IMG-LOGO
Nasional

Halaqah Kebangsaan untuk Pemilu Damai

Senin 8 April 2019 20:30 WIB
Bagikan:
Halaqah Kebangsaan untuk Pemilu Damai
Halaqah Kebangsaan untuk Pemilu Damai
Jombang, NU Online
Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) tinggal hitungan hari saja menuju tanggal 17 April 2019. Untuk mendinginkan suasana dan menghindari konflik efek Pemilihan Umum (Pemilu) ini, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur menggelar Halaqah Kebangsaan yang mengundang tim sukses dari kedua pasangan calon presiden.

Kegiatan ini mengambil tema Peran Ulama, Habaib, Kiai dan Cendekiawan dalam Meneguhkan Ikatan Kebangsaan Menuju Indonesia Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur. Halaqah sendiri dilaksanakan di Gedung Yusuf Hasyim milik Pesantren Tebuireng pada Ahad (7/4).

Para kiai dan tokoh dari pendukung Calon Presiden (Capres)-Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01, Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin dan pendukung Capres-Cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno duduk bersandingan ditemani sejumlah cendekiawan.

Halaqah digelar untuk mendinginkan suasana politik menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 April 2019 serta merajut kembali hubungan antar kiai yang sempat renggang karena perbedaan pilihan pada Pemilu 2019.

"Kita mengundang kiai-kiai pendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 01 dan pendukung pasangan 02, yang sudah berbulan-bulan ini aktif mendukung pasangan masing-masing," kata Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Solahudin Wahid.

Cucu KH Hasyim Asy'ari ini menjelaskan tujuan halaqah ini yang paling utama yaitu mencairkan komunikasi di atara tim sukses kedua pasangan capres dan cawapres. Karena selama ini ada sebagian tim sukses sungkan atau tidak enak hati saling menegur.

"Mungkin dalam berkomunikasi, terlalu bersemangat, mungkin ada hal-hal yang tidak cocok, kita ingin merekatkan kembali," ujar Kiai yang biasa disapa Gus Sholah ini.

Gus Sholah mengingatkan kepada kedua belah pihak untuk tidak berlebihan dalam mendukung jagoannya sehingga melupakan persatuan. Untuk saat ini, kegiatan halaqah baru dilaksanakan di Jawa Timur.

Dengan dirajutnya kembali hubungan antar kiai ini, Gus Sholah berharap akan berdampak positif kepada persatuan Indonesia. Karena baginya, persatuan Indonesia sangat tergantung kepada persatuan umat Islam.

"Khusus di Jawa Timur kita ingin mendekatkan hubungan kiai-kiai yang sementara ini sempat renggang," ujar adik kandung Gus Dur ini.

Gus Sholah juga meminta semua pihak berlapang dada menerima hasil Pilpres nanti dan tidak melakukan aksi perusakan atau hal yang mengurai persaudaraan anak bangsa. Ia menyebutkan siapapun pemenangnya maka harus didukung demi kebaikan bersama.

"Allah SWT telah menentukan siapa nantinya yang terpilih menjadi presiden maupun wakil presiden dalam Pilpres 2019 ini. Oleh karenanya, siapapun yang menjadi pemenangnya harus didukung semua pihak. Cuma (saat ini) kita nggak tahu orangnya, jadi kita harus menerima ketentuan Allah itu," tambahnya.

Hadir serta dalam halaqah ini sejumlah kiai seperti KH Mahfud Sobari dari Mojokerto, KH Lutfi Abdul Hadi Malang, akademisi Profesor Imam Soeprayogo, dan sejumlah cendekiawan. 

Forum halaqoh ini dibuat lingkaran memutar dan secara bergantian memberikan pandangan mereka tentang kondisi sosial, politik, hingga ekonomi Indonesia akhir-akhir ini. Ikut serta pejabat dari kepolisian maupun TNI yang masing-masing mewakili instansinya masing-masing. (Syarif Abdurrahman/Muiz)
Bagikan:
Senin 8 April 2019 23:13 WIB
Ciri Khas Pesantren Sunda, Fokus Satu Cabang Ilmu
Ciri Khas Pesantren Sunda, Fokus Satu Cabang Ilmu
foto: nujabar.or.id
Sukabumi, NU Online
Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU Idris Masudi mengatakan, pesaantren-pesantren di wilayah Jawa Barat memiliki ciri khas, yaitu memiliki kajian yang fokus pada satu fan (cabang) ilmu dari 12 cabang yang dipelajari di pesantren-pesantren.

Pria asal Cirebon ini mencontohkan pesantren di Sukabumi, khususnya Cibeureum memiliki ciri khas dengan kajian ilmu manthiqnya. Di daerah Sadang Kabupateun Garut, yaitu di Pondok Pesantren Riyadul Alfiyah, terkenal dengan ilmu alatnya (ilmu nahwu dan sharaf). Di Cikole, Tasikmalaya, terkenal dengan kajian fiqihnya. Di Karawang terkenal dengan kajiann tauhidnya. Di Siqoyaturrohmah, Sukabumi terkenal ilmu balaghahnya. 

Namun demikian, menurut Idris, pesantren-pesantren tersebut bukan berarti tidak mempelajari ilmu-ilmu lain dan tidak berarti tidak mengerti ilmu lain. Fokus di pesantren alat, misalnya, kiainya bukan tidak mengerti ilmu fiqih, tauhid, dan lain-lain, tapi mereka lebih fokus cabang ilmu yang digelutinya.     

“Sunda punya ciri khas seperti itu. Ini sebetulnya warisan dari tradisi pesantren pada zaman dahulu. Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari misalnya terkenal sebagai ahli hadits, tapi bukan berarti tidak mengerti ilmu fiqih,” katanya pada Ngaji Teknologi di Pondook Pesantren Al-Fathonah Pasir Malang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (8/4). 

Pada zaman dahulu pula, lanjutnya, sering terjadi kiai “mengusir” seorang santri dari pesantrennya. Bukan karena santri itu melakukan kekeliruan berat, melainkan disuruh berguru kepada kiai lain yang fokus terhadap sebuah cabang ilmu tertentu. 

“Itu yang kemudian berkembang terkait otoritas keilmuaan dalam sebuah cabang ilmu,” katanya lagi. 

Pada perkembangan selanjutnya, kata dia, tradisi takhasus pesantren tersebut berangsur-angsur hilang. Belum bisa disebutkan penyebabnya karena perlu penelitian mendalam. 

Namun, di Jawa Barat, sambungnya, takhasus pesantren masih beralangsung. Dan itu perlu dipertahankan. (Abdullah Alawi)

Senin 8 April 2019 22:50 WIB
Pernyataan Gus Mus Usai Disowani Pengedit Video Hoaks
Pernyataan Gus Mus Usai Disowani Pengedit Video Hoaks
Foto: @s.kakung
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) memberikan pernyataan setelah disowani Zainal, pengedit video hoaks yang menggabungkan video dirinya dengan Cawapres KH Ma’ruf Amin.

Didampingi keluarganya, Zainal secara langsung meminta maaf kepada Gus Mus atas perilakunya yang keliru. Gus Mus mengungkapkan bahwa pemuda asal Batam tersebut terlihat betul-betul menyesal.


“Namanya Zainal dari Batam. Masih sangat muda. Jauh-jauh dia datang dari Batam untuk meminta maaf, karena mengedit video (menggabungkan videoku dengan video lain untuk mendiskreditkan salah seorang calon presiden). Kelihatannya dia betul-betul menyesal,” jelas Gus Mus, Senin (8/4) lewat instagramnya, @s.kakung.

Gus Mus berharap, mudah-mudahan penyesalan Zainal itu benar-benar membuka matanya dan jadi pelajaran baginya --dan bagi lainnya yang mengalami hal yang sama-- bahwa: berlebih-lebihan dalam menyukai dan membenci (termasuk kaitannya dengan pilpres ini), bisa menghilangkan akal sehat.


Minimal, kata Gus Mus, bisa membuat lupa bahwa, pertama, pemilu dan pilpres ini adalah agenda rutin 5 tahunan (melihat umurnya, secara lahir, Zainal ini masih akan mengalami berkali-kali pemilu dan pilpres).

Kedua, kita semua saudara sebangsa Indonesia dan semua capres-cawapres adalah tokoh-tokoh Indonesia yang menginginkan kemajuan Indonesia dan kebaikan bangsa Indonesia. 

Ketiga, bila masing-masing pendukung hanya memuji dan menonjolkan keunggulan calonnya, tanpa menjelekkan calon 'lawan', maka semua calon akan tampak baik semua. Sebaliknya bila kedua pihak saling menjelekkan 'lawan', maka yang tampak hanya kejelekan keduanya belaka.

“Semoga Allah merahmati Indonesia dan bangsa Indonesia,” harap Gus Mus. (Fathoni)
Senin 8 April 2019 21:35 WIB
Cara Mudah Mengetahui Orang Baik ala KH Abdullah Kafabihi Mahrus
Cara Mudah Mengetahui Orang Baik ala KH Abdullah Kafabihi Mahrus
KH Abdullah Kafabihi Mahrus isi ceramah di KIC Brebes.
Brebes, NU Online
Pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus menjelaskan cara mudah untuk mengetahui seseorang baik atau tidak.

"Untuk mengetahui bahwa orang itu baik atau tidak, sebenarnya simpel. Dia mau ngaji atau tidak. Itu saja," kata Kiai Kafa, saat Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Sawa di Kanzul Ilmi Center (KIC), di Jalan Raya Talok, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, Ahad (7/4).

Lebih lanjut Kiai Kafa menjelaskan bahwa Rasululullah bersabda, barangsiapa diridhai oleh Allah di dunia dan di akherat maka orang tersebut akan diberi taufik dan hidayah untuk mau belajar ilmu agama. "Sehingga ia akan faham agama dan ilmu agama tersebut akan diamalkannya," kata Kiai Kafa.

Kiai Kafa juga menjelaskan tentang fadhilah orang yang duduk di majelis ilmu. Di antaranya adalah dosanya diampuni oleh Allah Swt dan setiap jangkah kakinya menuju ke majelis ilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah Swt.

Adapun jika ada orang yang meninggal dunia saat ia akan menuju ke majelis ilmu maka ia akan tercatat sebagai seseorang yang meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. "Kematian seperti inilah yang sangat dinanti oleh setiap Muslim, karena berarti derajatnya satu tingkat di bawah Nabi," imbuhnya.

Disampaikan oleh Kiai Kafa sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas bahwa amal itu yang penting dan dinilai adalah akhirnya. "Jadi walaupun semasa hidupnya ia non-Muslim, saat akhir hayatnya ia sempat mengucapkan dua kalimat syahadat maka ia termasuk muslim," lanjut Kiai Kafa.

Hal inilah yang menjadikan segenap pengurus dan para tamu undangan merasa terlecut semangatnya untuk senantiasa bisa hadir di majelis ilmu. 

Oleh karena itu, sangat penting orang tua memondokkan anak, sebab anak yang mondok akan selalu dimudahkan oleh Allah dalam segala hal. "Santri akan mudah dalam mencari rezeki, santri akan mudah mencari jodoh dan akan diberi kemudahan-kemudahan yang lainnya," ujarnya.

Bukan hanya anak yang mendapatkan kemudahan, orang tua yang memondokkan anaknya, juga akan diberi kemudahan dalam mencari rezeki dan senantiasa diberi kesehatan.

Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw diwarnai pelantikan pengurus Majelis Taklim Kanzul Ilmi Center (KIC). Pelantikan pengurus ini menandai mulai bekerjanya pengurus baru masa hhidmat 2019-2024.

Dalam sambutannya, Direktur KIC, KH Ahmad Najib Affandi menjelaskan bahwa semangat terbesar pendirian Majelis KIC adalah karena ingin mengamalkan ilmu yang pernah didapatnya antara lain di Pesantren Lirboyo Kediri.

"Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab dan takdhim santri kepada gurunya," ujar Kiai Najib Affandi. (Lili Hidayati/Kendi Setiawan)

        

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG