IMG-LOGO
Internasional

Korban Meninggal Penembakan di Masjid Selandia Baru Bertambah Jadi 50 Orang

Ahad 17 Maret 2019 13:30 WIB
Bagikan:
Korban Meninggal Penembakan di Masjid Selandia Baru Bertambah Jadi 50 Orang
Foto: TVNZ/REUTERS
Wellington, NU Online
Jumlah korban meninggal dalam insiden penembakan massal di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru, pada Jumat (15/3) siang, bertambah menjadi 50 orang, dari sebelumnya 49 orang. Kepastian tambahan satu korban meninggal tersebut setelah pihak kepolisian mengevakuasi jenazah di kawasan selatan kota Christchurch. 

“Kami telah dapat memindahkan seluruh korban dari kedua lokasi kejadian dan dari situ kami dapat menemukan korban lain," kata Komisioner Kepolisian Selandia Baru Mike Bush, Ahad (17/3), seperti dilansir laman The Independent. 

Bush menambahkan, jumlah korban luka akibat insiden berdarah itu juga mencapai 50 orang dengan 36 diantaranya masih dirawat di rumah sakit Christchurch dan 11 lainnya dalam kondisi kritis.

“Saya juga ingin menyampaikan jumlah korban luka juga mencapai 50 orang," ucapnya.

Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa korban luka termuda adalah seorang anak berusia dua tahun. Selain itu, korban luka anak-anak diantaranya adalah dua orang anak berusia tiga dan empat tahun, serta seorang remaja berusia 14 tahun.

Pada saat shalat Jumat, Jumat (15/3) kemarin, seorang ekstremis sayap kanan Brenton Tarrant (28) melakukan aksi penembakan massal di Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood di wilayah Christchurch, Selandia Baru. Sekitar setengah jam setelah melakukan aksi brutalnya itu, Tarrant langsung berhasil ditahan otoritas polisi setempat. Pada Sabtu (16/3) kemarin, Tarrant sudah diadili di pengadilan. Dia dijerat dakwaan pembunuhan. Pada 5 April mendatang dia akan menjalani sidang yang kedua. 

Selain Tarrant, polisi setempat juga menahan dua terduga pelaku lainnya. Keduanya ditangkap saat serangan berlangsung karena membawa senjata api di dalam mobilnya. Salah satu dari keduanya akan muncul di persidangan pada Senin (18/3) besok. Dia diduga terlibat dalam serangan berdarah itu. Meski demikian, dia membantah terlibat dalam aksi itu.

“Sampai sejauh ini, hanya ada satu orang (Tarrant) yang didakwa terkait serangan itu," kata Bush, dikutip AFP. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Sabtu 16 Maret 2019 14:30 WIB
Siapa Saja Pelaku Penembakan di Masjid Selandia Baru?
Siapa Saja Pelaku Penembakan di Masjid Selandia Baru?
Brenton Tarrant menghadiri persidangan. (Foto: Reuters)
Wellington, NU Online
Otoritas kepolisian Selandia Baru berhasil menahan empat orang –tiga laki-laki dan satu orang perempuan- terkait penembakan massal di Masjid Al Noor di Deans Ave dan di sebuah masjid di Linwood Ave, Christchurch, Selandia Baru, pada Jumat (15/3) waktu setempat. Satu diantaranya sudah dilepaskan karena dia adalah seorang warga biasa yang hendak membawa anaknya pulang setelah aksi brutal itu, namun dia membawa senjata api.

Dari tiga terduga pelaku yang diamankan polisi, baru satu orang yang sudah diketahui khalayak publik. Dia lah Brenton Tarrant. Seorang warga Australia berusia 28 tahun. Dia disebut Perdana Menteri Australia Scott Morrison sebagai seorang teroris bengis, sayap kanan, ekstrem. 

Seperti dibertitakan The New Zealand Herald, Jumat (15/3), Tarrant menayangkan aksi penembakan brutalnya itu di layanan live streaming Facebook. Tarrant melaksanakan aksi keji yang menewaskan 49 orang itu dalam kurun waktu 36 menit. 

Tarrant melancarkan aksi bengisnya itu tidak asal-asalnya. Bahkan, dia sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Diberitakan Independent.ie, Tarrant sudah memiliki rencana untuk melakukan penembakan massal sejak dua tahun terakhir. 

Hal itu terungkap dari sebuah manifesto yang dibuatnya sendiri, ‘The Great Replacement’. Dalam manifestonya setebal 74 halaman itu, Tarrant menyatakan kalau dirinya menetapkan kota Cristcruch Selandia Baru sebagai lokasi penembakan massal dalam tiga bulan terakhir. 

Dalam manifesto itu juga, Tarrant menyatakan dukungannya terhadap supremasi kulit putih dan menentang ideologi kaum imigran atau anti-imigran. Dia menyebut mereka sebagai ‘sekelompok penjajah’. Oleh karenanya, dia mengatakan kalau dirinya ingin membebaskan tanah milik kaumnya dari ‘para penjajah’.

Punya senjata api legal

Untuk melancarkan aksinya itu, Tarrant membeli beberapa senjata dari sebuah gudang secara legal. Bahkan, dia memiliki linsensi senjata kategori A pada November 2017 lalu. Ia kemudian membeli lima senjata tambahan, termasuk dua senapan semi-otomatis dan dua shotgun, yang digunakannya untuk dalam serangan berdarah di dua masjid di kota Christchurch, Jumat (15/3). 

Ironisnya, Tarrant menuliskan nama-nama para pelaku pembunuhan massal pada masa lalu di senjatanya dengan menggunakan ‘tinta’ warna putih. Selain itu, Tarrant juga menuliskan nama, lokasi, dan pesan rasis di senjatanya. 

Seperti diberitakan Metro.co.uk, Sabtu (16/3/), nama-nama pembunuh massal di masa lalu yang ditulis Tarrant di senjatanya diantaranya adalah Wina 1683 (Pertempuran Wina antara orang Kristen dan Turki), Feliks Kazimierz Potocki (seorang pemimpin militer Polandia yang secara teratur berperang melawan Tatar dan Turki), Josué Estébanez (seorang korban pembunuhan Spanyol), dan Acre 1189 (Pengepungan Acre ketika Raja Guy dari Yerusalem bentrok dengan Saladin, pemimpin Muslim di Suriah dan Mesir).

Selain itu, ada Iosif Gurko (marhsal lapangan Rusia selama Perang Rusia-Turki), Sigismund dari Luksemburg (Emporer Romawi, Raja Hongaria, Kroasia, Jerman, Bohemia, dan Italia pada pergantian abad ke-15), Sebastiano Venier (pemimpin dalam Pertempuran Lepanto melawan Turki pada 1571), Marcantonio Colonna (Laksamana armada Kepausan di Pertempuran Lepanto), Khotyn 1621 (pertempuran di mana Polandia menahan Turki), dan Vac 1684 (pertempuran antara Kekaisaran Ottoman dan Kekaisaran Romawi Suci).

Oleh karena itu, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern bersumpah akan mengetatkan Undang-Undang tentang senjata di negaranya tersebut agar kejadian seperti yang dilakukan Tarrant tidak terulang kembali.

“Faktanya, orang ini sudah mendapat lisensi senjata dan memiliki senjata-senjata itu. Maka saya pikir orang akan mencari perubahan, saya berkomitmen untuk itu," kata Ardern, dikutip AFP, Sabtu (16/3). 

Disidang

Pada hari ini, Sabtu (16/3), Tarrant menjalani sidang di pengadilan. Dia didakwa dengan tuduhan pembunuhan setelah melakukan penembakan massal di dua masjid di kota Christchurch kemarin. Pasukan polisi bersenjata lengkap berjaga-jaga di luar gedung pengadilan. 

Dia tampil di ruang sidang dengan mengenakan seragam putih penjara dan tangan diborgol. Dia duduk tanpa menunjukkan ekspresi saat hakim membacakan tuduhan. Dikutip BBC, Tarrant akan langsung dijebloskan penjara tanpa dapat mengajukan banding. Dia akan menjalani sidang lagi pada 5 April mendatang.

Pelaku lain

Pihak kepolisian Selandia Baru juga mengamankan empat orang –tiga orang laki-laki dan seorang perempuan, termasuk Tarrant- terkait dengan penembakan di dua masjid di Christchurch. Satu diantaranya sudah dilepas. Menurut CNN, dia yang dilepas itu adalah seorang warga biasa yang hendak membawa anaknya pulang setelah aksi brutal itu, namun dia membawa senjata api.

Yang masih menjadi ‘misteri’ adalah siapakah dua orang yang ditahan itu? Komisioner Kepolisian Selandia Baru Mike Bush mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap siapa-siapa saja yang terlibat dalam aksi berdarah itu, termasuk kepada dua orang yang ditahan itu. 

Bush mengatakan kalau dua orang yang ditahan itu bisa dijerat pidana terkait dengan penembakan massal di dua masjid di Christchurch. Meski demikian, identitas dua keduanya belum diungkap ke publik hingga saat ini. (Red: Muchlishon)
Jumat 15 Maret 2019 21:15 WIB
Pelaku Penembakan di Masjid Selandia Baru, Salah Satunya Seorang Teroris Sayap Kanan
Pelaku Penembakan di Masjid Selandia Baru, Salah Satunya Seorang Teroris Sayap Kanan
Foto: Kai Schwoerer/Getty Images
Wellington, NU Online
Otoritas kepolisian Selandia Baru mengonfirmasi, ada empat orang yang terlibat dalam aksi penembakan brutal di dua masjid di Selandia Baru pada Jumat (15/3) siang. Empat orang tersebut terdiri dari tiga laki-laki dan satu perempuan. Mereka ditahan pihak keamanan setempat setelah aksi serangan berdarah itu. Namun salah satu dari mereka kemudian dilepaskan.

Salah seorang terduga pelaku dilaporkan adalah seorang warga negara Australia, Brenton Tarrant. Tarrant adalah seorang pria kulit putih berusia 28 tahun. Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyebut kalau ada warga negaranya yang ditangkap di Selandia Baru. Menurut Morrison, warganya itu adalah seorang teroris yang bengis, sayap kanan, ekstrem.

Sebelumnya, Tarrant mengunggah sebuah manifesto di sebuah media sosial yang intinya dia menentang ideologi kaum imigran. Dalam unggahannya itu, Tarrant juga menyampaikan dukungannya terhadap supremasi kulit putih. 

Seperti dibertitakan The New Zealand Herald, Jumat (15/3), Tarrent menayangkan aksi penembakan brutal itu di layanan live streaming Facebook. Dari tayangan live streaming, Tarrent semula mengarahkan mobilnya ke dekat Masjid Al Noor di Deans Ave, Christchurch. Kemudian dia memarkirkan mobilnya di dekat jalan masuk masjid. 

Setelah itu, Tarrent memegang satu pucuk senapan dan mulai berjalan ke dalam masjid. Korban pertama yang ditembak ada seorang yang berada di dekat pintu masuk masjid. Setelah itu, pelaku melepaskan tembakan secara membabi-buta ke arah jamaah laki-laki, perempuan, dan anak-anak di dalam Masjid Al-Noor. 

Kemudian Tarrent kembali ke mobilnya untuk mengambil lebih banyak amunisi. Ia lalu mengarahkan senjatanya ke arah jalanan tanpa target yang jelas. Naasnya, ia kembali ke dalam masjid untuk memeriksa korbannya yang masih hidup. Ia menembaki ke arah orang-orang yang ada di dalam masjid sebelum pergi meninggalkan lokasi.   

Kepala Kepolisian Selandia Baru Mike Bush mengatakan, pihaknya belum mengetahui apakah ada orang lain –selain empat orang tersebut- yang terlibat dalam aksi penembakan massal itu. “Kami belum mengetahui apakah ada orang lainnya (yang terlibat), namun kami tidak bisa berasumsi tidak ada lainnya yang berkeliaran. Jangan berasumsi bahwa bahaya telah lenyap,” kata Bush, dikutip dari laman BBC, Jumat (15/3).

Meski demikian, selain Brenton Tarrant belum ada informasi lebih detil tentang identitas pelaku lainnya dan juga pihak-pihak yang mungkin terkait dengan aksi penembakan massal tersebut. Dilaporkan bahwa seorang pria dijerat dakwaan pembunuhan dan akan disidangkan pada Sabtu (16/3) esok hari.

Aksi penembakan massal terjadi di Masjid Al Noor di Deans Ave dan di sebuah masjid lainnya di pinggiran Linwood ketika umat Islam setempat hendak melangsungkan shalat Jumat. Hingga saat ini, kejadian itu menyebabkan setidaknya 49 orang meninggal dan 20 lebih lainnya mengalami luka serius, termasuk dua warga negara Indonesia Zulfirmansyah dan anaknya. (Red: Muchlishon) 
Jumat 15 Maret 2019 15:30 WIB
Penembakan di Masjid Selandia Baru, 40 Orang Meninggal Dunia
Penembakan di Masjid Selandia Baru, 40 Orang Meninggal Dunia
Foto: TVNZ/REUTERS
Wellington, NU Online
Sejumlah orang melakukan aksi penembakan brutal ke dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru pada saat shalat Jumat berlangsung. Insiden tersebut tepatnya terjadi di Masjid Al Noor di Deans Ave dan di sebuah masjid lainnya di pinggiran Linwood. 

Sebagaimana diberitakan Reuters, Jumat (15/3), Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengonfirmasi kalau setidaknya 40 orang meninggal dan lebih dari 20 orang mengalami luka serius dalam aksi penembakan brutal tersebut. 
“Jelas bahwa ini sekarang hanya dapat digambarkan sebagai serangan teroris,” kata Ardern.

Ardern menyatakan, saat ini ada empat orang –tiga laki-laki dan satu perempuan- yang ditahan polisi setempat terkait dengan penembakan brutal di dua masjid di wilayah Christchurch tersebut. Akan tetapi, identitas orang-orang yang ditangkap itu belum diungkap ke publik secara detil. Perdana Menteri Australia mengorfimasi, salah satu pelaku adalah warga Australia yang diketahui sebagai ‘teroris keji ekstrem kanan’.

Menurut Ardern, insiden ini sebagai salah satu hari terkelam di Selandia Baru. Dia juga menganggap kalau tragedi ini sebagai kejadian yang luar biasa karena karena belum pernah terjadi sebelumnya di negeri Kiwi tersebut.

Bom rakitan

Para pelaku juga menggunakan bahan peledak dalam aksi terornya. Dilaporkan kalau mereka memasang bom rakitan di kendaraany sebagai bagian dari serangan yang dilancarkan. 

Komisari polisi Mike Bush membetulkan kabar itu. Menurutnya, pihaknya menemukan bom rakitan, improved explosive devices (IED), yang dipasang di mobil tersangka pelaku. Namun demikian, sejumlah bahan peledak tersebut sudah berhasil diamankan oleh pihak keamanan. 

“Ini menunjukkan seriusnya situasi," tutur Bush seperti dilansir media CNN, Jumat (15/3).

Sebelumnya, Bush menghimbau kepada umat Islam untuk sementara waktu tidak pergi ke semua masjid di Selandia Baru, mengingat situasi yang belum aman. Bahkan, ia meminta warga untuk menutup pintunya hingga mendapatkan kabar kalau situasi sudah normal kembali.

“Kepolisian merekomendasikan warga Christchurch menjauhi jalan-jalan dan tetap berada di dalam ruangan sampai pemberitahuan selanjutnya. Sekolah-sekolah di Christchurch akan ditutup sampai pemberitahuan selanjutnya," jelas Bush.  

Kesaksian korban selamat

Idris Khairuddin (14) melihat langsung penembakan brutal yang menyasar Masjid Al Noor. Dia mengaku mendengar suara tembakan ketika shalat Jumat hendak dimulai. “Awalnya saya pikir itu hanya pengerjaan konstruksi atau hal lain, kemudian orang-orang berlarian dan berteriak," terang warga negara Malaysia itu, diberitakan media lokal Selandia Baru,The New Zealand Herald, Jumat (15/3).

Pada saat penembakan terjadi, Idris duduk di dekat pintu masjid. Dirinya selamat setelah melarikan diri dari lokasi penembakan hingga melompati pagar pagar ke Hagley Park. “Tembakan senjata terdengar seperti dor, dor, dor... Saya mendengar lebih dari 50 kali," aku Idris.

Idris menyebut, pamannya yang bernama Tamizi terkena tembakan di punggungnya. Dia berharap, luka tembak pamannya tidak serius. “saya berdoa semoga tidak terlalu serius. Pekan ini merupakan pertama kalinya saya ke masjid. saya masih gemetar dan saya trauma,” ucapnya. (Red: Muchlishon)

Laporan ini akan diperbaharui
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG