IMG-LOGO
Daerah

Bahtsul Masail NU Pati Haramkan Kampanye Hoaks

Senin 1 April 2019 10:45 WIB
Bagikan:
Bahtsul Masail NU Pati Haramkan Kampanye Hoaks
Bahtsul Masail NU Pati, Jumat (29/3).
Jakarta, NU Online
Kampanye negatif termasuk kampanye dengan menggunakan hoaks atau kabar bohong, apa pun bentuknya adalah haram. Dalam kacamata fiqih, hanya otoritas yang mempunyai wewenang yang berhak bicara tentang aspek negatif seseorang. Otoritas dalam konteks Pemilu adalah KPU dan Bawaslu.

Demikian salah satu hasil bahtsul masail yang diadakan Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Pati, Jawa Tengah, Jumat (29/3) lalu.

Warga NU Pati, M Niam Sutarman mengatakan musyawarah LBM PCNU Pati yang dihadiri Rais Syuriah PCNU KH Aniq Muhammadun tersebut diselenggarakan di Pesantren Al-Makruf Sugihreji Gabus. Hadir dalam musyawarah tersebut sekitar 40 ulama dari MWCNU se-Kabupaten Pati.

"Dalam musyawarah tersebut sempat muncul pendapat adanya teks kitab yang menjelaskan bahwa maslahat yang kuat memungkinkan seseorang berbuat bohong. Namun, pendapat tersebut dipatahkan oleh teks-teks yang lebih kuat dan lebih banyak bahwa agama tetap melarang keras bohong dan ghibah, yaitu menceritakan keburukan orang lain," terang Niam dihubungi dari Jakarta, Senin (1/4).

Pendapat tersebut juga dilandaskan pada penegasan Ibnu Hajar Alasqolani bahwa seseorang diberi kebebasan dalam menceritakan kebaikan orang lain tetapi daripada menceritakan keburukan orang lain lebih baik diam.

Pemerintah Harus Tertibkan Penambangan Liar

Selain memutuskan keharaman kampanye hoaks, Musyawarah LBM NU juga mengeluarkan rekomendasi agar pemerintah menertibkan penambangan liar sesuai peraturan yang ada dan sesuai dengan kemaslahatan rakyat kecil. Jangan alih-alih menerapkan aturan tapi yang terjadi justru jual beli izin penambangan.

Rekomendasi tersebut dikeluarkan untuk menjawab pertanyaan yang diangkat ke majelis bahtsul masail tentang bagaimana hukum penambangan liar yang sering memakan korban, siapakah yang bertanggung jawab jika terjadi korban dan bagaimana jika pemerintah menertibkan penambangan liar tersebut.

Sebelum pemerintah memertibkan penambangan liar maka rakyat tetap mempunyai hak untuk melakukan penambangan di tanah miliknya sesuai dengan kebutuhan dengan tetap menjunjung tinggi kemaslahatan umum.

Bahtsul masail PCNU Pati berlangsung ramai dan diwarnai suasana hangat dalam perdebatan. Apalagi kali ini mengangkat isu-isu kontemporer yang sedang berkembang di masyarakat. (Kendi Setiawan)
Bagikan:
Senin 1 April 2019 20:30 WIB
Ketua NU Kepanjen: Saatnya Kembali kepada Ulama Sepuh
Ketua NU Kepanjen: Saatnya Kembali kepada Ulama Sepuh
Ilustrasi (Ist.)
Malang, NU Online
Sampai dengan saat ini hanya di pesantren lah tempat pendidikan Islam yang terbaik yang mengajarkan materi keislaman yang luas dan mendalam. Sehingga masyarakat pun tidak boleh ragu mendidik putra-putrinya di pesantren ataupun di madrasah diniyah.

Hal ini diungkapkan Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Kecamatan Kepanjen, Malang, Jawa Timur KH Zainul Arifin di hadapan sekitar 3000 jama'ah yang menghadiri acara peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Masjid Baiturrahman Kepanjen, Ahad (31/3).

“Monggo, madrasah diniyah diisi agar putranya bisa mengaji dengan sungguh-sungguh," ajaknya.

Ia menambahkan, umat Islam jangan sampai salah dalam memilih guru agama. Pasalnya saat ini ungkapnya telah banyak aliran-aliran yang tidak jelas ditambah dengan fenomena bermunculannya ustadz-ustadz baru yang tidak jelas keilmuannya.

“Jangan mengikuti aliran-aliran yang tidak jelas,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Syarif Hidayatullah itu.

Lebih dari itu Kiai Zainul juga mengungkapkan keprihatinannya bahwa banyak ustadz-ustadz muda yang muncul secara instan lalu dengan gampang mengkafir-kafirkan NU dan ulamanya yang sudah sejak lama memperjuangkan Islam.

“Banyak orang baru jadi ustadz sudah mengkafir-kafirkan orang lain. Jangan mudah mengkafirkan orang," katanya.

Untuk itu, ia kembali mengungkapkan akan pentingnya kembali belajar kepada ulama sepuh dengan cara memondokkan anaknya di pesantren kiai sepuh yang salaf dan shaleh.

“Kalau di Malang ini generasi pertama ada pesantrennya Kiai Syamsudin. Generasi kedua pesantrennya Kiai Djazuli dan Kiai Kamali. Generasi Ketiga ada pesantren Kiai Wahab (Alm.) dan Kiai Muzani. Silahkan putra-putri panjenengan dimasukkan ke pesantren-pesantren ini," pungkasnya. (R Ahmad Nur Kholis/Muhammad Faizin)
Senin 1 April 2019 20:0 WIB
Hati-Hati Pilih Panutan di Tengah Maraknya Ustadz Baru
Hati-Hati Pilih Panutan di Tengah Maraknya Ustadz Baru
Ilustrasi (Ist.)
Malang, NU Online
Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Kecamatan Kepanjen, Malang, Jawa Timur, KH Zainul Arifin mengaku prihatin atas kondisi umat Islam sekarang ini. Pasalnya, ia menilai pada masa sekarang masyarakat sering salah dalam memilih panutan dalam beragama.

Hal itu dikarenakan banyaknya ustadz-ustadz baru bermunculan dan memiliki semangat beragama yang tinggi namun tidak dibarengi dengan pemahaman agama yang luas dan mendalam.

Hal ini disampaikan Kiai Zainul Arifin dalam acara Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad 1440 Hijriyah yang dilaksanakan di Masjid Besar Baiturrahman, Kepanjen Malang, Ahad (31/3).

“Saya prihatin dengan kondisi umat Islam sekarang. Karena sekarang ini sedikit-sedikit sudah bisa dianggap ulama," katanya di hadapan sekitar 3000 masyarakat kepanjen yang hadir.

Oleh karena itu ia mengajak seluruh masyarakat kepanjen untuk senantiasa meningkatkan, meneguhkan, dan mempertahankan tradisi dzikir dan tradisi keilmuan ulama Ahlussunnah wal Jama'ah di Nusantara yang telah berlangsung sejak sangat lama adanya.

“Marilah kita kembali kepada konsep Ulul Albab dalam Al-Qur’an. Siapakah Ulul Albab itu dalam Al-Qur’an? Alladzina yadzkuruna Allaha Qiyaman wa Qu’udan wa ala junubihim. Wayatafakkaruna fi khalqissamawati wal ardl. Rabbana ma khalaqta hadza batilan," lanjutnya.

Menurut Kiai Zainul berdasarkan ayat tersebut, Ulul Albab adalah orang-orang yang senantiasa berdzikir dan berfikir.

"Lha orang sekarang ini diajak dzikir malah ndak mau,” katanya.

Dengan kondisi ini ia meminta kepada masyarakat untuk senantiasa memperbanyak kegiatan dzikir bersama sebagaimana tradisi Nahdlatul Ulama.

“Kalau pinter saja, tak diimbangi oleh dzikir akan sulit diajak kepada kebenaran," pungkasnya. (R Ahmad Nur Kholis/Muhammad Faizin)
Senin 1 April 2019 17:30 WIB
Guru dan Siswa MINU KH Mukmin Sisihkan Dana Lewat Koin NU
Guru dan Siswa MINU KH Mukmin Sisihkan Dana Lewat Koin NU
Kepedulian guru dan murid MINU KH Mukmin Sidoarjo.
Sidoarjo, NU Online
Ratusan siswa dan guru Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) KH Mukmin Sidoarjo, Jawa Timur nampak antusias menyumbangkan sebagian uang sakunya untuk dimasukkan ke dalam Koin NU. Keberadaan kotak tersebut sengaja didatangkan oleh NUCARE-Lembaga Amil Zakat, Infak, Shadaqah Nahdlatul Ulama atau LAZISNU di madrasah setempat, Senin (1/4).

Satu persatu, siswa maupun guru bahkan orang tua memasukkan uangnya ke dalam kotak bertuliskan Koin NU LAZISNU Sidoarjo dan terdapat logo hari lahir ke-96 Nahdlatul Ulama.

“Alhamdulillah, sekitar 640 siswa dan guru sangat antusias terhadap kegiatan koin peduli anak yatim dan dluafa ini,” kata Nurul Hamamah. 

Pantauan media ini, bahkan tidak sedikit yang menyumbangkan dari hasil tabungannya. “Tadi juga ada orang tua yang turut andil untuk menyumbangkan uangnya. Kita sangat senang karena bisa berbagi kepada sesama dan semoga bermanfaat," ungkap Kepala MINU KH Mukmin Sidoarjo ini.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan keiikutsertaan pihak madrasah dalam menyukseskan program LAZISNU Sidoarjo dalam rangka hari lahir atau Harlah ke-96 NU dan menyongsong bulan Ramadlan.

Ini merupakan program LAZISNU dan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sidoarjo yakni dengan mengadakan Koin NU peduli kaum yatim dan dluafa yang dilaksanakan Senin hingga Selasa (1-2/4).

Kegiatan mulai pukul 07.00 hingga pukul 08.30 WIB. “Setelah dari MINU KH Mukmin, Koin NU selanjutnya dipindah ke MI dan SD lainnya yang ada di Sidoarjo," ujar perempuan yang akrab disapa Bu Mamah ini.

Dirinya menjelaskan, kegiatan semacam itu bukan kali pertama dilakukan. Beberapa waktu lalu juga ada koin peduli yang tujuannya sebagai rasa kepedulian terhadap sesama, turut serta menyukseskan seluruh kegiatan yang dilaksanakan LAZISNU maupun Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sidoarjo untuk hal yang bersifat sosial.

"Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak bisa lebih meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama, mau berbagi, menyisihkan sebagian uang saku ataupun yang dimiliki untuk berbagi kepada sesama," pungkas Bu Mamah. (Moh Kholidun/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG