IMG-LOGO
Esai

Berutang Ta'bir pada Kiai Husein

Senin 25 Maret 2019 18:45 WIB
Bagikan:
Berutang Ta'bir pada Kiai Husein

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Tampak gelisah seperti ada sesuatu yang sedang menggelayut di pikiran. Tidurnya pun jarang nyenyak. Baru beberapa menit merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia sudah bangkit lagi menulis beberapa paragraf di layar laptopnya yang selalu 'on' itu. Padahal waktu sudah larut malam, tapi aktivitasnya itu terus saja berjalan hingga azan subuh berkumandang.

Itulah Kiai Husein Muhammad, salah seorang pengasuh PP Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon, pernah menjadi komisioner Komnas Perempuan, cukup produktif menulis buku dan artikel terutama dalam bidang fikih dan tafsir Islam. Mungkin sudah belasan buku dan ratusan artikel yang berhasil ditulisnya. Usianya memang sudah memasuki kepala enam, tapi energi dan semangat menulisnya tak pernah padam.

Di tengah kecenderungan sejumlah kiai melibatkan diri dalam kerja politik, maka Kiai Husein tampak unik. Hingga hari ini, ia misalnya cukup konsisten berada di ruang akademik; menulis dan menulis. Dan kualitas tulisannya cukup mengagumkan. Diksinya bukan hanya renyah tapi terasa kian bijaksana. Ia pun rajin menulis puisi sufistik dengan mengambil inspirasi, kadang dari Jalaluddin Rumi, dan kala yang lain dari Ibnu Arabi.

Pertanyaannya, darimana keindahan diksi dan sofistikasi berbahasa Kiai Husein ini diperoleh? Saya tak tahu persis. Tapi saya menduga bahwa keterampilan menulis Kiai Husein diperoleh dari proses otodidak panjang yang mungkin juga sudah berkali-kali menemui kegagalan. Ibarat orang berenang yang tak harus belajar teori berenang tapi langsung saja berenang, maka Kiai Husein juga sama. Ia tak belajar teori menulis, tapi langsung menulis.

Akhirnya, Kiai Husein dikenal luas sebagai penulis yang mahir mengolah kata dan lincah dalam mengemukakan gagasan-gagasannya. Dalam menulis, Kiai Husein seperti sedang membangun rumah; ada fondasi, tiang-tiang penyangga, dinding, langit-langit, dan atap. Kiai Husein misalnya membedakan mana pondasi dan tiang (ushuliyyat) dan mana atap dan dahan (mutaghayyirat).

Bisa saja fondasi dan tiang penyangga tulisan Kiai Husein adalah fondasi dan penyangga lama yang telah ditanam para ulama terdahulu. Sementara kehadiran Kiai Husein belakangan adalah untuk membuat langit-langit dan atapnya saja. Itu sebabnya, esai-esai Kiai Husein cukup rindang dengan kutipan pernyataan para ulama terdahulu seperti Ibnu Rusyd, al-Ghazali, al-Syathibi, Ibnu Aqil, dan lain-lain.

Pernah saya bertanya pada Kiai Husein, “Mengapa hanya untuk menyatakan hal seperti itu, kita harus bertumpu pada bahu ulama terdahulu?”. Kiai Husein biasanya menjawab, “Jika argumen ulama terdahulu sudah cukup tangguh, mengapa pula kita harus segera menyusulkannya dengan argumen baru”.

Soal kesabaran merujuk pada khazanah Islam klasik itu, sahabat saya Kiai Ulil Abshar Abdalla pernah menjuluki Kiai Husein sebagai “kiai pemulung”; yaitu kiai yang terampil dan tekun memulung argumen ulama terdahulu yang masih relevan dipakai untuk mengatasi persoalan hari ini.

Bukan hanya argumen relevan yang dipungutnya, buku diari Kiai Husein pun sebagiannya berisi teks-teks (ta’bir) “aneh” dari ulama terdahulu. Disebut “aneh” bukan hanya karena jarang dikutip orang melainkan juga karena mengandung “ajaran” yang potensial mengguncang doktrin yang telah dikonsensuskan. Tapi, arifnya, Kiai Husein tak membagi teks-teks “aneh” itu ke umat, melainkan dibagikannya ke lingkungan sahabatnya secara terbatas.

Dan secara pribadi, saya banyak berutang kutipan “ta’bir” kitab pada Kiai Husein. Namun, seperti biasa, Kiai Husein tak pernah menagih agar saya membayarnya dengan kutipan baru yang diserahkan kepadanya. Sebab, faktanya, saya memang lebih banyak menerima ilmu dari Kiai Husein, tapi tidak sebaliknya. Hal yastawi alladzina ya’lamun wa alladzina la ya’lamun.

Waba’du, jika pada Selasa 26 Maret 2019 ini Kiai Husein Muhammad akan dianugerahi gelar Doktor (HC) oleh UIN Wali Songo Semarang, saya ikut senang dan bangga. Atas kerja-kerja akademiknya selama ini, Kiai Husein adalah cendekiawan Islam yang pantas mendapatkan gelar itu. Selamat atas penganugerahan ini.

Penulis adalah Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU)

Bagikan:
Ahad 10 Maret 2019 12:20 WIB
Catatan Pelatihan Jurnalistik PMII Jakarta Timur
Catatan Pelatihan Jurnalistik PMII Jakarta Timur
Oleh Ahmad Rozali

Sekitar Sabtu sore (9/3) pukul 16.00 sampai 18.00 Wib, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jakarta Timur menggelar pelatihan jurnalistik di sekretariatnya di Kawasan Kayu Putih, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Dalam kesempatan itu saya senang sekali bisa 'nimbrung' hadir sebagai penyaji.

Setelah suguhan kopi dan gorengan disajikan, seorang panitia memulai sambutannya. Intinya, secara spesifik ia berharap peserta yang mengikuti kegiatan ini akan keluar dari forum pelatihan dalam keadaan ‘bisa menulis berita’. Mendengar itu, kopi yang saya minum hampir membuatku tersedak; sebab dalam arti lain, harapannya itu sama besar dengan tanggung jawab yang harus saya emban selama beberapa jam ke depan. 

Tentu bukan perkara enteng membuat 14 orang bisa menulis berita dalam waktu dua jam. Sepengalamanku belajar jurnalistik secara professional semasa menjadi calon reporter, saya membutuhkan pembimbingan selama kurang lebih tiga bulan intesif dalam pengawasan yang ketat setelah sebulan sebelumnya intensif melakukan pelatihan seminggu sekali. Tapi mission impossible ini patut dicoba, sambil berharap berkah pendiri PMII Mahbub Djunaidi yang fotonya dilukis besar-besar di ruangan pelatihan.



Hal pertama yang kulakukan adalah mengukur kemampuan jurnalistik atau menulis para peserta dalam forum perkenalan. Hasilnya, empat dari mereka pernah memiliki pengalaman menulis di blog organisasi dan pribadi yang hampir semuanya sudah mandeg. Sisanya menulis di laman media sosial atau tidak sama sekali. Dari situ saya berkesimpulan bahwa pelatihan ini harus dimulai dari ‘awal’. Awal artinya pelatihan ini harus dimulai dari dasar, mengantarkan apa itu jurnalistik, jenis berita, mencari ide, dan seterusnya. Namun karena durasi yang tersedia itu tak mencukupi, sehingga kuputuskan untuk 'lompat' pada materi ‘mengenal berita dan apa saja yang diperlukan untuk menulisnya’.

Akibatnya, pola sistematis yang biasanya digunakan dengan memberikan pengantar tentang pentingnya jurnalisme, sejarah jurnalistik di Indonesia hingga peran keterlibatannya dalam membangun demokrasi di tanah air harus di-skip. Waktu yang tersedia itu hanya cukup untuk 'to the point' tentang 'bagaimana menulis sebuah berita’, yang didalamnya ada nilai-nilai berita, mengenalkan sumber berita, jenis berita hingga teknis membuat outline dan paragraf pertama dalam berita.

Saya sadar ini tak akan sulit untuk berhasil mencapai target panitia dalam waktu yang sesingkat itu. Sehingga dalam pelatihan ini saya menurunkan ekspektasi panitia tersebut menjadi ‘melahirkan keinginan untuk belajar lebih dalam dunia jurnalistik’.

Secara umum pelatihan tersebut hanya berhasil mengenalkan beberapa hal yang berkenaan dengan pembuatan berita. Sementara hal yang lebih strategis seperti sejarah jurnalistik, tujuannya serta perubahan-perubahannya tidak banyak atau bahkan sama sekali belum disinggung. 

Sehingga sebagai rekomendasi bagi PMII Jakarta Timur selanjutnya, diperlukan beberapa kali perjumpaan lanjutan untuk mempraktikkan cara menggali berita, melakukan wawancara, menemui narasumber dan seterusnya. Kemudian, agar tidak ahistoris perlu juga mendiskusikan jurnalisme dalam potret demokrasi dan sejarah pergerakan secara lebih luas. Selain bisa melahirkan semangat perjuangan yang lebih besar, sebagai kader PMII peserta bisa tahu lebih dalam bagaimana seharusnya menggunakan jurnalisme untuk mencapai cita-cita perjuangan. Seharusnya tak sulit bagi kader PMII karena kita punya Mahbub Djunaidi sebagai percontohan. Yang menentukan adalah sejauh mana keinginan kita untuk menyamai cara belajarnya. Salam pergerakan!

Redaktur NU Online
Ahad 10 Maret 2019 0:0 WIB
Berkunjung ke Masjid Jawa di Thailand
Berkunjung ke Masjid Jawa di Thailand

Oleh Syarif Abdurrahman

Umumnya para turis yang melakukan perjalanan wisata atau traveling di Bangkok Thailand mengunjungi kuil dan hiburan malamnya saja. Padahal Bangkok memiliki alternatif wisata lain, seperti wisata religi. Salah satunya adalah Masjid Jawa (Mosque Java) di kawasan Sathorn, Bangkok, Thailand.

Dari namanya, masjid tersebut identik dengan kebudayaan jawa. Jika diperhatikan, masjid ini hampir serupa dengan bentuk Masjid Demak. Interior masjid hampir mirip seperti masjid-masjid tua di Indonesia dengan ornament tiang, atap-atap, mimbar, dan teralis jendela. Tak hanya interior besarnya yang bergaya Indonesia, namun bahkan tempat wudlunya memiliki ciri khas sendiri.

Masjid ini terbagi dalam dua bangunan utama yaitu masjid utama dan rumah panggung dengan aneka kursi lengkap dengan meja. Masjidnya sendiri berwarna dominan hijau muda dengan atap limasan berundak tiga. Di depan masjid ada tempat pemakaman Islam, sementara di kanan-kirinya tersedia makanan halal sehingga sangat cocok untuk wisatawan muslim.

Untuk menuju masjid ini, wisatawan bisa menuju ke Stasiun BTS (kereta layang) Surasak. Dari sana, tinggal menuju gang di samping St Louis Hospital. Sesampainya di gang tersebut, wisatawan bisa bertanya pada warga lokal. Warga di kawasan lokasi tersebut umumnya akan mafhum mengenai Jawa Mosque.

Tentu Masjid Jawa tersebut erat kaitannya dengan keberadaan komunitas Islam suku Jawa dari Indonesia. M Abdu Na'im, seorang mahasiswa asal Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah Tambakberas, Jombang, Jawa Timur yang berkesempatan berkunjung ke masjid tersebut mendapati bahwa terdapat komunitas ratusan orang Indonesia suku Jawa di kanan-kiri masjid. "Disekitar Masjid Jawa ada sekitar kurang lebih 300 orang beragama Islam. Rata-rata keturunan Jawa," katanya, Sabtu (9/3). 

Berdasarkan keterangannya, saat ini, warga lokal yang merupakan keturunan suku Jawa mayoritas adalah generasi ketiga. Meski masih memegang Islam tradisi Jawa, namun masyarakat Jawa generasi ketiga yang sudah berkewarganegaraan Thailand ini tidak bisa lancar berbahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia. Untuk itu, demi melestarikan budaya dan bahasa Indonesia biasanya generasi tua mengadakan pelatihan khusus bagi anak turun mereka. 

Dalam kesempatan tersebut ia juga berkesempatan berkenalan dengan imam Masjid Jawa. "Kami merasa beruntung karena, setelah solat Isya' kami disapa oleh imam masjid Jawa ini yang merupakan generasi ketiga dari leluhur Jawa. Ia bercerita bahwa kakeknya dulu berasal dari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah yang juga salah satu pendiri Masjid Jawa tersebut," ungkap Abdu Na'im.

Mengungjungi masjid tersebut merupakan salah satu ‘menu’ dalam wisata religi yang ia ikuti. "Masjidnya cukup bagus dan dekat dari penginapan kami, berjalan dari apartemen lalu masuk ke jalan utama lalu melewati jalan kecil Soi Charoen Rat 1 Yaek 9. Kira-kira butuh waktu sekitar 15 menit. Lalu kita tiba di depan sebuah plang nama besar yang bertulis Jawa Mosque. Perasaan kami seperti di Tanah Jawa," beber Mahasiswa yang juga santri Pesantren Bahrul Ulum, Jombang ini.

Dalam pelaksanaan ibadah solat lima waktu, amalan dan tata shalatnya sama dengan amalan mayoritas kaum nahdliyin Indonesia; yaitu ada zikir bersama lalu dilanjutkan bersalaman antar jamaah. Selain shalat berjamaah, juga terdapat aktivitas rutin pengajian Al-Qur'an setiap hari Ahad untuk dewasa, dan khusus hari Senin-Jumat untuk anak-anak.

Idul Fitri dan Idul Adha adalah aktivitas yang paling ramai di Masjid Jawa ini. Penduduk sekitar masjid juga sangat menyukai kenangan-kenangan dari Jawa ke Bangkok, Thailand. Hal ini terlihat dari koleksi mereka yang terjejer di rumah-rumah warga.

Bagi Naim, ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan mengasyikkan dapat berkunjung wisata religi di Bangkok. Bagi muslim traveller khususnya, dan traveller lain pada umumnya ia menyarankan untuk mencoba sensasi mengunjungi Masjid Jawa di negeri Gajah Putih ini.

Rabu 27 Februari 2019 21:0 WIB
NU Peduli di Daerah Terdampak Bencana (2) Ke Mana Bantuan Anda Mengalir?
NU Peduli di Daerah Terdampak Bencana (2) Ke Mana Bantuan Anda Mengalir?
Pembangunan hunian dan masjid sementara di Sulawesi Tengah
Oleh Dwi Winarno

Sengaja saya mau ikut serta dalam sarasehan bencana yang digelar NU Peduli awal bulan ini di Lampung. Apa pasal? Mendengar dan menuliskan.

Satu kali saya terkejut mendengar kiprah NU Peduli melalui pak Syahrizal Syarif, Ketua PBNU, dalam obrolan ringan di sela-sela rapat Komisi Program dan Rekomendasi untuk Munas dan Konbes Banjar 2019. Banyak sekali aktivitas sosial yang diceritakan. Bagi saya, penganut sinisme tak beraturan, mengapa yang diceritakan itu hanya diketahui segelintir orang. Padahal, kita saat ini berada di era late modernity, di mana informasi mestinya mengalir deras.

Dalam sarasehan, masalah publikasi ini sedikit disinggung. Ternyata yang membuat “malas” melakukan publikasi berlebihan adalah kuatir jika publikasi tersebut menjadi “riya”. Inilah problem mendasarnya. Lalu saya bergumam, “Dasar NU!” Padahal aktivitas sosialnya luar biasa. Berlangsung hingga berbulan-bulan setelah terjadinya bencana.

Agar yang kuatir soal publikasi ini tidak menjadi riya, maka saya mengorbankan diri untuk menuliskannya. Saya tidak terlibat dan menjadikan sesuatu yang dikerjakan orang lain agar saya mendapat pujian. Cukup sampai di situ. Saya berharap apa yang saya tulis mampu menggugah kesadaran kolektif jama’ah NU untuk mau terus berkontribusi. Kesadaran yang mampu menggerakkan. Kalau tidak, yah mudah-mudahan tidak ada kata “tidak”.

Bencana besar di NTB dan Sulawesi Tengah setidaknya telah membangkitkan semangat filantropi di kalangan NU. Sekurang-kurangnya sekitar 18 milyar berhasil dikumpulkan dan disalurkan. Adapun untuk Lampung dan Banten sekitar 10 milyar. Lalu saya membayangkan, bagaimana jika semangat filantropi ini terus berlangsung, misalnya untuk membangun rumah sakit, klinik, madrasah di daerah perbatasan atau tertinggal, masjid, pesantren, universitas kelas dunia, beasiswa, dan bantuan finansial untuk pengusaha mikro. Betapa dahsyatnya NU! Singkirkan pendapat orang lain, “bahwa NU itu identik dengan kemiskinan dan biarkan terus miskin.” Kelas menengah di NU kini jumlahnya sudah cukup melimpah.

Guna membangun kesadaran, tulisan di bawah ini sengaja saya susun berdasar data yang saya dapat. Anda yang telah menyumbang atau terlibat penggalangan dana bisa mengetahui untuk apa sesuatu yang Anda sumbangkan.

Di fase tanggap darurat gempa Lombok, NU Peduli telah mendistribusikan makanan siap saji dan mendirikan dapur umum yang menyasar 37.000 jiwa. Distribusi sembako, nutrisi khusus anak, terpal, tenda, family kit, hygiene kit untuk 52.390 jiwa. Distribusi kebutuhan khusus anak dan perempuan untuk 33.762 jiwa. Pelayanan kesehatan dan distribusi obat dan pelayanan kesehatan untuk 4.525 jiwa. Kemudian layanan psikososial bagi 8.000 orang dewasa dan 2.032 anak-anak.

Kemudian di fase transisi, hinggal Februari 2019, NU Peduli kembali melakukan berbagai aktivitas sosial. Melakukan distribusi sembako, nutrisi khusus anak, terpal dan tenda bagi 41.092 jiwa. Mendirikan masjid/musholla darurat sebanyak 28 unit dan masjid semi permanen 1 unit. Mendirikan madrasah darurat sebanyak 41 unit. Mendirikan hunian sementara sebanyak 603 unit. Mendirikan fasilitas air bersih dan MCK di 18 titik. Distribusi family kit bagi 5.810 keluarga. Distribusi hygiene kit bagi 541 keluarga. Distribusi school kit bagi 1093 anak. Distribusi kebutuhan khusus anak dan perempuan 587 jiwa. Pelayanan kesehatan bagi 7.234 jiwa. Pelayanan psikososial bagi 7.234 orang dewasa dan 3.582 anak-anak.

Sementara ketika terjadi gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi di Sulteng, NU Peduli kembali berkiprah. Pada fase tanggap darurat, NU Peduli telah mendistribusikan makanan siap saji dan mendirikan dapur umum yang mencakup 37.000 jiwa. Mendistribusikan sembako, nutrisi khusus anak, terpal, tenda, family kit dan hygiene kit bagi 52.390 jiwa. Distribusi kebutuhan perempuan dan anak bagi 33.762 jiwa. Pelayanan kesehatan dan distribusi obat bagi 4.525 jiwa. Pelayanan psiko sosial bagi 8.000 orang dewasa dan 3.032 anak-anak

Adapun pada fase transisi, distribusi sembako, nutrisi khusus anak, terpal, dan tenda untuk 41.092 jiwa. Memperbaiki 7 unit masjid/musholla darurat, mendirikan 4 unit masjid semi permanen, dan membangun 1 masjid permanen. Memperbaiki 15 unit madrasah. Membangun fasilitas MCK dan fasilitas air bersih di 12 titik. Membangun 139 unit hunian sementara. Mendistribusikan family kit dan hygiene kit bagi 4.000 keluarga. School kit bagi 2.000 anak. Pelayanan kesehatan dan distribusi obat untuk 3.113 jiwa. Kemudian layanan psikososial bagi 6.315 orang dewasa dan 3.550 anak-anak.

Selain dua bencana besar di atas, NU Peduli juga terlibat dalam penanganan korban bencana tsunami Lampung dan Banten yang terjadi akhir tahun lalu.

Masih di tahun yang sama, terlibat dalam berbagai penanganan bencana banjir ataupun longsor di Ponorogo, Pacitan, Brebes, Jakarta, Banjarnegara, Cirebon, dan Banyuwangi. Lalu gizi buruk di Papua. Juga berpartisipasi aktif mengirimkan bantuan dan tim medis ke Myanmar dan Bangladesh bagi pengungsi Rohingya.

Baca bagian sebelumnya: NU Peduli di Daerah Terdampak Bencana (1)


Penulis adalah dosen Pengampu Sosiologi Bencana, Unusia, Jakarta

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG