IMG-LOGO
Humor

Tidak Fasih ‘Ya Lal Wathon’

Ahad 7 April 2019 17:15 WIB
Bagikan:
Tidak Fasih ‘Ya Lal Wathon’
Ini kisah  di salah satu kabupaten di Kalimantan Barat, di sebuah acara PCNU yang dihadiri para pejabat daerah dan tamu lainnya.

Seperti acara-acara NU umumnya, lagu Ya Lal Wathon selalu dinyanyikan bersama. Tapi tidak semua hadirin hafal atau fasih mengucapkan teks Arab syair ciptaan KH Abdul Wahab Chasbullah itu.

Banyak yang berusaha menfasih-fasihkan hingga wathon dilafalkan menjadi wadon. Jadilah lagu Ya Lal Wathon berbunyi seperti ini: 

Ya lal wadon ya lal wadon ya lal wadon, hubbul wadon minal iman
(Wahai para pecinta perempuan [wadon, jawa], mencintai perempuan itu sebagian dari iman

Saya terkekeh mendengarnya. Seandainya Mbah Wahab tahu, saya yakin beliau tak akan marah. Mungkin malah turut tertawa. (Ahmad Inung)

Tags:
Bagikan:
Selasa 5 Maret 2019 9:45 WIB
Saat Gus Dur Dituduh Kafir
Saat Gus Dur Dituduh Kafir
Bagi kelompok Islam konservartif, sematan kafir di ruang publik dalam kehidupan bermasyarakat kenyataannya tidak hanya ditujukan kepada non-Muslim, tetapi juga dituduhkan kepada sesama Muslim yang berbeda pandangan.

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah salah satu tokoh yang kerap dituduh kafir oleh kelompok tersebut. Tidak pernah berusaha tabayyun atau melakukan klarifikasi, tuduhan kafir seolah diobral.

Atas tuduhan tersebut, satu waktu ada seorang santri yang mengatakan kepada Gus Dur bahwa dirinya difitnah kafir.

"Gus, ada yang bilang njenengan kafir," ujar sang santri.

"Ya ndak apa-apa dibilang kafir, tinggal ngucapin dua kalimat syahadat, udah Islam lagi," jawab Gus Dur enteng. (Ahmad)
Jumat 22 Februari 2019 16:30 WIB
Gus Dur di Tengah Diskusi Islam dan Negara
Gus Dur di Tengah Diskusi Islam dan Negara
Pada sekitar tahun 1970-an dan 1980-an, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) banyak menuangkan pemikiran dan gagasan lewat tulisan di media massa. Progresivitas pemikirannya banyak menginspirasi sejumlah kalangan.

Namun, perilaku santai tetap ditunjukkan oleh Gus Dur dalam momen-momen krusial menurut orang lain. Saat itu Gus Dur diundang menjadi salah satu narasumber untuk membincang Islam dan Negara, Islam dan Kebangsaan, serta Islam dan Demokrasi.

Gus Dur tampil dengan pemikiran dan gagasannya yang brilian, sebagaimana biasanya dalam setiap foum yang ia ikuti. Gus Dur mengurai satu per satu konsep yang pernah ada dan pernah dibicarakan oleh pemikir dan cendekiawan Muslim dunia.

Tak hanya menguraikan, Gus Dur juga menyampaikan kelebihan dan dan mengkritik kekurangan pemikiran mereka masing-masing. Tetapi, dari uraian tersebut, Gus Dur mengakhiri pemaparannya dengan kesimpulan yang cukup membingungkan para peserta seminar.

Saat itu, Matori Abdul Jalil yang mendampingi Gus Dur merasa resah dan gelisah. Dia khawatir Gus Dur diserang habis-habisan oleh para pakar yang hadir dan tidak bisa menjawabnya.

Karuan saja ada yang bertanya tentang, bagaimana konsep negara dalam Islam. Kekhawatiran Matori betul-betul mencuat. Pertanyaan jelasnya: Apakah ada konsep atau sistem dan bentuk negara menurut Islam?

Dari pertanyaan tersebut Gus Dur menjawab dengan santai: “Itu yang belum saya rumuskan.” Hadirin terbahak. Tidak sedikit yang menilai bahwa jawaban Gus Dur luar biasa cerdas dan brilian, meski dengan cara jenaka.

Gus Dur ingin menegaskan bahwa Islam tidak mengatur formalisasi syariat ke dalam sistem negara. Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk mendirikan negara Islam.

Agama Islam cukup dijalankan dalam kehidupan sehari-hari di segala bidang, tak terkecuali bidang politik pemerintahan. Islam hendaknya menjadi jiwa dalam praktik berbangsa dan bernegara, bukan menjadi dasar negara. (Fathoni)
Jumat 22 Februari 2019 12:0 WIB
Kartu ATM dan KTP
Kartu ATM dan KTP
Ilustrasi humor (via istimewa)
Seorang nasabah di sebuah bank desa melakukan komplain di hadapan petugas bank terkait kartu ATM-nya. Kartu ATM yang dipegangnya tidak berfungsi padahal baru jadi dua hari yang lalu.

Akibatnya, ia tak dapat memenuhi kebutuhan mendesaknya karena problem ATM yang tidak berfungsi.

“Bagaimana bank kalian ini, kartu ATM baru dua hari kok sudah macet?” ujar nasabah itu protes.

“Macet gimana, pak?” tanya sang petugas.

“Macet ya macet, tidak bisa buat ngambil uang,” ucapnya makin ngegas.

“Oh begitu...coba saya lihat dulu pak kartu ATM bapak,” pinta petugas.

Sesaat setelah kartu ATM diperiksa petugas bank,

“Waduh, Pak pantes saja macet, wong kartu ATM bapak dilaminating gini. Gak boleh dilaminating pak,” terang petugas.

“Sampeyan ini jangan sok tahu, apalagi ngajari saya! Wong KTP saya yang tidak berisi uang saja harus dilaminating supaya aman, apalagi kartu ATM ini,” ujar nasabah marah-marah. Petugas hanya geleng-geleng kepala sambil ngeplak kening. (Ahmad)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG