IMG-LOGO
Daerah
JIHAD PAGI

Hati-Hati, Cinta Dunia Bisa Jadi Sumber Kemunafikan

Senin 1 April 2019 14:0 WIB
Bagikan:
Hati-Hati, Cinta Dunia Bisa Jadi Sumber Kemunafikan
Kiai Mubalighin Adnan dalam Kajian Kitab Minahussaniyah
Pringsewu, NU Online
Dunia memang penuh dengan tipu daya dan godaan. Hal ini bisa membuat manusia terlena dan berlebihan dalam mencintai dunia serta hanyut dalam kenikmatan sementara ini. Kecintaan terhadap dunia bisa mengakibatkan munculnya sifat munafik di dalam hati manusia. Penyakit munafik ini akan meresap dalam jiwa seperti air yang menumbuhkan tumbuhan.

Jika ada orang yang beribadah menjalankan perintah Allah namun di dalam hatinya berdasarkan kecintaan terhadap dunia maka di akhirat nanti ia akan dipermalukan. Mereka akan dipermalukan di depan penduduk akhirat dengan predikat ahli ibadah suka kepada sesuatu yang dibenci Allah.

"Mereka akan dipermalukan sampai wajah mereka rontok karena rasa malu. Mereka menyenangi dunia yang setelah proses penciptaan dunia ini, Allah tidak melihat dunia lagi," kata Gus Mubalighin Adnan Pengasuh Pondok Pesantren YPPTQMH Ambarawa, Pringsewu, Lampung dalam Kajian Kitab Tasawuf Minahussaniyah di Aula Gedung NU Pringsewu, Ahad (31/3).

Terkait dunia, Imam Ghazali menurut Gus Balighin menegaskan, dunia merupakan musuh dari Allah, para kekasih Allah, dan musuhnya musuh Allah. Menjadi musuh Allah karena dunia bisa memutus seseorang untuk beribadah. Menjadi musuh kekasih Allah karena dunia menjadi penggoda dalam beribadah kepada Allah. Menjadi musuhnya musuh Allah karena kelompok ini menilai dunia menjadi makhluk yang melenakan.

"Diperbolehkan senang dunia namun tidak boleh melebih-lebihkan urusan keduniaan melebihi kadar kebutuhan kita. Seperti Rasulullah yang tidak pernah menyimpan stok makanan untuk lebih dari tiga hari ke depan," ungkap Gus Balighin.

Materi dunia ini juga lanjut Gus Balighin yang akan menyulitkan urusan di akhirat. Hal ini dikisahkan bagaimana sahabat nabi Abdurrahman bin Auf yang kaya raya dan dermawan harus masuk surga terpaut 500 tahun dari sahabat nabi yang lainnya karena dihisab terlebih dahulu kekayaannya.

"Memang cinta itu mampu membuat yang tidak mungkin dibuat seolah mungkin. Yang kuat dibuat seolah kuat. Sehingga orang yang cinta harta dan dunia akan melakukan segala upaya untuk dapat meraihnya, walaupun sebenarnya ia tidak bisa" katanya.

Gus Balighin pun menegaskan bahwa kecintaan dunia merupakan inti permasalahan dari setiap kesalahan. Karena dalam hadits Nabi ditegaskan dunia dan isinya tidak disukai Allah kecuali harus dikaitkan dengan urusan ibadah dengan Allah SWT.

"Kita juga memang tidak boleh melupakan bagian atau nasib kita di dunia. Namun fokus utamanya adalah kehidupan di akhirat kita," pungkasnya pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang rutin dilaksanakan di Pringsewu. (Muhammad Faizin)
Tags:
Bagikan:
Senin 1 April 2019 20:30 WIB
Ketua NU Kepanjen: Saatnya Kembali kepada Ulama Sepuh
Ketua NU Kepanjen: Saatnya Kembali kepada Ulama Sepuh
Ilustrasi (Ist.)
Malang, NU Online
Sampai dengan saat ini hanya di pesantren lah tempat pendidikan Islam yang terbaik yang mengajarkan materi keislaman yang luas dan mendalam. Sehingga masyarakat pun tidak boleh ragu mendidik putra-putrinya di pesantren ataupun di madrasah diniyah.

Hal ini diungkapkan Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Kecamatan Kepanjen, Malang, Jawa Timur KH Zainul Arifin di hadapan sekitar 3000 jama'ah yang menghadiri acara peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Masjid Baiturrahman Kepanjen, Ahad (31/3).

“Monggo, madrasah diniyah diisi agar putranya bisa mengaji dengan sungguh-sungguh," ajaknya.

Ia menambahkan, umat Islam jangan sampai salah dalam memilih guru agama. Pasalnya saat ini ungkapnya telah banyak aliran-aliran yang tidak jelas ditambah dengan fenomena bermunculannya ustadz-ustadz baru yang tidak jelas keilmuannya.

“Jangan mengikuti aliran-aliran yang tidak jelas,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Syarif Hidayatullah itu.

Lebih dari itu Kiai Zainul juga mengungkapkan keprihatinannya bahwa banyak ustadz-ustadz muda yang muncul secara instan lalu dengan gampang mengkafir-kafirkan NU dan ulamanya yang sudah sejak lama memperjuangkan Islam.

“Banyak orang baru jadi ustadz sudah mengkafir-kafirkan orang lain. Jangan mudah mengkafirkan orang," katanya.

Untuk itu, ia kembali mengungkapkan akan pentingnya kembali belajar kepada ulama sepuh dengan cara memondokkan anaknya di pesantren kiai sepuh yang salaf dan shaleh.

“Kalau di Malang ini generasi pertama ada pesantrennya Kiai Syamsudin. Generasi kedua pesantrennya Kiai Djazuli dan Kiai Kamali. Generasi Ketiga ada pesantren Kiai Wahab (Alm.) dan Kiai Muzani. Silahkan putra-putri panjenengan dimasukkan ke pesantren-pesantren ini," pungkasnya. (R Ahmad Nur Kholis/Muhammad Faizin)
Senin 1 April 2019 20:0 WIB
Hati-Hati Pilih Panutan di Tengah Maraknya Ustadz Baru
Hati-Hati Pilih Panutan di Tengah Maraknya Ustadz Baru
Ilustrasi (Ist.)
Malang, NU Online
Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Kecamatan Kepanjen, Malang, Jawa Timur, KH Zainul Arifin mengaku prihatin atas kondisi umat Islam sekarang ini. Pasalnya, ia menilai pada masa sekarang masyarakat sering salah dalam memilih panutan dalam beragama.

Hal itu dikarenakan banyaknya ustadz-ustadz baru bermunculan dan memiliki semangat beragama yang tinggi namun tidak dibarengi dengan pemahaman agama yang luas dan mendalam.

Hal ini disampaikan Kiai Zainul Arifin dalam acara Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad 1440 Hijriyah yang dilaksanakan di Masjid Besar Baiturrahman, Kepanjen Malang, Ahad (31/3).

“Saya prihatin dengan kondisi umat Islam sekarang. Karena sekarang ini sedikit-sedikit sudah bisa dianggap ulama," katanya di hadapan sekitar 3000 masyarakat kepanjen yang hadir.

Oleh karena itu ia mengajak seluruh masyarakat kepanjen untuk senantiasa meningkatkan, meneguhkan, dan mempertahankan tradisi dzikir dan tradisi keilmuan ulama Ahlussunnah wal Jama'ah di Nusantara yang telah berlangsung sejak sangat lama adanya.

“Marilah kita kembali kepada konsep Ulul Albab dalam Al-Qur’an. Siapakah Ulul Albab itu dalam Al-Qur’an? Alladzina yadzkuruna Allaha Qiyaman wa Qu’udan wa ala junubihim. Wayatafakkaruna fi khalqissamawati wal ardl. Rabbana ma khalaqta hadza batilan," lanjutnya.

Menurut Kiai Zainul berdasarkan ayat tersebut, Ulul Albab adalah orang-orang yang senantiasa berdzikir dan berfikir.

"Lha orang sekarang ini diajak dzikir malah ndak mau,” katanya.

Dengan kondisi ini ia meminta kepada masyarakat untuk senantiasa memperbanyak kegiatan dzikir bersama sebagaimana tradisi Nahdlatul Ulama.

“Kalau pinter saja, tak diimbangi oleh dzikir akan sulit diajak kepada kebenaran," pungkasnya. (R Ahmad Nur Kholis/Muhammad Faizin)
Senin 1 April 2019 17:30 WIB
Guru dan Siswa MINU KH Mukmin Sisihkan Dana Lewat Koin NU
Guru dan Siswa MINU KH Mukmin Sisihkan Dana Lewat Koin NU
Kepedulian guru dan murid MINU KH Mukmin Sidoarjo.
Sidoarjo, NU Online
Ratusan siswa dan guru Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) KH Mukmin Sidoarjo, Jawa Timur nampak antusias menyumbangkan sebagian uang sakunya untuk dimasukkan ke dalam Koin NU. Keberadaan kotak tersebut sengaja didatangkan oleh NUCARE-Lembaga Amil Zakat, Infak, Shadaqah Nahdlatul Ulama atau LAZISNU di madrasah setempat, Senin (1/4).

Satu persatu, siswa maupun guru bahkan orang tua memasukkan uangnya ke dalam kotak bertuliskan Koin NU LAZISNU Sidoarjo dan terdapat logo hari lahir ke-96 Nahdlatul Ulama.

“Alhamdulillah, sekitar 640 siswa dan guru sangat antusias terhadap kegiatan koin peduli anak yatim dan dluafa ini,” kata Nurul Hamamah. 

Pantauan media ini, bahkan tidak sedikit yang menyumbangkan dari hasil tabungannya. “Tadi juga ada orang tua yang turut andil untuk menyumbangkan uangnya. Kita sangat senang karena bisa berbagi kepada sesama dan semoga bermanfaat," ungkap Kepala MINU KH Mukmin Sidoarjo ini.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan keiikutsertaan pihak madrasah dalam menyukseskan program LAZISNU Sidoarjo dalam rangka hari lahir atau Harlah ke-96 NU dan menyongsong bulan Ramadlan.

Ini merupakan program LAZISNU dan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sidoarjo yakni dengan mengadakan Koin NU peduli kaum yatim dan dluafa yang dilaksanakan Senin hingga Selasa (1-2/4).

Kegiatan mulai pukul 07.00 hingga pukul 08.30 WIB. “Setelah dari MINU KH Mukmin, Koin NU selanjutnya dipindah ke MI dan SD lainnya yang ada di Sidoarjo," ujar perempuan yang akrab disapa Bu Mamah ini.

Dirinya menjelaskan, kegiatan semacam itu bukan kali pertama dilakukan. Beberapa waktu lalu juga ada koin peduli yang tujuannya sebagai rasa kepedulian terhadap sesama, turut serta menyukseskan seluruh kegiatan yang dilaksanakan LAZISNU maupun Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sidoarjo untuk hal yang bersifat sosial.

"Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak bisa lebih meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama, mau berbagi, menyisihkan sebagian uang saku ataupun yang dimiliki untuk berbagi kepada sesama," pungkas Bu Mamah. (Moh Kholidun/Ibnu Nawawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG