IMG-LOGO
Tokoh

KH Nawawi Berjan, Ulama di Balik Berdirinya Organisasi Thariqah

Selasa 19 Maret 2019 11:15 WIB
Bagikan:
KH Nawawi Berjan, Ulama di Balik Berdirinya Organisasi Thariqah
KH Nawawi Berjan (istimewa)
KH Nawawi nama lengkapnya adalah Muhammad Nawawi lahir di Berjan Purworejo pada hari Selasa Kliwon tanggal Robi’ul Awwal 1334 H./10 Januari 1916 M. Dari keluarga ningrat bernasab keturunan dari Sultan Agung Mataram dari jalur ayahnya yaitu, silsilah Muhammad Nawawi bin KH Muhammad Shiddiq bin Kiai Zarkasyi bin Asnawi Tempel bin Kiai Nuriman Tempel bin Kiai Burhan Joho bin Kiai Suratman Pacalan bin Jindi Amoh Plak Jurang bin Kiai Dalujah Wunut bin Gusti Oro-oro Wanut bin Untung Suropati bin Sinuwun Sayyid Tegal Arum bin Sultan Agung bin Pangeran Senopati.

Dari jalur ibunya bernama Nyai Fatimah bin Muhyiddin (w. 137 H/1948 M) kakek KH Muhammad Nawawi dari garis ibunya adalah cikal bakal desa Rending, sebuah desa disebelah utara desa Gintungan. Di desa yang didirikannya tersebut, kakeknya pernah menjabat sebagai lurah Desa. Pada sebagian wilayah desa Rendeng inilah terdapat sebuah pedukuhan bernama tirip, tempat mukim simbah Kiai Zaid, seorang Ulama besar dan juga saudara ipar KH Abdullah Termas Pacitan.

Masih kecilnya KH Nawawi termasuk keluarga yang religius, dan sering membaca buku dan kitab kuning walaupun bermain dengan teman sebaya dan bersama keluarga besarnya. Masa remajanya terkenal rajin belajar yang sangat tinggi bahkan membawa catatan sambil diskusi-musyawarah. Pada tahun 1970 yang ditulis oleh KH Nawawi sendiri, di mulai dengan belajar al-Quran, fath al-Qorib, Sanusi, Minhaj al-Qawim, Ta’lim al-Muta’allim, Tanqikh al-Qaul, dan Shahih Bukhari kepada ayahnya sendiri KH. Muhammad Shiddiq.

KH Nawawi pengalaman nyantri berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah dan daerah Krapyak Yogyakarta seperti pondok di Lirboyo pondok Kediri, pondok Watucongol, pondok Lasem, pondok Jampes, pondok Termas Pacitan dan pondok Tebuireng Jombang.Di Bidang pendidikan al-Quran bin Nadhor diperdalam dengan langsung oleh KH Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Berkelana mencari ilmu dengan semangat, KH Nawawi berajar banyak kiai-guru di pulau Jawa bahkan mampu mengusai kitab kuning. Dalam catatan beliau terhadap kitab Faidul Barry Fi Manaqibi al-Imam Bukhari al-Ju’fy tahun 1377 H tentang sanad yang telah ditulisnya sebagaimana pada saat belajar Shahih al-Bukhari di Pondok Pesantren Tebuireng KH Hasyim Asyari Jombang dan belajar Dalail Al-Khairat kepada Syekh Ahmad Alawy Jombang.

Pada perkembangannya, KH Nawawi tidak pula meninggalkan dunia lembaga pendidikan formal di dalam usaha dengan nalar idenya untuk menawarkan di pesantren yang dipimpinnya sebagai alternatif tempat penyelenggaraan lembaga pendidikan Guru Agama (PGA), tiga tahun mengalami penurunan jumlah murid secara drastis walaupun dalam transisi infrastruktur pendidikan sebagaimana yang telah dianjurkan oleh Menteri Agama untuk mendirikan lembaga pendidikan sejenis. Pembangunan ruang kelas baru dilaksanakan sejak pada tahun 1963 berkat bantuan Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri.

Di Balik Berdirinya Jam’iyyah Ahli Thariqot al-Mu’tabaroh

Secara singkat, sejarah Thariqohal-Qhadiriyyah wa Naqsyabandiyyah berkembang di Berjan adalah merupakan hasil gabungan antara dua aliran, yakni aliran Thariqoh Qhadiriyyah dan aliran Thariqoh Naqsyabandiyyah yang gagas oleh Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Ghaffar daerah Sambas Kalimantan Barat (1802-1872 M). Sedangkan aliran Thariqoh al-Qhadiriyyah pencetusnya adalah Syaikh Abdul Qhodir al-Jailani sebagai pelopor cikal-bakal aliran-aliran organisasi thariqoh dengan cabang-cabangnya di belahan penjuru dunia Islam.

Sementara aliran Thariqoh Naqsyabandiyyah adalah dirintis oleh Syaikh Muhammad bin Muhammad Bahauddin al-Bukhari al-Naqsyabandi (717 H/1318 M-791 H/1389 M) seorang tokoh sufi yang memulai belajar tentang tasawuf kepada gurunya Baba al-Samsyi pada saat berusia 18 tahun. Syekh Ahmad Khatib Sambas telah berhasil untuk menggabungkan dua aliran Thariqoh tersebut sebagaimana tertulis dalam karya kitabnya Fath al-Arifin dengan metode jenis Dzikir yaitu Dzikir Jahr dalam Thariqoh Qhadiriyyah dan Dzikir Khafi dalam Thariqoh Naqsybandiyyah.

Syekh Ahmad Khatib Sambas menjadi pelopor pemikiran Thariqoh Qhadiriyyah wa Naqsyandiyyah walaupun lama bermukim di Mekah pada pertengahan abad ke-19, maka banyak yang bersedia menjadi muridnya baik dari Negara Malaysia, Jawa dan luar Jawa. Pada perkembangannya Thariqoh wa Naqsyabandiyyah di Nusantara banyak yang bersumber kepada salah satu atau ketiga menjadi Mursyid pertama, mulai dan Syaikh Abdul Karim paman Syekh Nawawi Banten sebagai pimpinan Thariqoh.

Sedangkan muridnya meneruskan dan berjasa besar untuk mengembangkan Thariqoh wa Naqsyabandiyyah di Nusantara yaitu, Kiai Asnawi Caringan Banten (w.1937), Syekh Zarkasyi (1830-1914 M), pada tahun 1860. Sementara Syekh Zarkasyi pada periode pertama mengembangkan Thariqoh wa Naqsyabandiyyah diteruskan pada periode kedua Muhammad Siddiq dan diteruskan ke periode ketiga yaitu KH. Nawawi Berjan Purworejo Jawa Tengah.

Pada periode KH Nawawi pada mulanya tidak bersedia untuk di baiat menjadi mursyid karena alasan berjuang bersama laskar Hizbullah pada saat itu, lalu pamannya, memberanikan diri Kiai Abdul Majid Pagedangan matur untuk di baiat sebagai mursyid tapi KH. Nawawi jawabannya tetap sibuk berjuang bersama laskar Hizbullah, maka sementara kedudukan mursyid dilanjutkan oleh pamannya sendiri, Simbah Kiai Munir bin Zarkasyi.

Setelah pasca perjuangan melawan penjajah, dan saudara kandung mirip ayahandanya wafat bernama Muhammad Kahfi pada hari kamis tanggal 6 Dzulqo’dah 1371/1950 M, maka barulah KH Nawawi berkenan untuk di baiat sebagai mursyid kepada Simbah Kiai Munir (w. 1958) Amanah yang berat sebagai pewaris pimpinan pondok pesantren dan juga sebagai mursyid Thariqoh wa Naqsyabandiyah selama 35 tahun (1947-1982). Pada saat itulah, KH Nawawi mulai merasakan keadaan terhadap aliran dan organisasi Thoriqoh yang berkembang dengan saling menyalahkan dan bahkan mengkafirkan antara aliran Thariqoh seperti Thariqoh Tijaniyyah dan Thariqoh Syathoriyyah yang sejatinya sama-sama berasal dari organisasi NU.

Pada tanggal 31 Desember Tahun 1955 KH Nawawi Berjan dan KH Masruhan berdialog untuk berusaha meluruskan para penganut Thariqoh dan perlunya menyepakati dalam bentuk Jam’iyyah thariqoh yang benar dan lurus, mana yang mu’thabaroh maupun yang tidak. Sekitar dua tahun kemudian, KH Nawawi bersilaturrahim kebeberapa daerah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah bersama Kiai Mahfudz Rembang, maka pada tahun 1957 yang didampingi oleh Kiai Abdurrahim Pagedangan sehingga melahirkan Tim Pentasheh Thariqoh yang beranggotakan enam orang diantaranya Kyai Muslih Mranggen, dan Kiai Baedlowi Lasem. Dengan keperihatinan dalam menyaksikan maraknya perpecahan dikalangan para penganut Thariqoh ini, kemudian KH Nawawi mengabadikan dalam catatan buku hariannya dengan menulis yaitu cara-cara yang menjalin hubungan persatuan berbagai panganut Thariqoh.

Menurut catatan-catatanbuku harian KH Nawawi, cara-cara mengeratkan ukhuwah di antara ikhwan thoriqoh. Pertama, para mursyid diberi tuntunan-tuntunan asas Thoriqoh yang semuanya asas-asas tadi dimengerti sampai tahu betul para murid dengan asas tujuan Thoriqoh hingga paham adab-adabnya murid Thoriqoh, adab kepada guru dan adab teman-teman Thoriqoh dengan inshaf, dan patuh terutama adab ma’a Allah dan Rasulnya. Kedua, supaya dianjurkan tazawur diantara mursyidin dengan para abdal satu sama lain, dengan tukar pikiran bagaimana caranya mentarbiyah murid-murid mana yang baik ditiru oleh ikhwan lain agar menambah amal khair.

Ketiga, para mursyid menganjurkan kepada abdal-abdal supaya berangkat khataman, tawajuhan dan riyadloh jasmaniyah dan rohaniyah serta tafakkur yang dapat mendekatkan muroqobah hingga para ikhwan Thoriqoh bisa melatih diri inshaf kepada ajaran-ajaran Sufi yang mana bisa sabar dan Ridho pada hukum Allah, dan membuat kebaikan kepada makhluk serta cinta kepada teman-teman dan menjauhi larangan-larangan tuhan dan terus mengabdi tambahannya ilmu serta ingat kepada mati agar giat beribadah.

Dengan terbentuknya panitia sementara dalam rencana penyelenggarakan kongres pertama. Maka pada tanggal 11 Agustus tahun 1956 dengan susunan kepanitiaan Pelindung KH Romli Tamim Rejo Jombang dan Ketua I KH Nawawi Berjan serta pembantu-pembantu I KH Khudlori Magelang. Hasil Presidium Kepengurusan Kongres perdana dengan Anggota KH. Mandhur, KH. Chudlori Tegalrejo, KH. Usman, KH. Chafidz Rembang, KH. Nawawi, KH. Masruchan Brumbung, dengan sidang pertama di Rejoso Jombang. Kesepakatan kongres pada tanggal 19/20 Rabiul awal 1377 atau 10 Oktober 1957 sebagai hari lahir Jam’iyyah Ahli Thariqoh al-Mu’tabaroh. Pendirian Jam’iyyah ini telah direstui oleh KH. Dalhar Watucongol, walaupun pada saat itu beliau tidak berkenan naik panggung. 

Dalam kongres Jam’iyyah Ahli Thoriqoh ke 1 pada tanggal 12-13 Oktober 1957 di Tegalrejo Magelang dalam kapasitasnya sebagai ketua Panitia Kongres, KH. Nawawi dan Kyai Siraj Payaman yang paling banyak memberikan Jawaban setiap pertanyaan dari peserrta, termasuk dari Kiai Mahrus Lirboyo.


Maliana Muhimma, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Jember dan Guru MTs Negeri 1 Jember
Tags:
Bagikan:
Jumat 15 Maret 2019 11:0 WIB
Sanad Keilmuan KH Ma’ruf Amin: Dari Banten Sampai Makkah
Sanad Keilmuan KH Ma’ruf Amin: Dari Banten Sampai Makkah
KH Ma'ruf Amin (Ist.)

Sosok KH Ma’ruf Amin sudah dikenal masyarakat luas sebagai ulama yang ahli di bidang dakwah dan ilmu fiqih. Tentu saja di balik itu, ia memperoleh ilmu tidak dari guru dan tempat sembarangan.

Bahkan, ia dijuluki sebagai “Santri Kelana” yang selama mudanya gemar belajar dari satu tempat ke tempat yang lain.

Sanad keilmuan Kiai Ma’ruf bersambung dengan jalur para ulama Nusantara yang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Pertama-tama, Kiai Ma’ruf belajar kepada ayahnya, Kiai Muhammad Amin, yang terkenal sebagai ahli fiqih.

Kiai Amin belajar di Makkah selama 15 tahun, antara lain mengambil sanad keilmuan dari Sayyid Alawi Al-Maliki di Makkah. Kiai Amin menjadi guru banyak kiai di seputar Banten, mengajarkan kitab Al-Mahalli, Tuhfah, Al-Muhadz-dzab, dan lain-lain.

Lalu Kiai Ma’ruf belajar kepada kakeknya dari Ibu, Kiai Muhammad Ramli, yang mengambil sanad keilmuannya di Makkah, antara lain, dari Syekh Mahfuzh At-Tarmasi, ulama asal Tremas Pacitan yang menjadi guru para ulama NU. Kiai Ramli memberinya ijazah doa-doa yang diamalkan Kiai Ma’ruf sampai sekarang.

Lalu ia belajar sebentar di Perguruan Islam Citangkil, Cilegon, sebelum melanjutkan penjelajahan ilmunya ke Tebuireng, Jombang. Sepulang dari Tebuireng, Kiai Ma’ruf yang masih haus ilmu, belajar secara tabarrukan di tiga pesantren, yaitu di Caringin (Labuan Pandeglang), Petir (Serang), dan Pelamunan (Serang).

Setelah bermukim di Jakarta, ia melanjutkan pencarian ilmunya kepada Kiai Ahmad Mi’an dan Kiai Usman Perak di Masjid Al-Fudlola, sebuah masjid yang bersejarah di Tanjung Priok. Ia juga mengambil sanad keilmuan dari Habib Ali bin Husein Al-Attas yang dikenal sebagai Habib Ali Bungur.

Dengan kajian berbagai kitab yang komprehensif itu, Kiai Ma’ruf memiliki bekal yang matang dalam mengembangkan dirinya sebagai ulama. Perkembangan keilmuannya bahkan diakui oleh ayahnya sendiri.

“Kalau ada ajaran bahwa seorang ayah boleh sungkem pada anaknya, maka saya akan menjadi orang pertama yang akan sungkem pada Ma’ruf,” ujar Kiai Amin. (M. Zidni Nafi’)

Diolah dari buku Iip Yahya: KH Ma’ruf Amin, Santri Kelana Ulama Paripurna, 2019.

Senin 11 Maret 2019 15:45 WIB
Mengenal KH Abdul Majid Tamim, Murid Hadratussyekh yang Produktif Menulis
Mengenal KH Abdul Majid Tamim, Murid Hadratussyekh yang Produktif Menulis
KH Abdul Majid Tamim (Istimewa)

Di antara orang yang memiliki jasa besar dalam penyebaran agama Islam ke Madura adalah RKH Abdul Majid bin Tamim, salah seorang murid Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. Jasanya yang cukup besar dikarenakan kemampuannya menerjemahkan sejumlah kitab Islam, dari berbagai ilmu pengetahuan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Madura.

Sederet nama kitab yang diterjemahkan antara lain Safinah An-Najah, Sullam Taufiq, Muqaddimah Hadlramiyah, Nadham Al-Maqshud bahkan juga kitab Tafsir Jalalain. Selain menerjemahkan, beliau juga mengarang Kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah dan kitab “At-Tashrif”. Kebanyakan karya Kiai Majid baik yang dikarangnya sendiri ataupun terjemahannya diterbitkan di Maktabah Salim Nabhan Surabaya. Saya merasa beruntung karena mendapatkan beberapa karya beliau langsung dari penerbit tersebut.

Nama Kiai Majid juga tertulis dalam penelitian Martin Van Bruinnessen yang berjudul: “Kitab Kuning: Books In Arabic Script Used In Pesantren Milieu”. Peneliti berkebangsaan Belanda ini menyebut Kiai Majid Tamim sebagai salah satu tokoh yang berjasa dan banyak berbuat dalam rangka penerjemahan kitab-kitab salaf ke dalam bahasa Madura.

Profil singkat

Kiai Abdul Majid sendiri lahir di Madura pada 1922 dan wafat pada tahun 2004. Semasa muda beliau belajar di pondok Pesantren Tebuireng Jombang, tepatnya pada pertengahan tahun 1930-an sampai awal tahun 1940-an beliau mengaji langsung kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. 

Setelah lulus, beliau tinggal di Jember, tepatnya di Kompleks Masjid Raudlatul Mukhlisin Kelurahan Condro Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember Jawa Timur. Semasa hidupnya Kiai Majid tidak hanya aktif menerjemahkan dan menulis kitab kuning, namun seperti kiai pada umumnya, KH Majid mengisi ceramah dan pengajian-pengajian dalam majelis-majelis ta’lim yang diselenggarakan oleh masyarakat sekitarnya baik di Jember maupun di Madura.

Pandangan tentang emansipasi perempuan

Di antara kitab yang menarik untuk dibahas saat ini adalah kitab Tafsri Al-Mar’ah Al-Shalihah, mengingat relevansinya terhadap kondisi saat ini. Kita ini sendiri merupakan jawaban Kiai Abdul Majid terkait westernisasi tentang emansipasi wanita kala itu. Kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah ini merupakan kitab tafsir yang ditulis Kiai Abdul Majid dalam Bahasa Madura.

Sebagaimana juga diungkapkan oleh Ahmad Qusyairi dalam penelitiannya yang berjudul: Kritik Sosial dalam Tafsir Al-Qur’an (Studi terhadap Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah Karya Majid Tamim). Dikatakan bahwa tafsir ini ditulis dalam lingkup sosial budaya madura dan merupakan kritik terhadap westernisasi barat.

Dari hasil penelitian Ahmad Qusyairi dapat kita ambil kesimpulan mengenai KH Abdul Majid Tamim Pamekasan adalah sosok ulama konservatif yang sangat selektif terhadap budaya yang datang dari luar. Dalam kesimpulan penelitian Ahmad Qusyairi disimpulkan bahwa: (1) Kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah yang ditulis KH Abdul Majid Tamim adalah bertujuan untuk merespon isu-isu sosial utamanya masalah westernisasi dan gender; (2) Metode tafsir yang digunakan Abdul Majid Tamim merupakan tafsir tematik bil ra’yi dengan corak sosial budaya; dan (3) Kriteria perempuan dalam pandangan Abdul Majid Tamim dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: (a) Wanita dengan kepribadian yang kuat; (b) Wanita patuh kepada suami; (c) Wanita pandai dan cerdas dalam diskursus kesetaraan gender; dan (d) Wanita yang menjaga kesuciannya.

Menghindari keramaian

Menurut penuturan keluarganya, KH Abdul Majid merupakan ulama yang berusaha untuk menyembunyikan dirinya dari kemasyhuran. Ia sering datang ke kediamannya di Pamekasan sebelah utara Masjid Agung Jami’ Kota Pamkesan tepat di sebelahnya. Ia selalu datang secara tiba-tiba dan sembunyi-sembunyi dan langsung menemui keponakannya R. Abdullah untuk suatu keperluan. Setelah itu sesegera mungkin (paling lambat keesokan harinya) kembali ke Jember dengan sembunyi-sembunyi pula.

Penulis sendiri merasa bertemu muka dengannya hanya sekali dalam hidupnya. Namun penulis telah banyak mengoleksi kitab-kitab karya dan terjemahannya. Salah satunya adalah kitab ‘At-Tashrif” yang ditulisnya dalam bidang morfologi bahasa Arab. Kitab ini penulis dapatkan dari peneribit dan toko kitab Salim Nabhan Surabaya, salah satu penerbit tertua di Indonesia.

Dari penuturan pimpinan penerbit itu yakni Adnan Nabhan, dapat saya simpulkan bahwa sosok Kiai Majid sangat dekat dengan keluarga Nabhan. Memang semasa hidupnya KH Majid sering mengisi pengajian-pengajian yang dihadiri dan diselenggarakan orang keturunan arab dan para habib, utamanya di Pamekasan.

Kiranya dari kisah singkat KH Abdul Majid Tamim ini dapat ditarik dua pelajaran yaitu: (1) Menguatkan kredibilitas KH Hasyim Asy’ari dan Pesantren Tebuireng sebagai Maha Guru Ulama dan Pesantren pencetak ulama di Nusantara; (2) Bahwa seorang Ulama/Kiai meskipun tinggal di pedesaan dan tertutup oleh liputan media serta tampak kolot, tetap mampu menjawab tantangan zaman. (Ahmad Nur Kholis)

Selasa 5 Maret 2019 13:2 WIB
Jimly, Seniman Kaligrafi Internasional dari Jember
Jimly, Seniman Kaligrafi  Internasional dari Jember

Jember, NU Online
Ahmad  Jimly Ashari, namanya. Masih muda, usianya baru  25 tahun. Namun lajang asal Ambulu, Jember, Jawa Timur ini  mempunyai  prestasi yang luar bisa di dunia seni kaligrafi. Sederet  piala berjejer rapi di rak pondoknya. Prestasinya menjamah level nasional bahkan internasional. Di antaranya adalah juara nasional  kaligrafi khot naskhi  di Jombang (2015). Karena prestasinya yang menumpuk,  pada tahun 2013, Jimly dipercaya mewakili Indonesia untuk ikut pameran kaligrafi di Aljazair. Tidak cukup sampai di situ, dalam lomba internasional  di Turki (2018), karyanya terpilih masuk 5 besar.

“Alhamdulillah, berkat usaha dan doa kita semua,” ucapnya kepada NU Online di kompleks  Pondok Pesantren Darus Sholah, Jalan Moh Yamin  Nomor 25, Kelurahan Tegalgesar, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (4/3).

Ustadz Jimly, sapaan akrabnya,  mengaku tertarik dengan seni kaligrafi sejak kecil. Lingkungan pesantren (Darus Sholah), tempatnya menuntut ilmu dirasa cukup mendukung bakat seni kaligrafinya. Ketika kelas SMP Darus Sholah, Jimly mengaku termotivasi oleh gurunya, Ustadz Fuad Harun.

“Beliau yang memotivasi saya pertama kali,” kenangnya.

Sejak saat itu, pemuda kelahiran Jember 6 Juni 1993 dari pasangan Suprapto dan Susilatin ini, tancap gas, menekuni seni kaligrafi. Dalam proses belajar, Ustadz Jimly tidak mencukupkan diri di lingkungan pesantren, tapi juga mencari guru kaligrafi di Malang dan Jombang untuk meningkatkan keterampilannya. Bahkan juga berguru  secara online kepada  ahli kaligrafi  di Maroko (Syeikh Bilaid Hamidi) dan Palestina (Ehad Ibrahim Tsabit). Keduanya adalah sosok yang cukup terkenal sebagai master kaligrafi dunia.

“Sejak tahun 2013 hingga sekarang saya berguru kepada kedua beliau. Belajarnya  lewat email,” urainya.

Bagi Ustadz Jimly, kaligrafi bukan sekedar tulisan arab yang dipoles, tapi juga seni yang mengandung pesan teramat jelas. Sebab, yang ditulis adalah firman  Allah. Sehingga kaligrafi juga menjadi media dakwah. Kalau soal keindahan, kaligrafi tidak hanya diakui oeh warga Muslim, tapi non Muslimpun tak sedikit yang mencintai kaligrafi.

“Ada juga non Muslim yang senang kaligrafi, tapi mereka cuma cinta keindahannya, bukan cinta dan atau ingin memahami isinya,” jelas Ustadz Jimly.

Saat ini selain menjadi guru kaligrafi di Darus Sholah, Ustadz Jimly juga ngopeni santri yang berbakat kaligrafi. Di luar itu, ia juga membuka kelas online. Muridnya dari Surabya, Malang, dan Bali.

“Kemaren ada yang dari Malaysia juga mau ikut belajar online, tapi saya belum memberi jawaban,” ucapnya.

Benar, kaligrafi bukan sekedar menulis kalimat Arab yang indah, tapi juga banyak pesan yang muncul dari kalimat yang ditulis. Anak-anak dan pelajar  memang perlu terus didorong untuk mencintai kaligrafi di tengah pusaran globalisasi budaya yang semakin masif agar kaligrafi tak mati suri.

Dan untuk itu, Jember telah memulai di bawah bimbingan Ustadz Jimly, sang seniman kaligrafi  Internasional (Aryudi AR).


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG