IMG-LOGO
Nasional

Mbah Moen Ungkap Filosofi Tanggal Kemerdekaan Indonesia

Kamis 4 April 2019 19:30 WIB
Bagikan:
Mbah Moen Ungkap Filosofi Tanggal Kemerdekaan Indonesia
KH Maemoen Zubair, di Klaten, Jateng
Klaten, NU Online
Tanggal 17-8-45, selain diperingati sebagai tanggal kemerdekaan bangsa Indonesia, ternyata memiliki keistimewaan tersendiri. 

Hal tersebut disampaikan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair di hadapan puluhan ribu jamaah yang menghadiri peringatan Harlah ke-96 NU di Alun-alun Klaten Jawa Tengah, Rabu (3/4) pagi.

Menurut ulama yang akrab disapa Mbah Moen itu, angka tersebut juga memiliki hubungan erat dengan jam’iyyah Nahdlatul Ulama. “Maka jangan melupakan Garuda Pancasila! Antara Indonesia dengan NU itu memiliki kesamaan 17-8-45. NU Harus Cinta kepada bangsa. Harus jaga Ukhuwah wathaniyah (Kebangsaan) dan Ukhuwah Diniyah (Keagamaan),” terang Mbah Moen.

Lebih lanjut dipaparkan Mbah Moen, bahwa angka I7 berhubungan dengan proklamasi, kemudian  jumlah pada 2 sayap pada Garuda dan juga berhubungan dengan jumlah raka’at shalat. Angka 8 berhubungan dengan turunnya Al-Qur’an pada bulan Agustus, Nabi dikandung Ibunya pada Bulan Agustus, proklamasi pada bulan Agustus dan berhubungan dengan jumlah pintu Surga.

"Sedangkan angka 45, angka 4 berhubungan dengan pilar 4 yaitu : PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia Harga Mati, dan UUD 45). Di sinilah tidak ada paksaan dalam beragama: “laa ikraha fiddiin,” ungkapnya. 

Mbah Moen juga mengajak untuk selalu menjaga persatuan walau dalam perbedaan. Beliau berharap, mudah-mudahan kita Bangsa Indonesia menjadi satu Nusa satu Bangsa dan satu Bahasa.

Dalam kesempatan tersebut, Mbah Moen juga  menceritakan tentang keadaan Bangsa Arab sebelum, selama, dan setelah Nabi Muhammad SAW. Diterangkan dia, setelah Nabi SAW wafat Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mempersatukan Asia-Afrika dengan Konferensi Asia-Afrika, saat inipun Indonesia juga mempersatukan dunia.

Selain hadir di peringatan NU Klaten, dalam kunjungannya di daerah Soloraya,  Mbah Maimoen juga sempat menghadiri beberapa acara lainnya, di antaranya acara doa bersama di Pesantren Azzayadiy Laweyan Kota Surakarta. Dalam kesempatan tersebut, Mbah Moen bersilaturahim bersama sejumlah tokoh ulama dan pengurus NU setempat. (Ajie Najmuddin/Muiz)
Bagikan:
Kamis 4 April 2019 21:0 WIB
Presiden Jokowi: Urusan Politik Jangan Sampai Putuskan Persaudaraan
Presiden Jokowi: Urusan Politik Jangan Sampai Putuskan Persaudaraan
Presiden RI H Joko Widodo, di Sukoharjo
Sukoharjo, NU Online
Momentum pesta demokrasi yang ditandai dengan penyelenggaraan Pemilu, 17 April mendatang, terkadang dibumbui dengan panasnya persaingan yang dituangkan melalui adu gagasan dan bahkan kampanye hitam. Meski demikian, perbedaan pilihan politik ini jangan sampai menjadikan bangsa ini menjadi putusnya silaturahmi antar anak bangsa.

Demikian disampaikan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri Peringatan Isra mi'raj Nabi Muhammad SAW yang dipusatkan di GOR Pandawa, Solobaru, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (3/4) malam.

“Mari tetap jaga kehidupan bangsa Indonesia, kuncinya adalah menjaga ukuwah. Termasuk jangan hanya urusan politik, terus lupa untuk menjaga Ukhuwah. Gara-gara perbedaan pilihan Bupati, Gubernur hingga Presiden, dengan tetangga nggak saling bertegur sapa,” tegas Jokowi.

Ia menambahkan, adanya perbedaan ini merupakan anugerah yang jangan dijadikan beban, dan sebaliknya keberagaman bangsa Indonesia ini menjadi kekuatan negara. Jokowi juga berharap pesta demokrasi tidak memutus tali silaturahmi antarmasyarakat.

“Sebagai bangsa yang besar sudah pasti banyak perbedaan di dalamnya. Sebagai contoh, Indonesia terdiri berbagai suku dengan 1.100 lebih bahasa daerah. Namun, perbedaan itu, janganlah dijadikan beban,” tandasnya.

Untuk itu, Jokowi kembali mengingatkan agar bangsa Indonesia untuk tetap terus menjaga ukhuwah (persaudaraan). Terlebih, jika karena urusan poltik kemudian konflik itu dibawa masuk ranah agama, itu yang tidak baik. 
 
Dalam acara peringatan Isra mi'raj itu juga dihadiri Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. (Ajie Najmuddin/Muiz)
Kamis 4 April 2019 19:0 WIB
Hoaks Berbasis Isu Agama Bisa Ditangkal dengan Ilmu Manthiq
Hoaks Berbasis Isu Agama Bisa Ditangkal dengan Ilmu Manthiq
Jakarta, NU Online 
Staf Khusus Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Bidang Komunikasi Publik Deddy Hermawan mengatakan Kominfo sangat concern (memiliki perhatian) untuk mengurai persoalan-persoalan terkait maraknya hoaks di media sosial. 

Menurut dia, Kominfo bersama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) dan Lembaga Ta’lif wan Nasyr PBNU menemukan, hal itu bersumber dari abainya menggunakan kemampuan berpikir secara benar. 

“Kami melihat memperkuat kembali belajar logika berpikir yang benar sesuai tradisi, dalam hal ini manthiq, bisa menjadi salah satu solusi untuk meengurangi atau mengurai maraknya hoaks di wilayah digital atau di dunia maya, virtual,” katanya saat diwawancarai NU Online di Kantor PCNU Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (2/4). 

“Yang kami lihat selama ini, hoaks-hoaks itu selalu menggunakan dasar-dasar berpikir yang tidak sistematis,” tambahnya.  

Ia menambahkan, untuk mengingatkan dan membangkitkan kembali cara berpikir yang benar, Kominfo, Lakpesdam dan LTNNU melakukan uji coba program di Jawa Barat di lima lokasi kota, yaitu Bandung, Garut, Bogor, Majalengka, dan Sukabumi. 

“Dari situ kemudian kita akan evaluasi  bentuk penajaman programnya akan dibuat bagaimana. Kita memang belum punya bentuk, tetapi dengan mendasarkan kita mempelajari manthiq insyaallah akan ada benang merah dalam konteks memerangi dan mengurai problem, terutama tentang hoaks,” tambahnya.  

Lebih lanjut ia mengatakan, hoaks penting menjadi bahasan karena bisa membuat persoalan-persoalan kohesivitas sosial jadi pecah. Hal ini bisa merugikan kehidupan dalam bernegara dan berbangsa. (Abdullah Alawi)  

Kamis 4 April 2019 18:45 WIB
Pesan Cinta untuk Indonesia dari Buntet Pesantren
Pesan Cinta untuk Indonesia dari Buntet Pesantren
Halaqoh Cinta di Pesantren Buntet Cirebon.
Cirebon, NU Online
Dalam rangkaian Haul Almarhumin Pondok Buntet Pesantren Cirebon tahun ini, diadakan Halaqah Cinta bertajuk Pesan Cinta untuk Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan di GOR Mbah Muqoyyim, Buntet, Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat, Kamis (4/4).

Dalam dua terakhir, halaqah menjadi salah satu rangkaian haul yang paling diminati oleh masyarakat dan santri Buntet. Hal itu karena halaqah dikolaborasikan dengan seni dan budaya, sehingga menjadi sangat menarik.

"Biasanya kalau halaqah itu acaranya seminar. Tapi santri milenial kurang minat dengan hal-hal seperti itu. Maka dua tahun terakhir, kami mengolaborasikan halaqah dengan seni dan budaya," kata Ketua Acara Halaqah Cinta, M Abdullah Syukri, dalam sambutannya.

Haul tahun lalu, imbuhnya, Pondok Buntet Pesantren Cirebon mengundang budayawan Sujiwo Tejo bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Imam Nahrawi. Tahun ini, panitia mendatangkan Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan budayawan muda Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe ‘Letto’.

"Tapi jangan sampai dilupakan juga bahwa halaqah yang dipadukan dengan seni dan budaya ini merupakan majelis ilmu dalam menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah," pesannya.

Pada kesempatan tersebut, berlangsu beberapa penampilan. Di antaranya dari Paduan Suara MANU Putri, Pencak Silat NU PAC Pagar Nusa Astanajapura, dan Rampak Genjring Santri Pondok Buntet Pesantren Cirebon. (Aru Elgete/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG