IMG-LOGO
Wawancara

Rais Aam NU Perlu Penyegaran di Abad Kedua

Kamis 21 Maret 2019 6:46 WIB
Bagikan:
Rais Aam NU Perlu Penyegaran di Abad Kedua
Memperingati 96 tahun kelahiran jam'iyyah Nahdlatul Ulama dalam perhitungan tahun hijriyah, sebanyak 50 ribu nahdliyin (sebutan untuk warga NU) akan "menghijaukan" Kota Semarang, pada Minggu (24/3/2019). Tanggal tersebut tepat 16 Rajab 1440 H, sesuai kelahiran NU tanggal 16 Rajab 1344 H.
 
Ketua Panitia Harlah Ke-96 PCNU Kota Semarang H Ali Mas'adi menerangkan, kegiatan yang dimaksud adalah Jalan Sehat dengan nuansa budaya Semarangan. Yaitu diisi Senam Denok dan musik Gambang khas Semarang.
 
"Warga NU Kota Semarang akan menghijauhkan kotanya dengan Jalan Sehat dalam rangka Harlah ke-96 NU," ujarnya usai Rapat Cheking Akhir Panitia Harlah ke-96 NU di Gedung PCNU Kota Semarang, Jl. Puspogiwang I/47 Semarang Barat, Kamis, (21/3/2019).
 
Dijelaskan Ali, Jalan Sehat yang dimulai jam 06.10 akan melewati rute depan Balaikota Semarang, ke Tugu Muda, lalu ke jalan  Pandanaran, lanjut menuju jalan Thamrin, kemudian finish di Jalan Pemuda.
 
*Tausiyah Ketum PBNU*
 
Setelah finish, para peserta Jalan Sehat akan mendengarkan taushiyah dari Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj.
 
"Ketum PBNU sudah memastikan hadir memberi tausiyah. Beliau akan memberi wejangan banyak hal tentang NU dan negara. Rugi kalau tidak hadir. Ayo, ikuti acara ini. Wartawan silakan wawancara dengan Kiai Said usai tausiyah," tutur Kiai asal Genuk, Semarang ini.
 
Dia tambahkan, Walikota Semarang Hendrar Prihadi, Wakil Walikota Hevearita Gunaryati Rahayu, Ketua DPRD Supriyadi, dan jajaran eksekutif maupun legislatif akan hadir mendengarkan tausiyah tersebut.
 
Ali Mas'adi meminta warga NU hadir sebelum fajar karena kegiatan dimulai dengan jamaah Subuh di Masjid Al-Khusuf kompleks Balaikota Semarang. Dilanjutkan Tahlilan dan Istighosah.
 
Kemudian, lanjut dia, sekira jam 06.00 olahraga bersama Senam Denok selama lima sampai 10 menit di halaman Balaikota, diiringi musik Gambang Semarang.
 
Selain itu, ada penampilan grup Balasik Gerakan Pemuda Ansor Ranting Wonosari Ngalian dan grup Angklung Banser Temanggung. Ada pula Drum Band dari unit madrasah atau sekolah. Kostum para peserta Jalan Sehat akan beranega ragam. Diantaranya rombongan pemakai sarung, pemakai caping, dan pemakai teklek atau bakiak (sandal berbahan kayu).
 
"Akan banyak yang unik-unik seperti karnaval Agustus. Kami dorong adu kreativitas antar rombongan peserta. Hadiah utamanya Umroh lho," tutur Ali penuh semangat.
 
Sementara itu, Ketua PCNU Kota Semarang H Anasom menambahkan, seluruh warga NU yang hendak mengikuti acara tersebut harus mengingat rambu-rambu. Yaitu, dilarang memakai atribut politik, dilarang membuang sampah sembarangan, dan dilarang membawa bendera selain Merah Putih dan bendera NU atau badan otonomnya.
 
"Kami ingatkan, jangan ada yang membawa atribut politik apapun. Jaga kebersihan, jangan buang sampah sembarangan. Dan jangan ada bendera selain Merah Putih dan NU atau Banomnya," pesan dia. (Ichwan)

Bagikan:
Jumat 1 Maret 2019 8:0 WIB
KH Munawir Kembangkan Pesantren Citangkolo yang Dirintis 1911
KH Munawir Kembangkan Pesantren Citangkolo yang Dirintis 1911
Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat dalam beberapa hari terakhir ini menjadi bahan pemberitaan di media lokal maupun nasional. Sebab belasan ribu orang dari berbagai provinsi di Indonesia hadir ke pesantren itu, termasuk Presiden Joko Widodo dan sejumlah menterinya dan Gubernur Jawa Barat pada pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Kemudian Wakil Presiden juga akan hadir pada penutupan kegiatan tersebut.

Beragam sisi dikupas terkait pesantren tersebut, mulai sejarah, jumlah santri, tradisi, profil kiai dan santrinya. NU Online juga tak mau ketinggalan mengungkap secara khusus pesantren tersebut melalui wawancara Abdullah Alawi. 
Berikut petikannya: 
 

Kiai, bisa cerita perjalanan pesantren Miftahul Huda Al-Azhar sejak dirintis hingga sekarang?   

Sejarah singkat pesantern ini dirintis tahun 1911 oleh kakek saya, KH Marzuqi. Lanjut diteruskan oileh bapak saya, KH Abdurrohim. Sekarang dilanjutkan oleh saya, Munawir Abdurohim. Sekarang generasi yang ketiga. Jumlah santri yang di asrama atau di kobong ada 3.300. Semuanya yang berada dui naungan lembaga pendidikan pesantren ini ada 7000. Semuanya adalah Nahdliyin dan Nahdliyat. 

Lembaga pendidikannya apa saja? 

Lembaga pendidikan mulai dari PAUD, TK, MI, SMP, MTs, SMA, SMK, dan perguruan tinggi, dengan prodi tarbiyah, ahwalus syahsiyah syariah, ekonomi Islam dan pendidikan guru. 

Bagaimana cara mengembangkan pesantren hingga seperti sekarang? 

Caranya mengembangkan pesantren, pertama, pesantren harus tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Kedua, pesantren harus didukung oleh masyarakat karena tumbuh di masyarakat, yang ketiga, pesantren harus bisa mempersatukan antara budaya lokal dengan budaya agamis. Harus bisa disatukan. Keempat, pondok pesantern harus punya tiga pilar pokok. Pilar pertama adalah shalat berjamaah. Kedua, harus membaca Al-Qur’an. Kalau di sini, setiap minggu harus khatam Al-Qur’an. Setiap hari, satu juz tiap santrinya. Sehari harus satu juz. Ketiga, adalah sregep ngaji, sregep (rajin, red.) sekolah dan sregep ngaji. 

Bagaimana pesantren menyiasati zaman yang terus berubah ini supaya terus ada dan bahkan berkembang?

Jadi, kita lihat seperti apa yang diusung NU, al muhafadhatu ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik, red.) jadi, pesantren mempertahankan budaya lokal yang ada dan mengambil yang lebih baik dari yang baru seperti di sini, kita ada SMA jurusan Komputer. 

Saya kira pesantrennya kalau tiga pilar tadi dilaksanakan, tidak akan tergerus. Yang pertama, shalat berjamaah itu akan memberikan contoh uswah hasanah kepada santri-santrinya. Yang kedua, rajin baca Al-Qur’an dan tentunya dengan tafsirnya. Yang ketiga, ngaji dan sekolah. Ngaji itu kitab kuning. Kalau tiga hal ini dilaksanakan tidak akan terpengaruh apa-apa karena santri dengan doktrin kiainya tidak akan tergoyahkan oleh siapa pun. Santri manut kepada kiainya, insyaallah disuruh apa saja sudah sam’an wa thaatan. Jadi, saya tidak khawatir bahwa pesantren akan tergerus dengan datangnya modernisasi dan segala macam. 

Bisa ceritakan riwayat kiai mencari imu? 

Saya lahir 1953. Saya nyantri pertama di Cirebon, Babakan Ciwaringin, ke Mranggen Demak, lanjut ke Lirboyo, tabarukan, lalu k pesantren Bandung, Al-Jawami, lalu ke Mesir 1980-1987. Saya merantau 17 tahun dari 1970 sampai 1987. Anak saya delapan, dua sudah berkeluarga, yang lain masih belajar.

Bagaimana cara mengkader anak yang disiapkan untuk menjad penerus pesantren? 

Cara mengkader anak sangat mudah dengan uswatun hasanah (teladan yang baik, red.). 

Apa ungkapan kiai untuk para kiai peserta Munas dan Konbes NU yang kini tiba di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo ini?

Kami keluarga besar pondok pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo Kota Banjar, beserta seluruh masyarakat Kota Banjar, Nahdliyin Nahdliyat dan kanan kirinya, sekelilingnya mengucapkan selamat datang dan sukses atas kegiatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama dari tanggal 27 Februari sampai dengan 1 Maret, semoga barokah manfaat fid dini, wa dunya wal akhirah. Wasaalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Apa harapan Munas dan Konbes ini apa, Kiai? 

Harapannya, satu bahwa umat Islam seluruhnya adalah senantiasa kepada alim ulama, yang kedua, seluruh nahdliyin nahdliyat, senantiasa menyatu dan bersatu dengan nmahsdlatul ulama mendukunag apa yang menjadi keputusan Munas ini. Ketiga sesuai dengan tema munas dan konbes kali ini, meningkatkan khidmah wathoniyah untuk kedaulatan rakyat. 

Jumat 1 Maret 2019 7:0 WIB
Ngaji Pengelolaan Sampah
Ngaji Pengelolaan Sampah
Salah satu yang kegiatan produktif yang mengiringi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nadhlatul Ulama 2019 ialah ngaji pengelolaan sampah oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan iklim Nadhlatul Ulama (LPBINU).

LPBINU yang saat ini dipimpin M. Ali Yusuf memang telah melakukan pengelolaan sampah hingga ke berbagai daerah. Bahkan, lembaga yang berhasil didirikan, Bank Sampah Nusantara mampu mengubah sampah menjadi berkah.

Berkah tersebut ialah kerajinan berbahan sampah yang mempunyai nilai jual tinggi. Perhatian sampah yang dilakukan NU membawa persoalan krusial ini dalam salah satu pembahasan penting di Munas dan Konbes yang berlangsung di Pesantren Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, bahaya sampah plastik hingga hukum membuang sampah sembarangan.

Pengelolaan sampah yang terbilang sudah mapan langsung dipraktikkan pada arena Munas NU yang berlangsung pada 27 Februari-1 Maret 2019 itu. LPBINU menerjunkan Tim Bebas Sampah yang menyemut di Munas NU.

Atas jasa pasukan semut tersebut, perhalatan yang mengangkat tema besar Memperkuat Ukhuwah Wathoniyah untuk Kedaulatan Rakyat tersebut bebas dari sampah. Tim ini terdiri dari santri, pelajar, dan relawan.

Jurnalis NU Online, Fathoni Ahmad berkesempatan berbincang dengan salah seorang relawan bernama Bara Sadera, Selasa (27/2) di tengah dirinya mengkoordinasi para tim bebas sampah:

Bagaimana awalnya Tim Bebas Sampah ini terbentuk?

Dalam setiap perhelatan besar, sudah pasti sampah akan menumpuk, bahkan volumenya sangat besar. Untuk menjaga agar lingkungan kegiatan tetap bersih, kami menerjunkan pasukan semut ini.

Tim bebas sampah ini disebar di berapa lokasi?

Di lokasi-lokasi krusial dan strategis seperti lingkungan pesantren secara umum, lokasi pembukaan, lokasi NU Expo, Bazar, pasar rakyat, dan lain-lain. Agar memahami tugas dengan baik, mereka kami briefing terlebih dahulu.

Seperti apa tugas mereka di lapangan?

Mereka kami bagi menjadi beberapa divisi berdasarkan jenis sampah. Ada kelompok yang khusus mengumpukan sampah plastik, kertas, kardus, sampah elektronik, aqua gelas, dan botol aqua.

Tujuan kami agar sampah-sampah tersebut secara otomatis terkelola dengan baik. Makanya sedari awal kita sortir.

Bagaimana koordinasi di lapangan?

Koordinator dan relawan tetap mendampingi tim bebas sampah. Memberikan arahan bagi mereka saat berada di lapangan.

Walau bagaimana pun, kesigapan dalam mengambil sampah diperlukan untuk menghindari penumpukan sehingga akan memudahkan mereka sendiri dalam menggarap kebersihan lokasi Munas. (*)
Jumat 1 Maret 2019 2:0 WIB
LPBINU: Sampah Plastik dan Penanganannya Terkait Pola Pikir
LPBINU: Sampah Plastik dan Penanganannya Terkait Pola Pikir
Direktur Bank Sampah Nusantara Fitri Aryani
Para kiai merasa berkepentingan dalam penanganan sampah di Indonesia, khususnya sampah plastik, sebab kondisinya sudah pada tahap darurat. Indonesia saat ini dianggap sebagai negara yang bertanggung jawab mengotori laut peringkat kedua setelah China. 

Para kiai sebagai bagian dari elemen masyarakat tersebut, memberikan solusi dengan caranya sendiri. Pada Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, mereka memutuskan bahwa membuang sampah plastik sembarangan itu hukumnya haram. 

Lalu, bagaimana sebetulnya kondisi sampah di Indonesia? Bagaimana pula penanganannya saat ini? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Direktur Bank Sampah Nusantara dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Fitri Aryani. 

Berikut petikannya:

Kondisi sampah plastik di Indonesia dan dunia ini sudah pada taraf apa? 

Kondisi sampah plastik di Indonesia dan dunia sebenarnya sudah pada tahap krisis ya, apalagi misalnya ada fakta sekarang itu China overload. Jadi yang kita selama ini mengekspor sampah plastik, Indonesia, bahkan Australia mengekspor sampah-sampah plastik mereka ke China, untuk dijadikan bahan baku oleh China, itu udah overload. Jadi China itu menghentikan impor sampah dari negara lain. Nah, ini yang membuat banyak negara itu merasa perlu mengelola sampahnya sendiri. Australia sudah melakukan begitu juga dengan di Indonesia. Indonesia menempati urutan kedua sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia ke laut yang ini belum dibantah oleh siapa pun, belum ada kajian yang membantah bahwa Indonesia itu diberikan predikat negara penyumbang sampah plastik kedua terbesar di dunia. 

Nah, ini sebenarnya yang harus dilakukan upaya-upaya pengelolaan mulai dari rumah sendiri. Sudah tidak bisa lagi mengandalkan ke pemerintah. 

Bagaimana caranya? 

Jadi, begini ketika terjadi overload juga di TPS (Tempat Pembuangan Sampah) dan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sementara penanganan di TPS dan TPA itu masih belum signifikan. Pemilihan sampah ada di rumah-rumah, cukup efektif penanggulangan sampah. Artinya, kita kasih contoh ya, kalau rumah-rumah tangga itu sudah mulai mempunyai tempat sampah terpilah mulai dari sampah organik, nonorganik dan BBB akan terjadi penurunan yang sangat dahsyat. Yang, pertama, sampah nonorganiknya kemudian dijual ke pengepul atau dijual ke bank sampah. Kemudian sampah organiknya dikelola sendiri melalui entah lubang biopori, kompos, dan kemudian hasilnya jadi kompos, bisa bermanfaat buat penghijauan di rumah sendiri. Baru yang B3, karena masyarakat itu tidak bisa menanganinya, dibuang ke TPA dan TPS. 

Jadi nanti akhirnya akan ada sampah untuk penanganan khusus di TPA dan TPS. B3 itu sampah-sampah yang berbebahaya. Contoh ya, ada sampah batrei, ada kabel, kemudian sampah-sampah elektronik, pembalut perempuan, pampers. 

Sampah demikian susah ya? Kenapa?

Susah. Hari ini kita masih berkutat pada masalah pampers dan pembalut perempuan. Kadar gel plastiknya itu tinggi, walaupun sebenarnya dibalut kertas ya, tapi komposisi kertasnya lebih sedikit dibanding sama gelnya itu. Nah, gelnya itu yang sebenarnya jadi limbahnya itu. Dari pihak KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) juga belum bisa memberikan solusi terkait menangani sampah diapers dan pembalut. 

Di pesantren itu menjadi masalah besar. Di pesantren yang memiliki santri putri dia akan memiliki timbunan sampah pembalut yang tidak sedikit. Nah, ini yang sampai sekarang kami sulit mencari solusi bagaimana penanganannya karena memang tidak bisa teruarai. Sampah diapers dan pembalut itu tidak bisa terurai. 

Rumah tangga itu diapersnya banyak. Jadi, kalau misalnya sampah organik dan nonorganik sudah dipisah, tinggal sampah diapersnya, sebenarnya tugas pemerintah agak ringan. Pemerintah hanya harus memikirkan bagaimana caranya membuat suatu teknologi yang bisa menuntaskan sampah diapers dan sampah pembalut.  

Kenapa pampers dan pembalut tidak masuk anorganik? 

Kandungan kertasnya sedikit, kandungan plastiknya lebih banya. Artinya apa? Ada satu gel, jadi gini, kandungan gel yang bisa menahan kenapa pampers itu tidak gampang bocor. Pembalut tidak gampang bocor. Kemudian dibalut sama kertas. Kertasnya bisa hancur. Tapi gelnya yang untuk menahan bocoran-bocorannya itu tidak bisa hancur, tidak bisa terurai. Nah, ini ketika dibuang sungai, itu kan akan menimbulkan timbunan yang sangat besar,  sungai akan dangkal, sumbatan, sumbatan. Kalau dibakar, berbahaya. 

Bahayanya bagaimana? 

Plastik, mengandung plastik. Kalau dibakar itu udaranya mengandung racun. Sama ketika membakar plastik-plastik lainnya itu. 

Efeknya apa? 

Kalau plastik dibakar, efeknya kemana-mana. Satu, CO2 terlepas, sama dengan gas-gas motor sama dengan kita membakar plastik. Dampaknya, sekarang mulai ada penelitian, salah satunya penyebab kanker itu polusi udara dari sampah plastik. Kalau dibakar itu plastik baunya sangit kan. Itu sebenarnya pelepasan CO2 ke udara. Belum lagi penyakit misalnya kelainan pada anak, cacat pada anak; hari ini banyak perempuan hamil, kemudian kandungannya bermasal. Jadi, bukan hanya gaya hidup, junk food, racun sampah plastik itu bisa menyebabkan seperti itu. Kalau kita membakar sampah plastik itu kan betapa ngerinya , orang tua, ketika menabun sampah, mereka mengurek-urek itu, dan udaranya itu terisap langsung. Efeknya bukan langsung, tapi jangka panjang.

Kalau itu ke laut tidak bisa dicerna ikan. Kalaupun dicerna mikroplastiknya itu, dimakan manusia, itu juga berbahaya buat kesehatan tubuh. TPA dan TPS itu makan hewan-hewan kurban. Mereka makan sampah plastik. Dampaknya ya ke kita juga yang makan kambing dan sapi. Jadi, masalah sampah plastik itu tidak hanya mengotori lingkungan, tapi dampaknya panjang banget.  Mata rantainya panjang. Efeknya sama menimbulkan penyakit. Belum lagi isu terkait isu lingkungan. Artinya, banyak hal yang ditimbulkan sampah plastik.

Sampah itu kan organik dan anorganik. Plastik itu anorganik. Organik itu kan cepat busuk, mudah terurai. Sampah anorganik terbagi dua. Satu, sampah organik yang bisa terurai dan sampah anorganik yang tidak bisa terurai. Plastik itu sampah anorganik yang tak bisa terurai, tapi kayak buku, kertas, koran, kalau kita biarkan bisa terurai karena terbuat dari pohon. Itu anorganik juga. 

Sekarang itu kalau lihat di tong-tong pemisahan sampah itu bahasanya recyclables dan recyclables bisa didaur ulang dan tidak bisa didaur ulang. Nah, ini yang sebenarnya ada penanganan khusus, kalau yang yang dilakukan LPBI, tidak bisa mendaur ulang plastik, walupun ada alatnya, ada plastik kresek dijadikan aspal, ada plastik kresek dijadikan bahan minyak bumi dan sebagainya. 

LPBINU sudah melakukannya? 

Sebenarnya ada. Cuma harus dites. LAZISNU pernah ada mesinnya itu. Jadi, sampah plastik kresek yang khusus warna hitam waktu itu, bisa jadi bahan bakarnya perahu nelayan. Nah, ini yang harus diuji coba betul. Ini  LAZSINU dan LPBINU akan kerja sama dalam hal itu untuk diuji coba karena kalau kita menawarkan sesuatu, ini kan cukup menarik kalau misalnya udah kita tes, kandungannya hasil pembakaran sampah plastik kresek itu memang benar-benar setara dengan bahan bakar untuk perahu nelayan. Kalau itu memang bisa, sangat efektif mengurangi sampah plastik, kresek yang hitam itu. 

Bagaimana kalau pemerintah melarang memproduksi dan menggunakan plastik? 

Kalau pemerintah melarang kita-kita ini menggunakan sampah plastik, pemerintah dan perusahaan harus mencari solusi apa penggantinya karena soal pemakaian plastik itu soal mindset. Jadi, apa-apa kita kan dari bangun sampai tidur ketemunya dengan produk plastik. Nah, ini yang sebenarnya yang harus bisa dicarikan solusinya oleh pemerintah. Kalau masyarakat tiba-tiba secara ekstrem harus menghentikan plastik tanpa, diberikan solusi penggantinya plastik, nah, itu yang sebenarnya agak-agak riskan. Makanya pengelolaan dan penanganan plastik itu agak susah. Paling apa ya, sampah plastik yang bisa kurangi itu adalah botol minuman air kemasan. Tidak memakai styrofoam caranya dengan membawa wadah makan, tidak membawa tas kresek, tapai pakai gudibek. Tapi shamponya, kita, sabunnya kita, itu bagaimana cara penggantinya. Belum ada. Jadi pengurannya cuma pengurangan-pengurangan tiga hal itu, sama sedotan. Tapi selebihnya, sampah saset itu belum ada solusinya. Mau diapain coba. Nah, itu yang sebenarnya harus ada kebijakan membawa kembali limbah sampah dari masing-masing perusahaan. Jadi mereka harus membeli kembali. 

Contoh Danone sudah melakukan. Danone itu membeli kembali botol-botol air minum kemasannya. Jadi, kalau kita ngumpulin botol-botol air minum kemasannya Danone, dijual lagi ke Danone, mereka akan beli. Ini yang seharusnya dilakukan oleh banyak perusahaan. 

Oleh mereka digunakan lagi untuk produk serupa? 

Jadi, ada jenis botol yang namanya PET. Jadi, ada PET yang bisa di daur ulang sekali. Ada yang bisa satu kali. Sebenarnya kalau kita lihat di bawah botol itu, dua kalikah atau satu kalikah. Jadi, kalau udah begitu akan bisa kelihatan bahwa ada botol yang bisa didaur ulang menjadi sendok plastik. Bahkan, Budha Suci itu bikin kaos dari lima botol plastik. Itu teknologi sangat mahal. Tapi cukup efektif. 

Tidak berbahaya itu?

Enggak karena telah melakukan sterilisasi. Jadi plastik itu tidak berbahaya ketika dipakai bukan dikonsumsi. Mainan-mainan plastik contohnya. China itu kan kenapa dia impor sampah plastik karena dia butuh untuk membuat produk berbahan plastik, contoh mainan. China menguasai pasar mainan. Sekarang overload, artinya udah banyak negara yang ngirim ke dia semua. Di menerima sampah Australia, kembali ke Australia dalam bentuk suvenir-suvenir Australia. Itu pun sudah overload. Ke Indonesia ngirim banyak juga kan, ember made ini China. 

Plastik itu terbuat dari bahan apa sehingga tidak bisa terurai? 

Dari minyak bumi. Coba dicek. Itu salah satu penyebab platik harus dihilangkan karena nyedot dari sumber daya alam kita, minyak bumi. Kresek-kresek itu dari minyak bumi lho. Kebayang enggak minyak bumi, kemudian dibakar itu kan seperti kita menghirup bensin. Bahaya kan. Tapi ini plastik, kresek di tukang gorengan itu kan, gorengan panas-panas, dimasukan ke plastik hitam, menguap kan? Bahayalah. 

Dampaknya plastik itu tidak langsung, masyarakat masih berpikiran, enggak apa-apa. Kedua, karena memang belum menemukan produk sejenis. Kalaupun kita bilang bahaya, ada produk sejenis, tapi harganya mahal. Kantong dari singkong itu mahal harganya. Jadi, kantong plastik dari singkong itu, kalau dicelupin ke air, lama-lama terurai sendiri. kantong plastik organik namanya. Cuma harganya mahal. LPBI pernah pesan, untuk pembelian 10 ribu saja, harga satuannya seribu, kebayang enggak tukang gorengan menggunakan plastik model begitu, enggak balik modal. 

Lalu bagaimana menangani sampah plastik dan negara yang bisa diambil contoh dalam penanganannya? 

Di Australia itu kelebihannya mereka adalah masalah mindset, sudah bisa dibilang masyarakatnya memilih dan bahayanya. Pemerintah Australia hanya menyediakan tong sampah terpilah di masing-masing rumah. Kemudian di jalan raya ada tong sampah terpilah. Kemudian dibuat jadwal, sampah plastik diambil hari ini, sampah organik diambil hari ini, sampah elektronik diambil hari ini. di hari yang ditentukan di jam yang telah ditentukan tong sampah warna apa yang mereka keluarkan di trotoar rumah mereka. Kalau misalnya sampah mereka tidak terpilah, sampahnya tidak diangkut. Sama pemerintahnya tidak diangkut, sanksinya masyarakat mengurusi sendiri. Enggak ada sanksi buang sampah sembarangan didenda 500 ribu. Di sana tidak ada denda-denda sampah, hanya kalau sampah kalian tidak terpilah, besoknya tidak diangkut. Bagi mereka itu sanksi yang sangat besar. Mereka mau membuang kemana? Membuang ke sungai, peraturannya ketat. Sungai itu dipasangi jaring di mereka itu. Ini sedang dilakukan dinas LH Kepulauan Seribu.  

Pola pikir dan mindsetnya harus berubah. Dalam penanganan sampah di Australia sama dengan Jepang dalam hal gempa. Jadi, kampanye sampah mereka lakukan kepada anak-anak sejak di bangku sekolah. Jadi, ketika besar itu tidak seperti kita harus ada sosialisasi dan kampanye. Masuk di kurikulum sekolah. Menjaga kebersihan, memilah sampah itu selesai di sekolah. Di kita juga sebenarnya ada terkait menjaga lingkungan, tapi tidak aplicable itu bedanya. Anak-anak tidak mengaplikasinya di rumah. Sama kayak jepang. Anak-anaknya kalau ada gempa sudah tidak perlu diteriakin lagi.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG