IMG-LOGO
Pustaka

Menengok Kembali Awal Mula Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara

Senin 1 April 2019 18:30 WIB
Bagikan:
Menengok Kembali Awal Mula Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara
Ilustrasi (Ist.)
Berdasarkan laporan ekspedisi Ibnu Batutah dalam kitab Rihlah Ibnu Bathutah sebagaimana dikutip oleh Musyrifah Sunanto, halaqah adalah lembaga pendidikan yang pertama kali diselenggarakan di Samudera Pasai.

Kegiatan halaqah dilaksanakan di masjid-masjid istana kesultanan bagi keluarga kerajaan dan pembesar istana. Sedangkan bagi masyarakat umum kegiatan ini dilaksanakan di rumah-rumah guru dan surau-surau bagi masyarakat umum.

Selain itu, istana juga membangun tempat mudzakarah sebagai perpustakaan umum dan pusat penerjemahan serta penyalinan kitab-kitab keislaman.

Dalam perkembangannya, lembaga pendidikan Islam di Nusantara pada masa kerajaan-kerajaan Islam setelah halaqah adalah seperti: Dayah & Rangkang di Aceh, Surau di Minangkabau dan Pesantren di Jawa.

Menurut Musyrifah Sunanto, bahwa kegiatan pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam saat itu memiliki kemiripan satu sama lain. Pembelajaran agama bagi ummat Islam ketika itu pada umumnya adalah pengajian Al-Qur’an yang dimulai dengan pengenalan huruf-huruf hijaiyah, kemudian dilanjutkan dengan menghafalkan Juz ‘Amma dan tajwidnya untuk kebutuhan shalat lima waktu.

Kemudian untuk jenjang pendidikan lanjutan diajarkan mata pelajaran Fiqih dan Tasawuf. Selain itu juga diajarkan Kitab Tafsiir, Hadits, Balaghah, dan mantiq di Pesantren Bantoalo di Kerajaan Gowa oleh Syaikh Yusuf Makassari sekembalinya belajar dari Aceh.

Namun, dalam penelusurannya mengenai pendidikan Islam di Nusantara, Musyriah Sunanto melihat kitab-kitab yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan saat itu biasanya merupakan karya ulama Nusantara yang ditulis dalam bahasa Melayu, Sunda atau Jawa. Ada beberapa kitab dalam bahasa Arab tapi jumlahnya terbatas.

Dalam bukunya, Musyrifah Sunanto memaparkan bahwa pengajian agama di daerah Sumatra rata-rata adalah kitab berbahasa Melayu yang ditulis oleh tokoh-tokoh seperti: Syai Nuruddin Ar-Raniri dan Syamsuddin As-Sumatrani.

Sedangkan di Demak, kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan kitab pegangan sebagai berikut: (1) Kitab Ushul enam Bis; (2) Tafsir Jalalain; (3) Primbon; dan (4) Suluk.

Kitab Tafsir Jalalain adalah kitab tafsir terkenal di pesantren sampai sekarang yang ditulis oleh: Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dan Imam Jalaluddin Al-Mahalli. Kitab Primbon adalah kitab berisi wejangan para wali. Sedang kitab suluk adalah kitab berisi ajaran mistik.

Setelah pusat kerajaan Islam pindah kemaratan Mataram, lembaga pendidikan pesantren yang diselenggarakan oleh kerajaan mengkaji kitab-kitab seperti: (1) Kitab Ushul enam Bis; (2) Taqrib; dan (3) Bidayatul Hidayah. Kitab Ushul enam Bis sendiri adalah kitab tulisan tangan berisi enam Bismillah karya ulama Samarkand mengenai dasar-dasar ilmu keislaman. Kitab Taqrib adalah karya Abu Syuja’ yang terkenal sampai sekarang di pesantren. Sedang Bidayatul Hidayah adalah Karya Al-Ghazali.

Masa Penjajahan Belanda

Pada awalnya, ketika pemerintah Belanda mulai berkuasa pada 1610 M, Belanda membiarkan pendidikan Islam berjalan sedemikian adanya. Namun kemudian Belanda berfikir bahwa kaum santri dan pesantren tidak koperatif dengan mereka, tidak mau dan tidak bisa dipekerjakan untuk kepentingan Belanda ditambah lagi mereka tidak bisa membaca tulisan latin, maka dimulailah usaha-usaha pelemahan terhadap pendidikan pesantren ini.

Belanda kemudian membuat kebijakan-kebijakan yang merugikan dan melemahkan pesantren utamanya setelah perjanjian Giyanti (1755 M). Pihak kolonial berusaha melemahkan Islam seperti: Tanah Pamerdikan untuk Penghulu, Modin, Naib dan Kiai dihapuskan dan dijadikan tanah gabernamen. Hasil zakat yang sebelumnya dibuat untuk membiayai pendidikan dihapus dan dialihkan untuk menggaji penghulu, modin, dan naib sebagai ganti penghapusan tanah pamerdikan yang sebelumnya menjadi hak mereka dan dapat diwariskan.

Hal inilah yang kemudian membuat Pangeran Diponegoro marah dan mengkonsolidasi para ulama untuk melawan Belanda. Dan Akhirnya meletuslah Perang Jawa. Perang ini adalah suatu perang yang menghabiskan banyak energi dan finansial bagi Belanda.

Setelah kekalahan Diponegoro melalui muslihat liciknya, Belanda terus berupaya melemahkan pendidikan Islam di Nusantara. Ia kemudian mengeluarkan berbagai kebijakan-kebijakan seperti: pewajiban izin bagi ulama yang mengajar agama. Peraturan ordonansi sekolah liar, pendirian sekolah belanda di seluruh daerah di Indonesia dan sebagainya.

Dalam pada itu, di tengah upaya pelemahan tersebut, pada tahun 1900, menurut catatan Musyrifah Sunanto, KH Hasyim Asy’ari membuka pesantren di Tebuireng Jombang yang menyelenggarakan pendidikan mulai dari tingkat tinggi sampai tingkat dasar.

Pada pereode ini kitab kuning yang dikaji di pesantren sudah sedemikian banyak dan meliputi kitab-kitab besar yang sebelumnya tak pernah dikaji di lembaga pendidikan di masa kerajaan baik Pasai, Malaka, Aceh, Demak maupun Mataram. Susunan kurikulum pesantren pada masa ini ditandai dengan beberapa hal sebagai berikut: (1) Pembelajaran Al-Qur’an sama seperti sebelum 1900; (2) Pengajian kitab kuning terdiri dari: (a) Nahwu-Shorrof menggunakan kitab-kitab seperti, Jurumiah, Asymawi, Syaikh Kholid, Azhari, Asymuni, Alfiyah, Kailani dan Taftazani, (b) Fiqih meliputi: Fathul Qarib, Fathul Muin, Mahalli dan bahkan sampai kitab Tuhfah dan Nihayah.

Sebagai catatan lagi bahwa kitab-kitab yang digunakan pada masa ini adalah sudah kitab yang tercetak dan bukan kitab tulisan tangan sebagaimana sebelumnya. Rata-rata kitab tersebut dipesan dari Makkah dan Singapura.

Musyrifah Sunanto sekali lagi mengatakan bahwa pada masa pembaharuan pendidikan yang dipelopori KH Hasyim Asy’ari ini, ilmu kegamaan Islam di Nusantara menjadi lebih tinggi (lebih luas). Pada masa ini menurut catatan Sunanto, pelajaran agama Islam di Nusantara sudah hampir menyamai Makkah Al-Mukarramah. Disarikan dari buku: Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Karya: Musyrifah Sunanto (2007). (R. Ahmad Nur Kholis)
Bagikan:
Sabtu 30 Maret 2019 22:0 WIB
NU di Mata Kiai Hasjim Latief, Santri Hadratussyekh Hasyim Asy’ari
NU di Mata Kiai Hasjim Latief, Santri Hadratussyekh Hasyim Asy’ari
Generasi NU punya hak untuk mengetahui kiprah dinamika perjuangan NU dan para tokohnya. Dengan demikian adalah dipandang perlu untuk mencetak ulang buku-buku yang ditulis oleh para penggerak NU di masa-masa lampau.

Buku Nahdlatul Ulama Penegak Panji Ahlussunnah wal Jamaah ini diterbitkan oleh PWNU Jawa Timur pada 1979. Ditulis oleh KH M Hasjim Latief, murid Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asyari yang tekun mendokumentasikan perjalanan NU, bahkan detail bagaimana misalnya tukang masak di forum muktamar hingga perjalanan muktamar yang semula lesehan hingga memakai kursi, dan kisah unik lainnya (hal. 45-46).

Kiai Hasjim Latief yang oleh KH MA Sahal Mahfudh disebut sebagai murabbi (sang pendidik) ini menjadi Ketua LP Ma’arif Jawa Timur pada (1979-1982), dan Ketua PWNU Jawa Timur pada 1982-1987. Ketika Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo (1984), Kiai Hasjim Latief menjadi salah satu ketua PBNU dan Koordinator bagian LP Ma’arif seluruh Indonesia. Dan pada Muktamar NU ke-28 di Krapyak (1989) Kiai Hasjim Latief sebagai salah seorang Rais Syuriyah hingga tahun 1994.

Oleh KH Hasjim Latief buku ini  disebut sebagai bahan kursus kepemimpinan NU, dan dengan demikian buku ini adalah semacam buku panduan memahami NU sebagai penegak panji Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam konteks saat ini, hemat kami, buku ini adalah salah satu buku referensi  penting bagi kader Nahdlatul Ulama yang akan mengikuti PKPNU (Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama), dan MKNU (Madrasah Kader Nahdlatul Ulama).

Dalam buku ini pembaca akan mendapatkan suguhan bahasan tentang pemaknaan Aswaja yang dihubungkan dengan NU, peristiwa yang mendorong berdirinya NU dan perkembangannya, asas tujuan dan program utama NU, episode NU sebagai partai politik dan masa lepas dari partai politik. 

Dalam dinamikanya NU pernah mengalami masa Nasakom. Semboyan dan ide Nasakom adalah lingkaran yang menjerat. Karena menurut para ulama hal ini bisa membahayakan, maka NU bertawakal dan perlu mengimbangi dengan prinsip,"Lebih baik berjotosan di dalam daripada hanya berteriak jadi penonton di luar." Jalan yg ditempuh NU ini ternyata benar, demikian disimpulkan kiai yang wafat pada 19 April 2005 dalam usia 77 tahun ini.  

Dan di antara keistimewaan buku ini adalah dijelaskannya secara jelas metode berpikir NU. Kiai Hasjim Latief setidaknya menyebut tiga kaidah berpikir, yaitu tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan dinamis selektif yang diserap dari kaidah khas ulama Nusantara, “Al-muhafadhatu ala-l-qadim as-ahalih wa-l-akhdzu bil-jadidi-l-ashlah” (melestarikan tradisi yang baik dan mengadopsi hal baru yang lebih baik).

Buku ini memuat dokumen-dokumen penting NU, yaitu Anggaran Dasar NU yang pertama, susunan PBNU pertama, Muqadimah Qanun Asasy, Surat Delegasi NU kepada Raja Saudi, Surat balasan Raja Saudi, Nasihat KH Hasyim Asyari, dan Khutbah Iftitah Rais Akbar KH Hasyim Asyari dalam Muktamar terakhir yang diikuti beliau.

Untuk semakin memantapkan, dalam buku ini juga ditambahi beberapa dokumen penting lainnya yaitu Resolusi Jihad, Piagam Liga Muslimin Indonesia, Resolusi Mengutuk Gestapu, Maklumat Perdamaian, Khittah NU, Fikrah Nahdliyyah, Pedoman Berpolitik Warga NU, dan Mars Nahdlatul Wathan. 

Akhirnya, buku ini tidak hanya penting dibaca para warga dan pemimpin NU, namun juga kalangan luas yang ingin mengetahui semangat dan sejarah Nahdlatul Ulama yang senantiasa mengajak pada persatuan sesama muslim, dan sesama warga negara Republik Indonesia.


Peresensi adalah Yusuf Suharto, anggota Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur


Identitas Buku

Judul Buku     : NU Penegak Panji Ahlussunah wal Jama'ah
Penulis           : KH M. Hasjim Latief
Pengantar      : KH Marzuqi Mustamar (Ketua PWNU Jatim)
Penerbit         : PW LTN-NU Jatim dan Muara Progresif
Cetakan         : 1, Februari 2019
Halaman        : xiv+138 (152 halaman)
ISBN              : 978-602-50207-9-7

Sabtu 30 Maret 2019 8:0 WIB
Membuka Topeng Harun Yahya
Membuka Topeng Harun Yahya
Ilustrasi (Ist.)
Tidak ada alasan untuk tidak kritis terhadap segala hal. baik itu suatu karya, seorang tokoh bahkan sampai budaya-pun harus kita kritisi. Termasuk juga tulisan yang sedang kalian baca ini, juga perlu untuk dikritisi. Karena tidak semua yang tampak dipermukaan ataupun menjadi sesuatu yang umum merupakan jelmaan dari kebenaran yang merajalela. Adolf Hitler pernah mengatakan bahwa kebohongan yang disampaikan seribu kali, pada akhirnya akan tampak seperti suatu kebenaran.

Bernando J. Sujibto hendak memberikan penerangan terhadap pandangan kita selama ini tentang Harun Yahya yang populer dengan karya-karya spektakulernya. Mungkin sebagian dari kita mengenal Harun Yahya sebatas seorang tokoh yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu, khususnya Agama dan Sains. Tanpa kita sadari bahwa Harun Yahya merupakan nama dari lembaga/organisasi bisnis atau korporasi (enterprise).

Harun Yahya bergerak dibawah kepemimpinan Adnan Oktar, sedangkan tujuan penamaan Harun Yahya dalam organisasi tersebut ialah sebagai nama pena dari Adnan Oktar untuk membentuk branding dirinya dimata dunia. Hal ini bisa kita lihat dalam karya-karyanya yang mencantumkan biografi penulis, dan memaparkan nama Harun Yahya sebagai nama personal dan nama pena dari penulis. karya-karyanya bisa diakses di harunyahya.org atau harunyahya.com.

Karya-karya yang telah diterbitkan atas nama Harun Yahya mencakup pembahasan mengenai Agama, Sains, Akhir Zaman, Imam Mahdi, Musthafa Kemal Ataturk, Sejarah, Politik dan lain sebagainya.

Namun karyanya yang berkaitan dengan Sains merupakan yang paling populer di antara karyanya yang lain, sebagaimana tujuan utamanya ialah menentang Teori Evolusi yang dicetuskan oleh Darwin. Dalam hal ini Adnan Oktar mencoba membuktikan kebenaran al-Qur’an melalui wahana Sains sebagai bantahan atas teori Evolusi tersebut, dan ini menjadikannya sosok yang dikagumi oleh banyak kalangan utamanya umat Islam.

Di sisi lain upaya asosiasi Sains dengan al-Qur’an tidak selamanya mendapat respon yang baik dari beberapa pihak. Sebagaimana AS. Laksana dalam salah satu esainya menyebutkan bahwa “Kitab suci tidak perlu dicari-carikan legitimasinya melalui temuan sains. Sains dan agama memiliki wilayah masinng-masing, memiliki karakter yang berbeda. Pernyataan-pernyataan dalam kitab suci bersifat final, tidak akan pernah berubah selamanya.

Sementara sains tidak akan pernah mencapai garis final, tidak akan pernah berhenti sampai kapan pun.” kemudian pernyataan tersebut diperkuat dengan logika pertanyaan “Jika temuan-temuan sains hari ini, yang digunakan untuk mendukung kebenaran kitab suci, pada suatu hari nanti berubah, apakah berarti pernyataan dalam kitab suci harus ikut berubah juga?”.

Pernyataan tersebut memang terkesan menyudutkan upaya mempertemukan Sains dengan al-Qur’an. Walaupun pada taraf tertentu ada benarnya, tapi yang perlu ditanggapi dari hal tersebut ialah bahwa mencoba membuktikan kebenaran al-Qur’an dengan pendekatan Sains ialah upaya untuk membumikan al-Qur’an, agar al-Qur’an tidak terkesan wacana imajinatif yang mengawang-awang, tapi dapat dibuktikan kebenarannya melalui pendekatan Sains, dan perlu untuk dipahami bahwa upaya pendekatan tersebut bukanlah bentuk dari meng-idealisasikan kebenaran Sains dengan al-Qur’an, tapi sekedar upaya kita untuk taqarrub ilallah sebagai bukti pengabdian kita kepadaNya. yang senantiasa memerintahkan kita untuk berpikir tentang ciptaanNya (la’allakum tatafakkarun).

Namun sangat disayangkan, upaya yang telah dilakukan oleh Adnan Oktar sangat bertolak belakang dengan upaya membumikan al-Qur’an. Lebih tepatnya Adnan Oktar hanya menjadikan al-Qur’an sebagai alat penarik simpati dunia. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Adnan Oktar sendiri ketika di investigasi oleh Serdar Sacan (seorang kepala tim penangkapan Adnan Oktar dan jamaahnya) bahwa Adnan Oktar tidak mempunyai tujuan ataupun kepentingan untuk urusan agama (hlm. 63).

Kontroversi lain yang menyelimutinya ialah mengenai karya-karyanya yang sebatas Pseudoscience (sesuatu yang tampak seperti ilmiah, padahal tidak ilmiah), sehingga tidak bisa dibuktikan keautentikan ilmiahnya. Disamping itu, jika diukur riwayat pendidikan Adnan Oktar dengan karya-karya yang diterbitkan atas nama dirinya sangatlah tidak realistis.

Adnan Oktar tidak mempunyai latar belakang agama yang mumpuni, karena dia terlahir dari keluarga sekuler, walaupun pernah mengecap pendidikan agama waktu sekolah Lise (setingkat SMA). Dan dia juga bukan seorang ahli Sains. Latar belakang keilmuannya hanya sebatas jurusan Desain Interior ketika kuliah di Universitas Mimar Sinan dan pindah ke Universitas Istanbul jurusan Filsafat dan Sejarah, dan kedua kampus yang dijejakinya tidak dijalani secara tuntas.

Selain kontroversi yang telah disebutkan sebagian diatas, Adnan Oktar juga banyak terlibat dalam beberapa kasus besar, diantaranya ialah kasus yang melibatkan Oktar Babuna, yaitu kampanye donor darah untuk penderita Leukemia, namun kedok kampanye tersebut terbongkar oleh kementrian kesehatan Turki, dengan menyatakan bahwa kampanye tersebut ilegal, tidak mendapat izin dari pemerintah, dan berdasarkan penelusuran pemerintah, kampanye tersebut didalangi oleh Amerika dan Australia.

Namun Kepiawaian Adnan Oktar berasosiasi dengan berbagai kalangan penting membuatnya bisa melewati kasus-kasus yang dihadapinya dengan licin (Hlm.106). Walaupun demikian, dia juga pernah merasakan pahitnya hidup dipenjara yang hanya sebentar, dan terakhir kali dia ditangkap pada 11 juli 2018 M. 

Adnan Oktar dalam gerakannya juga menunjukkan sikap inkonsisten, pada mulanya menentang Musthafa Keman Ataturk dan pengikutnya (Kemalis), tapi kemudian pernyataanya berubah dengan mengakui dirinya sebagai pendukung Ataturk, dan berbagai perubahan-perubahan lain yang membuat dirinya dipandang aneh oleh para pengamat. Dari berbagai keanehan-keanehan tersebut, muncul sebuah laporan dari Rumah Sakit Angkatan Udara Di Eskisehir pada tahun 1993 bahwa dirinya mengidap penyakit Paranoid Skizofenia. Semacam penyakit psikologi yang menguatkan alasan perubahnya secara ekstrim.

Pada intinya Bernando J. Sujibto ingin mengatakan lewat buku ini, bahwa karya-karya monumental yang telah diterbitkan atas nama Harun Yahya yang merupakan nama pena dari Adnan Oktar, bukanlah karya Adnan Oktar sendiri, melainkan produk korporasi dari Harun Yahya yang dipimpinnya. Kepiawaiannya dalam menarik kaum akademis untuk menjadi pengikutnya membuat Organisasi Harun Yahya yang dipimpinnya bisa memproduksi karya-karya secara dinamis, dan al-Qur’an yang menjadi kolaborasi dalam berbagai karyanya hanyalah diperalat sebagai penarik simpati dunia. 

Lebih jauh lagi Bernando J. Sujibto ingin mengajak kita menjadi pembaca yang aktif, bukan pembaca pasif yang menerima secara instan sebuah karya. Karena tidak semua karya lahir dari niat yang mulia. Sehingga perlu untuk selalu dikritisi, bahkan dari tokoh yang kita kagumi sekalipun. Jangan sampai membuat pintu kritis kita tertutup, tapi tetap menempatkan diri secara proporsional untuk sebuah kebenaran. Wallahu a’lam.

Peresesnsi adalah Nuvilu Usman Alatas, Pustakawan PP.Annuqayah daerah Lubangsa sekaligus Mahasiswa Instika

Identitas buku
Judul: Harun Yahya Undercover
Penulis : Bernando J. Sujibto
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, September 2018
ISBN: 978-602-7696-61-7
Penerbit: IRCiSoD
Tebal: 200 halaman
Selasa 26 Maret 2019 12:45 WIB
Meluruskan Pandangan Keagamaan Kaum Jihadis
Meluruskan Pandangan Keagamaan Kaum Jihadis
Terminologi ‘Kaum Jihadis’ di sini merupakan kelompok kecil umat Islam yang keliru dalam memahami arti jihad. Jihad yang secara makna dipahami sebagai berjuang di jalan Allah justru diartikan secara tekstual, bukan substansial. Mereka juga memahami jihad secara parsial, bukan integral. Memahami jihad secara tekstual akan memunculkan pemahaman dangkal dan simbolik. Ujungnya, orang akan mudah terpengaruh dan percaya begitu saja dengan segala sesuatu yang menyimbolkan Islam. Padahal simbol-simbol tersebut kerap hanya digunakan untuk melegalkan kekerasan, terorisme, dan ekstremisme serta misi politik kekuasaan.

Bagi kelompok tersebut, menggunakan simbol-simbol Islam merupakan salah satu strategi menarik minat dan perhatian umat Islam. Kaum jihadis ekstrem melakukan berbagai macam cara untuk menafsirkan dalil-dalil agama sesuai dengan selera dan tujuan ‘jihad’ mereka. Bukan berdasarkan ilmu agama dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Karena berangkat dari pemahaman dan pandangan keagamaan yang keliru, maka perlu diluruskan sehingga setidaknya bisa memberikan pemahaman secara menyeluruh kepada umat Islam dalam memahami jihad yang sesungguhnya.

Buku Meluruskan Pandangan Keagamaan Kaum Jihadis terbitan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (2018) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam membendung gerakan-gerakan garis keras Islam. Kelompok yang selama ini telah mengubah Islam dari wajah sejuk dan ramah menjadi wajah yang keras, penuh amarah, dan menakutkan. Tentu hal ini jauh dari nilai-nilai agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Di dalam buku setebal 248 halaman tersebut dicontohkan kelompok teroris ISIS yang memanfaatkan term jihad dan menggunakan simbol-simbol agama untuk melegalkan aksi kekerasan dan terorisme mereka. Gayung bersambut, tidak sedikit umat Islam di beberapa negara termasuk di Indonesia yang termakan ajakan jihad semu berimbal surga yang ditawarkan ISIS. Sebagian perempuan dan anak-anak. Mereka rela menjadi kombatan.

Setelah sampai di sana (Irak dan Suriah), para perempuan hanya dimanfaatkan menjadi budak seks, anak-anak terlantar dan dicampakkan. Taman surga dan pendapatan materi yang ditawarkan ISIS hanya berbuah neraka. Atas kenyataan tersebut, banyak yang meminta pulang. Mereka memberikan pengakuan bahwa yang ditawarkan oleh ISIS hanya kepalsuan dan menipu. Sayangnya, keinginan mereka kembali ke tanah air di mana mereka berasal ditolak. Seperti seorang perempuan bernama Shamima Begum, eks keluarga ISIS yang emoh diterima Inggris.

Buku ini dapat memberikan pemahaman komprehensif terkait term-term keagamaan yang kerap dinarasikan oleh kelompok-kelompok Islam garis keras, seperti jihad, khilafah, jihad, hijrah, thogut, dan lain-lain. Mestinya, istilah-istilah tersebut bisa dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan yang dapat menjadi pelajaran bagi umat Islam saat ini dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sebab itu, buku ini juga memberikan pemahaman terkait dengan negara dan sistem pemerintahan. Karena yang kerap dikampanyekan mereka ialah negara Islam, daulah Islamiyah, dan khilafah Islamiyah.

Bukan hanya dikembalikan dengan pendekatan nash, Al-Qur’an dan Hadits, buku ini juga menerangkan dengan pendekatan historis atau sejarah sehingga pembaca bisa memahami konteks pemahaman dan pandangan keagamaan yang selama ini disempitkan dan diselewengkan oleh kaum-kaum jihadis ekstrem. Daulah Islamiyah memang pernah berkembang setelah era Khulafaur Rasyidin. Namun hal itu sebatas pengembangan sistem pemerintahan umat Islam kala itu. Sedangkan Nabi Muhammad sendiri tidak pernah mendirikan negara Islam, daulah Islamiyah, kekhalifahan Islam. Nabi SAW mendirikan negara setelah hijrah ke Yatsrib (Madinah). Dengan kata lain, Nabi mendirikan negara Madinah berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang termaktub dalam Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah).

Kesepakatan tersebut dijalin oleh Nabi Muhammad dengan agama, kabilah, dan suku-suku lain yang berkembang di Madinah. Madinah kala itu memang berkembang menjadi kawasan yang majemuk atau pluralistik. Konsensus atau kesepakatan yang tertuang dalam Piagam Madinah berdasarkan asas keadilan untuk semua bangsa, baik Muslim, Yahudi, Nasrani, kabilah, dan suku-suku yang hidup di Madinah. Karena dalam halaman 7 disebutkan bahwa faktor penyusunan Piagam Madinah ialah pertama faktor universal, yaitu mengokohkan kemuliaan kemanusiaan (karomah insaniyyah). Kedua, faktor-faktor lokal, yaitu kemajemukan, kecenderungan bertanah air, dan semangat toleransi keagamaan dan kemanusiaan.

Piagam Madinah berisi 47 pasal. Ia merupakan supremasi perjanjian negara pertama dalam sejarah Islam yang didirikan oleh Nabi Muhammad. Dengan kata lain, Nabi SAW mendirikan Darul Mistaq, negara kesepakatan antarkelompok-kelompok masyarakat yang berbeda-beda di Madinah. Jadi jika dihubungkan dengan pembentukan dasar negara di Indonesia, para ulama seperti KH Wahid Hasyim, dan lain-lain sudah tepat dalam meneladani Nabi karena melahirkan Pancasila sebagai konsensus kebangsaan. Selengkapnya, selamat membaca! (Fathoni)

Identitas buku:
Judul: Meluruskan Pandangan Keagamaan Kaum Jihadis
Penulis: Khamami Zada, dkk
Penerbit: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI
Cetakan: Pertama, 2018 
Tebal: viii+248 halaman
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG