::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ciri Khas Pesantren Sunda, Fokus Satu Cabang Ilmu

Senin, 08 April 2019 23:13 Nasional

Bagikan

Ciri Khas Pesantren Sunda, Fokus Satu Cabang Ilmu
foto: nujabar.or.id
Sukabumi, NU Online
Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU Idris Masudi mengatakan, pesaantren-pesantren di wilayah Jawa Barat memiliki ciri khas, yaitu memiliki kajian yang fokus pada satu fan (cabang) ilmu dari 12 cabang yang dipelajari di pesantren-pesantren.

Pria asal Cirebon ini mencontohkan pesantren di Sukabumi, khususnya Cibeureum memiliki ciri khas dengan kajian ilmu manthiqnya. Di daerah Sadang Kabupateun Garut, yaitu di Pondok Pesantren Riyadul Alfiyah, terkenal dengan ilmu alatnya (ilmu nahwu dan sharaf). Di Cikole, Tasikmalaya, terkenal dengan kajian fiqihnya. Di Karawang terkenal dengan kajiann tauhidnya. Di Siqoyaturrohmah, Sukabumi terkenal ilmu balaghahnya. 

Namun demikian, menurut Idris, pesantren-pesantren tersebut bukan berarti tidak mempelajari ilmu-ilmu lain dan tidak berarti tidak mengerti ilmu lain. Fokus di pesantren alat, misalnya, kiainya bukan tidak mengerti ilmu fiqih, tauhid, dan lain-lain, tapi mereka lebih fokus cabang ilmu yang digelutinya.     

“Sunda punya ciri khas seperti itu. Ini sebetulnya warisan dari tradisi pesantren pada zaman dahulu. Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari misalnya terkenal sebagai ahli hadits, tapi bukan berarti tidak mengerti ilmu fiqih,” katanya pada Ngaji Teknologi di Pondook Pesantren Al-Fathonah Pasir Malang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (8/4). 

Pada zaman dahulu pula, lanjutnya, sering terjadi kiai “mengusir” seorang santri dari pesantrennya. Bukan karena santri itu melakukan kekeliruan berat, melainkan disuruh berguru kepada kiai lain yang fokus terhadap sebuah cabang ilmu tertentu. 

“Itu yang kemudian berkembang terkait otoritas keilmuaan dalam sebuah cabang ilmu,” katanya lagi. 

Pada perkembangan selanjutnya, kata dia, tradisi takhasus pesantren tersebut berangsur-angsur hilang. Belum bisa disebutkan penyebabnya karena perlu penelitian mendalam. 

Namun, di Jawa Barat, sambungnya, takhasus pesantren masih beralangsung. Dan itu perlu dipertahankan. (Abdullah Alawi)