IMG-LOGO
Fragmen

Keramat Bendera NU

Senin 8 April 2019 10:45 WIB
Bagikan:
Keramat Bendera NU
Bendera Nahdlatul Ulama berwarna hijau. Di dalamnya terdapat logo NU dengan khot berupa huruf Arab berwarna putih (sesuai AD/ART NU). Awalnya, logo tersebut dirancang, didesain, dan diciptakan oleh KH Ridlwan Abdullah (1884-1962) dari Bubutan Surabaya menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-2 NU di Surabaya pada 1927. Tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awal 1346 H, bertepatan dengan tanggal 9 Oktober 1927.

Bendera yang terdepat logo NU tersebut mempunyai keramat atau keistimewaan tersendiri karena diciptakan melalui proses lahir dan batin. Sebab itu, tidak boleh dipakai sembarangan apalagi digunakan tidak sesuai aturan atau dimanfaatkan untuk kampanye politik praktis.

Kala itu, KH Wahab Chasbullah yang menjadi Ketua Panitia Muktamar memberikan mandat dan amanah kepada KH Ridlwan Abdullah untuk menciptakan logo NU. Kiai Wahab Chasbullah menunjuk Kiai Ridlwan bukan tanpa alasan sebab mengingat Kiai Ridlwan dikenal pandai menggambar, melukis, dan seni kaligrafi. Salah satu karya Kiai Ridlwan ialah bangunan Masjid Kemayoran di Surabaya. Masjid tersebut memiliki gaya arsitektur yang khas.

Terhitung sejak penugasan Kiai Wahab Chasbullah hingga satu setengah bulan Kiai Ridlwan mencoba membuat sketsa lambang NU bahkan sampai berkali-kali tapi belum berhasil. Padahal Muktamar sudah diambang pintu sehingga sempat mendapat ‘teguran’ Kiai Wahab Chasbullah.

Pada suatu malam dengan harapan muncul inspirasi atau ilham pada saat-saat orang lelap tidur, Kiai Ridlwan mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shalat istikharah. Setelah itu beliau tidur sejenak. Kiai Ridlwan Abdullah bermimpi melihat sebuah gambar di langit yang biru dan jernih. Gambar tersebut terlihat seperti bola dunia dikelilingi bintang dan tali penyambung dan pengait.

Berdasarkan mimpi tersebut, KH Ridlwan Abdullah tersentak bangun dari tidurnya dan spontan langsung mengambil kertas dan pena untuk membuat sketsa gambar sesuai dengan apa yang tertayang dalam mimpinya tersebut. Saat itu jam dindingnya menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Karena kecakapannya dalam melukis, pada keesokan harinya gambar tersebut bisa diselesaikan lengkap dengan tulisan NU memakai huruf arab dan tahunnya.

Untuk mengetahui arti logo NU tersebut, dalam Muktamar NU ke-2 itu diadakan majelis khusus, pimpinan sidang adalah Kiai Raden Adnan dari Solo. Dalam majelis ini, pimpinan sidang meminta Kiai Ridlwan Abdullah menjelaskan arti logo NU. Semua elemen yang terdapat dalam logo NU dijelaskan dengan gamblang oleh Kiai Ridlwan. Beliau menguraikan:

“Lambang tali adalah lambang agama (Berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan bercerai berai). Tali yang melingkari bumi melambangkan Ukhuwah Islamiyah kaum muslimin seluruh dunia. Untaian tali yang berjumlah 99 melambangkan Asmaul Husna. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Besar Muhammad SAW. Empat bintang kecil samping kiri dan kanan melambangkan Khulafaur Rasyidin, dan empat bintang di bagian bawah melambangkan madzhibul arba’ah (empat madzhab). Sedangkan semua bintang yang berjumlah sembilan melambangkan Wali Songo.” (Lihat Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Mengutip Hasyim Latief dalam NU Penegak Panji Ahlussunnah wal Jamaah (1979), Choirul Anam menjelaskan bahwa tulisan ‘Nahdlatul Ulama’ dengan huruf Arab merupakan rancangan dari Kiai Ridlwan sendiri, tidak termasuk dalam mimpi.

Usai mendengarkan penjelasan Kiai Ridlwan Abdullah, seluruh peserta majelis khusus sepakat menerima logo tersebut. Kemudian Muktamar ke-2 NU tahun 1927 memutuskannya sebagai logo Nahdlatul Ulama.

Hasil keputusan Muktamar ke-2 terkait logo NU membuat Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari penasaran kepada Kiai Ridlawan. Setelah perhelatan Muktamar ditutup, Kiai Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Ridlwan. Karena KH Hasyim Asy’ari berkeyakinan ada proses batin yang dilakukan oleh Kiai Ridlwan.

Kiai Ridlwan Abdullah mengungkapkan bahwa sebelum menggambar logo NU, terlebih dahulu dirinya melakukan shalat istikharah, meminta petunjuk kepada Allah SWT. Logo NU tergambar sesuai apa yang terlihat dalam mimpi Kiai Ridlwan dalam tidurnya sesaat setelah melaksanakan shalat istikharah.

Setelah mendengar penjelasan Kiai Ridlwan Abdullah, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari merasa puas. Kemudian beliau mengangkat kedua tangan sambil berdoa. Setelah memanjatkan doa beliau berkata, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan harapan yang dimaksud dalam lambang Nahdhatul Ulama.” (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Jumat 5 April 2019 9:15 WIB
KH Wahab Chasbullah soal Perumpaan Kehidupan Ikan di Laut
KH Wahab Chasbullah soal Perumpaan Kehidupan Ikan di Laut
KH Wahab Chasbullah (Dok. Perpustakaan PBNU)
Ijthad keagamaan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan senantiasa diperlihatkan Nahdlatul Ulama secara bijak dan lapang dada. Bukan bermaksud mengekor pada sistem yang diterapkan oleh pemerintah, tetapi untuk kepentingan yang lebih luas. Karena dengan masuk sistem, justru kesempatan memperbaiki akan lebih mudah dan diterima ketimbang teriak-teriak di luar sistem dan dianggap memberontak.

Sejumlah pro dan kontra menyelimuti tubuh kiai dan pengurus NU ketika dihadapkan pada kebijakan pemerintah seperti ajakan Muhammad Hatta kepada NU untuk mengisi kabinet. Sedangkan para kiai tidak mau karena Kabinet Hatta mendukung Persetujuan Renville sedangkan para kiai tidak. Begitu juga ketika Soekarno menggagas Nasakom. NU juga ikut di dalamnya.

Ketidaksetujuan terhadap Perjanjian Renville tidak akan bisa disalurkan tanpa NU menerima pinangan Bung Hatta. Begitu juga jika NU menolak sistem Nasakom, maka keputusan Soekarno hanya akan didominasi para nasionalis dan komunis. NU masuk sistem agar setiap kebijakan Bung Karno tidak terpengaruh orang-orang PKI.

Politik jalan tengah tersebut digelorakan oleh KH Wahab Chasbullah. Dengan alasan strategis, apapun yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno sebisa mungkin diterima dengan tangan terbuka. Keterbukaan politik bagi NU memang sangat dijunjung tinggi. Hal ini untuk menghalau pergerakan politik PKI yang kala itu menjadi bagian dari sistem. Keterbukaan tersebut bukan berarti hanyut dalam kegelapan dan mengorbankan prinsip. Sikap demikian ditegaskan oleh Kiai Wahab Chasbullah:

“Jadilah seperti ikan yang hidup. Ikut itu selagi dia masih hidup, masih mempunyai ruh atau nyawa. Biar dua ratus tahun hidup di laut yang mengandung garam, dia tetap saja tawar dagingnya, tidak menjadi asin. Sebabnya karena dia mempunyai ruh, karena dia hidup dengan seluruh jiwa. Sebaliknya, kalau ikan itu sudah mati, tidak mempunyai nyawa, tiga menit saja taruh dia di kuali yang bergaram, maka dia akan menjadi asin rasanya.” (Chiroul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010: 301)

Fatwa Kiai Wahab yang kala itu menjabat Rais ‘Aam PBNU itu dikemukakan berkali-kali saat NU menghadapi konstelasi politik yang tidak menentu. Hal itu menujukkan bahwa NU berupaya mempunyai sikap akomodatif, menampung dan menghadapi segala persoalan politik yang berkembang ketika itu, dengan penuh lapang dada.

Sikap seperti ini memang tidak mudah jika tidak mempunyai ilmu, kepiawaian, dan kekuatan. Kiai Wahab memberikan pelajaran bagi Nahdliyin bahwa NU mempunyai kekuatan kokoh, baik ilmu maupun karakter sejak dahulu. Persisnya saat santri dan kiai mampu menghalau para penjajah, baik Belanda, Jepang maupun tentara Sekutu.

Karena itu, mudah dipahami jika NU juga menunjukkan sikap lunak ketika menghadapi pembentukan DPR-GR, DPAS, dan DEPERNAS. Meski pada awalnya di tubuh NU sendiri terjadi pro dan kontra dalam menghadapi persoalan tersebut, sikap dan perilaku politik tetapi berupaya fleksibel. Sikap semacam NU ditempuh NU antara lain agar lebih mudah mendapatkan kesempatan dan memanfaatkannya secara efektif, setidaknya untuk mengimbangi politik PKI.

Hal ini dikemukakan KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013) tentang Sosialisme Indonesia, Landreform, dan Pancasila. Tokoh-tokoh PKI di Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) menghendaki sosialisme Indonesia sebagai sosialisme komunis ala Moskow dan Peking (Beijing). Begitu pula Landreform, PKI menghendaki pembagian tanah sama rata, sama rasa, dan meniadakan hak milik.

Sejarah membuktikan, politik jalan tengah NU memberikan dampak positif bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, baik pada masa pra-kemerdekaan maupun pasca-kemerdekaan Indonesia. Politik dijalankan oleh NU tidak semata-mata untuk kepentingan kekuasaan belaka, namun perhatian NU secara luas untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara. (Fathoni)
Rabu 3 April 2019 8:45 WIB
Tiga Hizib Para Kiai saat Berperang Melawan Tentara Sekutu
Tiga Hizib Para Kiai saat Berperang Melawan Tentara Sekutu
Bangkai mobil Brigjen Mallaby (ist)
Sebelum Jepang (Nippon) datang ke Indonesia pada Maret 1942, perjuangan orang-orang pesantren masih dilakukan dalam bentuk perlawanan kultural terhadap penjajah Belanda. Pasca Nippon menduduki wilayah Indonesia seiring berjalannya waktu terjalin sejumlah kesepakatan yang membuka kesempatan para santri melakukan latihan militer bersama Jepang.

Awalnya, Pimpinan Tentara Jepang di Indonesa ingin membentuk pertahanan tambahan untuk melawan tentara sekutu. KH Hasyim Asy’ari menyetujui santri dilatih militer oleh Jepang. Tetapi mereka tidak akan ke mana-mana, tetap menjaga Indonesia dan membentuk barisan tersendiri yang dinamakan Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Ini merupakan langkah Kiai Hasyim Asy’ari dalam menyiapkan tentara santri untuk menghadapi kemungkinan datangnya tentara sekutu ke Indonesia.

Prediksi Kiai Hasyim Asy’ari benar. Setelah mengalahkan Jepang, tentara sekutu yang di dalamnya ada tentara NICA Belanda ingin kembali menduduki Indonesia. Belanda membonceng sekutu sehingga ini merupakan Agresi Belanda kedua setelah sebelumnya juga menduduki Indonesia. Namun, kali ini persiapan tentara santri telah matang secara militer. Sebelumnya, Kiai Hasyim Asy’ari menyampaikan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk menggerakkan seluruh bangsa Indonesia, terutama umat Islam untuk memukul mundur tentara sekutu.

Bagi para santri dan kiai, perjuangan fisik saja tidak cukup. Mereka berperang sembari melantunkan doa dan hizib. Menurut catatan KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013), kiai-kiai dari Jombang, Gresik, Pasuruan dan dari sekitar Surabaya menyerang musuh sambil meneriakkan doa-doa dalam Hizbul Bahr, Hizbun Nashr, dan Hizbus Saif. Pertama kali dalam sejarah perang di Indonesia melawan penjajah, kalimat takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar bershut-sahutan dengan letusan bom dan rentetan suara mitraliur.

Atas kepentingan NICA, sebetulnya tentara sekutu (Inggris) terhasut untuk melawan rakyat Indonesia. Tentara sekutu terbuai karena sama-sama bangsa Barat dan bangsa penjajah. NICA mendalangi pertempuran, tentara sekutu berulangkali menyampaikan gencatan senjata saat terdesak tetapi dilanggar oleh tentara NICA. NICA terus menyebar provokasi mengadu rakyat Indonesia dengan tentara Inggris. Pertempuran sporadis terus terjadi di berbagai lokasi.

Dalam pertempuran tersebut, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, Komandan Brigade 49 Divisi 23 tentara sekutu (Inggris) ditemukan mati tertembak pada perang yang berpangsung 31 Oktober 1945. Peristiwa tersebut merusak perjanjian penghentian tembak-menembak yang telah disetujui oleh Pemimpin Indonesia dan kaum Sekutu dalam Contact Commitee.

Pimpinan tentara Sekutu di Surabaya menjawab kematian Brigjen Mallaby dengan ultimatum yang terkenal pada 9 November 1945. Ultimatum tersebut menyebutkan: “Semua rakyat Indonesia yang bersenjata harus menyerahkan senjata di tempat-tempat yang ditunjuk oleh tentara sekutu, sambil mengangkat tangan dan didampingi bendera putih tanda menyerah kepada sekutu. Segalanya harus sudah diselesaikan pada 06.00 tanggal 10 November 1945.” (KH Saifuddin Zuhri, 2013: 337)

Rakyat Surabaya menganggap ultimatum Sekutu pada 9 November 1945 sebagai penghinaan terhadap rakyat, terhadap Republik Indonesia dan Proklamasi 17 Agustus 1945. Kiai Saifuddin Zuhri mencatat bahwa tentara Sekutu mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Divisi 23 dan Divisi 5 yang berkekuatan sekitar 10.000 hingga 15.000 serdadu dibantu oleh meriam-meriam kapal perang penjelajah Sussex, beberapa kapal perusak dan pesawat-pesawat terbang Mosquito dan Thunderbolt dari RAF.

Rakyat Indonesia tidak gentar. Bagai air bah yang tidak dapat dibendung, rakyat Surabaya maju menyerbu semua kubu tentara Sekutu di seluruh kota. Tua dan muda serentak menerjang musuh meski hanya bersenjatakan bedil, pistol, pedang, dan bambu runcing. Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari memberikan kekuatan lahir dan batin bagi rakyat Indonesia untuk mengusir NICA dan tentara Sekutu. (Fathoni)
Selasa 26 Maret 2019 15:0 WIB
Saat Kiai Ma’ruf Diutus Gus Dur Sowan Mbah Hamid
Saat Kiai Ma’ruf Diutus Gus Dur Sowan Mbah Hamid
Kiai Ma'ruf dan Gus Dur
Gus Dur semakin dekat dengan Kiai Ma'ruf setelah peristiwa Tanjung Priok 1984. Gus Dur menemukan kawan dalam perjuangan mengembangkan NU bersama kiai yang menguasai khazanah klasik kitab kuning, terbuka untuk mengkaji kitab modern, dan selalu mengikuti perkembangan melalui media.

Setiap hari Kiai Ma'ruf membaca tiga surat kabar nasional. Majalah mingguan pun juga dibacanya. Beliau berprinsip lebih baik tidak punya kendaraan pribadi daripada ketinggalan informasi.

Gus Dur sering diundang dalam acara yang diadakan oleh Yayasan Al-Jihad, khususnya dalam upaya mensosialisasikan hubungan Islam dan Pancasila kepada para ulama dan mubaligh.

Gus Dur juga beberapa kali meminta Kiai Ma'ruf menggantikannya berceramah seperti pada acara Akhirussanah (akhir tahun pelajaran) di Pesantren Al-Ishlahiyah Singosari Malang tahun 1987. Kiai Ma'ruf yang saat itu menjadi Wakil Ketua LDNU Wilayah Jakarta, menggantikan Gus Dur yang berhalangan hadir.

Melalui Gus Dur pula, Kiai Ma'ruf disarankan untuk sowan kepada para ulama waskita, antara lain Kiai Hamid Kajoran, Magelang.

Saat pertama kali sowan ke Kajoran, Kiai Hamid sedang kurang sehat dan berbaring di ranjangnya. Sementara para tamu lain duduk bersila di bawah. Kiai Ma'ruf diminta oleh Kiai Hamid Kajoran untuk duduk di atas kasur bersamanya. Ulama yang disebut sebagai waliyullah itu meminta Kiai Ma'ruf untuk berziarah ke makam Syekh Belabelu di Parangtritis.

Kiai Maruf memenuhi anjuran Mbah Hamid Kajoran itu. Ia pergi ke Pamancingan, Parangtritis, makam Syekh Belabelu atau Raden Jaka Bandem, putra dari Raja Brawijaya V dan murid Syekh Maulana Maghribi.

Tiba di lokasi pemakaman, seseorang yang tampaknya sudah menunggu, segera menyapanya. "Anda, Ma'ruf Amin, ya?" ujar orang itu menyapa ramah. "Iya betul," jawab Kiai Ma'ruf.

"Anda akan mendapat amanah besar, Insyaallah," ujarnya menyambung. Kiai Ma'ruf tak sempat berkomentar dan bertanya lebih lanjut hingga tak sadar orang yang menyambutnya itu sudah pergi.

Tak lama berselang sejak pertemuan dengan sosok misterius itu, berlangsung Muktamar NU ke-28 di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Dalam hajat tertinggi PBNU ini, KH Achmad Siddik terpilih sebagai Rais 'Aam dan Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah.

Kiai Ma'ruf Amin dipercaya sebagai Katib Syuriyah pada struktur PBNU yang kemudian nama posisi ini menjadi Katib 'Aam Syuriyah. Sejak menjadi katib inilah kealiman Kiai Ma'ruf mulai menonjol dan produktif menelurkan pemikiran-pemikiran baru.

Jabatan itu merupakan lompatan karirnya di PBNU, karena sebelumnya ia belum masuk dalam struktur di tingkat PBNU. Posisi ini tak lepas dari usulan Gus Dur. Posisi ini pula yang pernah diduduki Gus Dur dalam PBNU periode 1979-1984.

Sebagai katib, Kiai Ma'ruf mulai rutin berkantor di PBNU. Ia menyiapkan konsep sistem pengambilan keputusan hukum berdasarkan manhaji (metodologi) yang dibahas secara dinamis dalam Munas NU di Lampung tahun 1992.

Dalam Munas ini dibahas pula hukum perbankan dan rencana mendirikan bank NU, sebuah isu yang kemudian menjadi spesialisasinya.

Hasil Munas Lampung ini merupakan lompatan pemikiran para ulama NU. Majalah AULA edisi April 1992 menyebutnya dengan "Pintu Ijtihad Sudah Ketemu Kuncinya".

Dalam istilah Kiai Ma'ruf, Munas Lampung merupakan periode tajdidi (pembaruan) dalam tubuh NU, yakni merumuskan konsepsi untuk menghadapi konservatisme pemikiran menuju dinamisasi.

Suksesnya bahtsul masa'il dalam Munas Lampung itu tak lepas dari tangan dingin Kiai Ma'ruf sebagai katib syuriyah. Pelaksanaan bahtsul masa'il tak terganggu oleh situasi internal NU yang cukup pelik, akibat pengunduran diri KH Ali Yafie sebagai Wakil Rais 'Aam dan Pejabat Pelaksan Rais 'Aam sepeninggal almagfurlah KH Achmad Siddik.

Munas itu kemudian menetapkan KH Moh. Ilyas Ruhiat sebagai Pejabat Pelaksana Rais 'Aam. Dengan demikian, sebagai katib, Kiai Ma'ruf melayani dua Rais 'Aam.

Dalam Muktamar ke-29 di Pesantren Cipasung 1994, Kiai Ma'ruf menjadi Rais Syuriyah urutan ketiga, di bawah KH Nahrowi Abd. Salam dan KH Syafii Hadzami. (Zidni Nafi')
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG