::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Motivasi Sayyidah Khadijah Memilih Nabi Muhammad Menjadi Suaminya

Ahad, 17 Maret 2019 21:30 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Motivasi Sayyidah Khadijah Memilih Nabi Muhammad Menjadi Suaminya
Sayyidah Khadijah adalah seorang yang memiliki akhlak yang terpuji, wajah yang rupawan, dan harta yang bergelimang. Hal itulah yang membuat Sayyidah Khadijah begitu terhormat, terpandang, terkenal di kalangan masyarakat Arab. Meski sudah pernah menikah dua kali –suami pertama adalah Abu Halah at-Tamimi dan suami kedua adalah Atiq bin Aidz bin Makhzum. Keduanya wafat- dan melahirkan empat orang anak, namun banyak pria yang berminat untuk mempersuntingnya. 

Di sisi lain, pada saat itu Nabi Muhammad saw. adalah ‘mitra kerja’ Sayyidah Khadijah. Beliau menjajakan barang dagangan milik Sayyidah Khadijah ke beberapa negeri di luar Makkah. Keuntungannya dibagi dua. Meski tidak kaya-kaya amat, Muhammad muda adalah seorang dengan reputasi baik. Beliau begitu dihormati karena kejujurannya sehingga mendapatkan gelar al-Amin (terpercaya). Di samping itu, Nabi Muhammad memiliki wajah yang tampan sehingga banyak wanita yang kepincut dengannya.

Setelah menjalin hubungan kerja dengan Nabi Muhammad beberapa saat, Sayyidah Khadijah menjadi tertarik dengan mitranya itu. Ia bahkan meminta salah satu sahabatnya Nafisah binti Munyah untuk meminang Nabi Muhammad saw. untuk dirinya. Nafisah lantas menemui Nabi Muhammad saw. dan menceritakan semuanya tentang perasaan Khadijah.

“Muhammad, aku Nafisah binti Munyah. Aku datang membawa berita tentang seorang perempuan agung, suci, dan mulia. Pokoknya ia sempurna, sangat cocok denganmu. Kalau kau mau, aku bisa menyebut namamu di sisinya,” kata Nafisah kepada Muhammad, dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018).

Singkat cerata, Sayyidah Khadijah dan Nabi Muhammad saw. akhirnya menikah. Riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa pada saat itu Sayyidah Khadijah berusia 40 tahun sementara Nabi Muhammad saw. 25 tahun. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa pada saat menikah usia Sayyidah Khadijah adalah 35 tahun, sedangkan Nabi Muhammad saw. 30 tahun. Bahkan riwayat tanpa sanad Ibnu Ishaq menyebut kalau Sayyidah Khadijah ketika itu berusia 28 tahun.

Terlepas dari itu semua, Sayyidah Khadijah adalah istri pertama yang dinikahi Nabi Muhammad saw. Mereka berdua mengarungi biduk rumah tangga sekitar 25 tahun hingga akhirnya Sayyidah Khadijah meninggal dunia. Selama itu pula, Nabi Muhammad saw. tidak pernah menikah dengan wanita lainnya. 

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apa alasan atau motivasi Sayyidah Khadijah memilih Nabi Muhammad saw. untuk menjadi suaminya? Mengapa Sayyidah Khadijah melabuhkan hatinya kepada seorang pemuda yang jarak usia keduanya cukup jauh? Bukankan banyak pemuka Makkah yang berminta dan siap menjadi pendamping hidupnya?

Sebagaimana keterangan dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Sayyidah Khadijah memilih Nabi Muhammad saw. untuk menjadi suaminya karena dia menilai bahwa Nabi Muhammad saw. adalah sosok manusia yang sempurna kepribadiannya, baik sifat lahir maupun sifat batinnya. Bukan karena penampilannya secara sepintas. 

Sayyidah Khadijah memiliki banyak pengalaman dalam mengarungi biduk rumah tangga. Hal itu lah yang membuat Sayyidah Khadijah yakin bahwa kebagaian rumah tangga tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya materi seseorang, namun ditentukan oleh kepribadian yang luhur, asal usul yang bersih, serta kematangan dalam perpikir dan bertindak. Dan sosok itu ada pada Nabi Muhammad saw. Terlepas dari itu semua, tentu hal itu sudah digariskan Allah di Lauh Mahfudz. Wallahu A’lam. (A Muchlishon Rochmat)