IMG-LOGO
Internasional

Istighotsah dan Munajat Jamaah Umrah untuk Kebaikan Negeri

Rabu 20 Maret 2019 17:0 WIB
Bagikan:
Istighotsah dan Munajat Jamaah Umrah untuk Kebaikan Negeri
Ustadz Fauzi di hadapan jamaah umrah di pelataran Masjid Nabawi.
Madinah, NU Online
Setiap warga bangsa pasti mengharapkan suasana di negerinya aman dan tentram. Segala potensi yang ada dapat dioptimalkan bagi kebahagiaan dan kesejahteraan penduduknya. Hajatan pemilihan pemimpin dan wakil rakyat hendaknya menjadi wahana memupuk ukhuwah atau kebersamaan.

Sejumlah  harapan tersebut mengemuka pada kegiatan munajat berjamaah yang dilakukan jamaah umrah saat berada di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Rabu (20/3). 

“Indonesia milik semua komponen bangsa, terutama umat Islam. Karena itu, kami mendoakan keselamatan dan kesejahteraan bangsa sebagai bukti tanggung jawab bersama,” kata Ustadz Nur Fauzi Ahsan kepada media ini.

Senyampang sedang berada di tanah suci, dirinya bersama puluhan jamaah secara khusus memberikan perhatian terhadap kebaikan bangsa. “Mumpung sedang di tanah suci, bersama jamaah Nurul Hayat Surabaya yang memiliki latar belakang yang tidak sama, kami bermunajat dalam kemasan istighotsah untuk keselamatan bangsa,” ungkapnya.

Dalam pandangan pimpinan rombongan umrah ini, hajatan pemilihan presiden yang kian dekat hendaknya dapat dijadikan sarana untuk mengurangi perbedaan. “Kita meminimalisir sekat. Karena kerukunan, kebersamaan, keharmonisan, perlu dijunjung untuk menjaga harkat dan martabat,” kata Pengurus Wilayah Aswaja Nahdlatul Ulama Center Jawa Timur ini.

Bersama jamaah yang menempati latar Masjid Nabawi, Ustadz Nur Fauzi mengingatkan siapapun yang nanti terpilih sebagai presiden dan wakil presiden, serta wakil rakyat merupakan kalangan yang takwa kepada Allah SWT. 

“Misi jabatannya berorientasi pada kemasalahatan umat, bukan yang lain,” jelasnya.

Kegiatan ini diikuti jamaah umrah yang berjumlah 44 orang dan berlangsung pukul 03.00 dini hari waktu Madinah. (Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Rabu 20 Maret 2019 23:0 WIB
Putra Bogor Juara 1 Musabaqoh Internasional Tijan An Noor Doha Qatar
Putra Bogor Juara 1 Musabaqoh Internasional Tijan An Noor Doha Qatar
Penampilan Muhammad Ihsan Ramadhan di Musabaqah Internasional Tijan An Noor Qatar
Bogor, NU Online
Putra-putri Indonesia tak henti-hentinya meraih prestasi pada perlombaan internasional. Teranyar, Muhammad Ihsan Ramadhan, qori cilik yang masih duduk di bangku kelas empat SD, berhasil menjadi juara pertama pada Musabaqoh Internasional Tijan An Noor Doha Qatar yang berlangsung 9-19 Maret 2019 lalu. Ihsan berhasil mengharumkan nama Indonesia setelah bersaing dengan para peserta dari 15 negara lainnya.

Keterlibatan dan prestasi Ihsan berawal saat Haqqottilawah, pesantren pimpinan KH Ade Ahmad Farid, mendapat undangan dari Qatar untuk mengikutsertakan santrinya pada lomba MTQ Internasional. Pesantren Haqqottilawah sendiri terletak jauh di pelosok Desa Situdaun Tenjolaya, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

"Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan semuanya, Ihsan diberi kesempatan jadi juara satu. Terima kasih ya semuanya," tutur Ihsan saat dihubungi melalui ayahandanya, KH Ade Ahmad Farid, Rabu (20/3).

Kiai Farid, ayahnda Ihsan mengatakan selain menjadi kebanggan bagi keluarga, prestasi tersebut merupakan berkah dari doa para guru-guru Ihsan. "Semoga bisa terus berkarya untuk mengharumkan nama Indonesia," tutur Kiai Farid. 

Kiai Farid juga berharap masyarakat Indonesia dapat memetik hikmah dari prestasi Ihsan. "Serta, bagi Ihsan dan qori cilik di seluruh Indonesia, tetaplah menjadi inspirasi bagi generasi muda penerus bangsa," imbuhnya.

Sebelumnya Ihsan juga acap meraih beragam prestasi, di antaranya juara 3 Murotal Putra STQ Jawa Barat pada tahun 2017, Juara 2 MTQ Nasional tingkat anak-anak di Medan Sumatera Utara, Juara 1 MTQ JQH NU antarpendok pesantren se-Indonesia tingkat anak-anak tahun 2018, serta Juara 1 MTQ tingkat anak-anak Provinsi Jawa Barat. (Abdul Hakim Hasan/Kendi Setiawan)
Selasa 19 Maret 2019 5:0 WIB
Indonesia-Jepang Rundingkan Kebutuhan Pekerja Asing di Jepang
Indonesia-Jepang Rundingkan Kebutuhan Pekerja Asing di Jepang
Jakarta, NU Online
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menerima kunjungan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Perindustrian (METI) Jepang beberapa waktu lalu. Kunjungan METI tersebut dalam rangka membicarakan kebutuhan tenaga kerja asing yang sangat besar di Jepang.

Dirjen Binalattas, Bambang Satrio Lelono, yang menerima secara langsung Yoko Ikeda, perwakilan METI, di ruang kerjanya akhir pekan lalu mengatakan siap memenuhi kebutuhan Jepang akan tenaga kerja Indonesia.

Pasalnya, saat ini Pemerintah Indonesia memang tengah fokus terhadap program peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sehingga Indonesia percaya diri bisa membantu Jepang.

"Saya menyambut baik kunjungan ini karena pada waktu yang sama pemerintah Indonesia juga sedang fokus dan memberikan prioritas pada program peningkatan kualitas SDM," kata Dirjen Satrio di Jakarta, Senin (18/3).

Turut hadir pada pertemuan ini perwakilan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta Taro Araki, Japan External Trade Organization (JETRO) Hiroki Yoshida, dan Satoshi Miyajima serta Imron Munfaat, selaku Presiden Direktur dan Direktur PT OS Selnajaya Indonesia.

Kemnaker memang tengah fokus menggenjot peningkatan kompetensi SDM melalui Balai Latihan Kerja (BLK). Satrio optimistis lulusan BLK mampu bersaing di dunia industri, baik di dalam maupun di luar negeri, termasuk di Jepang. 

"Kami akan menyesuaikan sistem pelatihan di BLK dengan kebutuhan sektor industri, baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia," tutur Satrio.

Guna memuluskan langkah pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Jepang, Satrio meminta Negeri Sakura tersebut segera merumuskan standar kebutuhan industri di negaranya agar Indonesia bisa menyesuaikan kurikulum pelatihan di BLK sesuai dengan standar mereka.

"Pemerintah Indonesia akan mengadopsi standar tersebut sebagai standar kompetensi kerja (SKK) khusus yang akan menjadi standar dan pedoman dalam proses pelatihan maupun uji kompetansi bagi calon tenaga kerja yang nantinya akan bekerja di Jepang," ungkap Satrio.

Sementara itu, Yoko Ikeda menjelaskan maksud pertemuan ini erat terkait dengan kebutuhan Jepang akan tenaga kerja asing khususnya dari Indonesia. Terhitung mulai 1 April 2019, akan diberlakuan visa kerja baru untuk tenaga kerja asing pada 14 sektor bidang pekerjaan.

"Selama ini Jepang sangat terbantu dengan program pemagangan, termasuk peserta pemagangan dari Indonesia. Dengan diberlakukannya visa kerja baru tersebut peserta magang yang telah menyelesaikan program pemagangan berkesempatan bekerja di Jepang dengan visa kerja keterampilan khusus atau dalam bahasa Jepang disebut tokuteiginou," kata Ikeda.

Hanya saja, lanjut Ikeda, jika hanya mengandalkan peserta magang, tentu tidak bisa mencukupi kebutuhan tenaga kerja di Jepang. Dalam skema visa kerja tokuteiginou tersebut, Ikeda berharap peserta magang yang telah pulang ke Indonesia bisa kembali bekerja di Jepang.

"Selain itu, ada juga jalur melalui pemegang visa pendidikan (ryugakusei),atau tenaga kerja baru yang belum pernah bekerja di Jepang, namun mempunyai kemampuan bahasa dan tingkat keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri di Jepang," ucap Ikeda. (Red: Kendi Setiawan)
Senin 18 Maret 2019 22:45 WIB
China Tangkap 13 Ribu ‘Teroris’ di Xinjiang sejak 2014
China Tangkap 13 Ribu ‘Teroris’ di Xinjiang sejak 2014
Foto: Reuters
Beijing, NU Online
Pemerintah China mengklaim telah menangkap hamper 13 ribu orang yang dianggap ‘teroris’ di Xinjiang sejak 2014 silam. Pernyataan itu dimaksudkan untuk membela langkah-langkah deradikalisasi yang dilakukan China di Xinjiang yang kontroversial.

Sebelumnya, beberapa pihak seperti PBB, Human Right Watch, dan beberapa negara Barat mengkritik keras kebijakan China di wilayah Xinjiang. Menurut laporan mereka, China telah menahan lebih dari sejuta Muslim Uighur dan minoritas Muslim lainnya secara sewenang-wenang di kamp-kamp interniran di wilayah Xinjiang.

Di dalam kamp, mereka harus mempelajari bahasa Mandarin, menyanyikan lagu-lagu propaganda, dilarang mengenakan jilbab, memelihara jenggot, dan melakukan ritual-ritual keagamaan di depan umum. 

Pemerintah China membantah tuduhan itu. Pemerintah China menyebut kalau kamp-kamp itu dimaksudkan untuk pendidikan dan pelatihan vokasi. Mereka yang masuk ke dalam kamp-kamp itu dibekali keterampilan sehingga ketika keluar memiliki ‘bekal’ untuk bekerja.

“Sejak 2014, Xinjiang telah menghancurkan 1.588 geng-geng teroris dan keji, menangkap 12.995 teroris, menyita 2.052 bahan peledak, menghukum 30.645 orang atas kegiatan-kegiatan keagamaan ilegal, dan menyita 345.229 salinan material keagamaan ilegal,” tulis dokumen ‘berkas putih’ yang dirilis kabinet China, dilansir kantor berita AFP, Senin (18/3).

Menurut dokumen itu, upaya-upaya untuk kontra-terorisme dan deradikalisasi terhadap kelompok-kelompok ekstremis di Xinjiang dilakukan sesuai dengan aturan hukum yang ada. Hanya sebagian kecil orang yang menghadapi hukuman ketat seperti pemimpin kelompok bersenjata. Adapun mereka yang dipengaruhi oleh ‘pemikiran ekstremis’ menerima pendidikan ulang dan pelatihan vokasi. 

Juru bicara kelompok World Uyghur Congress Dilxat Raxit langsung mengecam ‘berkas putih’ yang dikeluarkan kabinet China tersebut. Ia menilai, ‘berkas putih’ itu dimaksudkan untuk memperoleh dukungan lokal terhadap kebijakan ekstrem dan menutupi pelanggaran hak asasi manusia.

“Kontra-terorisme adalah alasan politis untuk menekan orang-orang Uighur. Tujuan sebenarnya dari apa yang disebut deradikalisasi adalah untuk menghilangkan kepercayaan dan secara menyeluruh melaksanakan Sinifikasi," tuduh Raxit, dikutip Aljazeera. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG