IMG-LOGO
Fragmen
HARLAH KE-96 NU

Apa Pertimbangan NU Menerima Nasakom Soekarno?

Kamis 21 Maret 2019 10:25 WIB
Bagikan:
Apa Pertimbangan NU Menerima Nasakom Soekarno?
Kiai Wahab dalam sebuah Forum NU
Salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama, KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan negarawan ulung. Ia piawai berdiplomasi dengan siapa pun dan dalam kondisi apapun. Perannya di dalam percaturan kehidupan berbangsa dan bernegara tidak meninggalkan prinsip-prinsip syariat dalam tradisi keilmuan pesantren. Kiai Wahab mampu mengimbangi aspirasi kelompok Islam lain serta mampu mengendalikan pergerakan kaum sosialis dan komunis di dalam pemerintahan, termasuk saat Presiden Soekarno menggagas integrasi Nasionalis, Agama, dan Komunis (Nasakom).

Pergerakan Kiai Wahab dalam setiap percaturan dan pergolakan politik dinilai sebagai langkah 'Politik Jalan Tengah'. Langkah politik ini tidak mudah dilakukan oleh siapa pun, karena bukan hanya membutuhkan langkah nyata, tetapi juga menuntut argumentasi memadai terkait persoalan yang terjadi. Tercatat, Kiai Wahab tak jarang berbeda pandangan dengan ulama dan kiai-kiai lain, baik kala memimpin Masyumi dan NU. Seperti saat para kiai menolak ajakan Hatta pada 1948 untuk duduk di kabinet dikarenakan Kabintet Hatta menyetujui Perjanjian Renville, sedangkan para kiai menolak hasil perjanian tersebut karena merugikan rakyat.

Bagi Kiai Wahab, dulu Nabi Muhammad berupaya mengubah situasi munkar (untuk melenyapkannya) dengan perbuatan. Dengan duduk di kabinet, terbuka situasi dan kesempatan bagi ulama untuk melakasanakan misi tersebut (memahamkan pemerintah terkait buruknya Perjanjian Renville untuk Indonesia). Kiai Wahab justru menilai, ketika hanya duduk di luar kabinet, ulama hanya bisa teriak-teriak tanpa bisa melakukan apa-apa. “Mungkin, bahkan dituduh sebagai pengacau,” tegas Kiai Wahab. (KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, LKiS, 2013)

Contoh lain, ketika Kiai Wahab, Kiai Saifuddin Zuhri, dan Kiai Idham Chalid diangkat sebagai anggoata Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) pada 1959. Lagi-lagi, peran kiai-kiai NU di DPAS sangat penting karena saat itu PKI menghendaki sosialisme Indonesia sebagai sosialisme Komunis ala Moskow maupun Peking. Selama berbulan-bulan dewan pertimbangan ini bersidang membicarakan tentang Sosialisme Indonesia, Landreform, dan Pancasila.

Para kiai NU tersebut selalu mengimbangi konsep PKI dan secara tidak langsung menghalau pikiran-pikiran PKI yang berupaya mengancam keselamatan Pancasila. Kalangan pesantren dan para kiai NU senantiasa mendekat kepada Presiden Soekarno bukan bermaksud ‘nggandul’ kepada penguasa, melainkan agar bisa memberikan pertimbangan-pertimbangan strategis supaya keputusan-keputusan Soekarno tidak terpengaruh oleh PKI.

Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU (2010) menyebutkan, hubungan baik antara Presiden Soekarno dan Kiai Wahab Chasbullah memudahkan diterimanya saran-saran NU yang disampaikan oleh Kiai Wahab lewat DPAS. Misalnya, ketika DPAS sedang membicarakan perlu tidaknya berunding soal Irian Barat (sekarang Papua) dengan pihak Belanda.

Begitu juga saat Kiai Wahab menerima konsep Nasakom Soekarno pada 1960. Ide Nasakom Soekarno terlihat jelas pada Amanat Presiden 17 Agustus 1960 yang kemudian terkenal dengan rumusan “Jalannya Revolusi Kita” (Jarek). Menerima konsep Nasakom tidak mudah bagi partai Islam lain seperti Masyumi sehingga Kiai Wahab dituduh macam-macam, di antaranya dituduh tidak konsisten, oportunis, bahkan dituduh ‘Kiai Nasakom’ pada era Demokrasi Terpimpin Soekarno.

Dalam pandangan Syaikhul Islam Ali dalam Kaidah Fikih Politik: Pergulatan Pemikiran Politik Kebangsaan Ulama (2018), bagi pengkaji fiqih, strategi politik Kiai Wahab tidak salah karena berpijak pada prinsip fiqih yang fleksibel dan elastis. Fleksibel tidak dapat disamakan dengan oportunis. Fleksibel mampu masuk di berbagai ruang dengan tetap mempertahankan ideologi, sedangkan oportunis berpihak pada siapa pun asal diberi keuntungan materi. Sejak dahulu kala, bahkan saat NU menjadi partai, para kiai konsisten menjalankan politik kebangsaan dan politik kerakyatan dengan pijakan norma agama dan etika, bukan politik kekuasaan yang oportunis.

Ketika Bung Karno menyatukan kaum agama, nasionalis, dan komunis dalam bingkai Nasakom, Kiai Wahab mendukung konsep tersebut dengan cara bergabung dalam sistem pemerintahan. Komitmen Kiai Wahab dan ulama-ulama pesantren tidak berubah terhadap gerak-gerik PKI dengan komunismenya, yaitu tetap melawan dan menentang karena ideologi politik PKI bertentangan dengan prinsip Pancasila. Sebab itu, Kiai Wahab memilih bergabung dalam Nasakom bertujuan untuk mengawal kepemimpinan Bung Karno supaya perjalanan pemerintahan tetap bisa dikendalikan oleh NU sebagai perwakilan umat Islam dan tidak dimonopoli oleh PNI atau pun PKI.

Ditegaskan oleh Kiai Wahab, untuk mengubah kebijakan pemerintahan tidak bisa dengan berteriak-teriak di luar sistem, tetapi harus masuk ke dalam sistem. Kalau Cuma berteriak-teriak di luar, maka akan dituduh makar atau pemberontak. Prinsip dan kaidah yang dipegang oleh Kiai Wahab dalam tataran fiqih ialah, kemaslahatan bergabung dengan Nasakom lebih jelas dan kuat daripada menolak dan menjauhinya, taqdimul mashlahatir rajihah aula min taqdimil mashlahatil marjuhah (mendaulukan kemaslahatan yang sudah jelas lebih didahulukan dari kemaslahatan yang belum jelas). Karena jika tidak ada NU sebagai perwakilan Islam, PKI akan lebih leluasa mempengaruhi setiap kebijakan Soekarno. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Kamis 21 Maret 2019 17:45 WIB
Shumubu, Embrio Berdirinya Kementerian Agama
Shumubu, Embrio Berdirinya Kementerian Agama
Kantor Belanda untuk Shumubu (Dok. KTLV)
Perjuangan seluruh elemen bangsa Indonesia, terutama umat Islam dalam melawan penjajah memberikan efek kejut yang luar biasa, baik saat rakyat Indonesia dijajah oleh Belanda maupun Jepang (Nippon). Jepang masuk ke Indonesia pada Maret 1942 tepatnya setelah meruntuhkan kolonialisme Belanda.

Mengaku sebagai ‘suadara tua’ kepada rakyat Indonesia, kenyataannya Jepang tidak berbeda dengan pendahulunya, Belanda. Keberadaannya di Indonesia tak kurang kejam dibanding Belanda. Mereka tak segan menangkap, menyiksa, dan menghabisi rakyat yang tidak mendukung eksistensi Pemerintahan Nippon dengan segala sistemnya.

Bahkan, seperti yang dilakukan juga oleh Belanda, Jepang memberikan perhatian dan sorotan khusus terhadap gerak-gerik masyarakat Islam. Cara pengawasannya hampir sama, yaitu dengan mengirimkan orang khusus yang bertugas mongorek segala sesuatu tentang informasi pergerakan umat Islam. Pihak Belanda menugaskan Snouck Hurgronje yang juga dikenal sebagai Abdul Ghaffar sebagai mata-mata. Sedangkan Jepang ada Abdul Hamid Ono, Muhammad Shaleh Suzuki, dan Abdul Mun’im Inada.

Sadar bahwa model spionase tidak banyak membantu, bahkan semakin membuat umat Islam melakukan pergerakan masif, Jepang menggunakan siasat lain. Mereka menginginkan seluruh umat Islam dari lintas kelompok dan organisasi diwadahi menjadi satu. Jepang membentuk Kantor Jawatan Agama (Shumubu).

Salah satu perhatian besar Pimpinan Tentara Jepang ialah sosok ulama kharismatik, Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari untuk memimpin Shumubu. Nouruzzaman Shiddiqi dalam Menguak Sejarah Muslim (1983) mengungkap bahwa tiga orang Jepang yang sudah haji, Abdul Hamid Ono, Muhammad Shaleh Suzuki, dan Abdul Mun’im Inada awalnya ditunjuk oleh Jepang dalam pembentukan Shumubu.

Setelah ditangkap Jepang karena dituduh memberontak lalu menghabiskan sekitar empat bulan dengan siksaan pedih di penjara, Kiai Hasyim Asy’ari tidak begitu saja menyerah dalam upaya diplomasi kemerdekaan Indonesia. Putranya KH Wahid Hasyim senantiasa mendampingi beliau, termasuk saat Kiai Hasyim Asy’ari diundang pertemuan dengan Pimpinan Tentara Jepang di Jakarta untuk membahas pembentukan Shumubu.

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari beserta Gus Wahid Hasyim dan para ulama pesantren tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga menanamkan cinta tanah air dan spirit nasionalisme yang tinggi. Kharisma tersebut membuat Kiai Hasyim Asy’ari ditunjuk oleh Jepang untuk memimpin Shumubu yang dibentuk Jepang pada Mei 1942. Tetapi Hadhratussyekh menyerahkan kepemimpinan Shumubu kepada Kiai Wahid Hasyim. Selanjutnya, Kiai Wahid berupaya mendirikan Kantor Jawatan Agama yang berlokasi di daerah-daerah (Shumuka) yang dipimpin oleh seorang Shumuka-cho.

Catatan Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU (2010) menjelaskan bahwa visi Kiai Wahid Hasyim membentuk Shumuka-cho tidak lain untuk memperkuat konsolidasi urusan-urusan agama di daerah bagi keperluan perjuangan bangsa Indonesia secara umum. Sebelumnya, Kiai Wahid memang melakukan diplomasi dengan Jepang untuk mendirikan Shumuka meskipun pada awalnya berdiri hanya di Jawa dan Madura.

Setelah potensi umat Islam terbina dengan baik melalui jalur Masyumi, Hizbullah, Shumubu, dan Shumuka, Kiai Wahid Hasyim kembali memusatkan perhatiannya pada janji kemerdekaan yang dipidatokan oleh Perdana Menteri Jepang Kunaiki Koiso pada 7 September 1944. Di sini terlihat kepiawaian Kiai Wahid Hasyim dalam menyikapi pembentukan Shumubu oleh Jepang.

Tujuan Jepang untuk menampung umat Islam ke dalam sebuah wadah dan menarik ulama ke struktur birokrasi agar mudah dikontrol justru dimanfaatkan oleh Kiai Wahid Hasyim untuk membentuk Kantor Jawatan Agama di berbagai daerah, tujuannya memperkuat konsolidasi dan transfer informasi. Transfer informasi ke sejumlah Shumuka terkait pergerakan Jepang ini penting untuk kemudian disampaikan ke masyarakat secara luas.

Sejarawan mencatat, pembentukan Shumubu menguntungkan bangsa Indonesia, baik di bidang sosial-keagamaan, pendidikan maupun politik. Administrasi Shumubu ternyata memberikan banyak manfaat bagi umat Islam pasca-kemerdekaan. Sebab itu, Shumubu lalu ditetapkan sebagai departemen independen pada 3 Januari 1943. Kemudian lembaga ini ditetapkan sebagai Departemen Agama yang lalu beralih nama menjadi Kementerian Agama dengan KH Wahid Hasyim sebagai Menteri Agama pertama. (Fathoni)
Jumat 15 Maret 2019 20:0 WIB
Pawai Akbar Harlah Ke-40 NU di Jakarta Diiringi Derai Air Mata
Pawai Akbar Harlah Ke-40 NU di Jakarta Diiringi Derai Air Mata
Apel dan pawai akbar NU tahun 1966
Untuk kali pertama, Nahdlatul Ulama menggelar peringatan Hari Lahir (harlah) di Istora Senayan, Jakarta, ibu kota Indonesia. Tepatnya pada harlah ke-40 oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 'menghijaukan' stadion yang kini dinamakan Gelora Bung Karno itu.

Sebagaimana terekam dalam buku (dokumen) Kenang-Kenangan Harlah 40 Tahun NU yang diterbitkan oleh Ansor pada 1966 mengungkapkan bahwa PBNU di bawah kepemimpinan KH Idham Chalid menggelar Pawai Akbar pada Senin 31 Januari 1966, sehari sesudah mengadakan Rapat Akbar pengurus NU di Istora Senayan.

Pawai Akbar tersebut membuat kagum penduduk ibu kota Jakarta. Tidak sedikit penonton di sepanjang jalan mengucurkan derai air mata karena terharu, bangga, dan rasa syukur. Ribuan Banser membawa bendera negara Merah Putih dan bendera gambar 'Djaga Bintang Sembilan'. Bendera-bendera itu melambai-lambai dengan megah perkasa di udara Jakarta yang waktu itu suhunya sudah lumayan panas.

Adapun ribuan Banser tersebut tercatat ada 40.000 pasukan datang dari Jawa Timur. Pawai itu juga diiringi oleh tarian Pasukan Berkuda dan puluhan unit drumband yang sudah mahir yang berasal dari seluruh Pulau Jawa terutama Jawa Timur.

Para pemain drumband dengan berpakaian yang manis menarik, tegap, tegak dan gagah perkasa. Pawai Akbar yang berlangsung sejak 09.00 pagi itu hingga 18.00 waktu maghrib belum juga selesai. 

Peringatan harlah NU ke-40 ini tidak hanya meriah, namun juga harmonis karena diikuti juga umat Nasrani lengkap dengan pastor-pastornya dan pelajar serta para juru rawatnya.

Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid, bersama Deputi III Men/Pangad Major Jenderal Basuki Rachmat, KH Achmad Syaichu, H Aminuddin Aziz, dan tokoh lainnya berdiri di atas panggung menerima penghormatan dari pawai juga sangat panjang itu, yang sopan, penuh ketertiban dan tidak putus-putusnya meneriakkan, 'Hidup Bung Karno, Hidup Pancasila, Allahu Akbar dan Shalawat Badar'.

Yang tidak kalah fenomenal yakni pidato ‘menggelegar’ dari Soekarno, Presiden Indonesia saat itu, yang berisi tentang ungkapan cintanya terhadap NU. Selain itu, Jenderal TNI Abdul Haris Nasution juga menyampaikan pidato bersejarah terutama mengenai ketegasan pemerintah soal pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kemudian resmi dibubarkan beberapa bulan setelah harlah NU ke-40, tepatnya pada 12 Maret 1966.(M Zidni Nafi’)
Senin 11 Maret 2019 12:30 WIB
Air Mata Kiai Subchi dalam Pelukan KH Wahid Hasyim
Air Mata Kiai Subchi dalam Pelukan KH Wahid Hasyim
KH Subchi Parakan
KH Subchi Parakan yang dikenal dengan julukan Kiai Bambu Runcing tidak pernah menyangka bakal didatangi oleh ribuan laskar santri, baik dari Hizbullah dan Sabilillah dan para pejuang lainnya secara bergelombang sebagai tempat untuk menyepuh bambu runcing lewat doa-doanya. Pertolongan yang diberikan Kiai Subchi lewat washilah doa yang ditiupkan ke bambu runcing memunculkan kekuatan batin dan spirit perjuangan yang membuncah.

Di tengah spirit pejuang dengan kesaktian bambu runcing yang sudah disepuh olehnya, Kiai Subchi menangis terisak melihat gelombang pejuang yang datang ke Parakan untuk menemuinya untuk menyuwuk bambu runcing. Bahkan, dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh para tokoh Parakan dengan KH Wahid Hasyim, pemuda-pemuda Hizbullah bekerja keras menjaga dan mengawal Kiai Subchi dari para pejuang yang terus mengikuti langkah kemana ia pergi.

KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (LKiS, 2013) mencatat bahwa dalam pertemuan tersebut, Kiai Subchi datang paling belakangan dengan dikawal Laskar Hizbullah. Kedatangan Kiai Subchi teramat susah payah karena harus memblokir orang-orang yang hendak kemana Kiai Subchi pergi.

“Endi Kiai Wahid (Mana Kiai Wahid)...?” serunya menanyakan kemana Kiai Wahid sambil menatapi beberapa muka para tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut.

“Puniko, kulo...,” Gus Wahid berdiri dan menyambut kiai yang sudah mencapai umur 90 tahun (pada 1945) itu sambil mengucapkan salam.

Mbah Subchi yang terdekap dalam pelukan Gus Wahid tidak bisa menahan rasa harunya. Kata-katanya dalam suara parau tidak bisa ditangkap dengan jelas karena berbarengan dengan isak tangisnya yang sendu.

“Saya tidak pernah mengumumkan bahwa saya bisa berdoa. Dan saya juga tidak pernah mengundang mereka,” kata Mbah Subchi dalam Bahasa Jawa Kromo sambil menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya. Mencoba untuk berbicara lebih jelas lagi, tapi tak kuasa. Mbah Subchi berusaha meraih ujung sarungnya untuk menyeka air matanya yang belum habis.

“Masyaa Allahu kaana idzaa lam yasya’ lam yakun, apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, tapi yang tidak dikehendaki oleh-Nya pasti tidak bakal terjadi, demikian guru-guru kita mengajarkan. Oleh karena itu, tak ada sikap Mbah selain ikhlas menerimanya dan bertawakal kepada-Nya,” Gus Wahid mencoba menghibur si Mbah dan menenteramkan hatinya. Semua yang hadir mengangguk-anggukkan kepala dalam sikap diliputi rasa haru.

Perjuangan keras mengusir penjajah dengan taruhan jiwa dan raga terus dilakukan oleh rakyat Indonesia terutama peran kiai dan para santri yang turut menguatkan sugesti spiritual untuk berjihad melawan penjajah sekaligus menguatkan jiwa nasionlisme sebagai pondasi membebaskan tanah air dari belenggu kolonialisme. Berbagai langkah dan strategi dilakukan walaupun dengan menggunakan senjata tradisional, bambu runcing.

Karakternya yang tegak, kuat, gagah, dan tajam tidak lantas membuat para pejuang berhenti berikhtiar untuk mengisi bambu runcing dengan kekuatan doa dari seorang ulama sepuh, Kiai Haji Subchi.

Ratusan bahkan ribuan tentara sabil, baik Hizbullah dan Sabilillah juga Tentara Keamanan Rakyat (TKR) selalu membanjiri rumah Kiai Subchi untuk menyepuh bambu runcingnya dengan doa. Bahkan untuk keperluan menyemayamkan kekuatan spiritual ini, Jenderal Soedirman dan anak buahnya juga berkunjung ke rumah kiai yang dijuluki sebagai Kiai Bambu Runcing tersebut. 

Doa yang diucapkan oleh Kiai Subchi untuk menyepuh ribuan bambu runcing adalah sebagai berikut (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010: 132):

Bismillahi
Ya hafidhu, Allahu Akbar
Dengan nama Allah 
Ya Tuhan Maha Pelindung
Allah Maha Besar

Kisah penyepuhan bambu runcing yang dilakukan oleh Kiai Subchi ini dijelaskan oleh KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya Guruku Orang-orang dari Pesantren (LKiS, 2001). Dalam salah satu buku memoar sejarah tersebut, dijelaskan bahwa hampir bersamaan ketika terjadi perlawanan dahsyat dari laskar santri dan rakyat Indonesia di Surabaya pada 10 November 1945, rakyat Semarang mengadakan perlawanan yang sama ketika tentara Sekutu juga mendarat di Ibukota Jawa Tengah itu.

Dari peperangan tersebut, lahirlah pertempuran di daerah Jatingaleh, Gombel, dan Ambarawa antara rakyat Indonesia melawan Sekutu (Inggris). Kabar pecahnya peperangan di sejumlah daerah tersebut juga tersiar ke daerah Parakan. Dengat niat jihad fi sabilillah untuk memperoleh kemerdekaan dan menghentikan ketidakperikemanusiaan penjajah, Laskar Hizbullah dan Sabilillah Parakan ikut bergabung bersama pasukan lain dari seluruh daerah Kedu. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG