IMG-LOGO
Nasional

Habib Luthfi: NU Harus Jadi Pagar NKRI

Senin 25 Maret 2019 18:0 WIB
Bagikan:
Habib Luthfi: NU Harus Jadi Pagar NKRI
Habib Luthfi bin Yahya di Istighotsah kubra PCNU Batang
Batang, NU Online
Rais 'Aam Idarah Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Mohammad Luthfi bin Yahya mengatakan, Hari lahir (Harlah) NU diperingati sebagai rasa syukur, juga untuk memperkuat ideologi Pancasila. 

Nahdlatul Ulama dilahirkan oleh para pendiri Nahdlatul Ulama dengan penuh perjuangan untuk menjaga akidah ahlussunnah wal jamaah dan menjaga NKRI. Oleh karena itu, kita wajib berterima kasih kepada pendiri NU melalui salah satunya memperingati hari lahirnya NU.

Demikian diungkapkan Habib Luthfi bin Yahya pada acara istighotsah kubra yang dihelat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Batang Jawa Tengah dalam rangka Harlah ke-96 NU. “Maka sebagai penganut ajaran ahlussunnah waljamaah, orang NU harus berani menjadi benteng dan pagar NKRI,” kata Habib Luthfi.

Dikatakan, sebagai penerus perjuangan NU, jangan sampai jadi orang NU mengecewakan pejuang–pejuang bangsa Indonesia yang di dalamnya ada ulama–ulama besar NU.

Bupati Batang, Wihaji mengatakan, sebagai warga NU, ia sangat bangga dan terharu bisa berkumpul bersama bermunajat dan melaksanakan istighotsah kubra untuk memperingati hari lahir NU.

"Ada semangat yang terpancar dari warga NU dalam menjaga akidah ahlussunnah waljamaah. Semangat menjaga, merawat NKRI sebagai yang terdepan, tidak bisa dipecah belah dengan isu apapun termasuk hoaks dan ujaran kebencian,” papar Wihaji.

Ia mengatakan, zaman sekarang mudah sekali masyarakat menerima informasi dalam satu genggaman Handphone (HP). Maka jangan mudah menyebarkan informasi yang belum jelas dan belum tentu kebenarannya. Apalagi sekarang, tambah dia, di tahun politik ada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian.

"Harus kita saring sebelum sharing, agar kita tidak melanggar undang-undang IT, dan jangan mudah terpengaruh berita hoaks serta hindari ujaran kebencian," pinta Wihaji.

Ketua Pengurus Cabang NU Kabupaten Batang, Achmad Taufiq kepada NU Online mengatakan, peringatan Harlah ke-96 ini didasarkan kepada kalender hiriyah, di mana NU lahir pada tanggal 16 Rajab 1344 Hijriyah. 

"Pada momentum ini sebagaimana instruksi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, agar pada tanggal tersebut seluruh PCNU se Indonosia dan PCINU yang ada di luar negeri secara serentak diminta mengadakan kegiatan istighotsah, dan Alhamdulillah PCNU Batang bisa melaksanakannya," ujarnya. 

Taufiq berpesan kepada warga NU, tanggal 17 April ada pesta demokrasi memilih presiden dan wakilnya, DPD, DPR, DPRD Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Untuk itu, agar segenap warga NU mendatangi TPS untuk menggunakan hak pilihnya,” pesannya. (Muiz)
Bagikan:
Senin 25 Maret 2019 23:0 WIB
Ketum PBNU: NU Selalu Moderat dari Dulu, Sekarang, dan Sampai Kapanpun
Ketum PBNU: NU Selalu Moderat dari Dulu, Sekarang, dan Sampai Kapanpun
KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU
Jakarta, NU Online
Jelang memasuki umur satu abad, NU sebagai organisasi Islam Ahlussunnah wal Jama'ah, mempunyai visi dan misi yang sangat prinsip yang tidak akan pernah berubah dari dulu, sekarang, dan sampai kapanpun.

Prinsip tersebut adalah prinsip Islam yang moderat, toleran, dan selalu memperkuat tiga ukhuwah (persaudaraan) yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air), dan puncaknya yakni ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia).

"(Prinsip ini) tidak akan bergeser dari prinsip itu siapapun Rais 'Aam nya, siapapun ketua umumnya," tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat berbicara pada Acara Opsi di Metro TV, Senin (25/3).

Ukhuwah ini menurut Kiai Said juga sangat penting dimiliki oleh seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan negara yang damai dan jauh dari perpecahan. Apalagi di masa-masa saat ini sudah terlihat lunturnya ukhuwah hanya karena Pemilu dan Pilpres.

Kiai Said prihatin dan sedih dengan kondisi saat ini di mana baru kali ini suasana memasuki Pemilu atau Pilpres menonjolkan isu agama. Saat ini terlihat sekali agama dijadikan alat untuk kepentingan politik. Menurutnya ini sudah sangat membahayakan.

"Ini berarti meremehkan agama, tidak menghormati agama, mengotori agama-agama yang merupakan wahyu samawi (langit) yang membawa nilai universal untuk membangun masyarakat yang sejahtera, hidup dengan damai, nyaman," tegasnya.

Ketika agama dijadikan alat untuk politik lanjutnya, maka bisa dipastikan akan terjadi polarisasi. Bahkan lebih dari itu akan bermunculan sikap saling menghina dan terlebih saling mengafirkan.

Apalagi saat ini paham radikal sudah mulai masuk ke berbagai lini kehidupan dan mempengaruhi pola pikir masyarakat. Apalagi radikalisme ideologi yang menurut Kiai Said, paling sulit untuk diperbaiki.

Kondisi ini perlu diwaspadai khususnya oleh para generasi muda dengan lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai informasi yang ada disekitar seperti buku-buku, brosur dan khususnya di media sosial.

Menurutnya para generasi muda Indonesia masih bisa diselamatkan dari paham radikal ini selama diberi pemahaman Islam yang benar. (Muhammad Faizin)
Senin 25 Maret 2019 21:45 WIB
Minat Penelitian di Lingkungan Perguruan Tinggi Islam Meningkat Drastis
Minat Penelitian di Lingkungan Perguruan Tinggi Islam Meningkat Drastis
Annual Conference Research Proposal (ACRP) di Serpong, Banten.
Serpong, NU Online
Selama tiga tahun terakhir ini, minat penelitian para dosen di lingkungan perguruan tinggi Islam meningat drastis. pada tahun 2017, terdapat 1.232 proposal, setahun kemudian bertambah menjadi 1.967, dan tahun anggaran 2019, proposal yang masuk sebanyak 2.314 proposal.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, M Arskal Salim terkait pelaksanaan Annual Conference Research Proposal (ACRP) di Serpong, Tangerang, Banten, yang berlangsung Senin dan Selasa, 25-26 Maret 2019. ACRP kali ini diperuntukkan bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) untuk tahun anggaran 2019.

"Dari proposal yang diajukan di tahun anggaran 2019 ini, setelah dilakukan proses penilaian oleh tim reviewer, berdasarkan validitas, orisinalitas, integritas akademis dan kontribusinya terhadap dunia Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dan kehidupan keagamaan serta keindonesiaan secara online dan akurasi antiplagiasi secara elektronik, kami telah menetapkan 566 nomine," ujarnya.

Secara akumulatif, para nominee penerima bantuan ini berasal dari PTKIN sebanyak 46 persen, dan PTKIS 54 persen. Dilihat dari jabatan fungsionalnya, dosen yang berjabat fungsional guru besar sebanyak 1 persen, lektor kepala 13 persen, lektor 39 persen, asisten ahli 46 persen, dan di luar jabatan fungsional dosen 1 persen. Dilihat dari basis fakultas, dosen yang berlatarbelakang fakultas keagamaan sebanyak 72 peresen, sosial-humaniora sebanyak 14 persen, dan sains sebanyak 14 persen.

Sementara itu dalam kurun waktu satu tahun terakhir Direktorat Jenderal Pendidikan Islam pada tahun anggaran 2018, telah memfasilitasi setidaknya 764 proposal penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian masyarakat yang didanai dari Satker Direktorat PTKI dengan dukungan pendanaan 39,4 miliar rupiah. 

Terdapat tiga aplikasi yang telah dihadirkan, yakni litapdimas, moraref, dan morabase sebagai bagian dari penguatan tata kelola dan pemanfaatan penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian masyarakat. Kini, kita telah memiliki 14.013 peneliti, 418 reviewer, 17.064 proposal yang terekam dalam aplikasi litapdimas.

“Dengan aplikasi moraref, kita telah mempunyai 1.014 jurnal, 31.541 penulis dan 28.521 artikel yang membahas tentang isu-isu kajian keislaman (islamic studies) yang dapat diakses kapan, di mana pun dan oleh siapa pun secara gratis,” tambahnya.

Menurut Arskal, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam telah mampu meningkatkan akreditasi jurnal yang di akhir tahun 2017 hanya 68 jurnal, kini di akhir tahun 2018 telah mencapai 318 jurnal yang terakreditasi Sinta (science and technology index), sebanyak 1.812 hak cipta dan dua hak paten yang telah disahkan oleh Kemenkumham.

Selain itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam telah melahirkan ARKAN (Agenda Riset Keagamaan Nasional) untuk periode tahun 2018 hingga 2028, yang ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6994 Tahun 2018 sebagai bagian pengejewantahan dari RIRN (Rencana Induk Riset Nasional). (Red: Kendi Setiawan)
Senin 25 Maret 2019 21:0 WIB
Kualitas Proposal Penelitian PTKI Kemenag Ditingkatkan
Kualitas Proposal Penelitian PTKI Kemenag Ditingkatkan
Gelaran ACRP Diktis Kemenag

Serpong, NU Online

Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam menyelenggarakan Annual Conference Research Proposal (ACRP) yang diperuntukkan bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) untuk tahun anggaran 2019.


Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Suwendi mengatakan, ACRP merupakan inisiatif Ditjen Pendis Kemenag untuk terus meningkatkan kualitas proposal penelitian, publikasi ilmiah dan pengabdian kepada masyarakat sehingga nantinya akan terpilih proposal-proposal yang layak untuk ditindaklanjuti dengan dukungan bantuan dari Kementerian Agama.


Tahun ini, kata Suwendi, diselenggarakan lebih cepat Senin-Selasa, 25-26 Maret 2019 di kawasan Serpong, Tangerang. ACRP diikuti oleh para nomine yang telah dinyatakan lolos pada beberapa tahap seleksi. “ACRP tahun 2019 ini merupakan event yang kedua kalinya, setelah kita sukses menyelenggarakan ACRP di tahun 2018 yang lalu," ujar Suwendi saat memberikan pengarahan kepada ratusan peserta terpilih.


Dikatakannya, para peserta ACRP yang diundang telah lolos sedikitnya tiga tahap seleksi yakni kelengkapan administratifnya oleh panitia, kelayakan proposalnya oleh tim reviewer secara online, dan dinyatakan bebas plagiasi berdasarkan aplikasi khusus.


Menurut, Suwendi, tahun anggaran 2019 ini, proposal yang masuk sebanyak 2.314 proposal. Dari proposal yang diajukan di tahun anggaran 2019 ini, setelah dilakukan proses penilaian oleh tim reviewer berdasarkan validitas, orisinalitas, integritas akademis dan kontribusinya terhadap dunia Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dan kehidupan keagamaan serta keindonesiaan secara online dan akurasi antiplagiasi secara elektronik.


“Kami telah menetapkan 566 nomine. Alhamdulillah, sebagaian besar hadir di tempat ini. Oleh karenanya, saya sampaikan selamat kepada saudara-saudara yang telah masuk ke dalam nomine penerima bantuan penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat,” katanya disambut tepuk tangan para nomine.


Dalam forum ACRP ini, semua nomine akan diuji oleh tim reviewer sebanyak 32 tenaga professional terutama pada aspek kelayakan dan keabsahan akdemis sehingga menghasilkan rekomendasi penerima bantuan yang secara keseluruhan berjumlah 32 miliar rupiah.


Dengan uji kelayakan proposal oleh tim reviewer diharapkan akan mampu menghasilkan output riset dan temuan-temuan dan pengembangannya yang produktif bagi kehidupan keagamaan dan kebangsaan, tambahnya.


Terkait pelaksanaan ACRP, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam M Arskal Salim mengatakan, tahun ini diselenggarakan lebih cepat di bulan Maret. Tahun lalu ACRP diselenggarakan di bulan Juli.


"Ini bertujuan untuk memberi kesempatan kepada peneliti agar bisa bekerja dengan sebaik-baiknya. Tahun yang akan datang kita mengupayakan rumus t minus 1 sehingga tujuan riset dan publikasi secara optimal dapat tercapai," kata Arskal.


Ditambahkan, tahun ini ACRP akan diselenggarakan dua kali. ACRP berikutnya akan diselenggarakan lagi pada akhir tahun 2019 ini untuk tahun anggaran 2020. (Red: Musthofa Asrori)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG