Hoaks, Efek Negatif Tingginya Syahwat Politik

Hoaks, Efek Negatif Tingginya Syahwat Politik
Seminar KPU di Universitas Hasyim Asy'ari Jombang
Seminar KPU di Universitas Hasyim Asy'ari Jombang
Jombang, NU Online
Mudir Pondok Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur KH A Mustain Syafi’i mengatakan salah satu efek negatif dari syahwat politik yang tinggi adalah menghalalkan segara cara seperti menyebarkan kabar hoaks dan fitnah. Hal ini bisa dilihat di era saat ini khususnya di berbagai media sosial.

"Sekarang musim-musimnya informasi palsu atau hoaks dan lain-lain. Trik-trik apapun akan dijalankan demi sebuah syahwat dan kemenangan politik dan itu sudah mendunia sampai sekarang,” papar Kiai Mustain.

Dikatakannya, hoaks juga sudah dibahas didalam Al-Quran dan Hadits. Hoaks tersebut berhubungan langsung dengan masalah pribadi Nabi Muhammad di antaranya hoaks perselingkuhan istrinya, Aisyah dengan Shafwan. Kedua adalah masalah politik yang kemudian disangkutkan dengan isu agama dengan turunnya surah an-Najm.

Suatu hari Nabi Muhammad membaca surat An-Najm. Banyak orang kafir yang terharu-haru, tertegun, terpaku, dan terpana. Diakhir surah ada perintah sujud, maka nabi sujud dan diikuti orang kafir tapi bukan sujud keimanan.

Pada saat orang-orang kafir ikut sujud bersama nabi lalu diabadikan oleh 'wartawan-wartawan' Quraisy. Dan disampaikan kepada rombongan Utsman bahwa orang kafir sudah masuk Islam bersama nabi. Maka tidak perlu mencari dukungan di negara lain dan kemudian pulang lah rombangan tersebut. Dan ternyata kabar itu tidak benar.

“Sebagai seorang muslim kita ini perlu meminimalisir bahwa menahan berita yang tidak benar itu menjadi kewajiban kita. Tetapi dalam dunia politik kadang orang itu meng-hoaks-kan yang tidak hoaks. Membuat sendiri hoaks lalu membagikan,” paparnya.

Ia menceritakan salah satu hoaks terbesar yaitu saat Amerika menghabisi dan menyerang di Irak. Sebelum menyerang, mereka membuat isu di dunia dengan memberitakan bahwa terdapat bom kimia yang harus diberantas di Irak. Namun setelah Irak hancur isu itu pun tetap tak jelas.

“Kita harus benar-benar tabayyun berhati-hati. Kita sebagai umat muslim jangan sampai karena syahwat politik yang membabi buta akan merusak keimanan kita sendiri,” katanya dalam seminar nasional yang diadakan oleh mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES) Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, Rabu (20/3).

Kiai Musta'in juga mengingatkan, taruhan orang yang memegang amanah adalah keimanan. Bisa jadi keimanan itu bisa tereduksi disebabkan terlalu ambisinya di dalam kepemimpinan.

Menurut Kiai Musta'in, menjadi pemimpin itu seperti anak bayi yang menyusu kepada ibunya. Kalau syahwat politik seseorang tinggi, maka akan seperti anak kecil yang tidak mau disapih. Ia akan terus melakukan segala upaya, tidak peduli keadaan seperti apa, layak atau tidak, mampu apa tidak dalam memimpin.

“Di dalam dunia politik itu kalau orang sudah mempunyai syahwat politik tinggi maka hilang akal sehatnya. Lihat, siapa pun kalau syahwat politiknya tinggi sudah tidak akan memikirkan amanah yang akan dipikul. Maka oleh Imam asy-sya’rawi dianggap orang yang memburu seperti itu seperti orang yang kecanduan khamr,” bebernya. (Syarif Abdurrahman/Muhammad Faizin)
BNI Mobile