IMG-LOGO
Nasional

Pentingnya Gerakan Literasi dalam Hadapi Revolusi Industri 4.0

Senin 25 Maret 2019 03:00 WIB
Pentingnya Gerakan Literasi dalam Hadapi Revolusi Industri 4.0
Pembukaan FGD Literasi Pergunu DKI Jakarta.
Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Aris Adi Leksono, kembali menekankan pentingnya semangat membaca yang juga harus dimiliki para guru. Semangat dan aktivitas membaca, menurutnya telah dicontohkan oleh Allah Swt saat menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. Artinya, Nabi Muhammad pun diwajibkan membaca.

"Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu dan diperintahkan untuk iqra, bacalah atau dalam bahasa sekarang disebut berliterasilah," kata Aris saat kegiatan Focus Discusion Group (FGD) bertema Peran Literasi dalam Meningkatkan Minat Baca dan Pengembangan Karakter Budaya Bangsa, Sabtu (23/3) di Cafe Sastra Balai Pustaka, Jakarta.

Aris menegaskan jika seseorang ingin menguasai segala ilmu maka harus membaca secara berulang-ulang. "Jika hanya sekali membaca maka bukan berliterasi," kata Aris di hadapan sekitar 50 guru NU se-DKI Jakarta.

Membaca secara berulang-ulang, lanjutnya, dapat menjadikan seseorang memiliki critical thinking (berfikir kritis). Seseorang yang terbiasa membaca berbagai informasi, ia dapay membandingkan mana bacaan yang paling benar dari semua bacaan yang ada. 

Pentingnya aktivitas membaca diawali dengan pengetahuan kognitif, kemudian berlanjut pada gerakan psikomotorik. Selanjutnya menjadi afektif dan sampai pada meta kognitif. Ketika seseorang sudah sampai pada level meta kognitif, tanpa disuruh atau didorong mereka akan melakukan sendiri.

"Tanpa diperintah mereka akan menjalankan apa yang mereka anggap benar. Itulah konsepsi utuh tentang literasi," ujarnya.

Tantangan Literasi Revolusi Industri 4.0

Terkait dengan peran guru NU dalam literasi terutama era kini, menurut Aris guru juga harus mampu adaptif dengan teknologi. Hal itu karena mau tidak mau revolusi industri 4.0 telah memunculkan generasi yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya.

Terdapat sejumlah tantangan bagi generasi di era revolusi industri, di antaranya dalam lima tahun ke depan, diperkirakan akan menyebabkan hilangya lima juta pekerjaan di 15 negara maju atau sedang menuju maju.

"Pekerjaan yang paling banyak dibutuhkan saat ini adalah pekerjaan yang sepuluh tahun yang lalu atau lima tahun yang lalu belum pernah ada," katanya.

Selain itu, berdasarkan data Forum Ekonomi Dunia yang dirili tahun 2016, diperkirakan 65 persen anak yang masuk sekolah dasar saat ini akan bekerja pada suatu pekerjaan yang benar-benar baru dan belum ada saat ini. (Kendi Setiawan)
Bagikan:
IMG
IMG