk berjuang membantu tentara Indonesia menghadapi tentara sekutu.

Ketiga, pada November 1945 sejumlah kiai mengusulkan berdirinya Kementerian Agama yang kemudian menjadi lembaga pemerintah yang memperkuat persatuan Indonesia.

Keempat, pada 1951 Menteri Agama dan Menteri Dikbud membuat nota kesepahaman untuk mendirikan madrasah sebagai nomenklatur baru dunia pendidikan Indonesia.

Kelima, ketika Kartosuwiryo mendirikan DI/TII, tokoh-tokoh Islam memihak kepada RI. Seorang kiai diutus oleh PM Natsir untuk membujuk Kartosuwiryo supaya bersedia kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Upaya itu gagal karena TNI tidak tahu bahwa ada upaya perdamaian, sehingga mereka menembak anggota TII.

Keenam, ketika PKI memberontak pada 1948 dan 1965, umat Islam berdiri sepenuhnya di belakang pemerintah. Ketujuh, tokoh-tokoh Islam berhasil meyakinkan Soeharto supaya Undang-Undang (UU) Perkawinan menerima ketentuan syariat Islam didalamnya. UU ini lalu diikuti oleh banyak UU yang menampung aspirasi umat Islam didalamnya. Ini memperkuat persatuan Indonesia. Kedelapan ialah keputusan Muktamar NU untuk menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi ormas dan parpol di Indonesia.

Pada saat terjadi huru-hara pada Mei 1998 di Jakarta, banyak warga Tionghoa yang dilindungi umat Islam. Dalam menangani konflik di Ambon, tokoh-tokoh Islam dan tokoh-tokoh Kristen di Jakarta bekerja sama untuk membantu mengakhiri konflik. Ketika terjadi peristiwa teror bom Bali, banyak tokoh Islam di sana membantu menyelamatkan korban.

Sejumlah contoh ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mempunyai modal sosial yang besar, berupa sikap toleran, gotong-royong, penghormatan terhadap kebhinekaan, saling percaya, mudah bekerja sama, saling menghormati dan lain-lain.

Menjelang Pilgub DKI Jakarta 2017 terjadi polarisasi dalam dua kubu. Yang menarik ialah dalam kedua kubu terdapat tokoh-tokoh Islam yang saling berhadapan. Kedua kubu saling menyerang, saling mengejek, saling memaki. Buya Syafii Ma'arif menulis bahwa ada sejumlah makian yang dilontarkan padanya karena dia membela Ahok secara terbuka.

Daftar makian itu adalah: orang tua gila, pembela penista, si tua, sudah bau tanah, kecebong, koplak, antek, tai kucing, semakin tua semakin sesat, si pikun utek liberal, kerak neraka, tobat orang tua, makin tua makin kehilangan akal, agen PKI kedok ulama, ulama su’, berbicaranya lantang tapi telinganya tuli dan pandangannya buta, intelek kok guoblok.

Menjelang pilpres, suasana gaduh dan bising itu kian menjadi. Hoaks menjadi makanan kita sehari-hari. Masyarakat dengan mudah tanpa berpikir, mengirim pesan yang mereka terima melalui Twitter, Whatsapp (WA) atau Facebook. Mereka tidak berpikir untuk memeriksa terlebih dulu benar tidaknya pesan itu.

Masyarakat tidak berpikir apakah pesan mereka menyinggung perasaan orang lain.
Hoaks paling banyak beredar melalui media sosial: Twitter, WA, dan Facebook. Tetapi banyak juga berita yang belum tentu benar disampaikan oleh tokoh masyarakat dalam ceramah atau pengajian yang oleh para hadirin dianggap benar.

Ceramah tadi disebarkan melalui media sosial. Misal ceramah oleh orang yang disebut sebagai Ahmad Dani yang mengatakan bahwa kini ada Nasakom baru yaitu kerja sama antara Nahdlatul Ulama (NU) dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang banyak anggotanya adalah keturunan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Berita ini spekulatif, tidak benar. Keturunan PKI kan bukan anggota PKI. Ini sama tidak benarnya dengan ceramah bahwa kalau Prabowo yang menang maka Republik Indonesia (RI) akan menjadi khilafah. Prabowo adalah Letjen Purnawirawan yang 25 tahun aktif sebagai anggota TNI. Tentu dia setia pada Pancasila. Benar bahwa mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mendukung Prabowo. Tapi itu tidak berarti bahwa Prabowo pendukung gagasan khilafah.

Modal sosial kita ternyata kurang berdaya menghadapi hiruk pikuk dan sumpah serapah melalui medsos. Umat Islam terbelah, warga dan tokoh NU dan Muhammadiyah juga terbelah, tetapi hiruk pikuk di dalam kalangan NU seperti biasanya tentu lebih ramai dan terbuka dibanding konflik didalam Muhammadiyah.

Persatuan Indonesia hanya bisa terwujud apabila umat Islam bersatu. Karena itu persatuan umat Islam dan persatuan tokoh Islam harus segera diwujudkan secara bertahap.

Terakhir saya akan bacakan Seruan Pilpres Damai dari para seniman yang tergabung dalam Jaringan Seniman Nusantara.

Penerimaan pada keberagaman harus didasari pada pengakuan bahwa yang berbeda itu memiliki nilai yang sederajat dengan kebenaran “kita”. Dengan itu, maka yang berbeda bukanlah musuh yang harus dibasmi atau dikalahkan.

Semua pihak diharap mulai menghentikan tindakan fitnah, caci maki, saling tuduh, dan semacamnya yang menyebabkan perpecahan dan dendam tak berkesudahan diantara semua anak bangsa.

Pihak-pihak yang sedang dalam posisi sebagai pengayom, pencerah dan teladan, ikut serta bertindak konkrit untuk meredam situasi perpecahan yang semakin mencemaskan ini, dan bukan malah ikut membakar semangat permusuhan.

Pihak-pihak yang saling berkompetisi, termasuk seluruh jaringan pendukungnya, ikut bertanggung jawab atas situasi yang memprihatinkan ini dan harus memikirkan dampak lanjutan yang berakibat buruk bagi bangsa ini. Jangan hanya karena demi kemenangan maka menghalalkan segala cara.

Kepada semua warga negara Indonesia di manapun berada yang memiliki hak pilih, sebaiknya memanfaatkan hak pilih tersebut sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab terhadap bangsa dan negara, di mana kepala negara memiliki peran penting dalam kehidupan kita ke depan dalam berbagai sektor.

Kita berdoa semoga pasca Pilpres kondisi pertentangan antar kelompok itu dapat secara bertahap diredam. Kita berharap modal sosial bangsa Indonesia dapat menyembuhkan luka sosial yang cukup parah itu. Diperlukan adanya sekelompok orang yang tidak ikut kedua kubu, yang muncul untuk mendekatkan kembali kedua kelompok yang saat ini bertentangan.
 
Disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini pada pertemuan dengan Kementerian Pertahanan RI pada Jumat (15/3/2019) di Gedung Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng Jombang.

Bagikan:
Sabtu 16 Maret 2019 10:15 WIB
Benarkah Aksi Terorisme untuk Mengaburkan Pemilu 2019?
Benarkah Aksi Terorisme untuk Mengaburkan Pemilu 2019?
Ilustrasi Pilpres (kronologi.id)
Oleh Ngasiman Djoyonegoro

Menjelang pelaksanaan Pemilu serentak 2019, terjadi aksi terorisme di wilayah Sumatera Utara, tepatnya di Sibolga pada 12 Maret kemarin. Tim Densus 88 Antiteror menangkap terduga teroris, Husain alias Abu Hamzah yang berafiliasi dengan kelompok teror kurang lebih selama enam tahun. Penangkapan terduga teroris tersebut merupakan pengembangan dari tertangkapnya seorang terduga teroris di Lampung. 

Selain Abu Hamzah, Tim Densus 88 Antiteror juga menangkap beberapa anggota teroris yang berhubungan dengan Abu Hamzah. Pertama, pelaku berinisial P yang ditangkap di Lampung pada 9 Maret 2019. Setelah ditangkap, P mengaku bom yang ditemukan di TKP merupakan bom rakitan hasil ajaran dari Abu Hamzah. Tersangka kedua adalah AK alias Ameng yang ditangkap pada 12 Maret 2019 di Sibolga. AK alias Ameng, merupakan salah satu penyandang dana jaringan Abu Hamzah.  
Ketiga, ZP alias Ogek yang mempunyai andil dalam merencanakan ‘amaliyah’ dan membantu Abu Hamzah merakit bom. Tersangka keempat ialah Roslina alias Syuhama yang ditangkap pada 13 Maret 2019 di Tanjungbalai. Roslina merupakan perempuan yang diketahui mantan istri seorang teroris yaitu A yang pernah ditangkap dan ditembak mati oleh Densus 88 saat melakukan aksi pada tahun 2018. Diketahui, Abu Hamzah berencana menjadikan Roslina istri keduanya. 

Tersangka kelima adalah M yang ditangkap di Tapanuli Tengah pada 13 Maret 2019. M merupakan salah satu penyandang dana untuk kelompok Sibolga, namun jumlah dana yang diberikan belum diketahui. Yang terakhir adalah Y, seorang perempuan yang ditangkap pada 15 Maret 2019 di Klaten, Jawa Tengah. Y disebut merencanakan ‘amaliyah’ bersama AH, P dan SH. Diketahui Y juga menyuruh SH untuk mengunggah sebuah video ancaman kepada aparat kepolisian. SH pun kini masih dalam pengejaran.

Tak berhenti pada kasus terorisme di Indonesia, di Selandia Baru terjadi juga aksi terorisme yang amat keji. Penembakan membabi buta terjadi tepatnya di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru. Komisioner Kepolisian Selandia Baru, Mike Bush menyebut korban tewas dalam serangan teroris tersebut mencapai 49 orang (Jumat, 15/3).  Selain terjadi penembakan, sejumlah bahan peledak juga ditemukan yang menurut Polisi Selandia Baru, jenis improved explosive devices (IED) yang dipasang ke kendaraan-kendaraan sebagai bagian dari serangan itu.

Menanggapi peristiwa teror di Selandia Baru, Pemerintah Indonesia telah memerintahkan KBRI Wellington mencari kabar tiga warga negara Indonesia (WNI) yang hingga saat ini belum bisa dikontak. Tiga WNI tersebut berada di dalam masjid saat penembakan terjadi. Pemerintah Indonesia juga memerintahkan KBRI Wellington dalam memberikan perlindungan hukum, keamanan dan keselamatan terhadap WNI disana. 

Menanggapi ancaman terorisme yang sedang tumbuh, implementasi Undang-undang (UU) Nomor 5 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme perlu terealisasikan. Dalam hal ini, operasi intelijen dari berbagai instansi seperti Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab) TNI, Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), dan Intelijen Kepolisian diharapkan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap pergerakan aksi terorisme, terlebih menjelang pelaksanaan Pemilu serentak 2019. 

Sementara itu, masyarakat perlu menyadari bahwa kasus terorisme tidak ada kaitannya dengan isu Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Supaya dapat diselenggarakannya Pilpres 2019 yang aman. Pemerintah telah memetakan potensi kerawanan pemilu sejak lama. Berbagai langkah pun dilakukan pemerintah untuk menetralisir berbagai ancaman yang ada. Hal tersebut seiring dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. 

Menindaklanjuti ancaman terorisme yang saat ini sedang massif, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Marsekal Hadi Tjahjanto memerintahkan satuan-satuan tempur TNI untuk mengembangkan kemampuan perang kota untuk mengantisipasi ancaman terorisme menjelang pelaksanaan Pemilu serentak 2019. Strategi perang kota diperlukan mengingat ancaman terorisme saat ini telah memasuki skala menengah. Pernyataan Panglima TNI tersebut telah disampaikan langsung ke berbagai kesatuan TNI, seperti Korps Pasukan Khusus (Kopassus), Korps Marinir, hingga Komando Cadangan Strategis (Kostrad). Taktik perang kota berbeda dengan pertempuran di hutan sehingga memerlukan persiapan dan perlengkapan khusus.

Motivasi pelaku terorisme di seluruh wilayah adalah sama. Yaitu mendirikan negara Islam dan menentang keberadaan demokrasi. Untuk itu, pesta demokrasi yang akan diselenggarakan pada 17 April 2019 nanti, dapat dijadikan sebagai pesta “jihad” bagi para anggota kelompok teror. Untuk itu, antisipasi aparat keamanan harus terus ditingkatkan mengingat tingkat antisipasi mereka (kelompok terror) terhadap aparat semakin tinggi. Sinergi antar instansi pemerintah harus solid untuk bersama-sama memberantas terorisme.


Penulis adalah Pengamat Intelijen, Penulis Buku 'Intelijen di Era Digital: Prospek dan Tantangan Membangun Ketahanan Nasional'
Senin 11 Maret 2019 14:15 WIB
Komunitas Royatul Islam: Transformasi HTI?
Komunitas Royatul Islam: Transformasi HTI?
Komunitas Royatul Islam (istimewa)
Oleh M. Ishom el-Saha

Baru ketemu, orang berkata ya Karim..!! lalu dibalas beramai-ramai dengan Takbir..!! Mungkin jaman sudah berubah: orang berdoa bukannya dijawab amiin! tapi Takbir. Padahal kebiasaan umumnya, misalnya, kalau ada orang tua sudah melontarkan kata ya Karim! maka anak yang mendengar meresponnya dengan sikap; minimal diam!

Anak itu paham bahwa orang tua yang bertanggung jawab mengurus anak sedang tak tahan menyikapi kemauan buah hatinya. Rasanya semua kemauan sudah dituruti tapi masih juga banyak permintaannya. Sambil mengelus dada, orang tua berkata: Ya Karim...!! Dalam artian semoga Allah melimpahkan banyak anugerah kepadanya agar dapat menyenangkan hati putra-putrinya.

Respon anak yang mendengar keluhan orang tua berbungkus doa itu biasanya diekspresikan dengan sikap diam. Walaupun mungkin hatinya masih berat karena semua permintaannya belum dituruti. Sikap anak itu sudah benar karena anak yang saleh tak akan menyela perkataan orang tua.

Pertanyaannya, apa anak yang mendengar kalimat ya Karim lalu membalas dengan teriakan takbir bukan anak shaleh? Rupanya anak itu sudah terpapar propaganda eks ormas Islam terlarang (Hizbut Tahrir Indonesia, red). Kebetulan sekarang ini namanya sama dengan salah satu Asmaul Husna (nama-nama Allah yang Terpuji), KARIM. Kepanjangan Karim ialah Komunitas Royatul Islam. Propaganda ini dibawa dan didoktrinasikan melalui para pembimbing Rohis.

Tak sedikit sekolah-sekolah yang telah menyelenggarakan program full day school mengangkat pembimbing-pembimbing Rohis yang paham keagamaannya masih dipertanyakan. Pastinya mereka bukan guru agama. Justru dengan alasan kebanyakan guru agama sudah uzur usia: metode mengajarnya kurang menarik, energinya sudah berkurang, maka diangkatlah pembimbing rohis yang bukan berlatar belakang pendidikan agama.

Kebetulan lagi pembina rohis itu sewaktu kuliah di kampus-kampus umum bergabung dengan Ormas Islam terlarang itu. Ekspektasi mereka menjadi seorang ahli saat lulus kuliah sangat tinggi. Tapi dunia kerja sekarang ini nyatanya bukan hanya butuh gelar, tetapi pengalaman dan keterampilan. Akhirnya mereka pun dibayangi kebimbangan-kebimbangan. "Wiiih, kiamat!" 

Kata "kiamat" bersumber dari ajaran teologis: pasti terjadi tapi tak ada yang tahu pasti. Sebagai umat beragama wajib meyakini, tapi bukan ditakut-takuti. Khusus Ormas Islam terlarang itu, kiamat bukan sekedar menjadi keyakinan tetapi dibuat bayang-bayang yang menghantui. "Kiamat sudah dekat, dengan tanda-tandanya yang sudah nyata. Agar selamat harus berbaiat kepada khilafah dan panji-panji nya"; demikian doktrin mereka untuk menakut-nakuti ummat. Doktrin semacam ini sangat mudah bersinggungan dan dianggap menarik bagi mereka yang memiliki ekspektasi kerja tapi tipis harapan.

Dasar pendidikan agama yang lemah tetapi doktrinasi bertubi-tubi diberikan para mentor dan murabbi menyebabkan para saintis ini terpapar paham messianis/kiamat sudah dekat. Beban psikologis --menjadi saintis yang gagal-- bercampur aduk dengan tekanan psikologis --menjadi muslim yang hijrah, menyebabkan kesadaran rasional dan intuitif mereka terhijab. 

Pikir mereka tak ada lagi harapan membangun peradaban dunia karena kiamat sudah dekat. Mereka hanya berpikir  menjadi "golongan yang selamat". Tapi anehnya banyak dari mereka yang melupakan tanggung jawabnya sebagai anak shaleh: semisal orang tua disalah-salahkan karena tak sepaham dengan  mereka. Mereka juga lalai akan tugasnya menjadi muslim yang beramal saleh untuk menanam kebaikan peradaban dunia sebagai lahan ladang akhirat.

Ya Karim....!! Renungkan pesan sahabat Utsman bin Affan: laazra' zar'an wa law al-sa'at kanat qariban (aku masih akan menanam tanaman walau qiamat esok datang). Bukan menanam tiang untuk memasang panji-panji rayan. Semoga generasi muda Islam pada sadar!


Penulis adalah Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Kamis 7 Maret 2019 9:33 WIB
Islam Nusantara, Manifestasi Islam Rahmatan lil Alamin
Islam Nusantara, Manifestasi Islam Rahmatan lil Alamin
Ilustrasi (ist)
Oleh Adi Candra Wirinata

Mungkin seluruh umat Islam menginginkan adanya perubahan sosial-politik dengan syari’at Islam, tapi harus disadari bahwa lahirnnya Islam bertujuan menghapus ketidak-manusiawian, bukan menyingkirkan kebudayaan. Sebagaimana perkembangan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa, tidak begitu saja menggantikan kebudayaan yang telah ada. Seperti yang telah tercatat dalam sejarah, bahwa Nusantara kaya akan budaya.

Oleh karena itu, tidak bisa dipertentangkan antara budaya dan agama, selama tidak bertentangan dengan akidah Islam. Dakwah Islam di Nusantara pertama kali lebih mementingkan keamanan dan kenyamanan rakyat daripada langsung menyebarkan agama. Dalam sejarah dakwah di Nusantara yang harus didahulukan adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia daripada langsung mengajarkan Islam (Sofwan, 2004: 32).

Sebenarnya sejak abad ke-7 M, masyarakat Nusantara telah dipengaruhi oleh ajaran agama Hindu dari India. Namun bagi masyarakat yang telah memiliki hubungan sangat erat dengan budaya mereka, perubahan keyakinan Animisme ke Hindu tidak terlalu banyak membawa perubahan yang berarti. Kepercayaan Animisme tetap kekal meskipun secara formal mereka telah beragama lain. Nusantara sejak abad ke-13 M diwarnai oleh konsep Hindu atau sebelumnya telah dipenuhi konsep dewa-raja.

Konsep dewa-raja meyakinkan masyarakat bahwa raja adalah orang istimewa dan memiliki unsur keistmewaan serta kemuliaan tertentu yang terpilih. Manusia terpilih harus diterima sebagai raja dan berhak serta layak menduduki tempat tertinggi dalam masyarakat. Kelayakan menduduki tempat tertinggi ini dilegitimisasi oleh kepercayaan bahwa raja adalah penjelmaan dari dewa yang dalam agama Hindu setaraf dengan Tuhan (Resi, 2011: 227).

Kehadiran agama Islam dalam kehidupan masyarakat Nusantara sama sekali tidak menghapus yang berkaitan dengan konsep dewa-raja. Bahkan dalam beberapa segi, Islam terlihat menguatkan lagi pengesahan kedudukan raja itu dengan sedikit perubahan. Raja-raja tidak lagi berasal dari para dewa tetapi merupakan khalifah atau wakil Allah di dunia. Mereka memiliki gelar sebagai bayangan Allah dan berperan memberi perlindungan kepada masyarakat.

Raja tetap merupakan orang terpilih karena memiliki sifat-sifat yang lebih daripada manusia biasa. Di samping itu ia memiliki kuasa-kuasa yang khusus dianugerahkan Allah kepadanya. Keyakinan yang muncul melalui agama Hindu tentang kedudukan raja di masyarakat, diperkukuh lagi dengan diperkenalkannya istilah Sulthan.

Para pendahulu, penyebar Islam di Nusantara, telah merumuskan strategi dakwah atau setrategi kebudayaan secara lebih sitematis, terutama bagaimana menghadapi kebudayaan Jawa dan Nusantara pada umumnya yang telah sangat tua, kuat, dan amat mapan. Sejarah membuktikan bahwa mereka memiliki metode yang sangat bijak. Mereka memperkenalkan Islam tidak serta merta, tidak ada cara instan, tetapi merumuskan strategi jangka panjang. Strategi dakwah yang dirumuskan oleh para pendahulu itu saat ini di terapkan dalam dunia pesantren.
 
Selanjutnya, Prof Dr KH Said Aqil Siroj menjelaskan, di pesantren, diterapkan fiqhul ahkam untuk mengenal dan menerapkan norma-norma keislaman secara ketat dan mendalam, agar mereka menjadi muslim yang taat dan konsekuen. Namun, setelah terjun langsung ke dalam masyarakat, diterapkan fiqhul dakwah, ajaran agama diajarkan secara lentur, sesuai dengan kondisi masyarakat dan tingkat pendidikan mereka. Dan yang tertinggi adalah fiqhul hikmah, dimana ajaran Islam bisa diterima oleh semua kalangan, tidak hanya kalangan awam, tetapi juga kalangan bangsawan, termasuk diterima oleh kalangan rohaniwan Hindu dan Buddha serta kepercayaan lainnya.

Dari sedikit ulasan sejarah Islam Nusantara, terlihat jelas bahwa para pendahulu penyebar agama Islam di Nusantara tidak memandang agama secara formal, melainkan mengedepankan nilai-nilai agama. Dengan sikap yang demikian, sejarah Islam Nusantara telah berhasil menginterpretasikan istilah Islam rahmatan lil alamin dengan sempurna. Islam yang berguna tidak hanya kepada penganutnya, melainkan bagi seluruh ciptaan. Menyebarkan agama bukan berarti menjajah tradisi yang telah ada sebelumnya, melainkan mengingatkan bahwa ada agama yang benar.
 
Islam yang diciptakan sebagai bekal kehidupan manusia inilah yang dimaksud dengan Islam rahmatan lil alamin atau agama yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Karena konsep kemanusiaan yang tidak memandang secara parsial harkat dan martabat umat manusia, baik secara individu maupun kelompok.

Islam yang dipandang sekadar sebagai agama secara formal akan sangat sulit untuk berkembang, lantaran niscaya akan menghapus begitu saja kebudayaan yang ada, sedangkan manusia tidak akan gampang terlepas dari budaya yang telah mengakar dalam dirinya.

Adapun agama yang diisi dengan semangat spiritualitas niscaya tidak memandang agama secara formal, melainkan lebih mengedepankan nilai-nilai agama. Eksistensi budaya yang telah ada tidak harus dimusnahkan selama tidak bertentangan dengan kemanusiaan, tapi –mengenai masalah akidah- kandungan di dalamnya dapat diganti dengan nilai-nilai keagamaan.

Yang terpenting dalam kehidupan beragama bukan terletak pada persamaan agamanya, melainkan pada ajaran-ajaran agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan sangat membenci segala bentuk penindasan, dengan spirit keilahian.


Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Direktur Komunitas Maoes Boemi (KMB)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG