IMG-LOGO
Cerpen

Sebuah Kado Untukmu

Selasa 26 Maret 2019 4:20 WIB
Bagikan:
Sebuah Kado Untukmu
Oleh Abdullah Alawi 

Hari pernikahanmu semakin dekat. Kamu pasti sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Membagi-bagikan surat undangan, mempersiapkan mas kawin, mendatangi penghulu, membeli pakaian baru dan sebagainya. Pokoknya mempersiapkan lahir dan batin. 

Lalu akad nikah pun dilaksanakan di sebuah masjid. Ikatan suci memang mesti dilakukan di tempat suci. Itu rencanamu dari dulu yang sering diceritakan. Pihak keluargamu dan keluarga calon isterimu semuanya hadir. Mereka memanggilmu ‘pengantin baru’. Kamu menjadi raja sehari. Makanan serba enak. Pakaian serba bagus. Semuanya mengucapkan 'selamat'. Sungguh sejarah emas episode kehidupanmu. Kamu mengabadikannya dalam potret. Manusia memang menginginkan keabadian. Atau sekedar untuk kenang-kenangan. Sesekali kamu bisa membukanya di album. Atau ditempel di ruang keluarga. Meski sudah buram, tapi sangat tinggi nilainya.

Lalu kamu pun berbulan madu. Apa yang sering kita bayangkan dan diobrolkan di larut malam, di kamar kost itu, sekarang kamu menunaikan dengan halalnya. Kamu menunaikan titah alam. Melaksanakan sunnah Rasul dan sabda Tuhan.

Di malam pertamamu, kamu bagaimana ya? Canggung tidak? Kamu pasti memakai obat kuat bertenaga kuda. Mudah-mudahan kamu tidak impotensi. Kalau seperti itu, kamu harus berurusan dengan Mak Erot. Suatu saat kalau kita bertemu, entah kapan dan di mana pun, kamu harus menceritakannya. Seperti yang sering kita obrolkan tentang pernikahan, teman hidup, malam pertama, waktu larut malam sambil tiduran. Kalau sudah larut malam, pikiran memang selalu seperti itu. Hasrat paling purba datang menyapa.

Sekarang kamu disebut suami dan pendampingmu disebut isteri. Kamu boleh memanggil isterimu 'mama', 'umi', 'sayangku', namanya, atau 'humaira' seperti Nabi memanggil isterinya. Dan isterimu boleh memanggilmu 'aa', 'kang mas', 'papa', 'sayangku' atau namamu sendiri. Terserah apa kesepakatan kalian berdua. Atau bisa juga kamu membikin istilah baru yang dipahami dan disenangi kalian berdua.

Kamu sekarang berumah tangga. Punya lembaga yang bernama keluarga.  Punya mertua, adik ipar, dan kakak ipar. Mereka pasti memanggilmu berbeda-beda sesuai posisinya masing-masing. Untuk sementara, kamu bisa tinggal di rumah orang tua isterimu atau di rumah orang tuamu. Tugasmu sekarang bertambah, mencari nafkah. Apa pun caranya rezeki harus dicari asal halal. 

Dalam berumah tangga, kamu jangan memikirkan enaknya saja. Pada kenyataannya, pasti banyak menemukan masalah. Mulai dari masalah keuangan, rumah, kebutuhan sehari-hari hingga masalah ranjang. Itulah pernak-pernik perkawinan. Kamu harus ingat dalam berumah tangga, semua orang itu belajar. Yang sudah lama berkelurga saja bisa bercerai, apalagi pengantin baru. Semua masalah harus dihadapi dengan kepala dingin. Segala cara harus dilakukan untuk mempertahankan perkawinanmu. Kalau bisa semur hidup.
***

Beberapa bulan kemudian, isterimu ngidam. Dia hamil. Kamu mengantarnya ke puskesmas untuk memeriksa kandungan. Sebentar lagi buah hatimu akan lahir. Pada saat-saat senggang, kamu dan isterimu main tebak-tebakan; lelakikah, atau perempuankah anakmu kelak. Kalian mempersiapkan nama-nama yang indah seperti putra-putri rasul, nama-nama sahabat Nabi, tokoh-tokoh besar atau nama yang belum pernah ada. Kalian semakin bahagia. Pada saat usia kandungannya tujuh bulan, kamu melaksanakan ritual nujuh bulan. Kamu mengundang tetangga untuk membaca surat Yusuf dan surat Maryam. Itu maksudnya kalau lelaki ingin solih seperti Yusuf yang diceritakan dalam kitab suci. Dan kalau perempuan ingin solihah seperti Maryam. Perempuan suci ibundanya Al-masih. 

Usia kandungan isterimu semakin tua. Dan saat yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Kamu pasti berdebar-debar saat isterimu antara hidup dan mati melahirkan. Menyaksikan orang yang paling kamu cintai kesakitan yang tak terperikan untuk pertama kalinya. Kamu pasti berdoa sebisanya untuk keselamatan isteri dam anakmu.

Setelah anakmu lahir, isterimu tersenyum dengan penuh kemenangan. Kamu pun bahagia. Kamu dengan senangnya menyenandungkan azan di telinga sebelah kanan dan iqamah di sebelah kiri. Mungkin maksudnya pertama yang  didengar anakmu adalah panggilan shalat.  Kemudian  anakmu diberi nama yang indah sesuai kesepakatan kalian berdua. Kalau perempuan bisa Fatimah, Aisyah, atau Maryam. Kalau lelaki bisa Ali, Muhammad, atau nama yang belum pernah ada sebelumnya. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui, kalau anakmu lelaki, tapi diberi Aisyah misalnya, atau kalau anakmu perempuan dan diberi nama Yusuf, orang-orang akan heran. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua itu. Tapi orang-orang terlanjur sepakat bahwa Aisyah untuk orang yang berjenis kelamin perempuan, dan Yusuf untuk manusia yang berjenis kelamin laki-laki. Entah sejak kapan pembedaan tersebut. Lagi pula kasihan anakmu yang akan diolok-olok temannya. 

Kamu sekarang menjadi ayah dan isterimu menjadi ibu. Tugas kalian bertambah. Isterimu harus menyusui bayi, memandikan, mengganti popok. Kadang-kadang kamu juga menggantikannya bila ia sibuk. Betapa repotnya punya. Tapi ingat, kamu dan istrimu seperti itu waktu kecil. 

Kelak anakmu boleh memanggilmu 'ayah', 'bapak, 'abi', 'papa'. Kepada isterimu dia boleh memanggil 'ibu', 'bunda', 'mama' 'umi', atau panggilan yang sering digunakan di tempat tinggalmu. Atau panggilan yang sedang ngetrend saat itu. Atau istilah yang belum ada sebelumnya yang kalian pahami dan senangi. Anak itu bagaimana kamu membiasakannya. Dia akan menurutimu. Dan kamu boleh memanggil anakmu 'ade', 'nak', atau apa saja sesuai tempat kamu berada atau kesepakatanmu dengan isterimu. 

Pada hari ketujuh, kamu pasti aqiqah. Kalau laki-laki menyembelih dua ekor domba, sedangkan perempuan satu. Begitulah aturan fiqihnya. Kita pernah diskusi panjang lebar tantang perbedaan itu hingga masalah pambagian warisan, pemimpin, hakim, dan saksi perempuan sampai pada masalah kesetaraan jender. Kita mengeluarkan hadits dan dalil Alquran yang menjadi dasarnya. Pendapat-pendapat ulama klasik hingga ulama kontemporer kita kutip. Masing-masimg ngotot dengan pendapat sendiri. Tapi semua berakhir dengan tidak jelas. Dan ujung-ujungnya kembali pada masalah hidup, perkawinan, malam pertama, masa depan. Pada akhirnya kita bertanya pada diri sendiri, siapakah yang akan jadi isteriku kelak? Bagaimanakah wajahnya? Dimanakah dia sekarang? Orang manakah? Sedang apa dia sekarang, ya? Tahu tidak ya, kelak dia akan menjadi pasangan hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku. Betapa misteriusnya jodoh. Seperti hidup itu sendiri.  Setelah itu kita terdiam dengan pikiran masing-masing. Menerawang ke dunia antah-berantah. Kemudian tertidur. Bangun kesiangan. Tidak mandi pagi. Berangkat kuliah. Dicemberutin dosen.

***


Anakmu sekarang sudah mulai pandai bicara. Betapa lucunya. Dia mulai belajar menyebut ‘ayah’ dan ‘ibu’. Betapa indah kata-kata yang keluar dari buah hatimu. Kata-kata itu menegaskan eksistensimu sebagai ayah. Ketika berumur empat tahun, anakmu masuk TK. Dia mulai diperkenalkan pada rimba angka dan dunia aksara. Belajar menulis dan membaca. Mulai mengenal kawan dan belajar jajan. Pada usia enam tahun, anakmu mulai masuk sekolah dasar. Seperti anak-anak lain. Dia memasuki dunia baru lagi. Mulai mengenal PR. Saat itu adalah fase yang sangat mempengaruhi perkembangan anakmu. Biaya hidup bertambahmu pun bertambah.

Kemudian isterimu hamil lagi. Seperti yang kamu rencanakan. Jarak lahir anak-anakmu kira-kira enam tahun. Isterimu ikut program KB. Kamu berencana punya anak empat atau lima. Di sinilah aku salut padamu. Hidup itu terprogram. Meski hidup itu sebenarnya sulit ditebak.

Anak-anakmu semakin besar. Usiamu bertambah tua. Pendidikan anakmu sudah melewati beberapa jenjang. Ada yang sudah lulus dari perguruan tinggi dan bekerja. Anakmu sudah ada yang merengek minta nikah pula. Kamu kemudian punya besan dan mantu yang tentunya orang-orang yang tak terduga sebelumnya. Seperti pernikahanmu dengan isterimu.  Kamu mandapat panggilan lagi sesuai posisinya. Dan ketika anakmu lahir, kamu punya cucu. Kelak kalau cucumu punya anak, kamu punya cicit. Begitu seterusnya. Kamu sekarang mempunyai keluarga besar.

***

Suatu hari, beberapa hari sehabis lebaran, seluruh keluarga besarmu bekumpul. Beramah-tamah setelah setahun tak berjumpa. Membicarakan tentang apa saja. Salah seorang cucumu yang sudah duduk di perguruan tinggi bertanya pengalamanmu selama kuliah. Kamu pun bercerita. Saat itulah kamu ingat seorang sahabat semasa kuliah. Dan kamu pun ingat pada secarik kertas yang usang.

"Kakek punya sahabat semasa kuliah. Pada waktu pernikahan kakek, dia tidak datang. Dia hanya menitip kado yang isinya cuma sebuah cerpen." Kemudian kamu menunjukkan kertas yang sudah usang itu. Cucumu berebut ingin membacanya.

"Siapa namanya teman Kakek itu?"

Kamu diam. Ingatamu mengaduk nama-nama yang pernah dekat. Pada sahabatmu yang dulu pernah sekamar, saling bercerita tentang hidup, keluh-kesah, sampai lupa. Karena bertahun-tahun terlindas dalam silang-sengkarut pikiranmu. Begitulah, kadang kita lupa pada orang yang begitu dekat dengan kita.  

"Dimana dia sekarang, Kek?" tanya cucumu yang lain karena dia memahami bahwa kamu memang lupa. Dan tidak mementingkan persoalan nama.

"Kakek tidak tahu. Sahabat kakek ini pemalas. Tidurnya kuat. Kabarnya dia tidak menyelesaikan kuliahnya. Dan sekarang kakek tidak tahu, apakah dia sudah menikah apa belum.” 

“Atau mungkin sudah mati, Kek?” kata salah seorang cucumu yang manis. Kemudian seluruh keluarga besarmu tertawa lepas. 

Kamu tak menjawab. Cuma senyum tertahan. Ingatan-ingatan tentangku menampakan diri. Berkelebat begitu cepat di kepalamu. Kemudian lenyap...

Dan aku tak tahu sudah seperti apakah keadaanku waktu itu.


25 Desember 2005



Bagikan:
Senin 25 Februari 2019 1:0 WIB
Riwayat Memahami
Riwayat Memahami
Ilustrasi: fatychaeny.blogspot.com
Riwayat Memahami
oleh Abdullah Zuma 

“Pahamilah aku! Kamu tak pernah bisa memahamiku,” katamu suatu ketika. 

Aku kaget mendengar kata itu. Untuk beberapa saat aku  diam tak menanggapi karena tahu harus berkata apa.

Kamu diam. Menunggu aku bicara.

Setelah berapa lama diam, terpaksa aku bersuara.

“Perlu kamu ketahui,” aku mulai bicara, “kata memahami begitu menakutkan bagiku. Jangankan melakukannya, membayangkannya pun aku tak pernah. Bukan sekadar tak bisa, tapi tak mungkin bisa. Jangankan memahamimu, sudah kukatakan bahwa tentang diriku, keberadaanku, mengapa aku begini, bukan begitu, sampai saat ini aku tak paham. Juga tentang kenapa aku mencintaimu sampai saat ini aku tak memahaminya. Jangan-jangan aku mencintaimu karena memang aku tak memahami.”

Kamu diam.

“Baiklah kalau kamu kurang memahami apa yang kukatakan tadi, aku akan menceritakan riwayatku tentang memahami. Begini, saat aku berada di ruang kelas, waktu aku masih sekolah, aku sering tak paham apa yang diterangkan ibu guru. Aku hanya memandangi mimik muka, menyimak intonasi, gerak-gerik tubuhnya, tapi kata-kata yang berhamburan dari mulutnya jelas tak kupahami. Kata-katanya hanya jadi buih percuma. Jangankan memahami kata-kata orang lain, kata-kataku sendiri saja kadang aku tak paham. Aku tak pernah bertanya dan ditanya ibu guru karena bukan sekadar mungkin tapi pasti aku tak kan bisa menjawab. Aku hanya diam saja. Kawan-kawanku tidak akan menertawakan atau mencemoohku karena mereka sudah maklum dengan kebiasaanku. Aksara atau gambar yang ada di papan tulis yang dibikin bu guru terasa asing. Catatan-catatan yang aku bikin juga hanyalah sebatas catatan. Karena jika aku membacanya kembali saat waktu ujian semakin dekat, aku hanyalah membaca tanpa ada yang bisa kupahami. Maka, waktu aku mengisi sosl-soal uji
an, sungguh jarang –untuk tidak mengatakan tidak pernah-  aku membacanya, karena itu sia-sia. Aku cuma pura-pura membaca soal, bukan memahami.”

Kamu masih diam.

“Kemudian jika nilai-nilaiku ada yang bagus, sungguh itu hanyalah keberuntungan, itu adalah kebetulan belaka. Dan jika itu terjadi berkali-kali, itu adalah keberuntungan dan kebetulan yang berkali-kali, berturut-turut, berulang-ulang. Jika kau bertanya mungkinkah itu terjadi? Begitulah kenyataannya. Kadang aku juga tidak paham akan semua itu. Ada juga kemungkinan lain bahwa nilai-nilai yang tertera di rapor, dikatrol ibu guru sehingga aku layak naik kelas. Itu mungkin sekali terjadi karena dia kasihan kepadaku. Pertimbangannya adalah, percuma saja aku tak naik kelas karena dia pasti tahu tak akan ada perkembangan berarti dalam pemahamanku.”

Kamu masih juga diam.

“Kamu masih ingat video klip yang kau berikan beberapa waktu lalu itu?” 

“Oh ya. Masih ingat? Kenapa?”

“Nah, di video klip itu ada lagu yang sering kaunyanyikan. Suaramu persis dengan penyanyi aslinya. Terus terang aku menyukai dan menikmatinya. Tapi jelas aku tak bisa memahaminya. Aku sepakat dengan orang yang mengatakan bahwa menikmati tak selamanya harus memahami. Jika aku menontonnya, lagi-lagi aku tak paham gerak-gerik orang yang ada dalam gambar hidup itu, meski aku telah berjuang memahaminya. Karena itulah aku kurang suka menonton film meski kamu mengajakku beberapa kali. Percuma! Aku sangat sukar memahami gerak-gerik, alur cerita, apalagi menebak akhir dari cerita dan bagaimana nasib tokoh-tokohnya. Jika nonton bersama teman misalnya, aku sering bingung sendiri. Dia biasanya tertawa melihat adegan atau kalimat yang tentu menurutnya lucu. Dia kadang terharu, mengangguk-angguk, tersenyum, atau bahkan menangis. Apalagi film dengan bahasa asing. Terjemahan kata-katanya tak banyak membantu.”

Kamu kembali terdiam.

“Apalagi kalau berbicara tentang hidup, lebih tak kupahami! Dari satu soal saja, masalahnya bisa beranak-pinak sampai tak terhingga. Misalnya, tentang dari mana asalnya manusia, harus bagaimana seharusnya, dan akan kemana nantinya, akan berkecambah masalahnya sampai tak terhingga karena dari waktu ke waktu cara pandang orang semakin berkembang. Sungguh aku tak paham semua itu. Sudah kukatakan, jangankan tentang hidup, tentang diriku, keberadaanku, mengapa akau seperti ini bukan seperti itu, sampai saat ini aku tak paham. Sampai aku pada kesimpulan seperti ini, hidup bukan untuk dipahami dan dimengerti, tapi dijalani. Makanya aku hidup, ya hidup saja seperti ini. Aku hanya menjalani saja tanpa pernah memikirkan atau merencanakan karena aku rasa kelahiranku, keberadaanku tanpa aku pikirkan dan aku rencanakan sebelumnya. Karena itulah, aku hampir tidak pernah punya cita-cita, tujuan hidup, keinginan, berusaha mengubah diri, apalagi mengubah orang lain. Sebab semuanya ‘merasa’ ada yang sudah memikirkan dan merencanakan. Kamu jangan bertanya siapa yang memikirkan dan merencanakannya, karena aku sama sekali tak tahu! Aku hanya merasa seperti itu. Jika ingin jelas, tanyakan saja pada orang lain.”

Lagi-lagi kamu terdiam.

“Sungguh! Janganlah kamu meminta supaya aku bisa memahamimu. Itu akan sia-sia saja. Tapi kamu jangan pernah menyangka jika aku tak bisa memahamimu berarti aku tak mencintaimu. Jangan! Jangan pernah punya pikiran seperti itu. Memahami dan mencintai adalah dua hal yang sunguh berbeda. Jika ada yang menyamakan, atau mengait-kaitkan, sungguh! Itu hanya akal-akalannya saja. Tapi sekali lagi, jika yang kaupinta adalah memahami, jangankan berbicara tentang kepastian, untuk mengatakan sekadar kemungkinan pun aku masih ragu. Juga bukan sekedar ragu, tetapi aku yakin tak bisa.”

“Mungkinkah cinta tanpa memahami?” kamu sekarang bertanya setelah mendengar penjelasanku  yang entah kamu pahami, entah tidak. Terus terang sebenarnya aku juga tak paham penjelasanku sendiri. Aku hanya berusaha berkata dan seperti itulah kata-kata yang keluar.

Aku langsung menjawab, “Mungkin! Bahkan aku pikir bukan hanya sekadar ‘mungkin’, tapi pasti.”

“Seperti apakah menjalani cinta tanpa memahami?” tanyamu lagi.

“Seperti yang kita jalani sekarang ini.”

“Seperti apa yang kita jalani sekarang ini?”

“Ya, seperti ini.”

“Iya, seperti apa?”

“Aku tak paham pertanyaanmu.”

“Aku tak paham penjelasanmu.”

Kamu terdiam. Aku juga terdiam. Kamu sepertinya tak ingin bertanya lagi. Aku juga tak ingin menjelaskan lagi. Mungkin antara aku dan kmu tidak ada yang mesti dipahami lagi.


Penulis adalah Nahdliyin tinggal di Bandung, pernah nyantri di Pondok Pesantren Asy-Syarfiyah dan As-Salafiyah Nurul Hikmah Sukabumi 

Ahad 13 Januari 2019 19:30 WIB
Pasukan Kuning dan Merah Menjelang Musim Panas
Pasukan Kuning dan Merah Menjelang Musim Panas
ilustrasi: merdeka.com
Oleh Dwi Putri

Manusia memang harus pandai berandai-andai tanpa berharap perandaiannya akan terkabul. Dari jari jempol dan telunjuk sama-sama beradu ketangkasan kiranya siapa yang paling kuat di antara mereka dalam menaklukkan gumpalan makhluk tersebut. Ada yang kuning dan ada yang merah, bening dan cair. Dengan langkah pelan dan mata terpicing, laki-laki kurus tersebut berhasil menangkap satu, si kuning. Gembiranya bukan kepalang. Ia menunjukkan kepada ibunya betapa hebatnya dirinya mampu membuat si kuning bertekuk lutut.

“Ahiyahhhhh, dapat juga kau rupanya.”

Dari bawah bibirnya yang hitam –akibat sering mengepul rokok nipah- si kuning berteriak tak berhenti hingga suaranya parau. Cairan tubuhnya tidak mengalir dan menetes. Hanya saja, ketika dielap, ia akan timbul lagi. Begitu seterusnya. Melihatnya, si laki-laki sampai kejam dan tega menekan si kuning terhimpit hingga tak mampu bernapas. Si kuning tersengal dan mencari celah. Barangkali ada angin yang rela hinggap dengan memberinya secercah harapan untuk hidup. Tapi tangan si laki-laki terlalu sigap untuk ia lawan. Pada hari itu juga akhirnya si kuning mati.

Sebelum kematiannya, si kuning sudah mewanti-wanti akan bagaimana keadaanya. Banyak yang tidak suka dirinya dan kaumnya. Bukan banyak, tapi nyaris seluruh sesiapapun yang melihat. Apa lagi di sentuh oleh si kuning. Karena ketidaksukaan semua orang inilah, kekuatan muncul tanpa komando. Kaum si kuning diberi maklumat oleh sesepuh mereka, jika mati satu maka akan tumbuh seribu. Bahkan mungkin bisa berjuta-juta. Tergantung bagaimana lawan. Makanya ketika terbunuh, kaum kuning tidak pernah takut kehilangan jati diri.

Si merah? Ia cukup bedebah, pintar memainkan keadaan. Ia tidak muncul jika situasi sedang buruk. Hanya satu dua atau tiga saja. Tapi jika mereka sedang marah, siapapun yang berani menggepurnya, maka di saat itulah kekuatannya terkumpul. Tak ada yang berani membalas kesaktian si merah. Ia merah –seperti namanya-, besar, tinggi, dan seperti yang aku katakan di atas. Dia cukup licik dalam melihat situasi.

Kematian si kuning beranak pinak menciptakan puluhan kehidupan baru. Para tetua memberkati bayi-bayi yang siap untuk bertarung di medan perang. Sama seperti orang terdahulu mereka, bayi-bayi tersebut langsung diberi petuah mati satu tumbuh seribu. Semua tersenyum dan sigap menghadapi semua ancaman. Ketenangan tak pernah mereka dapat. Kecuali satu masa, yakni musim panas. Di sana mereka akan menang tanpa perlawanan. Dan yang lebih menggembirakan lagi adalah musim tersebut akan dimulai dalam jangka waktu tujuh hari ke depan. Begitu kira-kira yang disampaikan oleh tetua Zao –pimpinan pasukan kuning dan merah-. Tentunya dalam kesempatan ini, pasukan merah juga akan turun ke medan. Licik.

Akan tetapi, sehebat apapun kaumnya, manusia ternyata lebih pintar ketimbang mereka. Enam hari sebelum musim panas, tiba-tiba badai datang dan petir menyambar-nyambar. Anak-anak, pemuda, dan orang tua berlari ke sana-kemari tak tahu arah. Dari singgasana yang berada di atas bukit Tashis, Tetua Zao hanya terdiam menyaksikan apa yang sekarang terjadi pada negerinya. Semua terporak poranda. Ia tidak mungkin merangkul seluruh rakyatnya untuk naik bersama dirinya di singgasana. Turun ke bawah juga tidak mungkin. Mana bisa orang tua sepertinya menghalau hebatnya kekuatan manusia? Keadaan begitu mencekam, hanya ada teriakan, dentuman suara yang tetua Zao sendiri tak paham suara apa itu, petir dan halilintar. Tangan tetua Zao memeluk tubuhnya sendiri. Sampai dagunya menyatu dengan lutut. Puluhan bayi yang baru lahir kemarin juga tak tahu ke mana. Karena seperti tradisi biasanya, bayi-bayi itu akan dirawat oleh para dayang di kampung sungai bukit Yao Kim yang ada di lereng gunung Tashis. Dan kini kampung tersebut suda
h menyatu rata dengan bumi mereka. Hilang.

Mereka tumbang sebelum berperang. Padahal, ketika musim panas nanti, pasukan kaum kuning dan merah akan membunuh manusia secara perlahan. Tidak serta merta melawan dengan gecaran tangan dan kaki. Setidaknya itulah strategi yang bisa mereka gunakan untuk menumpas lawan sekuat manusia. Bukankah begitu juga yang dilakukan oleh Odyseus –sang ahli strategi perang asal Yunani- ketika ingin menjatuhkan kota Troya yang terkenal dengan kekuatan benteng yang tidak bisa ditembus. Troya jatuh dalam satu malam saja setelah penantian panjang. Tetua Zao tidak sehebat Odyseus. Mungkin sebelum musim panas, manusia juga akan menyerang bukit Tashis. Tetua Zao siap dengan apapun yang ditakdirkan oleh Tuhan. Tugas utamanya bukan melawan, tetapi membuat lengah. Sehingga dengan kelengahan tersebut, manusia akan mati dengan gerogotan mengerikan yang mereka bawa. 

Bersama menteri dan pegawai singgasana, tetua Zao mengajak mereka menjemput takdir. Mereka berdoa dan meyakini jika di bawah tanah negeri mereka masih ada akar dan kehidupan pasukan kaum kuning dan merah. Maka suatu saat nanti kehidupan kaum kuning dan merah akan muncul kembali  tanpa mereka. Soal kematian adalah ketentuan Tuhan. Sembari mengepalkan kedua tangan, tetua Zao siap dirampas habis.

***

Si laki-laki terus saja menatap cermin. Ia semakin berbangga hati.

“Mak, jerawatku makin hilang. Tinggal di keningku ini yang masih ada. Besok aku pakai resep yang Emak kasih ya, supaya jerawatnya hilang semua.”

Emak hanya tersenyum melihat si laki-laki yang berjalan semampai mendekat ke arahnya yang sedang memetik sayur kol.


Penulis adalah mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia
Senin 31 Desember 2018 3:0 WIB
Punya Anak Perempuan Seperti Punya Warung?
Punya Anak Perempuan Seperti Punya Warung?
ilustrasi: harian.analisadaily.com
Oleh Abdullah Alawi

"Min, sekarang aku ingin anak perempuan, aku sudah bosan punya dua anak laki-laki," kata Jalu sambil membelai-belai perut Mimin, isterinya yang sedang hamil.

Mimin yang sedang menjahit pakaian yang dipesan tetangganya itu menghentikan kegiatannya. Meski dalam keadaan hamil, dia kebanjiran order, dan dia telus mengerjakannya. Lumayan menambah penghasilan, daripada mengandalkan hasil ngojek suaminya yang hasilnya tak seberapa, kadang juga tak membawa hasil.

"Kenapa?" tanya Mimin sambil mematikan stroom mesin jahit.

Jalu tidak menjawab. Dia terus membelai perut Mimin yang menggelembung seolah sedang bercakap dengan jabang bayi yang menghuni di dalamnya. Pikiran Jalu masih terpaut pada kata-kata mang Dasim ketika ngobrol di warung mang Kardi tadi pagi saat menunggu penumpang. 

"Sekarang kalau punya anak mendingan perempuan. Punya anak perempuan, berarti nantinya kita punya warung," kata mang Dasim. 

Jalu yang hendak minum kopi meletakkan kembali gelasnya di atas meja. "Kenapa?" tanyanya penasaran.

"Kalau sudah menjadi gadis, tiap malam minggu pemuda-pemuda datang. Apel! Biasanya kan mereka bawa makanan. Sekeluarga kebagian. Aku juga biasanya dapat jatah rokok barang sebungkus atau dua bungkus. Jadi, beberapa hari aku tak perlu beli rokok. Nah, rokok yang kau hisap itu adalah rokok pemberian dari pacar anakku. 

“Tapi tidak semua pemuda itu punya duit kan?”

“Kalau sudah tak berduit, suruh putusin saja. Gampang! Gonta-ganti pacar nggak apa-apa." 

Di sini orang tua harus berperan. Kita harus pandai mencarikan orang kaya. biasanya royal dalam urusan perempuan. Seperti anak tetanggaku. Konon sekarang sudah tunangan. Pengikatnya adalah cincin yang bisa membeli satu hektar tanah dan sepasang kerbau. Bagaimana tidak senang? Ayahnya, haji Dulah, disebut-sebut sebagai calon orang kaya baru di kampung ini. 

Mang Dasim menghisap rokok dengan nikmat sekali dan tanpa beban. 

"Apalagi kalau anaknya cantik, akan jadi rebutan!

"Tapi kasihan calon suaminya itu setua haji Dulah, dan konon, dijadikan isteri ketiga."

"Masalah tua atau muda, atau dijadikan isteri ke berapa, itu urusan lain. Kalu suaminya mati, nanti dapat warisan. Yang penting orang tua makmur." 

"Bagaimana kalau anaknya tidak mau?"

"Kita paksa saja sampai dia mau. Memaksa itu tidak selamanya jelek. Kita para orang tua lebih tahu dan berpengalaman. Lagi pula itu untuk kesenangan masa depan anak kita juga. 

Jalu mengangguk-angguk. "Tapi bukankah anak perempuan itu banyak memerlukan uang, untuk dandan. Misalnya beli lipstik, bedak atau pakaian yang bagus-bagus?"

"Memang. Tapi itu sebentar. Perempuan itu cepat dewasa, tidak seperti anak laki-laki. Selepas sekolah, tunggu saja beberapa tahun, nanti juga ada jodohnya. Kita cuma modal bedak dan lipstik supaya dia mau dandan. Selain itu, keringanannya punya anak perempuan bisa dihitung berdasar agama. Aqiqahnya, cuma satu ekor kambing atau domba. Kalau laki-laki harus dua! Dan nanti kalau saat pembagian warisan, dia hanya kebagian setengah dari laki-laki. 

Jalu baru mendengar penejelasan seperti itu.

Selain itu, sekarang lapangan kerja buat perempuan itu banyak sekali. Pabrik-pabrik garmen buka lowongan kerja ribuan hanya untuk perempuan. Kamu lihat satpam sekarang ada anak perempuan, bahkan di SPBU. 

Katanya gaji perempuan itu lebih rendah dari  laki-laki. Lagi pula perempuan tak pernah demo. Dan mereka ulet dan mudah diatur. Kalaupun sekolahnya rendah, dia bisa menjadi TKW ke luar negeri. Atau sederhannya dia menjadi pembantu rumah tangga di kota-kota besar. Banyak makelar-makelar yang datang ke kampung kita. Coba perhatikan saja mang Karta, dia enak saja di rumah. Isterinya jadi TKW di Arab Saudi. atau si Juned yang kerjanya mengantar anak-anak sekolah. yang membiayai ya isterinya dari saudi. Padahal aku tahu kalau malam hari dia ada main dengan janda tetangga sebelah.

Jalu mengangguk-anggukkan kepala.

Begitulah cara pandang meraka terhadap perempuan. Kalau pada masa jahiliyah orang Arab tak menginginkan anak perempuan karena mereka tak bisa perang, tapi di sini sebaliknya. Perempuan itu diharap kelahirannya. Karena punya anak perempuan berarti punya tambang emas. Perbedaannya kalau jaman jahiliyah ketidakhadirannya karena tidak bisa perang, di sini kehadirannya untuk diperas dan dimanfaatkan. beda tipis. 

"Kenapa kang, kok melamun?" Kata Mimin karena Jalu kelihatan melamun.

Min, aku ingin anak perempuan. Tadi malam aku bermimpi anak yang terlahir itu adalah perempuan. Cantik sekali. Persis seperti yang kita inginkan. Aku telah mempersiapkan nama untuknya. Kalau punya anak perempuan, kita punya warung.

Anak itu, laki-laki atau perempuan sama saja. Sama-sama titipan tuhan. Harus dipelihara dan dididik dengan baik-baik.

Tidak! Punya anak laki-laki itu benalu. Pendidikannya harus tinggi. Setelah lulus, belum tentu dapat kerja. Ini repot. Belum lagi kalau dia minta kawin. Dia akan masin tergantung pada orang tuanya.

Mimin mengerenyitkan dahi.

***

Ternyata anak yang lahir itu adalah laki-laki. Beberapa hari Jalu kelihatan murung. Kerjaannya uring-uringan. Warung yang ditunggunya tidak datang. 

Min, aku ingin anak perempuan. Kamu harus cepat hamil kembali," begitu kata Jalu setelah 40 hari Mimin masa nifasnya selesai.

Mimin terdiam. Dia tak habis pikir dengan keinginan Jalu. Tapi Mimin tak bisa menolak, karena Jalu pasti membentak. Beberapa bulan kemudian, Mimin hamil kembali. Tapi ketika anal itu lahir, ternyata laki-laki. Jalu makin jengkel saja. Dia langsung minta Mimin untuk hamil kembali. Mimin sudah pasrah saja akan kelakuan makhluk yang diberi nama suami itu. Dia sebenarnya ingin menunda melahirkan. Capek sekali rasanya. Dari perutnya telah keluar empat manusia. Melahirkan itu bukan masalah gampang. Nyawa jadi taruhannya. Antara hidup dan mati itu sangat tipis jaraknya. Atau bahkan mungkin tidak berjarak. Tentu saja Jalu tak pernah tahu dan tak mau tahu apa yang dirasakannya. Sementara Mimin harus bekerja membantu suaminya menghidupi keluarga. Tapi dia tak punya pilihan karena jalu memaksanya untuk cepat hamil kembali. Dan, kalau bisa punya anak perempuan. Kalau tidak punya anak perempuan, jalu akan menikah lagi denga perempuan lain. Sempat juga dia diancam akan dimadu kalau tidak punya anak perempuan. dan dia menangis setelah tahu ada misi yang tak jelas bila anknya lahir. kalau mau dimadu boleh, kalau tidak mau, ya berarti cerai saja. 

siapa yang bisa menentukan kelahiran jenis kelamin seseorang. bahkan dokter yang palin genius pun dan alt tercanggih pun. ilu kedokteran cuma bisa menebak apakah dalam perut itu adalah jenis kelamin laki-laki atau perempuan. dan itu pun bisa saja salah. akhirnya isterinya itu pun menyerah. dia terpaksa harus hamil lagi, dan kemudian mesti melahirkan dengan sakitnya setengah mati.

Untuk mencapai cita-citanya, Jalu diam-diam bertanya kepada tetangga-tetangga bagaimana cara-cara supaya mendapat anak perempuan. tidak puas keterangan dari tetangga, dia bertanya pada paraji, kiai dan bahkan dukun. Doa-doa, mantera-mantera, tirakat dan bahkan puasa lakukan. Sampai cara senggama dia tanyakan. dia pun melakukan shalat malam yaang jaran sekali dia lakukan.

Pada saat nujuhbulan, dia tidak meminta kiai untuk membaca surat Yusuf, tetapi surat Maryam. Seolah yakin bahwa bayi yang ada dalam perut isterinya adalah perempuan. 

Dan saat-saat mendebarkan itu pun datang. Dia gelisah  seolah murid SD yang mengintip raportnya di akhir tahun pelajaran. Harap-harap cemas, apakah akan naik kelas atau tidak. Dia seperti terdakwa menunggu vonis hakim. Kerjaannya bolak-balik ke kamar itu seperti seekor kucing mengintip peda dia menyaksikan isterinya. proses melahirkan yang paling lama yang dia saksikan. entah berapa kali peraji itu melapalkan mantera. mertuanya telah berkali-kali datang ke kiai setempat supaya minta didoakan. tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. dalam pikirannya berdoa supaya anak itu lahir perempuan. itu saja! 

Dan lahirlah bayi itu. betapa sumringahnya dia ketika dikabari bahwa anak itu perempuan. dia seperti anak kecil yang mendapat hadiah sepeda di hari ulang tahunnya. dia tak memperhatikan orang yang paling berjasa dalam proses melahirkan itu: Mimin. seandainya tak dilarang oleh peraji, dia ingin langsung membopongnya seperti Abdul Muthalib mengelilingi ka'bah ketika Muhammad, cucunya lahir. dia ingin mengarak ke kampung dan mengabarkan bahwa anaknya adalah perempuan. dia hampir lupa azan dan iqamah di telinga anak yang nantinya akan membawa warung. 
dia ingin berlari sekencang-kencangnya ke rumah mang dasim kemudian berkata, mang, aku punya anak perempuan. aku punya warung. kemudian lari kembali sekencang-kencangnya kembali ke rumahnya. Dia ingin berteriak eureka! 

tetangga-tetangganya mengucapkan selamat.

"Wah, kamu sekarang sebentar lagi punya warung," kata mang Dasim.


Ciputat, Desember 2007

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG