IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Polres Jombang Terbitkan Surat Bahaya Aktivitas Karim

Sabtu 6 April 2019 21:0 WIB
Bagikan:
Polres Jombang Terbitkan Surat Bahaya Aktivitas Karim
foto: ilustrasi (islampers.com)
Jombang, NU Online
Baru-baru ini Polres Jombang, Jawa Timur mengeluarkan surat resmi tentang keberadaan dan aktivitas Komunitas Royatul Islam (Karim), dan beredar melalui media sosial (Medsos). Surat bernomor R/129/III/IPP. 1.3.9/2019 itu semacam informasi kepada publik terkait bahaya Komunitas Royatul Islam.

Surat itu memuat beberapa poin di antaranya informasi terkait aktivitas Karim yang dinilai membahayakan. Aktivitas kelompok yang bersangkutan juga diketahui sudah beredar luas di Medsos.

"Bersama ini disampaikan bahaya keberadaan dan aktifitas kelompok Komunitas Royatul Islam (Karim) yang telah beredar di medsos," tulisnya sebagaimana isi surat yang dirilis ke NU Online, Sabtu (6/4).

Pada surat tersebut juga menyebutkan aktivitas Karim secara rinci, khususnya Karim yang berada di Kota Santri ini. "Pada tanggal 12 Maret 2019 telah beredar di Medsos tentang aktivitas kelompok Komunitas Royatul Islam (Karim) pada kegiatan Kajian bulanan di Masjid Ar-Rayan Desa Pandanwangi Kecamatan Diwek, Jombang pada tanggal 23 Februari 2019," jelasnya.

Disinyalir, Karim merupakan komunitas yang diduga kuat berafiliasi dengan paham Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang beberapa waktu lalu sudah dibubarkan pemerintah. Konsentrasi gerakan Karim diketahui lebih menyasar para pelajar di sekolah-sekolah.

"Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah bubar dan saat ini muncul Komunitas Royatul Islam (Karim) yang telah menyasar anak-anak muda Indonesia dengan sasaran komunitas pemuda dan pelajar sekolah menengah umum," tulisnya.

Ditegaskan kembali terkait pembubaran HTI sesuai keputusan MA pada 14 Februari 2019 lalu. Meski begitu gerakan ideologis mereka diketahui akan terus bergerak hingga kini, sementara Karim disinyalir adalah gerakan yang tak jauh berbeda, baik secara gerakan maupun ideologi HTI. 

"Karim memiliki gerakan sama dengan HTI, dengan tujuan tetap tegaknya khilafah. Karim sebagai simbol HTI sebagai identitas bersama," beber Polres Jombang.

Disebutkan, Karim membawa legitimasi bendera tauhid sebagai simbol tegaknya khilafah Islamiyah ala HTI. Jika sebelumnya, Gema Perubahan (Pembebasan, red) bergerak di ranah kampus, maka Karim akan bergerak di ranah SMU dan komunitas anak muda Islam yang haus akan keislaman dan tertarik dengan iming-iming heroism Islam.

Dijelaskan pada surat, bahwa Karim membuka cabang di kota-kota besar dengan target anak muda, pelajar SMU serta komunitasnya. "Karim bukan hanya liqo' dan kajian tetapi sudah tadabur alam, aksi-aksi sosial dan mereka akan mengejar kesukaan anak-anak muda dengan bermain simbol anak hody, topi tauhid dan romantisme 1924 ketika khilafah hancur," tulisnya.

Dilanjutkan, surat yang ditandatangani langsung oleh Kapolres Jombang, AKBP Fadli Widiyanto itu memaparkan terkait tujuan Karim, yakni membangun ideologi khilafah Islamiyah, di mana menjadi muslim yang kaffah belum terjadi bila sistem masih buatan toghut dan harus Islam yang memimpin dalam khilafah Islamiyah.

Diterangkan, bahwa beberapa poin pada surat itu bertujuan untuk mengantisipasi gerakan Karim, dan mencegah generasi muda terpapar pengaruh paham radikal. 

Surat ditujukan kepada Bupati Jombang, Cabang Disdik Provinsi Jawa Timur (Jatim) di Jombang, Kakankemenag Jombang dan Kadisdik Kabupaten Jombang. Sementara tembusannya ditujukan kepada Kapolda Jatim, Irwasda Polda Jatim dan Dirintelkam Polda Jatim. (Syamsul Arifin/Muiz)
Bagikan:
Sabtu 6 April 2019 23:0 WIB
Jelang Pemilu 2019, Ini Imbauan PC Fatayat NU Tangsel kepada Kader
Jelang Pemilu 2019, Ini Imbauan PC Fatayat NU Tangsel kepada Kader
Ketua PC Fatayat NU Tangsel Nurul Mudrika
Tangsel, NU Online
Ketua Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama Tangerang Selatan Nurul Mudrika mengimbau seluruh kader Fatayat NU Tangsel untuk menggunakan hak pilihnya pada Pemilu serentak 17 April 2019 mendatang.

Imbauan itu disampaikannya di sela-sela Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus PC Fatayat NU Tangsel di Wisma I Universitas Terbuka Pondok Cabe Udik, Pamulang, Tangerang Selatan, Jumat (5/4) malam. 

“Tidak boleh golput,” ujarnya kepada NU Online di lokasi acara, Jumat (5/4) malam. 

Rika, sapaan akrabnya, mengungkapkan untuk menjadi warga negara yang baik maka harus mengggunakan hak pilihnya. Ini juga yang menjadi target 100 hari pertama dalam kepemimpinan PCFNU Fatayat Tangsel masa khidmat 2019-2014.

Meskipun begitu ia tidak menuntut para kader untuk memilih salah satu paslon tertentu. “Dari saya pribadi membebaskan sahabat-sahabat untuk memilih siapa saja,” paparnya.

Menurut Rika, landasan Fatayat adalah Pancasila dan menganut sistem demokrasi, maka sudah pasti para kader Fatayat tahu arah yang harus dituju. 

Usai pelantikan tersebut, Rika berharap kepada seluruh pengurus yang telah dilantik untuk betul-betul aktif. “Tidak peduli meski rata-rata para pengurus memasuki masa-masa produktif,” kata dia.

Selain itu, ia berharap kepada seluruh pengurus di setiap pimpinan anak cabang (PAC) di kecamatan untuk bisa menghidupkan kegiatan-kegiatan Fatayat. Misalnya, pengajian-pengajian di masyarakat. Sebab, peran tersebut tampaknya mulai diambil alih kelompok tertentu yang tidak sejalan dengan ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja).

“Sahabat yang sudah dilantik juga saya harapkan untuk bisa langsung mengkader ke bawah, ke tingkat ranting. Dengan demikian, sahabat anak cabang mampu merangkul semua elemen masyarakat,” pungkasnya. (Nuri Farikhatin/Musthofa Asrori)

Sabtu 6 April 2019 22:30 WIB
Gelar Rakerwil, LAZISNU Jatim Siapkan Empat Program Unggulan
Gelar Rakerwil, LAZISNU Jatim Siapkan Empat Program Unggulan
Ketua PW NU Care-LAZISNU Jatim, A Afif Amrullah saat rakorwil dan rakonwil.
Surabaya, NU Online
Nahdlatul Ulama di Jawa Timur selalu menjadi rujukan bagi kepengurusan di Tanah Air. Keberadaan NU Care-Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama atau LAZISNU juga kerap terlibat dalam kegiatan berskala nasional. 

Untuk kian memantapkan kiprah tersebut, Pengurus Wilayah NU Care-LAZISNU Jatim menggelar rapat kerja wilayah (rakerwil) serta rapat konsolidasi wilayah (rakonwil), Sabtu (6/4). Kegiatan yang berlangsung di ruang Salsabila, gedung NU setempat tersebut juga diikuti perwakilan se-Jatim. 

Menurut Ketua PW NU Care-LAZISNU Jatim, A Afif Amrullah, ada empat program proritas yang akan dikawal pada kepengurusannya .

"Empat program itu terfokus pada bidang pendidikan, sosial, entrepreneur, dan pelayanan kesehatan," kata Afif di sela acara kegiatan tersebut.

Rakerwil dan rakonwil telah menyepakati pemberian program beasiswa kepada santri dan siswa di tingkat MTs hingga MA dan sederajat. 

Sedangkan pada program sosial, LAZISNU Jatim melakukan memberdayakan yatim dengan memberi bantuan dan pelatihan keterampilan dalam mengembangkan usaha. 

"Kami akan mendorong dan meningkatkan kualitas Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau UMKM di kalangan NU,” ungkap dosen Universitas Sunan Giri (Unsuri) Surabaya ini. 

Tidak hanya itu, layanan keseharan warga juga menjadi perhatian khusus. “Nantinya kita akan bekerja sama dengan Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama dan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama," terang alumnus pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut. 

Selain itu, Afif meminta masyarakat bersama menyukseskam program. “Yakni dengan kembali pada LAZISNU dalam menyalurkan zakat, infak dan sedekah,” harap Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jatim itu. 

Dengan mempercayakan zakat, infak dan sedekah kepada LAZISNU, maka keuntungan juga akan kembali kepada jamaah dan jamiyah. "Masyarakat Jawa Timur yang sebagian besar nahdliyin harus kembali pada rumah besar NU untuk bersama membesarkan jamiyah dan jamaah," pungkasnya. (Rof Maulana/Ibnu Nawawi)

Sabtu 6 April 2019 22:0 WIB
PMII di PTN Harus Ekstra dalam Mengorganisir Mahasiswa NU
PMII di PTN Harus Ekstra dalam Mengorganisir Mahasiswa NU
PMII Slemaan, Yogyakarta
Sleman, NU Online
Muhammad Mustafied atau biasa disapa dengan Gus Mustafied menyampaikan beberapa hal pada forum kunjungan yang diselenggarakan oleh Pengurus Komisariat PMII Kentingan Surakarta pada Sabtu (6/4) 2019 di Pesantren Mahasiswa Aswaja Nusantara, Mlangi, Sleman.

"Pertama, terkait mengenai dinamika dan perkembangan PMII di kampus-kampus umum yang sejauh ini masih dalam kondisi stagnan baik dalam pola kaderisasi hingga kuantitas maupun kualitas," paparnya.

Alumnus Fakultas Filsafat UGM tersebut menyatakan bahwasa hal tersebut dapat ditempuh dengan tiga hal pokok, yakni pola rekrutmen, kaderisasi yang masif hingga distribusi anggota maupun kader. "PMII perlu cara yang strategis dalam melakukan pemetaan yang jelas terhadap kondisi masing-masing kampus baik meliputi stakeholder hingga corak dari mahasiswa yang ada," ungkapnya.

Kedua, lanjut salah satu pengurus bidang Kaderisasi Nasional PB PMII 2005-2007 tersebut juga memaparkan hasil riset yang pernah dilakukan pada dekade 2000-an terhadap 13 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), yang mana fakta menunjukkan bahwa 53% mahasiswa di setiap kampus dari sampel tersebut memiliki kultur tradisi nahdliyin.

"Hal tersebut relevan untuk dijadikan acuan hingga sejauh ini. Kebanyakan dari mereka punya modal kultur berupa telinga, hidung, dan mata secara epistomologis merupakan Nahdliyin. Maka, tugas PMII adalah bagaimana menemukan formula untuk memaksimalkan perjuangan PMII di setiap kampus," pungkas salah satu instruktur nasional kaderisasi PMII tersebut.

Dalam forum yang berjalan kurang lebih selama lima jam tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan PK PMII Kentingan yang menaungi kampus Universitas Sebelas Maret selain upgrading internal pengurus dan studi banding. (Joko Priyono/Muiz)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG