IMG-LOGO
Daerah

Halaqah di Kemayoran Bahas Peran NU Benteng Indonesia

Ahad 7 April 2019 0:12 WIB
Bagikan:
Halaqah di Kemayoran Bahas Peran NU Benteng Indonesia
Jakarta, NU Online
Sedikitnya 150 peserta memadati ruang utama Masjid Fatahillah Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (6/4). Forum yang diadakan oleh MWCNU Kecamatan Kemayoran bekerjasama dengan Kapolsek Kemayoran dan seluruh badan otonom NU di Kecamatan Kemayoran untuk mengkaji dan berdiskusi tentang NU dengan narasumber KH Zulfa Mushtofa, katib Syuriyyah PBNU.

Selama kajian berlangsung, peserta halaqah tampak khusyuk menyimak penjelasan kiai yang alumni pesantren di Kajen Pati, Jawa Tengah ini. Pada kesempatan itu, Kiai Zulfa  secara khusus membahas peran Nahdlatul Ulama dalam menghadapi orang-orang yang tidak suka dengan NU.

Menurut Ketua Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta itu, NU sudah berbuat banyak untuk Indonesia, secara khusus NU selalu menjadi garda terdepan dalam membela NKRI dan Pancasila. Sehingga, tak boleh satu pun organisasi apa pun mengubah ideologi negara Indonesia Pancasila.

"NU dengan ide Islam Nusantara adalah bukti nyata NU berbuat untuk Islam dan untuk Indonesia. Hal ini diwujudkan atas keprihatinan melihat orang di luar agama Islam berpandangan negatif kepada Islam, sehingga banyak yang mengganggap Islam itu agama penyebab konflik dan sarang teroris. Oleh karena itu, lahirlah ide Islam Nusantara untuk menyuguhkan agama Islam kepada dunia sebagai agama yang damai dan toleran," terang Kiai Zulfa.

"Hal ini menjadi berbeda dengan beberapa kelompok yang baru saja hadir di Indonesia dan  kerap teriak-teriak penegakan negara Islam, namun mereka belum berbuat apa-apa, dan konsepnya juga masih belum jelas," tambahnya.

Sementara itu, Ketua MWCNU Kecamatan Kemayoran, Ustadz Ahmad Muhajir menyampaikan tentang pentingnya mengadakan acara halaqah NU ini untuk mengenalkan NU kepada masyarakat umum lebih dekat lagi. Menurutnya, pengenalan NU lewat halaqah adalah cara jitu dan menjadi forum tabayun terhadap mereka yang selalu berfikiran negatif kepada NU akibat mengkonsumsi berita tentang NU melalui media sosial yang kurang benar.

"Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai pengurus NU untuk membekali anggotanya, seluruh badan otonom, dan warga NU di Kemayoran dengan pemahaman NU yang lebih jelas lagi," tegasnya.

Ketua Panitia Halaqah Aswaja Annahdliyah, Farhan Maksudi mengapresiasi materi yang disampaikan pemateri dan menyampaikan rasa terima kasih atas kerja sama MWCNU Kemayoran dengan Kapolsek Kemayoran.

"Materi yang disampaikan pembicara sangat mengena dan sangat jelas. Ini yang kami impikan. Panitia bersama badan otonom di naungan NU Kemayoran bekerjakeras membuat wadah halaqah ini untuk menjelasakan segala kabar hoaks yang menimpa NU sampai hari ini," tegasnya.

Ia menilai apa yang disampaikan Kiai Zulfa dapat menjadi bekal berharga bagi warga NU untuk membentengi diri dan organisasi dari mereka yang selalu berfikiran negatif tentang NU. (Fahmi Saifudin/Kendi Setiawan)

Bagikan:
Ahad 7 April 2019 23:30 WIB
Ratusan Pelajar di Bondowoso Membincang Hakikat Cinta
Ratusan Pelajar di Bondowoso Membincang Hakikat Cinta
Ketua PC Pergunu Bondowoso (kiri) bersama KH Mohammad Hasan.
Bondowoso, NU Online
Cinta selalu menarik diperbincangkan. Apalagi di hadapan para remaja yang memang belum begitu mengenal hakikat cinta dengan mendalam. Mereka perlu memperoleh penjelasan sebagai panduan dalam mengarungi kehidupan.

Hal itulah yang mengemuka dari bedah buku Tafakur Cinta yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Assyayyid Muhammad Alawai Al-Maliki, Koncer, Bondowoso, Jawa Timur, Ahad (7/4).

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Bondowoso, Slamet Riadi tampil sebagai pembicara pembanding pada kegiatan tersebut. Juga sang pengarang buku, KH Mohammad Hasan.

Slamet Riadi mengatakan, buku ini layak dibaca semua kalangan yang ingin tahu hakikat cinta. “Buku ini layak dibaca semua kalangan khususnya muda-mudi agar tahu dan paham hakikat cinta yang islami,” katanya. 

Menurutnya, buku yang dikemas dengan bahasa populer ini yang berisi tentang hakikat cinta. Apa dan bagaimana cinta itu sebenarnya, siapa, kapan dan di mana cinta itu tumbuh.  “Cinta ditulis secara sederhana oleh penulis dengan bahasa yang mudah dimengerti untuk semua kalangan utamanya kaum remaja yang ingin tahu tentang cinta,” jelasnya.

Dalam pandangan konsultan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur ini, kehadiran buku bisa juga sebagai bahan literatur mahasiswa dan dosen baik strata satu maupun pascasarjana,"katanya.

Kelebihan buku ini banyak mengutip tokoh besar seperti Ibn Hazm dengan judul Thauqul Hamaamah fi al-Ulfati wa al-Illaaf dan karya Ibn al-Qayyim melalui karyanya Raudlah al-Muhibbin wa Nuzhat al-Muttaqin.

"Cinta itu misteri, tapi itu anugerah ilahi yang patut disyukuri," ulasnya.

Dirinya berharap agar pembaca buku dapat memahami makna cinta khususnya pemuda yang di dadanya selalu bergejolak. “Agar tak tergelincir pada cinta yang salah misalnya cinta buta, sehingga dapat bercinta sesuai tuntunan Islam,” ungkapnya. 

Di hadapan ratusan peserta bedah buku, Slamet Riadi mengemukakan bahwa cinta seperti lautan tanpa tepi. "Mengutip puisi karya Khalil Gibran, bahwa cinta itu bagaikan lautan tak bertepi," tandas Slamet.

Kegiatan ini diikuti pelajar utusan dari sejumlah madrasah aliyah dan SMA baik swasta maupun negeri di Bondowoso.

Tampil sebagai pembicara sekaligus pengarang Tafakur Cinta yakni KH Mohammad Hasan yang juga Pengasuh Pondok Pesantresn Assyayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Koncer. Abu Hanif bertindak sebagai moderator. (Ade Nurwahyudi/Ibnu Nawawi)

Ahad 7 April 2019 23:0 WIB
Bazar dan Pameran Meriahkan Harlah Fatayat NU di Kabupaten Tegal
Bazar dan Pameran Meriahkan Harlah Fatayat NU di Kabupaten Tegal
Bazar Fatayat NU Kabupaten Tegal
Tegal, NU Online
Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Tegal Jawa Tengah menggelar Resepsi Hari Lahir (Harlah) ke-69 Fatayat NU, Ahad (7/4/) di Kawasan Monumen GBN Slawi.

Kegiatan yang mengusung tema "Menghitung Perempuan Dalam Politik Menuju Kabupaten Tegal Yang Berkeadilan" dimeriahkan stand Bazar dari Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU se-Kabupaten Tegal.

Ketua Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Tegal Ida Hidayati mengatakan, di usianya yang sudah sepuh 69 tahun, resepsi Harlah Fatayat NU dikemas dalam bentuk praktis yakni pengajian dan Istighotsah.

"Kegiatan diawali dengan longmarch anggota Fatayat dari Gedung PCNU Kabupaten Tegal menuju lokasi Harlah di Monumen GBN Slawi," ujarnya.

Selain itu, peringatan Harlah Fatayat NU juga dimeriahkan Stand Pameran dari Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Kecamatan se Kabupaten Tegal. "Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak sehingga terselenggaranya Harlah Fatayat NU Kabupaten Tegal," ungkapnya.

Ketua Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Kecamatan Dukuhwaru Dewi Aminah didampingi anggotanya Tri Mulyati kepada NU Online menuturkan, stand pameran Dukuhwaru menyajikan aneka ragam makanan khas tegalan seperti buntil, Nasi bakar, Jengkol, Lepet, Telur Asin, Pepes, Asinan, Jajanan basah, Kripik bodin dan lainnya.

Selain aneka makanan, stand juga menyediakan hasil karya anggota Fatayat NU di antaranya Jilbab, bros, Manset, tasbih, tas, dompet, dan sebagainya. "Alhamdulillah PAC Fatayat NU Dukuhwaru dinobatkan menjadi stand terbaik 2," ungkapnya.

Sementara itu, hasil penilaian Stand Pameran terbaik secara lengkap yakni stand terbaik 1 diraih PAC Kecamatan Talang, terbaik 2 PAC Fatayat NU Dukuhwaru, dan terbaik 3 diraih PAC Fatayat NU Pangkah. (Nurkhasan/Muiz)
Ahad 7 April 2019 20:30 WIB
Penjelasan tentang Kriteria Waktu Utama dalam Shalat
Penjelasan tentang Kriteria Waktu Utama dalam Shalat
Ilustrasi (Ist.)
Pringsewu, NU Online
Dalam Kitab at-Taqrirot as-Sadidah fil Masa’il al-Mufidah yang ditulis oleh Syeikh Hasan bin Ahmad bin Muhammad al-Kaff disebutkan bahwa waktu pelaksanaan shalat wajib dibagi menjadi enam bagian. Enam bagian itu meliputi waktu utama, waktu pilihan, waktu boleh, waktu haram, waktu udzur, dan waktu darurat.

Terkait dengan waktu utama, Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Pringsewu KH Munawir menjelaskan, jika seseorang melaksanakan shalat di dalam waktu utama maka ia akan mendapatkan keutamaan waktu shalat.

"Keutamaan ini akan didapat jika seseorang melakukan perbuatan-perbuatan pengantar shalat setelah masuk waktu, seperti menjawab azan, bersuci, memakai pakaian, menunggu jama'ah dan lain-lain," jelasnya saat memaparkan hal tersebut pada Ngaji Ahad (Jihad) Pagi di aula Kantor NU Pringsewu, Ahad, (7/4).

Terkait pelaksanaan shalat jama'ah diberbagai tempat yang tidak dilaksanakan di awal waktu, ia menegaskan hal itu tidak menjadi halangan jama'ah mendapatkan keutamaan atau fadhilah waktu shalat.

"Karena memang sudah menjadi kebiasaan dan kesepakatan masyarakat, selama para jama'ah masih bisa melakukan perbuatan-perbuatan pengantar shalat maka tetap mendapatkan keutamaan. Lebih utama shalat berjama'ah dengan jumlah jama'ah banyak tidak di awal waktu dari pada shalat awal waktu tapi shalat sendiri," terang Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung ini.

Tidak mengerjakan shalat di awal waktu ini menurutnya bukan berarti melalaikan shalat. Hal ini ditujukan untuk mencari waktu tepat agar jumlah jama'ah lebih banyak. Hal ini juga yang menjadi penyebab perbedaan waktu shalat berjama'ah di berbagai tempat. Ada semisal shalat Dzuhur di berbagai tempat yang dilaksanakan jam 1 siang atau shalat Ashar jam 5 sore.

"Kalau di desa masih banyak yang seperti ini. Dan ini masih mendapatkan keutamaan waktu shalat karena masyarakat masih bisa disibukkan dengan persiapan shalat berjama'ah walaupun tidak di awal waktu," ungkapnya.

Jadi jelasnya, waktu utama untuk semua shalat wajib adalah sama yaitu sejak masuk waktu shalat tersebut hingga waktu yang diperlukan untuk melakukan perbuatan pengantar shalat.

Dengan penjelasan ini, ia mengajak umat Islam khususnya di Indonesia untuk memiliki pemahaman yang luas dalam menyikapi kondisi sosial dan budaya yang ada di tengah-tengah masyarakat.

"Jangan kaku dan jangan berfikir sempit dalam memahami hukum-hukum fiqh. Jangan baru datang ke sebuah daerah, karena sudah masuk waktu shalat langsung adzan di masjid pakai speaker, iqomat dan langsung shalat," anjurnya.

Apalagi ia menambahkan bahwa shalat adalah kegiatan ibadah yang butuh ketenangan. Tidak akan maksimal ibadah shalat berjama'ah seseorang yang dilaksanakan terburu-buru.

"Shalat harus dilaksanakan dalam kondisi fisik dan jiwa yang tenang. Tidak akan khusyuk shalat dengan nafas ngos-ngosan karena berlari-lari mengejar waktu," pungkasnya. (Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG