IMG-LOGO
Fragmen

Sufi, Tarekat, dan Perkembangannya di Nusantara

Selasa 9 April 2019 18:25 WIB
Bagikan:
Sufi, Tarekat, dan Perkembangannya di Nusantara
Ilustrasi (ist)
Tarekat dipandang sebagai sumber kekuatan spiritual, sekaligus melegitimasi dan mengukuhkan posisi raja. Jelaslah bahwa para raja tidak berminat kepada upaya yang membuat kekuatan supernatural yang sama dapat dimiliki oleh semua warga negara mereka.

Salah satu kesimpulan tersebut diungkapkan oleh Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (2015) untuk menggambarkan bahwa kekuatan dan eksistensi raja juga ditentukan oleh upaya batin yang didapat melalui legitimasi tarekat. Beberapa literatur secara tegas mengemukakan bahwa tarekat-tarekat di Nusantara mendapatkan pengikutnya, pertama-tama di lingkungan istana. Setelah lama, kemudian menyebar ke kalangan masyarakat atau rakyat jelata.

Hal itu menunjukkan bahwa peran-peran dai mistik (sufi) seperti para Wali Songo juga dilakukan di pusat pemerintahan, yaitu kerajaan. Sejak awal melakukan penyebaran agama Islam pada abad ke-14, para wali memang ditunjuk oleh raja atau sultan menjadi penasihat kerajaan. Hal itu juga terlihat ketika ulama sufi terkemuka asal Aceh pada abad ke-16 dan ke-17 seperti Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Syekh Abdurrauf Singkel menjadi penasihat utama raja pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.

Menurut Abdul Hadi WM (2009), asal-usul tarekat (at-tariqah) Sufi dapat dirunut pada abad ke-3 dan 4 H (abad ke-9 dan 10 M). Pada waktu itu tasawuf telah berkembang pesat di negeri-negeri seperti Arab, Persia, Afghanistan dan Asia Tengah. Beberapa Sufi terkemuka memiliki banyak sekali murid dan pengikut. Di antara murid dan pengikut para Sufi terkemuka itu aktif mengikuti pendidikan formal di lembaga-lembaga pendidikan Sufi (ribbat, semacam pesantren). Di antara Sufi yang memiliki banyak murid di antaranya ialah Junaid al-Baghdadi dan Abu Said al-Khayr.

Abad-abad awal proses Islamisasi kawasan Asia Tenggara berbarengan dengan masa-masa ketika tasawuf dan dan pertumbuhan tarekat abad pertengahan merebak. Abu Hamid Al-Ghazali yang telah menguraikan konsep moderat tasawuf akhlaqi, dapat diterima oleh para fuqaha, wafat pada tahun 1111 M. Begitu juga dengan Ibnu ‘Arabi yang karyanya sangat mempengaruhi ajaran hampir semua sufi yang muncul belakangan, wafat pada tahun 1240 M. Pun demikian dengan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang ajarannya menjadi dasar tarekat Qadiriyah, wafat pada tahun 1166.

Ada juga Syekh Najmudin Kubra (wafat 1221 M), sufi Asia Tengah pendiri Thariqah Kubrawiyyah; Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili (wafat 1258), pendiri Thariqah Syadziliyyah asal Maghribi, Afrika Utara; Syekh Ahmad Ar-Rifa’i (wafat 1320) yang mendirikan Thariqah Rifa’iyyah.  Selain itu, awal abad ke-14 juga menjadi fase pertumbuhan Thariqah Naqsyabandiyyah yang didirikan oleh Syekh Muhammad Bahauddin An-Naqsyabandi (wafat 1389) dan Thariqah Syathariyyah yang didirikan Syekh Abdullah Asy-Syaththari (wafat 1428 M). Kedua thariqah terakhir belakangan menjadi yang thariqah besar yang memiliki banyak pengikut di Indonesia.

Ajaran para sufi pada masa-masa tersebut cukup mewarnai orang-orang Asia Tenggara yang pertama memeluk Islam. Warna sufi menjadikan agama Islam menarik bagi masyarakat Asia Tenggara sehingga perkembangan tasawuf menjadi salah satu faktor yang menyebabkan proses Islamisasi Asia Tenggara dapat berlangsung. Warna sufi dari Asia Tenggara di antaranya di bawa oleh Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) dari Kerajaan Champa (Vietnam) ke Nusantara pada abad ke-15.

Warna sufi yang menonjolkan dzauq (rasa) lebih menyentuh dalam proses penyebaran Islam di Nusantara, khususnya Indonesia. Hingga saat ini umat Islam di Indonesia masih lekat dengan sikap-sikap sufistik. Penghormatannya kepada orang-orang mulia seperti sufi dan ulama-ulama yang mempunyai keistimewaan atau karomah masih lestari, baik dari mereka yang sudah meninggal maupun yang masih hidup.

Menjelang abad ke-18 berbagai tarekat telah memperoleh pengikut yang tersebar di Nusantara. Ulama-ulama asal Indonesia yang baru kembali dari Hijaz (Makkah dan Madinah) menyebarkan tarekat Syattariyah yang seringkali dipadukan dengan tarekat Naqsyabandiyah maupun Khalwatiyah. Gerakan-gerakan tarekat tersebut tidak hanya berjasa mengembangkan ajaran Islam, tetapi juga turut memberikan perlawanan terhadap penjajah Belanda di sejumlah daerah. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Senin 8 April 2019 10:45 WIB
Keramat Bendera NU
Keramat Bendera NU
Bendera Nahdlatul Ulama berwarna hijau. Di dalamnya terdapat logo NU dengan khot berupa huruf Arab berwarna putih (sesuai AD/ART NU). Awalnya, logo tersebut dirancang, didesain, dan diciptakan oleh KH Ridlwan Abdullah (1884-1962) dari Bubutan Surabaya menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-2 NU di Surabaya pada 1927. Tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awal 1346 H, bertepatan dengan tanggal 9 Oktober 1927.

Bendera yang terdepat logo NU tersebut mempunyai keramat atau keistimewaan tersendiri karena diciptakan melalui proses lahir dan batin. Sebab itu, tidak boleh dipakai sembarangan apalagi digunakan tidak sesuai aturan atau dimanfaatkan untuk kampanye politik praktis.

Kala itu, KH Wahab Chasbullah yang menjadi Ketua Panitia Muktamar memberikan mandat dan amanah kepada KH Ridlwan Abdullah untuk menciptakan logo NU. Kiai Wahab Chasbullah menunjuk Kiai Ridlwan bukan tanpa alasan sebab mengingat Kiai Ridlwan dikenal pandai menggambar, melukis, dan seni kaligrafi. Salah satu karya Kiai Ridlwan ialah bangunan Masjid Kemayoran di Surabaya. Masjid tersebut memiliki gaya arsitektur yang khas.

Terhitung sejak penugasan Kiai Wahab Chasbullah hingga satu setengah bulan Kiai Ridlwan mencoba membuat sketsa lambang NU bahkan sampai berkali-kali tapi belum berhasil. Padahal Muktamar sudah diambang pintu sehingga sempat mendapat ‘teguran’ Kiai Wahab Chasbullah.

Pada suatu malam dengan harapan muncul inspirasi atau ilham pada saat-saat orang lelap tidur, Kiai Ridlwan mengambil air wudhu kemudian melaksanakan shalat istikharah. Setelah itu beliau tidur sejenak. Kiai Ridlwan Abdullah bermimpi melihat sebuah gambar di langit yang biru dan jernih. Gambar tersebut terlihat seperti bola dunia dikelilingi bintang dan tali penyambung dan pengait.

Berdasarkan mimpi tersebut, KH Ridlwan Abdullah tersentak bangun dari tidurnya dan spontan langsung mengambil kertas dan pena untuk membuat sketsa gambar sesuai dengan apa yang tertayang dalam mimpinya tersebut. Saat itu jam dindingnya menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Karena kecakapannya dalam melukis, pada keesokan harinya gambar tersebut bisa diselesaikan lengkap dengan tulisan NU memakai huruf arab dan tahunnya.

Untuk mengetahui arti logo NU tersebut, dalam Muktamar NU ke-2 itu diadakan majelis khusus, pimpinan sidang adalah Kiai Raden Adnan dari Solo. Dalam majelis ini, pimpinan sidang meminta Kiai Ridlwan Abdullah menjelaskan arti logo NU. Semua elemen yang terdapat dalam logo NU dijelaskan dengan gamblang oleh Kiai Ridlwan. Beliau menguraikan:

“Lambang tali adalah lambang agama (Berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan jangan bercerai berai). Tali yang melingkari bumi melambangkan Ukhuwah Islamiyah kaum muslimin seluruh dunia. Untaian tali yang berjumlah 99 melambangkan Asmaul Husna. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Besar Muhammad SAW. Empat bintang kecil samping kiri dan kanan melambangkan Khulafaur Rasyidin, dan empat bintang di bagian bawah melambangkan madzhibul arba’ah (empat madzhab). Sedangkan semua bintang yang berjumlah sembilan melambangkan Wali Songo.” (Lihat Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Mengutip Hasyim Latief dalam NU Penegak Panji Ahlussunnah wal Jamaah (1979), Choirul Anam menjelaskan bahwa tulisan ‘Nahdlatul Ulama’ dengan huruf Arab merupakan rancangan dari Kiai Ridlwan sendiri, tidak termasuk dalam mimpi.

Usai mendengarkan penjelasan Kiai Ridlwan Abdullah, seluruh peserta majelis khusus sepakat menerima logo tersebut. Kemudian Muktamar ke-2 NU tahun 1927 memutuskannya sebagai logo Nahdlatul Ulama.

Hasil keputusan Muktamar ke-2 terkait logo NU membuat Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari penasaran kepada Kiai Ridlawan. Setelah perhelatan Muktamar ditutup, Kiai Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Ridlwan. Karena KH Hasyim Asy’ari berkeyakinan ada proses batin yang dilakukan oleh Kiai Ridlwan.

Kiai Ridlwan Abdullah mengungkapkan bahwa sebelum menggambar logo NU, terlebih dahulu dirinya melakukan shalat istikharah, meminta petunjuk kepada Allah SWT. Logo NU tergambar sesuai apa yang terlihat dalam mimpi Kiai Ridlwan dalam tidurnya sesaat setelah melaksanakan shalat istikharah.

Setelah mendengar penjelasan Kiai Ridlwan Abdullah, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari merasa puas. Kemudian beliau mengangkat kedua tangan sambil berdoa. Setelah memanjatkan doa beliau berkata, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan harapan yang dimaksud dalam lambang Nahdhatul Ulama.” (Fathoni)
Jumat 5 April 2019 9:15 WIB
KH Wahab Chasbullah soal Perumpaan Kehidupan Ikan di Laut
KH Wahab Chasbullah soal Perumpaan Kehidupan Ikan di Laut
KH Wahab Chasbullah (Dok. Perpustakaan PBNU)
Ijthad keagamaan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan senantiasa diperlihatkan Nahdlatul Ulama secara bijak dan lapang dada. Bukan bermaksud mengekor pada sistem yang diterapkan oleh pemerintah, tetapi untuk kepentingan yang lebih luas. Karena dengan masuk sistem, justru kesempatan memperbaiki akan lebih mudah dan diterima ketimbang teriak-teriak di luar sistem dan dianggap memberontak.

Sejumlah pro dan kontra menyelimuti tubuh kiai dan pengurus NU ketika dihadapkan pada kebijakan pemerintah seperti ajakan Muhammad Hatta kepada NU untuk mengisi kabinet. Sedangkan para kiai tidak mau karena Kabinet Hatta mendukung Persetujuan Renville sedangkan para kiai tidak. Begitu juga ketika Soekarno menggagas Nasakom. NU juga ikut di dalamnya.

Ketidaksetujuan terhadap Perjanjian Renville tidak akan bisa disalurkan tanpa NU menerima pinangan Bung Hatta. Begitu juga jika NU menolak sistem Nasakom, maka keputusan Soekarno hanya akan didominasi para nasionalis dan komunis. NU masuk sistem agar setiap kebijakan Bung Karno tidak terpengaruh orang-orang PKI.

Politik jalan tengah tersebut digelorakan oleh KH Wahab Chasbullah. Dengan alasan strategis, apapun yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno sebisa mungkin diterima dengan tangan terbuka. Keterbukaan politik bagi NU memang sangat dijunjung tinggi. Hal ini untuk menghalau pergerakan politik PKI yang kala itu menjadi bagian dari sistem. Keterbukaan tersebut bukan berarti hanyut dalam kegelapan dan mengorbankan prinsip. Sikap demikian ditegaskan oleh Kiai Wahab Chasbullah:

“Jadilah seperti ikan yang hidup. Ikut itu selagi dia masih hidup, masih mempunyai ruh atau nyawa. Biar dua ratus tahun hidup di laut yang mengandung garam, dia tetap saja tawar dagingnya, tidak menjadi asin. Sebabnya karena dia mempunyai ruh, karena dia hidup dengan seluruh jiwa. Sebaliknya, kalau ikan itu sudah mati, tidak mempunyai nyawa, tiga menit saja taruh dia di kuali yang bergaram, maka dia akan menjadi asin rasanya.” (Chiroul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010: 301)

Fatwa Kiai Wahab yang kala itu menjabat Rais ‘Aam PBNU itu dikemukakan berkali-kali saat NU menghadapi konstelasi politik yang tidak menentu. Hal itu menujukkan bahwa NU berupaya mempunyai sikap akomodatif, menampung dan menghadapi segala persoalan politik yang berkembang ketika itu, dengan penuh lapang dada.

Sikap seperti ini memang tidak mudah jika tidak mempunyai ilmu, kepiawaian, dan kekuatan. Kiai Wahab memberikan pelajaran bagi Nahdliyin bahwa NU mempunyai kekuatan kokoh, baik ilmu maupun karakter sejak dahulu. Persisnya saat santri dan kiai mampu menghalau para penjajah, baik Belanda, Jepang maupun tentara Sekutu.

Karena itu, mudah dipahami jika NU juga menunjukkan sikap lunak ketika menghadapi pembentukan DPR-GR, DPAS, dan DEPERNAS. Meski pada awalnya di tubuh NU sendiri terjadi pro dan kontra dalam menghadapi persoalan tersebut, sikap dan perilaku politik tetapi berupaya fleksibel. Sikap semacam NU ditempuh NU antara lain agar lebih mudah mendapatkan kesempatan dan memanfaatkannya secara efektif, setidaknya untuk mengimbangi politik PKI.

Hal ini dikemukakan KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013) tentang Sosialisme Indonesia, Landreform, dan Pancasila. Tokoh-tokoh PKI di Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) menghendaki sosialisme Indonesia sebagai sosialisme komunis ala Moskow dan Peking (Beijing). Begitu pula Landreform, PKI menghendaki pembagian tanah sama rata, sama rasa, dan meniadakan hak milik.

Sejarah membuktikan, politik jalan tengah NU memberikan dampak positif bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, baik pada masa pra-kemerdekaan maupun pasca-kemerdekaan Indonesia. Politik dijalankan oleh NU tidak semata-mata untuk kepentingan kekuasaan belaka, namun perhatian NU secara luas untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara. (Fathoni)
Rabu 3 April 2019 8:45 WIB
Tiga Hizib Para Kiai saat Berperang Melawan Tentara Sekutu
Tiga Hizib Para Kiai saat Berperang Melawan Tentara Sekutu
Bangkai mobil Brigjen Mallaby (ist)
Sebelum Jepang (Nippon) datang ke Indonesia pada Maret 1942, perjuangan orang-orang pesantren masih dilakukan dalam bentuk perlawanan kultural terhadap penjajah Belanda. Pasca Nippon menduduki wilayah Indonesia seiring berjalannya waktu terjalin sejumlah kesepakatan yang membuka kesempatan para santri melakukan latihan militer bersama Jepang.

Awalnya, Pimpinan Tentara Jepang di Indonesa ingin membentuk pertahanan tambahan untuk melawan tentara sekutu. KH Hasyim Asy’ari menyetujui santri dilatih militer oleh Jepang. Tetapi mereka tidak akan ke mana-mana, tetap menjaga Indonesia dan membentuk barisan tersendiri yang dinamakan Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Ini merupakan langkah Kiai Hasyim Asy’ari dalam menyiapkan tentara santri untuk menghadapi kemungkinan datangnya tentara sekutu ke Indonesia.

Prediksi Kiai Hasyim Asy’ari benar. Setelah mengalahkan Jepang, tentara sekutu yang di dalamnya ada tentara NICA Belanda ingin kembali menduduki Indonesia. Belanda membonceng sekutu sehingga ini merupakan Agresi Belanda kedua setelah sebelumnya juga menduduki Indonesia. Namun, kali ini persiapan tentara santri telah matang secara militer. Sebelumnya, Kiai Hasyim Asy’ari menyampaikan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk menggerakkan seluruh bangsa Indonesia, terutama umat Islam untuk memukul mundur tentara sekutu.

Bagi para santri dan kiai, perjuangan fisik saja tidak cukup. Mereka berperang sembari melantunkan doa dan hizib. Menurut catatan KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013), kiai-kiai dari Jombang, Gresik, Pasuruan dan dari sekitar Surabaya menyerang musuh sambil meneriakkan doa-doa dalam Hizbul Bahr, Hizbun Nashr, dan Hizbus Saif. Pertama kali dalam sejarah perang di Indonesia melawan penjajah, kalimat takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar bershut-sahutan dengan letusan bom dan rentetan suara mitraliur.

Atas kepentingan NICA, sebetulnya tentara sekutu (Inggris) terhasut untuk melawan rakyat Indonesia. Tentara sekutu terbuai karena sama-sama bangsa Barat dan bangsa penjajah. NICA mendalangi pertempuran, tentara sekutu berulangkali menyampaikan gencatan senjata saat terdesak tetapi dilanggar oleh tentara NICA. NICA terus menyebar provokasi mengadu rakyat Indonesia dengan tentara Inggris. Pertempuran sporadis terus terjadi di berbagai lokasi.

Dalam pertempuran tersebut, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, Komandan Brigade 49 Divisi 23 tentara sekutu (Inggris) ditemukan mati tertembak pada perang yang berpangsung 31 Oktober 1945. Peristiwa tersebut merusak perjanjian penghentian tembak-menembak yang telah disetujui oleh Pemimpin Indonesia dan kaum Sekutu dalam Contact Commitee.

Pimpinan tentara Sekutu di Surabaya menjawab kematian Brigjen Mallaby dengan ultimatum yang terkenal pada 9 November 1945. Ultimatum tersebut menyebutkan: “Semua rakyat Indonesia yang bersenjata harus menyerahkan senjata di tempat-tempat yang ditunjuk oleh tentara sekutu, sambil mengangkat tangan dan didampingi bendera putih tanda menyerah kepada sekutu. Segalanya harus sudah diselesaikan pada 06.00 tanggal 10 November 1945.” (KH Saifuddin Zuhri, 2013: 337)

Rakyat Surabaya menganggap ultimatum Sekutu pada 9 November 1945 sebagai penghinaan terhadap rakyat, terhadap Republik Indonesia dan Proklamasi 17 Agustus 1945. Kiai Saifuddin Zuhri mencatat bahwa tentara Sekutu mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Divisi 23 dan Divisi 5 yang berkekuatan sekitar 10.000 hingga 15.000 serdadu dibantu oleh meriam-meriam kapal perang penjelajah Sussex, beberapa kapal perusak dan pesawat-pesawat terbang Mosquito dan Thunderbolt dari RAF.

Rakyat Indonesia tidak gentar. Bagai air bah yang tidak dapat dibendung, rakyat Surabaya maju menyerbu semua kubu tentara Sekutu di seluruh kota. Tua dan muda serentak menerjang musuh meski hanya bersenjatakan bedil, pistol, pedang, dan bambu runcing. Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari memberikan kekuatan lahir dan batin bagi rakyat Indonesia untuk mengusir NICA dan tentara Sekutu. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG