IMG-LOGO
Daerah

LTNNU Jombang: Pesantren dan Madrasah Harus Punya Website

Selasa 2 April 2019 21:0 WIB
Bagikan:
LTNNU Jombang: Pesantren dan Madrasah Harus Punya Website
Diklat jurnalistik bagi santri dan siswa Bahrul Ulum Jombang
Jombang, NU Online
Pengurus Cabang (PC) Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kabupaten Jombang Jawa Timur bekerjasama dengan Madrasah Muallimin Muallimat Atas (MMA) 6 Tahun  Bahrul Ulum Tambakberas Jombang mengadakan diklat jurnalistik gratis untuk para siswa. Acara digelar di Auditorium MMA Bahrul Ulum digelar Senin (01/3) diikuti oleh puluhan santri dan siswa.

"Kita ingin setiap madrasah, pesantren, dan santri bisa aktif menulis kegiatan mereka dalam bentuk berita. Lalu diposting di website madrasah atau pesantren. Bisa juga lewat blog atau wordpress. Kalau belum punya, kita bantu buat. Tahun ini harus punya, untuk strategi dakwah," kata M Choirurojikin, pemateri dari LTNNU Jombang. 

Pria yang biasa disapa Oji ini menambahkan, saat ini media sosial masih dikuasai golongan 'Minhum'. Kelompok tersebut saat ini sangat gencar menyudutkan NU lewat postingan dan tulisan yang provokatif.

Keengganan santri untuk mengusai media sosial membuat generasi muda dari kelompok 'Minhum' membanjiri medsos. Mereka aktif menulis kajian Islam versi mereka di Facebook, IG, Whatshap, Twitter, Blog, Website dan versi video di Youtube. 

"Efeknya apa? setiap ada yang mengetik kata 'cara berwudlu' di Google maka yang muncul pada halaman pertama adalah website atau blogger dan akun medsos punyanya 'Minhum'," sesal Oji.

Dikatakan, LTN-NU Jombang membuat sebuah program khusus bernama 'LTN sambang'. Selanjutnya, tim dari LTN-NU Jombang akan berkeliling ke madrasah, sekolah, pesantren, dan komunitas untuk memberikan materi jurnalistik plus sekaligus cara membuat blog dan website. 

"Andai saja para santri mau meluangkan waktu untuk membagikan hasil kajiannya di blogger atau website maka tentu orang yang baru belajar Islam ini bisa memahami hukum Islam secara lengkap dan sejuk," ungkap Oji.

Peserta diklat jurnalistik Zaky mengatakan sangat senang dengan program LTN-NU Jombang. Ia merasa terbantu oleh pemateri terkait tips-tips membuat berita yang bagus dan benar. 

"Kita tadi baru tahu, ternyata buat berita itu mudah. Bahkan ngajinya kiai di pesantren juga bisa dibuatkan berita," bebernya. 

Dikatakan, dari hasil diklat para peserta sepakat untuk tidak menyalahkan keadaan dan lingkungan. Namun mulai berangkat untuk maju dari diri sendiri. Usai beranjak dari forum ini, peserta akan aktif menulis ucapan hikmah dari para guru dan kandungan kitab klasik dalam bentuk berita, sesuai kaidah jurnalistik. 

"Semua peserta sangat antusias dan menyimak secara teliti setiap materi yang disampaikan. Terbukti tidak ada yang tidur dan main handphone atau ngobrol rame sesama peserta diklat. Saat diminta praktek menulis mereka pun rebutan setoran membuat berita," pungkasnya. (Syarif Abdurahman/Muiz
Bagikan:
Selasa 2 April 2019 22:30 WIB
Tentang Isra' Mi'raj, Gus Yusuf: Iman Tidak di Batok Kepala Tapi di Dada
Tentang Isra' Mi'raj, Gus Yusuf: Iman Tidak di Batok Kepala Tapi di Dada
KH Yusuf Chudlori (Foto: Ist.)
Magelang, NU Online
Peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian naik ke Sidratul Muntaha yang dinamakan sebagai Isra' Mi'raj ini merupakan benar-benar menjadi ujian keimanan bagi umat Islam.

Bagaimana tidak. Perjalanan Isra' Mi'raj Nabi ini hanya dilakukan dalam satu malam yang secara logika akal manusia, hal ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh siapapun, dengan cara dan alat apapun.

"Iman itu tidak di batok kepala tapi di dada dan kekuasaan Allah tidak bisa dan tidak perlu dimasukkan logika. Yang terpenting adalah iman (percaya)," demikian tegas Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Selasa (2/4).

Karena mengandalkan otak dan retorika akal inilah yang akhirnya membuat beberapa sahabat Nabi Muhammad kala itu murtad (keluar dari Islam) setelah mendengar Nabi mengisahkan perjalanan Isra' Mi'rajnya.

Bagi sahabat yang terpilih dan memiliki keimanan kuat, lanjut Gus Yusuf, mereka semakin yakin dan percaya kepada Nabi. Keimanan para sahabat tak tergoyahkan karena mereka benar-benar yakin jika Allah yang berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin terjadi.

"Bersyukur sekali kita umat Islam zaman sekarang. Walau tidak berjumpa langsung dengan Nabi dan tidak mendengar langsung hal ini dari Nabi namun masih percaya dan iman. Ini murni hidayah Allah dan ini adalah nikmat terbesar," tegasnya.

Jadi lanjut Gus Yusuf, hikmah yang bisa diambil dari peristiwa Isra' Mi'raj adalah rasa syukur kita diberikan keimanan dengan percaya terhadap perjalanan suci Nabi ini. Kita masih dikaruniai dengan keimanan tanpa dipengaruhi oleh logika.

"Jika masih mengandalkan logika, keimanan pastinya akan diotak atik. Umpamanya sampai ada kalimat 'saya percaya Isra' Mi'raj, tapi kayaknya jasad Nabi tidak ikut. Hanya ruhnya saja'. Ini namanya imam masih dengan syarat," tegasnya.

Yang dinamakan Imam menurut Gus Yusuf tidak dengan menggunakan syarat. "Iman kok masih dengan syarat. Bukan iman namanya," lanjutnya.

Selain ujian keimanan, hikmah Isra' Mi'raj adalah perintah melaksanakan shalat lima waktu. Pada awalnya Allah SWT memerintahkan umat Nabi Muhammad melaksanakannya selama 50 waktu dalam sehari semalam. Namun setelah dimusyawarhkan dengan Nabi terdahulu seperti Nabi Musa kemudian menyampaikan keluh kesahnya kepada Allah, akhirnya shalat diwajibkan hanya lima waktu.

"Inilah (Nabi Muhammad) figur seorang pemimpin yang tidak mementingkan diri sendiri namun memikirkan umatnya," jelas Gus Yusuf.

Allah saja yang maha kuasa masih memberikan kesempatan dengan bermusyawarah untuk memutuskan masalah, apalagi manusia.

"Apapun di kehidupan ini mari mengedepankan musyawarah. Seperti Pemilu juga merupakan bentuk musyawarah yang semuanya harus konsisten terhadap hasil keputusan yang disepakati," pungkasnya. (Muhammad Faizin).
Selasa 2 April 2019 20:30 WIB
HARLAH KE-96 NU
Madrasah Amil dan Launching BMT NU Pringsewu Warnai Puncak Harlah
Madrasah Amil dan Launching BMT NU Pringsewu Warnai Puncak Harlah
Gedung PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung

Pringsewu, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pringsewu bakal menggelar puncak Hari Lahir Ke-96 Nahdlatul Ulama versi Hijriyah pada Ahad (7/4) malam di Aula Gedung NU Jl. Lintas Barat Pagelaran, Kabupaten Pringsewu.

Sampai dengan saat ini berbagai kegiatan sudah dan akan dilaksanakan untuk memeriahkan usia NU yang hampir memasuki satu abad ini. Di antara kegiatan yang sudah dilaksanakan yakni Istighotsah dan Tahlil Kubro di seluruh Kecamatan di Bumi Jejama Secancanan Bersenyum Manis.

Dalam waktu dekat ini, tepatnya pada 6 dan 7 April 2019, panitia pelaksana juga akan menggelar Madrasah Amil yang merupakan kerjasama NU Care Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah NU (LAZISNU) Kabupaten Pringsewu dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Pringsewu.

Menurut Ketua NU Care LAZISNU Kabupaten Pringsewu Khairuddin, Madrasah Amil ini dilaksanakan untuk memberikan pemahaman mendalam kepada para amil zakat dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

"Target yang kita ingin capai adalah pemahaman tata kelola zakat NU dapat dikuasai dan para amil nantinya akan menjadi penggerak zakat di semua wilayah. Penggerak zakat ini nantinya juga akan membentuk UPZIS NU Care LAZISNU sampai dengan tingkat ranting," ungkap Heru, sapaan karibnya, Selasa (2/4).

Dengan pemateri Madrasah Kader dari NU Care LAZISNU Pusat, lanjut Heru, peserta akan mendapatkan konsep dan langkah dalam memaksimalkan potensi zakat dan sedekah di Pringsewu.

"Peserta akan mengikuti Madrasah Amil layaknya pengkaderan. Kita siapkan fasilitas menginap dan akomodasi agar mereka bisa fokus mengikuti pendidikan sehingga militansi berjuang di NU melalui LAZISNU akan semakin mendarah daging," tegasnya.

Setelah rampungnya Madrasah Amil, pada Ahad (7/4) malam akan dilanjutkan dengan puncak acara Harlah berupa Launching BMT NU Pringsewu.

Menurut Ketua Pendiri BMT NU Pringsewu H Munawir, keberadaan lembaga keuangan NU ini sudah resmi mendapatkan izin dari Kementerian Koperasi tepat pada Harlah Ke-93 NU versi Masehi yakni pada 31 Januari 2019.

"Alhmadulillah pada puncak Harlah NU versi Hijriyah kita bisa me-launching-nya. Mudah-mudahan akan membawa keberkahan, kemaslahatan, dan peningkatan ekonomi masyarakat khususnya di Kabupaten Pringsewu," harap pria yang juga Katib Syuriyah PCNU Pringsewu ini.

Dalam launcing tersebut juga akan digelar Dialog Aswaja bersama KH Yasin Asmuni, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatuth Thullab Petuk, Semen, Kediri, Jawa Timur sekaligus Ijazahan Jami'ul Kutub berisi sanad Kutubul Mu'tabarah Aswaja.

"Dialog ini juga akan diwarnai dengan santunan bagi anak yatim piatu dan para dhuafa oleh LAZISNU Kabupaten Pringsewu," pungkasnya. (Muhammad Faizin)

Selasa 2 April 2019 20:0 WIB
Donor Darah Buka Rangkaian Haul Buntet 2019
Donor Darah Buka Rangkaian Haul Buntet 2019
Kegiatan donor darah jelang Haul Buntet Pesantren
Cirebon, NU Online
Donor darah menjadi kegiatan pembuka Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren 2019. 81 orang tercatat mendonorkan darahnya.

Santri Pondok Pesantren Al-Istiqomah 2, Aina Salsabila mengaku donor darah supaya sehat. "Biar sehat sih," katanya saat ditemui usai mendonorkan darahnya di Akper Buntet Pesantren, Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (2/4).

Siswi kelas XI Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kabupaten Cirebon Jawa Barat Nurlani menyatakan bahwa donor kedua kali ini sudah biasa saja. "Pertama (Januari 2019) lemes banget. Kedua ini udah tahu, jadi biasa aja," ungkapnya.

Selain menjaga kesehatan, donor darah bagi Nurlani sebagai bentuk kepedulian terhadap orang yang membutuhkan. Setidaknya, darahnya dapat dimanfaatkan orang lain. Sebab menurutnya, berdonor darah baik untuk semua, baik pendonor maupun yang didonorkan.

"Meskipun hanya setetes berharga manusia," ujar guru Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul ama (MTs NU) Putra 1 Buntet Pesantren itu.

Sementara itu, pengajar Akper Buntet Pesantren, Dedeh Riayatul Maula mengungkapkan bahwa donor darah memang berpengaruh positif terhadap kesehatan pendonornya. "Bagi pendonor dapat menjaga kesehatan jantung, darah menjadi lebih lancar dan bisa meningkatkan produksi sel darah merah," terangnya.

Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Panitia Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren 2019, Akper Buntet Pesantren, dan Palang Merah Indonesia (PMI) Cirebon. (Syakir NF/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG