IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Polda Jatim Deteksi Hoaks Sebagian dari Luar Negeri

Senin 8 April 2019 9:30 WIB
Bagikan:
Polda Jatim Deteksi Hoaks Sebagian dari Luar Negeri
Halaqah kebangsaan di Pesantren Tebuireng Jombang
Jombang, NU Online
Kepala Polisi (Kapolda) Jawa Timur (Jatim) Irjen Pol Luki Hermawan melalui Kepala Bidang Hukumnya, Kombes Pol Arnapi, dalam Halaqah Kebangsaan peran Ulama, Habaib, Kiai, dan Cendekiawan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang mengatakan, pihaknya mendeteksi sebagian hoaks yang tersebar di Indonesia ternyata berasal dari luar negeri.

"Di Polda Jatim ada command center untuk pantau fitnah yang sengaja menyebarkan berita bohong. Tugas kami melakukan konter, bahkan konten itu muncul tidak hanya dari Indonesia," katanya, Ahad (7/4).

Arnapi menjelaskan bahwa Polda Jatim dan seluruh jajarannya sejauh ini terus berupaya memantau dan melakukan konter terhadap konten-konten berita yang cenderung mengarah pada berita bohong dan fitnah.

Menurutnya, fitnah atau kabar hoaks ini beredar tidak pandang bulu dan bisa menimpa siapapun, baik masyarakat kalangan atas maupun bawah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan di kalangan institusi TNI dan Polri.

"Ketika fitnah ini terus digulirkan dan tidak dikroscek dengan fakta yang ada seolah berita itu bisa jadi kebenaran, ini yang saya katakan mengkhawatirkan. Entah menyerang pada pihak yang sedang melakukan kontestasi, dua-duanya ini yang kita khawatirkan dalam menjelang Pilpres," jelasnya.

Dalam kegiatan ini, Polisi berharap adanya dukungan dari seluruh ulama dan kiai untuk turut andil dalam mesukseskan jalanya pemilu pada 17 April mendatang. Sebab, aman dan lancarnya jalannya pemilu ini tidak lepas dari peran serta ulama, umaro' serta masyarakat.

"Kita perlu kerjasama. Satu kesatuan tiga elemen (ulama, umaro' masyarakat) ini, jika bersatu kami yakin perjalanan Pilpres 2019 bisa dijalanankan secara aman dan damai," ujarnya.

Bantuan masyarakat diperlukan karena perilaku fitnah dan berita hoaks yang cenderung berniat jahat sudah menjadi hal yang paling mengkhawatirkan dan mengancam keutuhan NKRI. Untuk itu, polisi meminta kepada semua pihak agar tak menelan mentah-mentah semua informasi yang masuk. 

Polisi juga meminta masyarakat bisa menyikapi dengan akal sehat setiap berita yang muncul ke permukaan. Sehingga tidak memancing emosi masyarakat yang bisa memecah belah persatuan.

"Pengalaman pilihan (pemilu) sebelumnya jarang ada hoaks, entah kini tiba-tiba prilaku fitnah dan hoaks yang berniat jahat jadi sesuatu yang khawatirkan pada tahun ini," tambahnya.

Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid berharap halaqah ini bisa menjadi wadah untuk mempersatukan para kiai yang notabene memiliki perbedaan pilihan pada Pilpres ini.

"Kami berharap Pemilu ini aman dan damai, siapun yang menang harus kita dukung, karena itu sudah ketentuan dari Allah. Persatuan Indonesia tergantung pada persatuan tokoh Islam," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz)

Bagikan:
Senin 8 April 2019 23:13 WIB
Ciri Khas Pesantren Sunda, Fokus Satu Cabang Ilmu
Ciri Khas Pesantren Sunda, Fokus Satu Cabang Ilmu
foto: nujabar.or.id
Sukabumi, NU Online
Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU Idris Masudi mengatakan, pesaantren-pesantren di wilayah Jawa Barat memiliki ciri khas, yaitu memiliki kajian yang fokus pada satu fan (cabang) ilmu dari 12 cabang yang dipelajari di pesantren-pesantren.

Pria asal Cirebon ini mencontohkan pesantren di Sukabumi, khususnya Cibeureum memiliki ciri khas dengan kajian ilmu manthiqnya. Di daerah Sadang Kabupateun Garut, yaitu di Pondok Pesantren Riyadul Alfiyah, terkenal dengan ilmu alatnya (ilmu nahwu dan sharaf). Di Cikole, Tasikmalaya, terkenal dengan kajian fiqihnya. Di Karawang terkenal dengan kajiann tauhidnya. Di Siqoyaturrohmah, Sukabumi terkenal ilmu balaghahnya. 

Namun demikian, menurut Idris, pesantren-pesantren tersebut bukan berarti tidak mempelajari ilmu-ilmu lain dan tidak berarti tidak mengerti ilmu lain. Fokus di pesantren alat, misalnya, kiainya bukan tidak mengerti ilmu fiqih, tauhid, dan lain-lain, tapi mereka lebih fokus cabang ilmu yang digelutinya.     

“Sunda punya ciri khas seperti itu. Ini sebetulnya warisan dari tradisi pesantren pada zaman dahulu. Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari misalnya terkenal sebagai ahli hadits, tapi bukan berarti tidak mengerti ilmu fiqih,” katanya pada Ngaji Teknologi di Pondook Pesantren Al-Fathonah Pasir Malang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (8/4). 

Pada zaman dahulu pula, lanjutnya, sering terjadi kiai “mengusir” seorang santri dari pesantrennya. Bukan karena santri itu melakukan kekeliruan berat, melainkan disuruh berguru kepada kiai lain yang fokus terhadap sebuah cabang ilmu tertentu. 

“Itu yang kemudian berkembang terkait otoritas keilmuaan dalam sebuah cabang ilmu,” katanya lagi. 

Pada perkembangan selanjutnya, kata dia, tradisi takhasus pesantren tersebut berangsur-angsur hilang. Belum bisa disebutkan penyebabnya karena perlu penelitian mendalam. 

Namun, di Jawa Barat, sambungnya, takhasus pesantren masih beralangsung. Dan itu perlu dipertahankan. (Abdullah Alawi)

Senin 8 April 2019 22:50 WIB
Pernyataan Gus Mus Usai Disowani Pengedit Video Hoaks
Pernyataan Gus Mus Usai Disowani Pengedit Video Hoaks
Foto: @s.kakung
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) memberikan pernyataan setelah disowani Zainal, pengedit video hoaks yang menggabungkan video dirinya dengan Cawapres KH Ma’ruf Amin.

Didampingi keluarganya, Zainal secara langsung meminta maaf kepada Gus Mus atas perilakunya yang keliru. Gus Mus mengungkapkan bahwa pemuda asal Batam tersebut terlihat betul-betul menyesal.


“Namanya Zainal dari Batam. Masih sangat muda. Jauh-jauh dia datang dari Batam untuk meminta maaf, karena mengedit video (menggabungkan videoku dengan video lain untuk mendiskreditkan salah seorang calon presiden). Kelihatannya dia betul-betul menyesal,” jelas Gus Mus, Senin (8/4) lewat instagramnya, @s.kakung.

Gus Mus berharap, mudah-mudahan penyesalan Zainal itu benar-benar membuka matanya dan jadi pelajaran baginya --dan bagi lainnya yang mengalami hal yang sama-- bahwa: berlebih-lebihan dalam menyukai dan membenci (termasuk kaitannya dengan pilpres ini), bisa menghilangkan akal sehat.


Minimal, kata Gus Mus, bisa membuat lupa bahwa, pertama, pemilu dan pilpres ini adalah agenda rutin 5 tahunan (melihat umurnya, secara lahir, Zainal ini masih akan mengalami berkali-kali pemilu dan pilpres).

Kedua, kita semua saudara sebangsa Indonesia dan semua capres-cawapres adalah tokoh-tokoh Indonesia yang menginginkan kemajuan Indonesia dan kebaikan bangsa Indonesia. 

Ketiga, bila masing-masing pendukung hanya memuji dan menonjolkan keunggulan calonnya, tanpa menjelekkan calon 'lawan', maka semua calon akan tampak baik semua. Sebaliknya bila kedua pihak saling menjelekkan 'lawan', maka yang tampak hanya kejelekan keduanya belaka.

“Semoga Allah merahmati Indonesia dan bangsa Indonesia,” harap Gus Mus. (Fathoni)
Senin 8 April 2019 21:35 WIB
Cara Mudah Mengetahui Orang Baik ala KH Abdullah Kafabihi Mahrus
Cara Mudah Mengetahui Orang Baik ala KH Abdullah Kafabihi Mahrus
KH Abdullah Kafabihi Mahrus isi ceramah di KIC Brebes.
Brebes, NU Online
Pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus menjelaskan cara mudah untuk mengetahui seseorang baik atau tidak.

"Untuk mengetahui bahwa orang itu baik atau tidak, sebenarnya simpel. Dia mau ngaji atau tidak. Itu saja," kata Kiai Kafa, saat Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Sawa di Kanzul Ilmi Center (KIC), di Jalan Raya Talok, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, Ahad (7/4).

Lebih lanjut Kiai Kafa menjelaskan bahwa Rasululullah bersabda, barangsiapa diridhai oleh Allah di dunia dan di akherat maka orang tersebut akan diberi taufik dan hidayah untuk mau belajar ilmu agama. "Sehingga ia akan faham agama dan ilmu agama tersebut akan diamalkannya," kata Kiai Kafa.

Kiai Kafa juga menjelaskan tentang fadhilah orang yang duduk di majelis ilmu. Di antaranya adalah dosanya diampuni oleh Allah Swt dan setiap jangkah kakinya menuju ke majelis ilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah Swt.

Adapun jika ada orang yang meninggal dunia saat ia akan menuju ke majelis ilmu maka ia akan tercatat sebagai seseorang yang meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. "Kematian seperti inilah yang sangat dinanti oleh setiap Muslim, karena berarti derajatnya satu tingkat di bawah Nabi," imbuhnya.

Disampaikan oleh Kiai Kafa sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas bahwa amal itu yang penting dan dinilai adalah akhirnya. "Jadi walaupun semasa hidupnya ia non-Muslim, saat akhir hayatnya ia sempat mengucapkan dua kalimat syahadat maka ia termasuk muslim," lanjut Kiai Kafa.

Hal inilah yang menjadikan segenap pengurus dan para tamu undangan merasa terlecut semangatnya untuk senantiasa bisa hadir di majelis ilmu. 

Oleh karena itu, sangat penting orang tua memondokkan anak, sebab anak yang mondok akan selalu dimudahkan oleh Allah dalam segala hal. "Santri akan mudah dalam mencari rezeki, santri akan mudah mencari jodoh dan akan diberi kemudahan-kemudahan yang lainnya," ujarnya.

Bukan hanya anak yang mendapatkan kemudahan, orang tua yang memondokkan anaknya, juga akan diberi kemudahan dalam mencari rezeki dan senantiasa diberi kesehatan.

Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw diwarnai pelantikan pengurus Majelis Taklim Kanzul Ilmi Center (KIC). Pelantikan pengurus ini menandai mulai bekerjanya pengurus baru masa hhidmat 2019-2024.

Dalam sambutannya, Direktur KIC, KH Ahmad Najib Affandi menjelaskan bahwa semangat terbesar pendirian Majelis KIC adalah karena ingin mengamalkan ilmu yang pernah didapatnya antara lain di Pesantren Lirboyo Kediri.

"Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab dan takdhim santri kepada gurunya," ujar Kiai Najib Affandi. (Lili Hidayati/Kendi Setiawan)

        

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG