IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Isra’ Mi’raj dalam Konteks Kemajuan Teknologi

Ahad 31 Maret 2019 13:30 WIB
Bagikan:
Isra’ Mi’raj dalam Konteks Kemajuan Teknologi
Setiap tahun, pada tanggal 27 Rajab, umat Islam selalu memperingati Isra’ Mi’raj yang merupakan perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram menuju Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat. Ini merupakan proses spiritual yang sangat dalam yang menghubungkan umat manusia dengan Allah melalui shalat yang dijalankan selama lima kali dalam satu hari. Peristiwa tersebut tetap relevan dalam konteks era teknologi sekarang ini.

Kemajuan teknologi juga telah mampu mengurangi waktu secara signifikan untuk mengerjakan berbagai hal.  Rasulullah juga berhasil “menegosiasikan” jumlah shalat yang seharusnya 50 kali menjadi hanya 5 kali atau hanya sepersepuluhnya. Dengan demikian umat Nabi Muhammad diharapkan bisa melakukan banyak urusan kehidupan dunia lainnya.

Banyak aspek kehidupan yang dilakukan secara manual pada era Rasulullah hidup, kini dilakukan secara sangat efisien berkat teknologi. Mungkin dalam banyak hal, persentase efisiensinya lebih tinggi dibandingkan sepersepuluhnya. Perjalanan ibadah haji yang dulu menggunakan kapal laut sehingga membutuhkan waktu berbulan-bulan, kini hanya perlu waktu delapan jam. Kita bisa melihat dengan waktu nyata kejadian-kejadian di seluruh dunia. Teknologi pula yang memungkinkan manusia menjelajahi angkasa luar. 

Dalam kondisi demikian, seharusnya manusia mampu memanfaatkan kehidupannya untuk hal-hal yang lebih produktif karena hal-hal yang sebelumnya harus dikerjakan secara manual, kini dikerjakan oleh teknologi atau mesin.  Namun, ternyata manusia toh tetap saja menyia-nyiakan waktunya yang berharga untuk hal-hal yang kurang produktif.  Juga bukan untuk beribadah sebagaimana kewajiban atau kesunnahan dari Rasulullah. Nyatanya, banyak di antara kita yang merasa semakin kekurangan waktu. Merasa diburu-buru pekerjaan yang tidak ada habisnya. Merasa tertekan oleh tuntutan-tuntunan baru yang semakin hari semakin bertambah. 

Banyak di antara kita menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk menelusuri telepon cerdasnya. Di berbagai tempat, orang sibuk dengan HP-nya masing-masing untuk mencari informasi atau sekadar mengakses media sosial. Kadang bahkan terlihat tertawa sendirian. Yang di sekitarnya juga cuek karena masing-masing sibuk dengan dunia yang ada di genggamannya. Teknologi telah menjadi candu bagi banyak orang. 

Penyakit baru terkait dengan teknologi, yaitu Fear of Missiong Out (FOMO) atau ketakutan ketinggalan hal-hal terbaru yang ada di internet atau media sosial merebak. Merasa harus selalu terkoneksi dengan HP untuk mengecek unggahan terbaru yang muncul di media sosial. Mengunggah foto atau menulis komentar di media sosialnya untuk kemudian ingin tahu berapa jumlah suka yang diperoleh atau respons dari warganet atas status yang diunggahnya. Jika sedikit yang memberi tanda suka atau ada komentar yang negatif, maka stress dan tekanan mental pun muncul.

Dengan demikian, maka eksistensi dirinya hanya ditentukan oleh berapa banyak orang yang suka atas materi yang diunggah di media sosial. Berbagai cara digunakan untuk menarik sebanyak-banyaknya pengikut. Pergi ke luar negeri di tempat-tempat yang indah untuk memamerkan fotonya yang mana kebanyakan orang tidak dapat mencapai tempat tersebut, bahkan melakukan tindakan-tindakan ekstrem yang berbahaya. 

Dalam situasi seperti ini, manusia sesungguhnya telah mendegradasikan nilai-nilai kemanusiaannya sendiri. Energi, sumber daya, dan waktu yang dimiliki digunakan untuk mengejar popularitas sesaat dalam viral yang dalam satu harus sudah diganti dengan viral yang lain. Bahkan dalam situasi tertentu, seperti saat momen-momen politik, maka media sosial digunakan untuk membagikan konten-konten hoaks. 

Kita manusia, memiliki makna dalam hidup ketika kita mampu memberikan kontribusi kepada orang lain. Semakin besar kontribusi yang dapat kita berikan, maka semakin tinggi makna yang kita berikan. Semakin panjang manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain, tinggi apresiasi yang diberikan. Kita harus menciptakan warisan-warisan berharga bagi banyak orang. Ada sedemikian banyak persoalan yang menunggu penyelesaian. Ketika eksistensi diri kita hanya ditentukan oleh berapa jumlah suka yang kita peroleh di media sosial, sungguh sebuah kesia-siaan.

Teknologi telah memberi kemudahan bagi kita untuk melakukan banyak hal. Tapi di sisi lain, jika kita tidak awas, teknologi telah menghipnotif kita dengan beragam hiburan yang jumlahnya tak terbatas. Yang akhirnya menghabiskan waktu-waktu produktif kita yang sangat berharga, baik untuk berhubungan dengan Allah atau berurusan dengan manusia. Kecanggihan teknologi yang terus diperbaharui akan semakin melenakan kita. Jika itu yang terjadi, maka tak ada makna yang kita tinggalkan. Tak ada jejak yang kita terakan. Mereka orang-orang yang terlahir, menyibukkan diri dengan teknologi di genggaman. Menjadi tua dan akhirnya meninggal. Dan terlupakan. Hanya sekedar bagian dari deretan angka-angka yang menjadi target produsen teknologi untuk menjual hidupnya. 

Isra’ Mi’raj mengingatkan kembali kepada kita akan aspek spiritual dalam hidup untuk selalu menjaga hubungan dengan Allah. Di situlah kita menjaga eksistensi kemanusiaan kita karena jika shalat seseorang itu baik, maka hal-hal lainnya juga baik. (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
Ahad 24 Maret 2019 15:15 WIB
NU Menyambut Tantangan Era Teknologi
NU Menyambut Tantangan Era Teknologi
Tanggal 16 Rajab 1440 Hijriah yang bertepatan dengan hari Sabtu, 23 Maret 2019 menandai usia 96 tahun NU. Istighotsah digelar pada pagi itu kantor-kantor NU, masjid, mushala, pesantren, dan berbagai tempat lainnya di seluruh penjuru dunia yang menjadi pusat berkumpulnya warga NU untuk memanjatkan doa agar perjalanan NU ke depan dalam memperjuangkan kemuliaan Islam di Indonesia mendapatkan berkah dari Allah. Dalam perjalanannya hampir satu abad melintasi beragam zaman ini, NU telah mampu mengatasi berbagai tantangan. Dan tantangan baru berupa era teknologi menghadang di depan kita. 

Percepatan perkembangan teknologi memberi manfaat, tetapi sekaligus dapat menjadi bencana jika tidak dapat memanfaatkannya dengan baik. Banyak lembaga atau perusahaan besar yang memimpin pada era tertentu, tetapi kemudian tenggelam ketika mereka tidak mampu menyesuaikan diri dengan zaman baru. Organisasi Islam yang paling maju di era kolonial, Orde Lama, dan Orde Baru berbeda-beda, silih berganti. Bahkan ada di antaranya sudah bubar. 

Dalam konteks menghadapi berbagai perubahan zaman ini, NU selalu mampu menyesuaikan diri dengan baik. Salah satu karakter NU adalah fleksibilitas atau kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai zaman. Tentu saja, ini menjadi modal besar bahwa NU akan mampu menyesuaikan diri dengan zaman yang akan datang dengan berbagai cirinya.

Sekalipun demikian, kita harus mampu menyiapkan diri dengan era teknologi ini sehingga bukan hanya menjadi konsumen atau sekadar eksis saja, tetapi harus mampu menjadi pemimpin dan menentukan arah perkembangan Islam di Indonesia. Dan untuk itu, modal yang diperlukan adalah kualitas sumber daya manusia. 

Dalam hal ini, kreativitas dan inovasi serta kolaborasi adalah kunci keberhasilan pada era yang dikenal dengan industri 4.0. Ini berbeda dengan kebutuhan sukses di zaman revolusi industri 2.0 yang menyaratkan adanya efisiensi dan efektifitas. Pada aspek kolaborasi, NU adalah sebuah komunitas yang erat. Jaringan aktivis NU ada di berbagai tempat yang satu sama lain saling terhubung. Mereka disatukan oleh cita-cita bersama untuk menjadikan Indonesia sebagai tempat dengan ajaran Islam yang ramah di bawah ajaran Ahlusunnah wal Jamaah. 

Yang menjadi tantangan kini adalah bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ini artinya adalah bagaimana kualitas pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ada banyak faktor yang menentukan kualitas sebuah lembaga pendidikan seperti kualitas pengajar, sarana dan prasarana, kurikulum. 

Berbagai kebijakan negara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia berupa berbagai jenis beasiswa seperti beasiswa santri, Bidik Misi, LPDP, program 5000 doktor, dan lainnya memberi peluang bagi kader-kader muda terbaik NU untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau keahlian tertentu. Beberapa di antara mereka telah lulus dan mengabdikan diri di berbagai lembaga pendidikan NU. Lebih banyak lagi yang sedang menyelesaikan pendidikannya. Dan insyaallah, banyak sekali tunas-tunas muda NU yang di masa depan akan memperkuat NU dengan beragam keahlian yang mereka miliki. Ini menjadi modal NU dalam menyiapkan sumber daya manusianya di masa depan.

Kualitas pendidikan di Indonesia secara umum masih dianggap rendah. Dari indikator internasional seperti Programme for International Students Assessment (PISA) yang mengukur kemampuan sains, matematika, dan membaca, rata-rata kemampuan anak Indonesia dalam ketiga bidang masih sangat rendah dibandingkan dengan negara lain. Ini tentu cerminan dari kualitas pendidikan di Indonesia. Lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan NU tentu tak jauh berbeda. Bahkan tantangannya menjadi lebih besar karena dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Apalagi lembaga pendidikan di lingkungan NU berusaha mengkombinasikan kemampuan intelektual sekaligus pemahaman keislaman. Ada lebih banyak materi yang harus dipelajari. Namun, jika berhasil, maka siswa yang dihasilkan merupakan siswa yang tidak sekedar pintar, tetapi juga berkarakter.

Persoalan yang dihadapi NU juga bukan sekedar sumber daya manusia, tetapi komposisi keahliannya. Selama ini, keahlian yang dimiliki oleh kader-kader NU adalah bidang ilmu-ilmu agama dan sosial humaniora. Sedangkan era teknologi membutuhkan orang-orang yang kompeten dalam bidang sains. Dengan demikian, perlu dilakukan perencanaan yang baik agar menghasilkan komposisi yang ideal.

Era teknologi terdapat penguasa-penguasa baru, yaitu mereka yang menguasai teknologi. Para pencipta aplikasi yang disukai oleh warganet, para ustadz yang ceramahnya di media sosial banyak diunduh dan ditonton. Orang-orang berpengaruh di media sosial yang akunnya diikuti oleh jutaan orang, sesungguhnya merupakan individu-individu atau sekelompok kecil yang memiliki pengaruh besar kepada publik. Ini semua adalah soal kreativitas dan inovasi.

Kita yakin bahwa NU akan tetap mampu memberi peran besar pada era teknologi ini. Ada banyak sekali sumber daya manusia kreatif dan inovatif yang bergerak, baik atas nama pribadi atau organisasi NU yang menyebarkan nilai-nilai NU. Bagaimana menciptakan lahan subur tumbuhnya tradisi berteknologi. Memberi ruang bakat-bakat yang ada untuk tumbuh dan berkembang guna memberi kontribusi kepada dunia. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 17 Maret 2019 21:0 WIB
Mencegah Perkembangan Islamophobia dan Xenophobia
Mencegah Perkembangan Islamophobia dan Xenophobia
Penyerangan terhadap Muslim di Selandia Baru, salah satu negara yang selama ini dikategorikan sebagai yang paling aman di dunia mengejutkan publik. Umat Islam menyatakan kedukaannya terhadap peristiwa tersebut. Simpati juga datang dari umat lain dari berbagai penjuru dunia atas kejadian yang menyebabkan puluhan korban jiwa tersebut.

Kejadian ini merupakan ekspresi dari islamophobia yang belakangan ini terus berkembang di sejumlah wilayah di dunia, terutama di Barat di mana Muslim menjadi minoritas. Islamophobia merupakan perasaan takut atau benci kepada Islam. Dan oleh karena itu, semua Muslim menjadi sasaran. Karena itu, Muslim kemudian didiskriminasi dalam kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan sebuah bangsa. 

Ada anggapan terutama di sebagian masyarakat Barat yang mengalami islamophobia bahwa budaya Islam lebih rendah dibandingkan dengan budaya Barat atau Islam tidak sesuai dengan norma-norma budaya Barat yang berakar dari tradisi Kristiani. Dan Islam lebih dilihat sebagai sebuah ideologi politik yang mengajarkan kekerasan dibandingkan dengan sebuah agama yang mengajarkan perdamaian. Bukan hanya Islam, umat Yahudi juga pernah mengalami anti-Semitisme, yaitu permusuhan atau prasangka terhadap orang Yahudi yang oleh Hitler kemudian diwujudkan dengan pembersihan etnis Yahudi. 

Ketidaksukaan terhadap segala sesuatu yang asing bukanlah hal yang baru. Xenofobia merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara asing. Perasaan terancam oleh keberadaan orang asing kini muncul ketika para imigran masuk ke negara-negara Eropa dan kemudian merebut pekerjaan orang lokal. Para politisi sayap kanan selanjutnya mengeksploitasi suara-suara kelompok yang gelisah tersebut.
 
Semestinya dengan perkembangan internet dan alat komunikasi yang semakin memudahkan warga dunia berinteraksi dan memahami satu sama lain, nyatanya hal tersebut tidak sebagaimana dibayangkan. Dunia belum bisa menjadi sebuah desa global di mana para penduduknya saling mengenal dan memahami, lalu kemudian hidup dalam sebuah harmoni. Itulah gambaran sebuah desa yang ada dalam benak kita. Komunitas masyarakat yang tenang dan damai. 

Globalisasi memungkinkan pertukaran sumber daya dari satu tempat ke tempat lainnya dengan mudah. Sebagai akibatnya, hal ini memunculkan persaingan yang keras untuk memperoleh pekerjaan. Para imigran yang berasal dari negara berkembang bersedia bekerja lebih keras dan lebih lama, serta rela mendapatkan upah yang lebih rendah. Akhirnya, kenyamanan yang dulu didapat penduduk lokal menjadi hilang. Industri yang padat tenaga kerja kemudian juga berpindah ke negara-negara lain dengan upah lebih rendah. Akibatnya, ada persoalan serapan tenaga kerja yang muncul dan menjadi gejolak sosial. Bagi dunia usaha yang berpikir dengan pendekatan rasionalitas ekonomi, maka mereka berusaha memaksimalkan sumber daya yang mereka miliki dengan bertindak secara efektif dan efisien. 

Faktor budaya juga menjadi penyebab islamophobia atau xenophobia. Kehadiran orang asing dengan perbedaan agama, etnik atau ras yang bertambah dari waktu ke waktu, yang mana mereka hanya bergaul dengan kolompoknya sendiri menyebabkan kurangnya muncul sikap tenggang rasa atau saling memahami satu sama lain. 

Berbagai faktor dasar yang kemudian dieksploitasi oleh para politisi ini kemudian mengeras dan menimbulkan kebencian. Beberapa ekstremis akhirnya melakukan tindakan nyata dengan melakukan pembunuhan sebagaimana terjadi di Selandia Baru. Dalam Pilpres 2019 ini, kita juga mengalami sendiri ketika hoaks yang secara massif disebarkan di media sosial tentang jutaan tenaga kerja dari Tiongkok yang merebut lapangan kerja di sini sementara jutaan orang masih menganggur. Ini merupakan bagian dari kampanye hitam terkait dengan perebutan lapangan kerja oleh orang asing.

Kita tentu harus belajar dari kejadian masa lalu seperti anti-Semitisme yang telah menimbulkan korban nyawa dengan jumlah yang sangat besar di kamp konsentrasi dan kamar-kamar gas. Hitler telah berhasil menggunakan isu-isu nasionalisme sempit untuk menggerakkan dan akhirnya membunuh jutaan orang tidak berdosa. Sejarah gelap tersebut masih belum terhapus dari sekarang. 

Upaya mencegah timbulnya islamophobia dapat dilakukan dengan menindak tegas para pelaku kekerasan dan penebar kebencian atas Islam atau imigran yang umumnya merupakan kelompok minoritas di sebuah negara. Dengan demikian, mata rantai kemungkinan keberlanjutan kekerasan atau penindasan terhadap kelompok minoritas dapat dicegah.

Dialog budaya dan peradaban antara berbagai kelompok yang hidup di satu negara akan memunculkan kesalingpahaman antara kelompok-kelompok yang berbeda. Prasangka-prasangka yang selama ini tumbuh karena ketidakmengertian atau sengaja disebarkan oleh kelompok tertentu bisa sirna dengan sendirinya. Apa yang dianggap baik oleh satu kelompok bisa saja dianggap kurang pas dari sudut pandang kelompok budaya lain, tetapi ketika memahami mengapa satu budaya muncul, maka minimal dapat dipahami mengapa kelompok lain melakukan hal tersebut. Misalnya, bagi budaya Barat, perempuan yang mengenakan jilbab dianggap sebagai penindasan oleh laki-laki. Tetapi jika dilihat dari budaya Islam, maka perempuan menjaga diri dan kehormatannya berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang diyakininya dengan menggunakan jilbab.

Jika proses saling memahami sudah muncul, maka persoalan kompetisi dalam bidang ekonomi akan lebih mudah diselesaikan. Bukan hanya bersaing untuk saling memperebutkan pekerjaan atau kue ekonomi, tetapi kesalingpahaman akan memunculkan kerjasama dan sinergi yang membawa manfaat bagi semua pihak yang terlibat. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 10 Maret 2019 21:15 WIB
Bijak Memilih Dai dan Ustadz
Bijak Memilih Dai dan Ustadz
Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2019 terkait status non-Muslim dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara menimbulkan kontroversi. Sejumlah dai populer yang selama ini bersuara keras terkait dengan isu-isu tertentu menyampaikan ketidaksepakatannya atas keputusan tersebut dengan berbagai argumentasi. Salah satunya, mereka membahas asal kata kafir dalam bahasa Arab. Sayangnya, hal ini menjadi blunder ketika hal ini menunjukkan keterbatasan kapasitas ilmu agama yang mereka miliki. Ada yang salah dalam memaknai proses perubahan kata tersebut yang dipelajari dalam ilmu sharaf. Ada pula yang tidak tahu bentuk jamak dan tunggal dari kata kafir. Padahal, kemampuan berbahasa Arab yang baik merupakan dasar memahami pengetahuan Islam yang lain.

Kejadian seperti ini sebenarnya hanya pengulangan atas kesalahan-kesalahan yang sesungguhnya sangat sederhana jika mempelajari ilmu agama dengan baik. Ada mualaf yang kemudian menjadi ustadz muda yang mengatakan, Rasulullah sendiri yang menuliskan kalimat tauhid di bendera, ada ustadzah yang keliru menuliskan ayat Al-Qur’an ketika sedang ceramah di televisi. Seorang ustadzah yang bacaan Al-Qur’annya tidak lancar sangat getol berceramah di berbagai tempat yang isinya banyak mengaitkan dengan situasi politik saat ini. Ada pula yang membahas pesta seks di surga di hadapan jamaah perempuan. Jika dirunut lagi, kesalahan-kesalahan yang dibuat bisa panjang. 

Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana bisa orang-orang yang belum mumpuni menjadi rujukan masyarakat dalam beragama? Bahkan dengan percaya diri, orang-orang tersebut menyalah-nyalahkan, bahkan memaki-maki, orang-orang yang puluhan tahun tekun belajar agama di pusat-pusat pengajaran Islam di pesantren atau universitas ternama jika pendapatnya tidak sama dengan yang mereka yakini.

Di era media sosial di mana setiap orang bisa mengekspresikan pendapatnya lewat tulisan, foto atau video, kemampuan retorika atau pembuatan konten yang menarik kadang lebih penting dibandingkan dengan kapasitas keilmuan. Inilah salah satu pangkal dari persoalan ketika para dai yang yang hanya memiliki ilmu agama yang pas-pasan, tetapi mampu menyampaikannya dengan menarik sehingga akhirnya mereka memperoleh popularitas. Kebijakan di televisi yang didasarkan pada rating juga menggunakan indikator yang sama, yaitu faktor kemenarikan para dainya. Namun, ketika dihadapkan pada persoalan agama yang rumit, terbukti kemampuan mereka kurang memadai.

Para dai yang ilmunya cukup lumayan pun tetap dituntut untuk terus mengembangkan dan memperbaharui pengetahuannya. Popularitas membuat mereka sibuk dengan undangan ceramah ke sana kemari. Dalam satu hari, mereka bisa berceramah di tiga tempat yang berbeda. Hal ini membuat mereka lelah secara fisik dan mental. Sementara itu, teknologi menyebabkan ceramah bisa didengarkan dari mana saja. Akibatnya, pengulangan-pengulangan tema yang sama dengan diksi yang sama menjadi tidak menarik. Hanya dai yang benar-benar kreatif dan mumpuni yang mampu terus bertahan menghadapi tuntutan jamaah akan kebaruan dan kesegaran dakwahnya. 

Bagi banyak orang, apa yang disampaikan oleh para dai sesungguhnya bukan pengetahuan baru karena hal tersebut sudah sering mereka dengar. Ketika ceramah terkait dengan Maulid Nabi, maka yang disampaikan berputar tentang kelahiran Rasulullah. Saat Isra Mi’raj, maka tema utama adalah perjalanan Nabi ke Sidratul Muntaha. Para pendengar sesungguhnya ingin mengingat kembali atau bahkan sekadar ingin mendengarkan uraian materi agama dengan cara yang segar. Karena itu, dai-dai yang menyampaikan ceramah dengan cara serius kurang laku di publik. Para ahli ilmu agama bergelar profesor dan doktor yang mengajar di berbagai perguruan tinggi Islam kalah populer dengan dai-dai muda tapi mampu mengemas ceramahnya dengan menarik. 

Bukan hanya itu, kadang masyarakat ingin mendengarkan ceramah dari dai yang sesuai dengan pandangan politiknya. Saat terjadi polarisasi politik akibat pemilihan presiden, maka dai-dai tertentu menunjukkan keberpihakannya kepada calon tertentu sehingga pihak yang berseberangan secara politik tidak mengundangnya. Dai model begini umumnya dalam ceramahnya mengkritisi pihak lawan politiknya.

Suatu kebenaran yang disampaikan secara kontemplatif dan komprehensif bisa saja kalah dengan informasi biasa-biasa saja tetapi menarik. Bahkan hoaks yang secara terus-menerus diproduksi dan dijejelkan ke publik melalui media sosial dengan beragam teknik bisa lebih dipercaya karena kurangnya sikap kritis. Apalagi ditambah dengan kecenderungan publik yang hanya membaca judulnya atau yang dibuat dengan nada provokatif. 

Tak mudah memang berada dalam belantara informasi yang tak terbatas dan terus-menerus diperbaharui dengan beragam isu yang datang silih berganti. Bagi publik yang ingin mendapatkan ilmu dari pengajian, mereka dapat mengecek latar belakang para dai di internet. Di mana mereka belajar agama, bagaimana orientasi ideologi keislamannya, afiliasi organisasinya, termasuk kemungkinan kontroversi yang pernah dibuatnya. Jejak digital kini sangat mudah ditelusuri. Jangan sampai kita tertipu penampilan tetapi isinya kosong.

Inilah PR besar bagi para pegiat dakwah Islam moderat. Jangan sampai ranah dakwah dikuasai oleh kelompok tekstual dan konservatif yang memandang agama hanya secara hitam putih, yang menjunjung tinggi penampilan ketimbang substansi. Pengetahuan agama yang mumpuni tak cukup untuk membuat publik mendengarkan kebenaran yang mereka sampaikan. Kemampuan untuk mengemas dakwah dengan cara yang menarik sesuai dengan target yang mereka tuju sangat penting agar pesan-pesan yang mereka sampaikan di dengar oleh publik. 

Berdakwah, tak cukup dengan belajar ilmu agama, tetapi juga belajar ilmu psikologi publik, komunikasi massa, retorika, karakter media sosial, dan lainnya. Bakat-bakat yang ada, perlu diasah agar mereka mampu tampil di depan publik dengan baik. Dan Itu semua tak bisa diserahkan sebagai tanggung jawab pribadi dai. Ada tanggung jawab lembaga-lembaga dakwah untuk turun terlibat mengemas dakwah di berbagai ruang publik menjadi menarik. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG