IMG-LOGO
Internasional

Donald Trump Akui Kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan

Jumat 22 Maret 2019 23:59 WIB
Bagikan:
Donald Trump Akui Kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan
Washington, NU Online
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan yang menghebohkan dunia. Setelah akhir 2017 lalu mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, kini Trump mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan.

“Setelah 52 tahun, sudah waktunya bagi Amerika Serikat untuk sepenuhnya mengakui Kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan," tulis Trump melalui akun Twitternya, @realDonaldTrump, Kamis (21/3). 

Menurut Trump, wilayah Golan merupakan kawasan yang sangat strategis bagi keamanan Israel dan stabilitas regional. Golan sendiri terletak sekitar 60 km sebelah barat daya Damaskus, ibu kota Suriah. Luasnya mencapai 1.200 km persegi.

Sebagaimana diketahui, Israel berhasil merebut dan menduduki wilayah Dataran Tinggi Golan dari Suriah dalam Perang Enam Hari pada 1967 silam. Pada perang itu, Israel juga berhasil menduduki Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur. Hingga hari ini, masyarakat internasional tidak pernah mengakui langkah Israel yang mencaplok wilayah di Dataran Tinggi Golan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berterimakasih kepada Trump karena telah berani mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. “Saat Iran berupaya memanfaatkan Suriah sebagai platform untuk menghancurkan Israel, Presiden Trump dengan berani mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan," tulis Netanyahu di Twitternya, @netanyahu, Jumat (22/3).

Dilaporkan, saat ini ada sekitar 30 permukiman Israel dan 20 ribu orang yang tinggal di wilayah Dataran Tinggi Golan. Sebagian besar mereka adalah Arab Druze yang memutuskan tetap tinggal di sana meski Golan direbut Israel ketika itu. Secara hukum internasional permukiman itu adalah illegal, namun Israel terus membantahnya. 


Melanggar Resolusi DK PBB

Mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS yang kini menjabat sebagai presiden lembaga kajian Council on Foreign Relations, Richard Haas, mengaku tidak sepakat dengan pernyataan Trump. Menurutnya, sebagaimana dikutip laman BBC, Jumat (22/3), angkah yang diambil Trump –yaitu mengakui kedaulatan Israel atas wilayah Golan- melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.  

Hal yang sama juga disampaikan otoritas Suriah. Menurutnya, pengakuan Trump atas wilayah Golan milik Israel adalah melanggar hukum internasional. "Posisi Amerika terkait Dataran Tinggi Golan benar-benar menunjukkan penghinaan bagi legitimasi internasional dan pelanggaran terhadap hukum internasional," ujar seorang sumber Kementerian Luar Negeri Suriah kepada kantor berita negara, SANA.

"Pernyataan dari presiden AS dan pemerintahannya atas Golan tak akan mengubah fakta bahwa Golan adalah bagian dari Arab dan Suriah," lanjutnya. (Red: Muchlishon)
Bagikan:
Jumat 22 Maret 2019 22:30 WIB
Uni Eropa Diundang Berkunjung ke Xinjiang
Uni Eropa Diundang Berkunjung ke Xinjiang
Muslim Uighur. Foto: Getty Images
Beijing, NU Online
Pemerintah China berencana mengundang para diplomat dari negara-negara Uni Eropa (UE) untuk datang secara langsung ke Xinjiang. Akan tetapi, belum disebutkan kapan tanggal pastinya agenda tersebut akan dilaksanakan, siapa saja yang akan diundang, siapa saja yang akan ditemui, dan tempat mana saja yang akan dikunjungi. Belum jelas juga negara-negara UE mana saja yang bakal menerima undangan itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan, rencana tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas kepada negara-negara UE tentang perkembangan sosial dan ekonomi di Xinjiang. 

“Untuk meningkatkan pemahaman pihak Eropa tentang pencapaian Xinjiang dalam pembangunan ekonomi dan sosial, dan mempromosikan pertukaran dan kerja sama bilateral, China berencana dalam waktu dekat untuk mengundang utusan Eropa yang berbasis di China untuk mengunjungi Xinjiang,” kata Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan, dikutip laman Reuters, Rabu (20/3).

Dalam beberapa bulan, bahkan tahun, terakhir, wilayah Xinjiang menjadi sorotan dunia internasional. Pasalnya, sebagaimana laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Human Right Watch, sejuta lebih Muslim Uighur dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang dilaporkan mengalami penindasan oleh otoritas China dengan dimasukkan ke dalam kamp-kamp pelatihan.

Pemerintah China beberapa kali menyangkal tuduhan itu. Otoritas China menyebut, kamp-kamp itu bukanlah tahanan penindasan sebagaimana yang dituduhkan, namun itu adalah kamp-kamp pendidikan ulang dan pelatihan advokasi untuk mereka yang terpapar paham radikalisme.

Duta Besar (Dubes) China untuk Indonesia Xiao Qian yang berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya, Jakarta pada Senin (24/12/2018) lalu, menegaskan, persoalan di Xinjiang adalah persoalan separatisme. 

“Tapi demikian masih ada segelintir oknum yang berencana memisahkan Xinjiang dari Tiongkok dengan menggunakan tindakan kekerasan, bahkan terorisme,” kata Dubes Qian melalui penerjemahnya.

Terkait dengan kelompok-kelompok separatis seperti itu, kata Dubes Qian, China mengambil beberapa langkah kebijakan. Diantaranya mengadakan program pendidikan dan vokasi sehingga mereka memiliki keterampilan untuk mendapatkan kerja dan memperoleh gaji yang stabil. (Red: Muchlishon)
Jumat 22 Maret 2019 21:5 WIB
NU Bangun Kerja Sama Kemanusiaan dengan Bosnia
NU Bangun Kerja Sama Kemanusiaan dengan Bosnia
Dubes Bosnia (berjas) diapit Ketua LPBI NU, M Ali Yusuf (kedua dari kiri) dan Ketua LAZISNU, H Achmad Sudrajat (ketiga dari kanan)
Jakarta, NU Online
Untuk memaksimalkan peran di bidang kemanusiaan di luar negeri, NU bakal menjalin kerja sama dengan negara Bosnia. Penanda permulaan kerja sama tertuang dalam pertemuan silaturahim Duta Besar Bosnia untuk Indonesia, Mehmed Halilovic dengan Ketua NU Care-LAZISNU, H Achmad Sudrajat; serta Ketua LPBI PBNU, M Ali Yusuf. Pertemuan berlangsung di Gedung PBNU Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Jumat (22/3) siang.

Ketua NU Care-LAZISNU H Achmad Sudrajat mengatakan kerja sama dengan Bosnia menjadi kerja-kerja kemanusiaan dengan seluruh komunitas dan sebagai gerakan membawa NU ke dunia.

"Islam Nusantara, Islam yagn rahmatan lil alamin kita sampaikan ke seluruh dunia terlebih menjelang satu abad NU," kata Pak Ajat, sapaan akrabnya.

Ketua LPBI PBNU, M Ali Yusuf menegaskan rintisan kerja sama nantinya dimulai secara konkret dalam persoalan pendidikan, ekonomi, dan sosial keagamaan.

"Kita harus memulai ini agar nilai-nilai Islam dapat tersebar ke seluruh dunia dengan isu-isu perdamaian," ujar Ali.

Duta Besar Bosnia untuk Indonesia, Mehmed Halilovic mengatakan, hubungan pertemanan dua negara antara Bosnia dan Indonesia telah terjalin sejak lama. Pada tahun1992, Bosnia menjadi negara merdeka, dan Indonesia menjadi negara yang mengakui kemerdekaan Bosnia.

"(Kemudian) Kita mendirikan kerja sama internasional di tahun 1993," kata Mehmed Halilovic.

Mehmed menyebut, jarak antara Bosnia dan Indonesia jauh, namun itu tidak menghalangi kerja sama. Nantinya kerja sama diwujudkan dalam beragam bentuk kegiatan. Untuk kerja-kerja kemanusiaan, Bosnia sangat menerima dan mendukung organisasi NU.

"Dan kita berharap ini tidak akan menjadi kunjungan terakhir, kami berharap ini menjadi awal dari kerja sama kita dan sekali lagi saya berterimaksih sekali untuk rakyat Indonesia atas kontribusinya yang membantu warga negara Bosnia di waktu yang sangat sulit dari 1992 sampai 1995," ujarnya.

Koordinator Pengembangan dan Kerja Sama Emmaus (forum solidaritas internasional Bosnia), Leila Smajic yang turut hadir pada kesempatan ini mengataan pihaknya hadir bersilaturahim untuk organisasi NU, sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia untuk memulai bekerja sama dengan NGO lainnya di Bosnia. 

"Di sisi lain untuk memperkuat hubungan persahabatan kita," kata Leila.

Leila berharap kerja sama dengan organisasi NU nantinya dapat membawa kebaikan semua orang di Bosnia agar sebaik di Indonesia. (Kendi Setiawan)

Jumat 22 Maret 2019 16:0 WIB
Lima Masjid di Inggris Dirusak Orang Tidak Dikenal
Lima Masjid di Inggris Dirusak Orang Tidak Dikenal
Foto: Aaron Chown/Press Association
Birmingham, NU Online
Lima masjid di kota Birmingham, Inggris, diserang oleh orang tidak dikenal pada Kamis dini hari (21/3) waktu setempat. Dilaporkan aksi pengrusakan itu dilakukan seorang pria dengan menggunakan palu godam secara beruntun.

Kepolisian West Midlands, yang membawahi Birmingjam dan sekitarnya, pertama kali menerima laporan bahwa seorang laki-laki merusak jendela sebuah masjid di Birchfield Road pada pukul 02.30 waktu setempat. Pihak kepolisian menerima laporan kedua 45 setelahnya menyusul kejadian yang sama terjadi di masjid yang berlokasi di Slade Road, Erdington. Setelah itu, pelaku juga merusak masjid di Aston, Perry Bar, dan Albert Road. 

Sebagaimana dikutip lama BBC, Jumat (22/3), Seorang juru bicara Witton Islamic Centre di Witton Road, Aston, mengatakan, dari kamera pengawasa masjid terlihat bahwa ada seorang laki-laki yang menghancurkan masjid pada pukul 01.30 waktu Inggris.

“Semua jendela depan, sekitar enam jendela, dihancurkan," katanya.

Dewan Masjid Birmingham mengaku sangat terkejut dengan penyerangan sejumlah masjid. Menurutnya, masjid-masjid di Birmingham adalah sumber perdamaian, sumber ketenangan, dan tempat beribadah.

Kepala Kepolisian West Midlands Dave Thompson mengatakan, pihaknya belum mengetahui apa motif pelaku menyerang lima masjid tersebut. “Apa yang dapat saya katakan adalah kepolisian bersama Unit Antiteror berkerja bersama untuk memburu siapa pun yang bertanggung jawab," katanya.

Thompson menyebut, berusaha untuk menjaga rumah ibadah secara maksimal, terlebih setelah aksi teror di Christchurch, Selandia Baru pada Jumat (15/3) lalu.

“Personel polisi dan staf Kepolsian West Midlands telah menjalin kerja sama erat dengan mitra-mitra kami di wilayah ini untuk memberikan jaminan dan dukungan di masjid, gereja dan tempat beribah lainnya," tegasnya.

Melalui akun Twitternya, Menteri Dalam Negeri Inggris Sajid Javid menyebut kalau pengrusakan sejumlah masjid di Birmingham itu ‘sangat mengkhawatirkan dan menyedihkan’. “Perilaku kebencian sama sekali tidak memiliki tempat di masyarakat kita dan tidak akan pernah diterima,” tulisnya.

Penyerangan sejumlah masjid di Birmingham ini terjadi sepekan setelah aksi teror di dua masjid Christchurch, Selandia Baru. Insiden berdarah itu menyebabkan 50 orang meninggal dunia dan 50 sisanya mengalami luka-luka. Brenton Tarrant, pelakunya, adalah seorang anti-imigran dan penganut ideologi supremasi kulit putih.

Yayasan Hope Not Hate melakukan jajak pendapat soal Islam di Inggris. Hasilnya, sepertiga warga Inggris melihat Islam sebagai umumnya ancaman bagi hidup orang Inggris.

Birmingham adalah salah satu kota terbesar di Inggris dan rumah bagi salah satu komunitas Muslim terbesarnya. Dimana lebih dari satu dari lima orang di sana telah menyatakan bahwa Islam sebagai agama mereka.

Menurut sensus nasional terbaru yang dilakukan pada 2011, jumlah umat Islam di Inggris adalah empat persen dari total populasi. Populasi Muslim yang terus meningkat telah menjadi subjek meningkatnya jumlah kejahatan rasial, menurut statistik Home Office. Sebagaimana dikutip The New York Times, Kamis (21/3), pada 2015-2016, Home Office mencatat ada 62.518 pelanggaran terhadap Muslim. Jumlah tersebut meningkat pada 2016-2017, dimana terjadi 80.393 pelanggaran terhadap Muslim. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG