IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Isra’ Mi’raj dalam Konteks Kemajuan Teknologi


Ahad 31 Maret 2019 13:30 WIB
Bagikan:
Isra’ Mi’raj dalam Konteks Kemajuan Teknologi
Setiap tahun, pada tanggal 27 Rajab, umat Islam selalu memperingati Isra’ Mi’raj yang merupakan perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram menuju Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat. Ini merupakan proses spiritual yang sangat dalam yang menghubungkan umat manusia dengan Allah melalui shalat yang dijalankan selama lima kali dalam satu hari. Peristiwa tersebut tetap relevan dalam konteks era teknologi sekarang ini.

Kemajuan teknologi juga telah mampu mengurangi waktu secara signifikan untuk mengerjakan berbagai hal.  Rasulullah juga berhasil “menegosiasikan” jumlah shalat yang seharusnya 50 kali menjadi hanya 5 kali atau hanya sepersepuluhnya. Dengan demikian umat Nabi Muhammad diharapkan bisa melakukan banyak urusan kehidupan dunia lainnya.

Banyak aspek kehidupan yang dilakukan secara manual pada era Rasulullah hidup, kini dilakukan secara sangat efisien berkat teknologi. Mungkin dalam banyak hal, persentase efisiensinya lebih tinggi dibandingkan sepersepuluhnya. Perjalanan ibadah haji yang dulu menggunakan kapal laut sehingga membutuhkan waktu berbulan-bulan, kini hanya perlu waktu delapan jam. Kita bisa melihat dengan waktu nyata kejadian-kejadian di seluruh dunia. Teknologi pula yang memungkinkan manusia menjelajahi angkasa luar. 

Dalam kondisi demikian, seharusnya manusia mampu memanfaatkan kehidupannya untuk hal-hal yang lebih produktif karena hal-hal yang sebelumnya harus dikerjakan secara manual, kini dikerjakan oleh teknologi atau mesin.  Namun, ternyata manusia toh tetap saja menyia-nyiakan waktunya yang berharga untuk hal-hal yang kurang produktif.  Juga bukan untuk beribadah sebagaimana kewajiban atau kesunnahan dari Rasulullah. Nyatanya, banyak di antara kita yang merasa semakin kekurangan waktu. Merasa diburu-buru pekerjaan yang tidak ada habisnya. Merasa tertekan oleh tuntutan-tuntunan baru yang semakin hari semakin bertambah. 

Banyak di antara kita menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk menelusuri telepon cerdasnya. Di berbagai tempat, orang sibuk dengan HP-nya masing-masing untuk mencari informasi atau sekadar mengakses media sosial. Kadang bahkan terlihat tertawa sendirian. Yang di sekitarnya juga cuek karena masing-masing sibuk dengan dunia yang ada di genggamannya. Teknologi telah menjadi candu bagi banyak orang. 

Penyakit baru terkait dengan teknologi, yaitu Fear of Missiong Out (FOMO) atau ketakutan ketinggalan hal-hal terbaru yang ada di internet atau media sosial merebak. Merasa harus selalu terkoneksi dengan HP untuk mengecek unggahan terbaru yang muncul di media sosial. Mengunggah foto atau menulis komentar di media sosialnya untuk kemudian ingin tahu berapa jumlah suka yang diperoleh atau respons dari warganet atas status yang diunggahnya. Jika sedikit yang memberi tanda suka atau ada komentar yang negatif, maka stress dan tekanan mental pun muncul.

Dengan demikian, maka eksistensi dirinya hanya ditentukan oleh berapa banyak orang yang suka atas materi yang diunggah di media sosial. Berbagai cara digunakan untuk menarik sebanyak-banyaknya pengikut. Pergi ke luar negeri di tempat-tempat yang indah untuk memamerkan fotonya yang mana kebanyakan orang tidak dapat mencapai tempat tersebut, bahkan melakukan tindakan-tindakan ekstrem yang berbahaya. 

Dalam situasi seperti ini, manusia sesungguhnya telah mendegradasikan nilai-nilai kemanusiaannya sendiri. Energi, sumber daya, dan waktu yang dimiliki digunakan untuk mengejar popularitas sesaat dalam viral yang dalam satu harus sudah diganti dengan viral yang lain. Bahkan dalam situasi tertentu, seperti saat momen-momen politik, maka media sosial digunakan untuk membagikan konten-konten hoaks. 

Kita manusia, memiliki makna dalam hidup ketika kita mampu memberikan kontribusi kepada orang lain. Semakin besar kontribusi yang dapat kita berikan, maka semakin tinggi makna yang kita berikan. Semakin panjang manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain, tinggi apresiasi yang diberikan. Kita harus menciptakan warisan-warisan berharga bagi banyak orang. Ada sedemikian banyak persoalan yang menunggu penyelesaian. Ketika eksistensi diri kita hanya ditentukan oleh berapa jumlah suka yang kita peroleh di media sosial, sungguh sebuah kesia-siaan.

Teknologi telah memberi kemudahan bagi kita untuk melakukan banyak hal. Tapi di sisi lain, jika kita tidak awas, teknologi telah menghipnotif kita dengan beragam hiburan yang jumlahnya tak terbatas. Yang akhirnya menghabiskan waktu-waktu produktif kita yang sangat berharga, baik untuk berhubungan dengan Allah atau berurusan dengan manusia. Kecanggihan teknologi yang terus diperbaharui akan semakin melenakan kita. Jika itu yang terjadi, maka tak ada makna yang kita tinggalkan. Tak ada jejak yang kita terakan. Mereka orang-orang yang terlahir, menyibukkan diri dengan teknologi di genggaman. Menjadi tua dan akhirnya meninggal. Dan terlupakan. Hanya sekedar bagian dari deretan angka-angka yang menjadi target produsen teknologi untuk menjual hidupnya. 

Isra’ Mi’raj mengingatkan kembali kepada kita akan aspek spiritual dalam hidup untuk selalu menjaga hubungan dengan Allah. Di situlah kita menjaga eksistensi kemanusiaan kita karena jika shalat seseorang itu baik, maka hal-hal lainnya juga baik. (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG