IMG-LOGO
Daerah

Bahagia dengan Al-Qur'an ala Gus Baha'

Kamis 4 April 2019 20:0 WIB
Bagikan:
Bahagia dengan Al-Qur'an ala Gus Baha'
Peringatan Isra' Mi'raj di Tangsel
Tangerang Selatan, NU Online
Baha'uddin Nur Salim atau yang akrap disapa Gus Baha' adalah sebagian dari ulama yang memiliki keluasan ilmu pengetahuan agama. Pembawaannya yang sederhana  dan cara penyampaian materi yang tidak sekedar ucapan semata namun juga bernas membuat kualitas dakwahnya patut untuk diikuti. 

Dengan diunggahnya beberapa pengajiannya di akun sosial media yang akhir-akhir ini beredar nampak disambut oleh warganet dengan penuh gembira berdasarkan jumlah viewer dan komentar-komentar positif yang diberikan.

Dalam memperingati Isra' Mi'raj Nabi Muhammad yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Al Qur'an (PSQ) pada Senin (03/4) lalu, ia diberi kesempatan untuk mengisi pengajian tentang Al Quran. Ia menyampaikan bahwa mempelajari Al-Qur'an itu sangat mudah, saking mudahnya bahkan pada masa Nabi orang-orang kafir juga mampu memahaminya.

"Orang-orang kafir itu tidak pernah kuliah di IAIN, tidak pernah belajar di PSQ, tapi ketika dibacakan langsung faham," ungkapnya di Masjid Bayt Al-Qur'an Pondok Cabe, Pamulang, Tangsel.

Ia menjelaskan, bahwasannya pada masa awal turunnya Al-Qur'an, objek Al-Qur'an itu justru kepada orang kafir, sehingga ada ayat qul ya ayyuhal kafirun. "Karena semua masyarakat pada zaman itu adalah kafir," kata putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Al-Qur'an di Kragan, Narukan, Rembang itu.

Al-Qur'an itu menarik, lanjutnya, karena begitu solutif. Semisal yang dianjurkan Al-Qur'an, yakni latihlah berbahagia dengan kebaikan, pasti dengan itu orang-orang akan meninggalkan kemaksiatan. "Orang-orang yang tahajud, menikmati sungkeman dengan Allah, jauh lebih bahagia ketimbang orang-orang yang bermaksiat," terangnya.

Oleh karena itu, ia menerangkan bahwasannya para ulama berpendapat bahwa bahagia itu wajib dan harus dilatih. Seperti yang dikatakan oleh ayat

 قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Gus Baha' juga menerangkan bagaimana cara untuk berbahagia, yakni dengan meyakini bahwa setiap orang akan mati. Nabi juga pernah mengatakan bahwa setiap orang bisa mati kapan saja, bisa besok, lusa dan seterusnya. Jika membayangkan bahwa besok seseorang akan mati, maka akan sangat bahagia jika menyongsongnya dengan keadaan taat.

Dari perasaan itu, lanjutnya, maka seseorang yang melihat maksiat akan merasa aneh. Awal dari keanehan itu lah yang menjadikan seseorang menjadi takwa. 

"Jadi tidak boleh orang bertakwa itu karena ketakutan, maka  firman Allah 

والَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّه 

orang-orang mukmin itu sangat mencintai Allah, " terangnya.

Contoh kebahagiaan lain yang diungkapkan Gus Baha' yakni dengan menceritakan kisah ulama-ulama zaman dahulu dalam mencari makan. Mereka berprinsip bahwa untuk makan sehari rata-rata seseorang hanya butuh dua piring, dan itu sudah bisa mengenyangkan. Jika yang dibutuhkan satu piring, untuk apa mencari lebih sehingga harus melakukan korupsi.

"Ini penting saya sampaikan karena perilaku orang-orang di zaman sekarang itu sudah berlebihan, sehingga menghadirkan contoh-contoh ulama zaman dahulu sangat perlu," tambahnya. (Nuri Farikhatin/Muiz)

Bagikan:
Kamis 4 April 2019 23:0 WIB
Penutup Rajab di Kota Solo Ada Khatmil Bukhari dan Bubur Haritsah
Penutup Rajab di Kota Solo Ada Khatmil Bukhari dan Bubur Haritsah
Kegiatan khataman Shahih Bukhari di Solo, Jateng
Solo, NU Online
Masjid Riyadh yang terletak di Pasar Kliwon Kota Solo Jawa Tengah, setiap setahun sekali mengadakan acara yang disebut dengan Khatmil Bukhari. 

Kegiatan ini merupakan acara puncak atau penutupan pembacaan kitab hadits Shahih Bukhari, yang telah dikaji beberapa waktu sebelumnya. Biasanya setiap menjelang dzuhur diadakan kajian kitab karya seorang ulama ahli hadits yang masyhur, Imam Bukhori. Kajian tersebut biasanya diakhiri pada bulan Rajab.

Menurut Habib Muhammad bin Husein Al Habsyi, acara Khatmil Bukhari ini merupakan tradisi baik yang berasal dari Yaman dan sekarang tradisi ini juga populer di Indonesia. 

“Banyak kota di Indonesia mengadakan pembacaan shahih bukhari pada bulan Rajab dan Sya'ban bahkan ada yang membacanya hingga bulan Ramadhan. Diantara kota-kota tersebut adalah Solo, Pasuruan, Gresik, Surabaya, Sukabumi, Jakarta, Jombang, Kediri, Jogjakarta dan masih banyak kota-kota yang lain,” terang cucu Habib Anis Al-Habsyi tersebut.

Seperti pada acara Khatmil Bukhari di Masjid Riyadh tahun ini, Senin (2/4) lalu. Sedari pagi ratusan jamaah mulai dari kalangan habaib, kiai, dan para santri pengajian berkumpul di zawiyah Masjid Riyadh. Mereka dengan sabar mendengarkan pembacaan beberapa hadits dari kitab Shahih Bukhori.

Usai pembacaan doa dan shalat zuhur, para jamaah disajikan makanan yang khas dihidangkan pada momen acara ini, yaitu bubur haritsah dan nasi kebuli. Makanan ini pula yang biasanya ditunggu-tunggu oleh para jamaah.

"Saya sudah lebih dari tiga kali ikut acara ini. Selain thalabul ilmu, bubur haritsah ini juga yang menjadi salah satu daya tarik saya untuk datang," kata Udin, salah seorang pengunjung asal Pekalongan.

Panitia khataman Bukhari, Muhammad Masykur kepada NU Online, Kamis (4/4) menjelaskan, bubur haritsah atau di daerah lain semisal di Gresik dinamakan 'bubur dempul', sendiri merupakan makanan yang terbuat dari campuran biji gandum dengan daging kambing, dan bumbu-bumbu dan minyak samin, yang diaduk terus dalam api kecil hingga keseluruhan dagingnya hancur lumat menjadi suatu adonan yang kental.

Acara Khatmil Bukhari tersebut menurutnya juga sebagai jalan untuk ngalap berkah. Karena pada acara tersebut terangnya, para habaib-ulama di Solo dan sekitarnya banyak yang hadir. Juga momentum untuk berziarah ke makam habaib seperti Habib Alwi bin Ali Al Habsyi, Habib Ahmad bin Alwi Al Habsyi dan Habib Anis bin Alwi Al Habsyi. 

Mereka semua merupakan putra dan para cucu Habib Ali Al Habsyi sang muallif kitab maulid Simtud Durar. (Ajie Najmuddin/Muiz)
Kamis 4 April 2019 22:0 WIB
Ini Harapan Bupati Klaten di Harlah NU
Ini Harapan Bupati Klaten di Harlah NU
Bupati Klaten, Hj Sri Mulyani (jilbab merah)
Klaten, NU Online
Meski azan Subuh belum berkumandang, namun Alun-Alun Kabupaten Klaten Jawa Tengah, Rabu (3/4) telah dipadati banyak orang berpakaian putih. Rupanya, mereka hendak mengikuti acara peringatan Harlah ke-96 NU yang diselenggarakan PCNU Klaten.

Kegiatan dimulai pukul 04.00 WIB dan diawali dengan khataman Al-Qur'an, dilanjutkan dzikir tahlil, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dengan membaca shalawat Simtudduror, pembacaan doa Istighotsah sebagai acara inti dan dipungkasi dengan mauidhah hasanah dan do'a yang disampaikan oleh KH Maimoen Zubair.

Dalam sambutannya Bupati Klaten Hj Sri Mulyani yang turut hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasinya atas khidmat NU kepada masyarakat dan bangsa. Ia berharap NU tetap kokoh dalam perjuangannya dan terus memberikan manfaat bagi semua.

"Kegiatan ini merupakan perwujudan doa, kegiatan yang luar biasa. Semoga ke depannya NU semakin maju dan selalu memberikan kontribusi untuk kesejahteraan umat beragama di kabupaten Klaten," ungkapnya.

Sementara itu, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair berpesan agar warga NU menjadi yang terdepan dalam upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

“Mari, selalu menjaga persatuan walau dalam perbedaan. NU Harus Cinta kepada bangsa. Harus jaga Ukhuwah wathaniyah (Kebangsaan) dan Ukhuwah Diniyah (Keagamaan),” kata Mbah Moen.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 40 ribu warga NU serta tamu dari berbagai kalangan ini juga dimeriahkan dengan pembagian aneka hadiah, di antaranya 3 paket umrah. Salah satu jamaah NU dari Bayat, Nardi, mengaku senang dapat hadir dalam acara tersebut. “Alhamdulillah, Jadi semakin cinta dengan NU,” kata dia. (Ajie/Arindya/Muiz)
Kamis 4 April 2019 20:30 WIB
'Ngalap' Berkah, Jangan Hilang dari Generasi Muda NU
'Ngalap' Berkah, Jangan Hilang dari Generasi Muda NU

Pamekasan, NU Online
Ngalap berkah dengan --salah satunya-- ziarah kubur merupakan tradisi NU yang perlu terus dijaga kelestariannya.  Sebab bukan tidak mungkin, ngalap berkah bakal tergerus, bahkan hilang dari budaya generasi muda NU di tengah pergaulan yang semakin  mendunia.

Demikian diungkapkan  Ketua PAC IPNU Galis, Kabupaten Pamekasan, Madura, Badrut Tamam kepada NU Online saat memimpin  ziarah ke makam para kiai dan pendiri NU di wilayah Galis, Rabu (3/4).

Menurut Badrut, kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan pelajaran sejarah bagi kader IPNU, khususnya yang berada di daerah Galis. Sehingga, bisa melanjutkan perjuangan para tokoh sebelumnya, dan pada saat yang sama tradisi NU tersebut tetap terjaga.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan kita terhadap perjuangan para tokoh NU Galis. Karena dengan ingat akan kesetiaan mereka, yaitu NU sampai mati, kita sebagai kader juga akan meneladani perjuangan beliau-beliau," tegas Badrut.

Sementara itu, Sekretaris IPNU Galis, Zaini menuturkan, ziarah ke makam  para tokoh  harus  selalu ditradisikan, khususnya di kalangan generasi muda. Dengan membudayakan tradisi tersebut, diharapkan generasi  muda NU tetap kokoh berpegang teguh pada amaliah NU, sehingga tidak tergerus oleh erosi budaya global. Lebih dari  itu, ziarah kubur juga untuk memotivasi semangat yang masih hidup agar terus berjuang seperti mereka.

“Kita punya semangat berjuang di NU karena jasa mereka. Jadi seyogyanya bagi kita untuk mengingat asal usul kita dan ziarah ini merupakan bentuk tradisi yang sudah biasa dijalankan oleh orang-orang NU,” tukasnya.

Dalam ngalap berkah tersebut, sebanyak  20 pengurus IPNU mengunjungi beberapa astah tokoh NU Kecamatan Galis, yaitu  KH. Fadhali Siraj, KH. Mannan Fadhali, KH. Husni Abdul Bari, KH. Ahmad Rasyad, KH. Syafiinnur, dan KH. Ma’syum Bahrawi. Di makam para kiai NU itu, mereka menggelar tahlilan dan doa bersama. (Hairul Anam/Aryudi AR)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG