IMG-LOGO
Nasional

RMINU Pertanyakan Klaim PKS tentang Pengusul Hari Santri

Jumat 22 Maret 2019 7:0 WIB
Bagikan:
RMINU Pertanyakan Klaim PKS tentang Pengusul Hari Santri
Ilustrasi (Ist.)
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Ghoffar Rozien menanggapi pernyataan Partai Keadilan Sejahtera yang dimuat pada akun Facebook resminya, yang tiba-tiba menyatakan bahwa pengusul Hari Santri 22 Oktober adalah Hidayat Nur Wahid yang juga Wakil Ketua Majelis Syuro partai tersebut.

"Mari kita tengok ke belakang. Pengusul Hari Santri 22 Oktober adalah Dr. Hidayat Nur Wahid. Wakil Ketua MPR yang juga Wakil Ketua Majelis Syuro PKS. Sebelumnya Presiden Jokowi mengusulkan Hari Santri pada tanggal 1 Muharram. Lalu Dr Hidayat Nur Wahid mengusulkan Hari Santri dirayakan pada tanggal 22 Oktober, " tulis PKS, Kamis (21/3).

Pernyataan tersebut menurut Gus Rozien sangat patut dipertanyakan dan klaim yang tidak berdasar. Ia pun menegaskan tidak pernah mendengar dan melihat keterlibatan Hidayat Nur Wahid dalam proses pengusulan hari santri tersebut.

Gus Rozien masih ingat saat pertemuan bersejarah pada hari Rabu, 22 April 2015 di Hotel Salak, Bogor, Jawa Barat yang membahas agenda pembahasan kapan pastinya Hari Santri ditetapkan.

Pada waktu itu menurutnya perwakilan ormas Islam yang hadir di antaranya Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Umum Muhammadiyah Abdul Mu’ti, perwakilan Al Irsyad, DDI, Persis, dan juga sejarawan dan pakar Islam, seperti Azyumardi Azra.

Setelah berdiskusi panjang sampailah pembahasan tanggal 22 Oktober diusulkan menjadi Hari Santri. Pada tahap ini, menurutnya masih ada yang tidak setuju Hari Santri jatuh pada 22 Oktober walaupun pada akhirnya mayoritas yang hadir dalam pertemuan tersebut menyepakati Hari Santri ditetapkan pada 22 Oktober.

"Sejauh saya ingat tidak ada PKS dan atau wakilnya dalam pertemuan 3 hari tersebut," tegasnya, Kamis (21/3).

Apalagi khalayak ramai sudah tahu bahwa petinggi PKS, Fahri Hamzah tidak setuju dengan adanya hari santri. Sampai-sampai Fahri lewat akun Twitter-nya @fahrihamzah, Kamis (27/6/2014), menulis "Jokowi janji 1 Muharam hari santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!".

Gus Rozien melanjutkan bahwa 13 ormas yang hadir saat pertemuan tersebut 12 ormas menandatangani usulan Hari Santri tanggal 22 Oktober. Ada satu ormas yang tidak menandatangi kesepakatan itu adalah Muhammadiyah.

Pertemuan yang dilaksanakan tiga hari itu, merupakan perintah langsung Presiden Joko Widodo kepada Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Syaifuddin.

Sebelumnya, pemerintah mengusulkan Hari Santri diperingati pada 1 Muharram atau Tahun Baru Islam. Usulan tersebut tidak disetujui Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Akhirnya, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, Presiden Jokowi menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri. (Muhammad Faizin)
Tags:
Bagikan:
Jumat 22 Maret 2019 22:0 WIB
Wapres JK Buka Festival Bakat 2019 di Kemayoran
Wapres JK Buka Festival Bakat 2019 di Kemayoran
Jakarta, NU Online
Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka kegiatan Talent Fest dan Bursa Kerja Nasional Tahun 2019 di JIExpo Kemayoran Jakarta, Jumat (22/3). Talent Fest yang juga dirangkai dengan Bursa Kerja Nasional (Job Fair) ini merupakan kegiatan yang digagas oleh Kementerian Ketenagakerjaan dan berlangsung selama 2 hari pada Jumat-Sabtu (22-23) Maret 2019.

Menurut Wapres Jusuf Kalla, kegiatan yang mempertemukan antara pemberi kerja dan pencari kerja ini sangat penting. Karena selain bursa kerja, juga dilakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kolaborasi antar perusahaan pemberi kerja, maupun antara pemberi kerja dengan pencari kerja.

"Oleh karenanya upaya kita semua untuk membuka lapangan kerja harus dibarengi dengan dilaksanakan pembangunan investasi dan juga peningkatan mutu dari karyawan kita, masyarakat kita, melalui pendidikan dan pelatihan," kata Wapres JK.

Wapres JK melanjutkan, perkembangan industri di era revolusi industri 4.0 memberikan dampak perubahan pada model bisnis dan industri. Untuk itu, penguasaan dan penerapan teknologi harus dilakukan sebaik mungkin, baik oleh perusahaan pemberi kerja maupun para pencari kerja.

Oleh karena itu, kegiatan Talent Fest yang digagas Kemnaker tersebut dinilainya tidak hanya mampu mempertemukan pemberi kerja dan pencari kerja saja. Lebih dari itu, masing-masing pihak dapat melakukan kolaborasi untuk mencapai revolusi enterpreneur.

"Jadi sekarang tidak perlu usaha besar karena ada sharing economy, jadi apa yang dikatakan Talent Fest atau Job Fair bukan hanya mencari kerja tapi juga hubungan kerja," jelas Wapres JK.

Dalam laporannya, Menteri Ketenagakerjaan,  M. Hanif Dhakiri menyatakan Program Talent Fest dan Bursa Kerja Nasional ini merupakan kolaborasi dari Pameran Kesempatan Kerja (Job Fair) Nasional, Pemberian Penghargaan Kepada 10 Perusahaan Terbaik yang Mempekerjakan Disabilitas, Penandatanganan Perjanjian Kerjasama dengan Tenaga Kerja Mandiri, serta Forum Talent Talk.

"Dalam rangka menjalankan instruksi Bapak Presiden RI untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dalam mengurangi angka pengangguran di tanah air sesuai dengan perkembangan revolusi industri 4.0, maka Talent Fest dan Bursa Kerja Nasional dilaksanakan dengan terobosan baru yang bekerjasama dengan platform start up karya anak bangsa," kata Hanif dalam laporannya.

Hanif menambahkan, Talent Fest dan Bursa Kerja Nasional ini diikuti 200 stan. Mencakup perusahaan dari berbagai sektor, perusahaan start up, dan Pameran Hasil Karya Usaha Mandiri. Talent Fest ini menyediakan lebih dari 18.000 lowongan kerja.

"Kami menargetkan selama dua hari ini, akan mampu menghadirkan 15.000 pencari kerja untuk datang mencoba memenuhi kebutuhan lowongan kerja yang ditawarkan," ujarnya.

Selain itu, sebagai bentuk respon terhadap revolusi industri 4.0, Talent Fest ini juga ditujukan untuk mewadahi kolaborasi antara forum start up di Indonesia serts jejaring pekerjaan di berbagai bidang.

"Kami ingin mempersiapkan lapangan kerja dan tenaga kerja yang handal dalam menyongsong revolusi industri 4.0. Kita harus buktikan Indonesia siap menghadapi revolusi 4.0," jelas Hanif. (Red: Kendi Setiawan)

Jumat 22 Maret 2019 21:30 WIB
NU PEDULI SENTANI
Wabup Jayapura Apresiasi Kinerja Tim NU Peduli di Lokasi Bencana
Wabup Jayapura Apresiasi Kinerja Tim NU Peduli di Lokasi Bencana
Tim kesehatan NU Peduli layani warga terdampak banjir Sentani.
Jakarta, NU Online
Sejak hari pertama bencana banjir bandang melanda Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Tim NU Peduli turun tangan mengevakuasi korban dan mendirikan Pos NU Peduli Sentani, guna mengakomodir dan memudahkan penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak bencana. Hal tersebut diapresiasi oleh Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro, saat ditemui Tim NU Peduli, Jumat (22/3).

"Terima kasih NU Peduli. Mulai dari awal, hari pertama (Ahad, 17/3), sudah bisa hadir dan bisa langsung turun tangan sampai di titik-titik mana yang perlu bantuan. NU sudah bergerak dari awal saya pantau,” tutur Giri.

Sementara, Kasibintal Lanud Silas Papare, Mayor Sus M. Toriq, mengisahkan kronologi bencana di Kompleks Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

"Kejadiannya itu malam Minggu dan kita sendiri saat itu sedang mengadakan pengajian rutin seperti biasa yang kita adakan. Kemudian tiba-tiba ada beberapa kendaraan yang menabrak tembok Lanud (landasan udara) dan mereka minta tolong. Begitu kami melihat, ternyata air bah sudah menjalar ke mana-mana bahkan kemudian kami tidak menyangka tiba-tiba air sudah menggenangi masjid. Satu tangga lagi sampai ke lantai masjid diikuti dengan batang-batang pohon yang besar-besar," jelas Toriq.

Pada malam itu juga, lanjut Toriq, ditemukan tiga jenazah di depan markas AURI Sentani.

"Kemudian segera kami evakuasi. Harapan kami semoga kondisi Sentani segera pulih dan (ada) recovery setelah bencana alam. Kita ambil semua hikmahnya. Mudah-mudahan Allah mempunyai maksud dan tujuan yang baik pada musibah ini," tuturnya.

Koordinator Tim NU Peduli, Muhammad Wahib, menyampaikan bahwa selain ikut membantu proses evakuasi korban dan mendirikan posko, NU Peduli juga membuka pelayanan kesehatan di Distrik Waibu. 

"Hari ini (Jumat), NU Peduli mengunjungi lokasi bencana di daerah Sungai Kemiri, di Distrik Kota Sentani Jayapura. Sedangkan di Kampung Yakonde, Distrik Waibu, kami buka Posko Pelayanan Kesehatan untuk warga terdampak bencana," papar Wahib.

Wahib juga mengatakan, Tim NU Peduli di Posko Pelayanan Kesehatan terdapat para dokter dan perawat dari Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) dan dari Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU). Dirinya juga menambahkan, NU Peduli juga menggelar aksi Jumat Berbagi di Sentani.

"Dalam aksi Jumat Berbagi, NU Peduli memberikan bantuan nasi bungkus kepada warga di masjid kompleks AURI Sentani," imbuhnya. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)

Jumat 22 Maret 2019 21:0 WIB
Pentingnya NU dalam Ekosistem Digital
Pentingnya NU dalam Ekosistem Digital
Ilustrasi (Ist.)

Jakarta, NU Online
Dunia saat ini tengah memasuki disrupsi digital. Hal-hal yang biasa dilakukan dengan luring (offline) mulai bermigrasi masuk ke dalam jaringan (online). Perubahan ini juga berdampak pada perubahan sosial dan ekonomi masyarakat.

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia tentu punya ruang terbuka berperan dalam proses tersebut.

"NU harus bisa menjadi komunitas yang terbuka, berkolaborasi dengan pemain-pemain digital," kata Ainun Najib, praktisi digital, kepada NU Online, Kamis (21/3) malam.

Kolaborasi ini menurutnya, akan berdampak positif pada percepatan pertumbuhan dunia digital Indonesia. Pasalnya, dalam konteks Indonesia, jumlah warga NU paling besar di samping mampu berkolaborasi dengan masyarakat umum karena penghormatannya terhadap kemajemukan.

Ainun mencontohkan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah NU (LAZISNU), misalnya, dapat bekerja sama dengan website atau aplikasi crowdfunding. Dengan unicorn, misalnya, guna menarik nahdliyin menawarkan produknya di sana. NU juga, menurutnya, bisa berupaya membantu start-up yang baru dirintis.

"Jadi tidak hanya menjadi pasar, pengguna, tetapi juga sebagian generasi muda NU ikut menjadi pemain digital," ungkapnya.

Pria alumnus Nanyang Technological University (NTU) Singapura itu menjelaskan bahwa membangun ekosistem digital itu bisa mulai dengan mendirikan jaringan komunikasi warganya. Dengan adanya itu, NU bisa bekerja sama dengan platform untuk menyelesaikan kebuntuan kebutuhan nahdliyin.

Sinergitas dan kolaborasi NU ini menghasilkan hal yang positif dan keuntungan di semua pihak, baik NU, nahdliyin, penyedia platform, hingga pemerintah. 

"Hanya NU-lah komunitas di nusantara ini yang paling besar dan berwawasan terbuka menerima, menjaga dan melestarikan kemajemukan dan melihatnya sebagai kekuatan yang harus dimanfaatkan," pungkasnya. (Syakir NF/Muhammad Faizin)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG