IMG-LOGO
Opini

Indonesia di Antara Resolusi Jihad dan Resolusi Gambar


Selasa 2 April 2019 21:15 WIB
Bagikan:
Indonesia di Antara Resolusi Jihad dan Resolusi Gambar
Oleh Aswab Mahasin

Belum lama ini Nahdlatul Ulama (NU) menggelar syukuran akbar memperingati Hari Lahirnya ke-96. Banyak agenda yang diletakkan NU untuk berperan aktif membangun bangsa, salah satunya menyiapkan sumber daya manusia menyambut tantangan era revolusi industri 4.0.

Perkembangan era teknologi tidak hanya memberikan tantangan ‘penyesuaian diri’. Tantangan terberat adalah meminimalisir kerja-kerja negatif yang dilakukan olehpihak-pihak yang mempunyai kepentingan. Pemanfaatan kerja negatif di era digital memberikan dampak buruk terhadap masyarakat. Apalagi tahun politik sekarang, produksi hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian mendominasi dinding halaman medsos.

Alat-alat digital diciptakan muasalnya untuk kemanfaatan, memudahkan berkomunikasi, menerima berita, dan untuk mencari informasi lebih cepat. Tapi, pemanfaatannya telah dislewengkan. Dunia sedang berputar cepat, inovasi teknologi luar biasa—perkembangan handphone yang awalnya hanya mempunyai fungsi komunikasi semata, berkembang melebihi itu, punya kamera, punya pemutar video, pemutar musik, lalu sekarang terlahirlah smartphone—menawarkan berbagai macam kecanggihan tanpa batas.

Begitupun perkembangan medsos, dahulu hanya ada Friendster, sekarang kita dimanjakan dengan Facebook, Twitter, Instagram, dan sebagainya. Saat ini, orang lebih banyak menonton Youtube daripada Televisi. Itu semua adalah kerja gambar. Tidak sedikit diantara anak-anak kita sekarangbercita-cita menjadi Youtuber, dahulu sama sekali tidak terbayang jenis cita-cita itu.

Kalau kita mau jujur, kebutuhan kamera (gambar) saat ini sudah menjadi kebutuhan wajib, disetiap momen pasti ada jeprat-jepret, begitupun bentuk promosi—seperti restoran mempunyai slogan baru instagramable. Tidak ada yang salah dari fenomena ini—bagian dari perkembangan zaman—tidak bisa dihindari.

Namun, gejala tersebut perlu diwaspadai, khususnya ditahun politik, banyak gambar/hasil jepretan tidak sesuai dengan aslinya. Seperti hoaks/fitnah yang ditujukan kepada KH Ma’ruf Amin, katanya dibilang cipika-cipiki dengan wanita bukan muhrim. Tapi ternyata wanita pada foto/gambar tersebut istri beliau. Kan aneh, hoaks!

Hoaks menurut Rhenald Kasali (dalam acara televisi) adalah “kerja iblis”. Pernyataan tersebut dilatarbelakangi oleh peristiwa terlemparnya Nabi Adam dan Ibu Hawa ke dunia. Dengan itu, apakah kita akan terus melanjutkan tradisi iblis? Mau dilihat dari sudut pandang manapun, hoaks sangat merugikan individu maupun kelompok.

Dari kegaduhan palsu sekarang, kita seharusnya berkaca pada nilai-nilai Resolusi Jihad yang digagas oleh KH. Hasyim Asy’ari. Tidak hanya melulu terjebak pada manipulasi Resolusi Gambar—yang mempunyai watak menghancurkan keutuhan bangsa ini. Memang, sekarang tahun panas, tapi bukan berarti ikut terbakar atas kepentingan sesaat.

Sebagai pengingat, mari kita tarik ke belakang, setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya 17 Agustus 1945, ancaman penjajahan itu datang kembali. Pihak Belanda bersama tentara Inggris yang mengatasnamakan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) berduyun-duyun menginjakkan kaki di Indonesia satu persatu wilayah Indonesia kembali jatuh ke tangan Belanda dan kaum penjajah lainnya.

Kondisi tersebut dianggap genting, Soekarno mengutus orang untuk menghadap KH. Hasyim Asy’ari. Singkat cerita, KH Hasyim Asy’ari bersama dengan ulama lainnya wakil-wakil cabang dari NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya pada tanggal 21-22 Oktober 1945, hasil rapat tersebut melahirkan sebuah nilai dasar penting bagi bangsa ini, jihad mempertahankan kemerdekaan tanah air dan bangsanya. Nilai dasar tersebut dikenal dengan Resolusi Jihad. (Baca karya Abdul Latif Bustami dan Tim Sejarawan Tebuireng, Resolusi Jihad: Perjuangan Ulama: dari Menegakkan Agama hingga Negara).

Resolusi jihad ini menjadi inspirasi bagi berkobarnya semangat masyarakat Indonesia, khususnya arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan Indonesia, momen itu melutus pada tanggal 10 November 1945, yang kita kenal sekarang sebagai hari pahlawan. Sedangkan seruan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945, sekarang menjadi hari santri.

Narasi sejarah pendek tersebut bisadijadikan sebagai standar nilai dalam membangun bangsa. Saya yakin, kita semua bermimpi tentang kebangkitan Indonesia keluar dari semua permasalahan. Hanya saja, jalan keluar yang diambil bersifat ambigu; apakah kebangkitan harus didahului pertengkaran,pembunuhan karakter,dan fitnah bertebaran?

Mengapa terjadi ambiguitas semacam ini? Adanya perjumpaan silang sengkarut di antara kita (bangsa Indonesia), perjumpaan tidak diwarnai ide-ide segar, tanpa keakraban, dan tidak adanya trust. Hasilnya adalah persepsi yang membingungkan dipenuhi kontradiksi, apa yang kita usung dipermukaan bukan sebuah konsep kemajuan peradaban dan bukan realitas aktual objektif, melainkan didasarkan pada memori kebencian serta buruk sangka.

Keributan yang terjadi di Indonesia masa kini sama sekali tidak merefleksikan keragaman interpretasi terhadap realitas, melainkan lebih menggambarkan perbedaan otoritas (panutan) terhadap yang diyakininya. Itu susahnya. Apalagi gerakan resolusi gambar (hoaks, meme, video, dan sejenisnya) semakin masif akhir-akhir ini. Jangkauannya pun tidak sebatas satu atau dua orang, melainkan menyebar dengan cepat melalui medsos dan grup Whatsapp (WA). Untuk apa? Distribusi kebencian.

Jelas sudah, semangat resolusi gambar yang menyimpang, entah gambar dengan resolusi rendah, sedang, ataupun tinggi menyimpan semangat “menghancurkan”, bisa lawan politik, bisa individu, bisa juga kelompok (organisasi). Efeknya apa? Ada pepatah mengatakan, “satu kebohongan, akan diikuti kebohongan lainnya.” Relavan jika disematkan, “satu kehancuran, akan diikuti kehancuran lainnya.”

Mungkin, gerakan resolusi gambar tidak mempunyai tujuan menghancurkan peradaban bangsa ini. Tapi, tidak bisa dipungkiri—menjadi pintu masuk untuk kehancuran sesungguhnya, minimal kehancuran silaturahmi akan terasa. Sebenarnya tradisi saling hujat dengan menampilkan gambar sudah cukup lama terjadi pada pentas politik Indonesia, sepertihalnya menjelang Pemilu tahun 1955 terjadi perang gambar antara Masyumi dan PKI di surat kabar harian saat itu (lebih jelasnya Anda bisa browsing saja).

Namun, perang gambar tersebut tidak secanggih dan seheboh sekarang, dan peredarannya tidak cepat seperti sekarang. Saat ini semua orang bisa akses mulai anak kecil sampai orang tua, dari orang yang tidak punya kepentingan sampai yang berkepentingan. Akhirnya, banyak yang terepengaruh dan menjadi hiburan seakan-akan lumrah dan pantas. Padahal yang disuguhkan kebanyakan tidak laik konsumsi. Ini sesat pikir.

Dari berbagai permasalahan tersebut mari kita tarik semua, manipulasi resolusi gambar yang menyimpang harus dikurangi (kalau memang susah dihentikan), produksi hoaks dan fitnah baiknya diendapkan. Syukur-syukur musnah dari bumi ini, tapi kemungkinannya kecil, karena telah menjadi pola hidup dan (mungkin juga) gaya hidup dan jalan hidup (sumber ekonomi) bagi sebagian orang.

Coba kita bersama-sama renungkan makna Resolusi Jihad; dari mulai semangatnya sampai nilai-nilai yang dikandungnya, setidaknya sebagai orang beriman rasa malu kita muncul kembali untuk tidak melakukan perbuatan jahiliah modern. Resolusi Jihad mempunyai banyak nilai yang bisa kita jadikan prinsip kebangsaan (secara individu maupun kelompok), semangat menegakkan agama dan Kedaulatan Negara Republik Indonesia salah satunya.

Menegakkan agama bukan berarti mendirikan Negara Islam dan menuding salah sana-sini. Melainkan mendidik akal dan jiwa untuk selalu menebarkan kedamaian, cinta, dan kasih terhadap sesama—inilah esensi dari beragama. Karena sekarang kita sedang menghadapi penjajahan terhadap diri kita sendiri, yakni selalu menuruti nafsu jahat.

Nilai lain dari Resolusi Jihad adalah mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia merupakan kewajiban bagi umat Islam. Sebagai orang Indonesia yang beragama Islam kita harus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Islam sebagai mayoritas di Indonesia harus tampil sebagai agama publik yang toleran dan mampu mengayomi semua elemen masyarakat dari agama apapun dan suku apapun. Itulah hakikat sebagai orang Indonesia Bhinneka Tunggal Ika.

Sebenarnya masih banyak nilai yang dikandung dari Resolusi Jihad untuk kita tarik dan tanamkan sebagai pondasi politik dan prinsip kebangsaan, tapi akan terlalu panjang. Singkatnya, Resolusi Jihad mempunyai semangat komitmen kebangsaan, persaudaraan, gotong royong, dan saling menanamkan kepercayaan di antara warga negara (masyarakat).

Silakan Anda renungkan nilai-nilai luar biasa lainnya dari spirit Resolusi Jihad untuk kita tanamkan di era digital sekarang, supaya medsos, WA, dan bentuk saluran informasi lainnya terkontrol serta mempunyai semangat bersama dalam membangun bangsa ini lebih baik dan lebih beradab.

Semoga pengingat “sederhana” ini bisa menyadarkan kita semua untuk menghentikan gerakan “resolusi gambar” yang menyimpang dan kita hidupkan nilai-nilai manfaat dari Resolusi Jihad—supaya resolusi gambar yang ditampilkan lebih mendidik dan informatif secara pengetahuan.

Saya tutup tulisan ini dengan petuah bijak seorang budayawan Kang Sobary (sapaan akrab Mohamad Sobary), dalam tulisannya yang berjudul Menjadi Orang Indonesia, “Kita, orang Indonesia, tak boleh main-main. Loyalitas, biarpun kecil, harus diwujudkan. Perjuangan, biarpun tampak sepele, harus dilakukan. Untuk Tanah Air, kita menyediakan cinta. Dan cinta itu boleh membakar kita dan membuat kita terbakar dalam keindonesiaan yang utuh dan sejati karena kita sudah bulat menjadi orang Indonesia.”


Penulis adalah Pembaca NU Online
Tags:
Bagikan:
IMG
IMG